Pertanian
( 500 )Rojai, Petani dan Peternak Unggul
Di tangan Rojai (49), urine dan kotoran sapi disulap menjadi
uang jutaan rupiah. Petani sekaligus peternak ini mengembangkan pupuk dan
pestisida organik. Ia tidak hanya menerapkan pertanian ramah lingkungan, tetapi
juga berjuang memandirikan petani. ”Alhamdulillah, dapat pesanan (pupuk kompos)
lagi dari dinas (pertanian), 9-10 ton,” ucap Rojai, Selasa (16/4). Dengan harga
Rp 2.000 per kg, ia meraup Rp 18 juta dari permintaan itu. Uang jutaan rupiah
itu berasal dari kandang sapi miliknya di Desa Tegalkarang, Palimanan, Cirebon,
Jabar. Di kandang itu, terdapat 10 sapi yang memproduksi kotoran dan urine. Akhir
Februari lalu, misalnya, ia menunjukkan drum biru berisi 100 liter urine sapi
yang telah difermentasi di kandang itu.
Saat tutupnya dibuka, aroma urine yang menyengat menguar
dengan gelembung di atasnya. ”Ini kalau dijual, harganya Rp 2 juta,” ucap Rojai
tersenyum. Urine itu menjadi bahan utama pupuk organik cair (POC) yang dapat
membantu pertumbuhan tanaman. Sawah yang disemprot POC, batang dan daun padinya
hijau. Tanahnya mudah ditanami. Sehektar butuh minimal 5 liter POC. Harga POC
Rp 20.000 per liter, lebih murah dari pupuk cair kimia yang berkisar Rp
60.000-Rp 90.000 per liter. ”Urine sapi mengandung pestisida. Jadi, enggak usah
beli obat (pestisida kimia),” katanya. Perjumpaan Rojai dengan pertanian
organik bermula tahun 2016, pemilik 120 sapi dan 50 kambing ini menjadi
peternak terbaik tingkat Kabupaten Cirebon.
Ia mendapat program unit pengelolaan pupuk organik dari dinas
pertanian dan mulai mengolah limbah ternak menjadi pupuk dan pestisida organik.
”Saya pelatihan di Bogor habis Rp 5 juta, diketawain orang dinas (karena ikut
pelatihan berbayar),” kenangnya. Pupuk kompos sangat membantu ditengah
berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi pemerintah. Petani hanya dijatah 70 kg
per satu jenis pupuk per satu hektar sawah. Padahal, biasanya 1 kuintal per
jenis pupuk bersubsidi. Petani pun membeli pupuk nonsubsidi dengan harga Rp 1
juta per kuintal. ”Dari 2017, saya enggak pernah bergantung sama pupuk dan pestisida
kimia,” katanya. Setelah bertahun-tahun menggunakan bahan organik, padinya subur.
”Hasil pH-nya normal, 7. Padahal, di mana-mana, pH-nya paling 5,” kata Rojai.
Ia mengklaim hasil panen musim gadu (tanam kedua) tahun lalu
mencapai 10,3 ton gabah basah per hektar. Padahal, petani biasanya hanya memanen
6-7 ton gabah per hektar. Rendemennya juga lebih tinggi. ”Padi biasanya rendemennya
saat digiling jadi beras 62-65 %, hasil panen saya, rendemennya 70 %,”
ungkapnya. Pupuk buatannya sudah dikemas dengan merek Supersonik dan digunakan petani
setempat. Dinas pertanian bahkan pernah memesan 18 ton pupuk dan 160 liter POC
untuk menjadi bahan pelatihan pertanian organik di Cirebon. Tidak hanya dalam
pertanian, sistem organik juga ia terapkan di peternakan. Pakan sapi, misalnya,
berasal dari jerami sisa panen di sawah hingga ampas tebu. Jamu untuk sapi
bikin sendiri. Ia tidak pernah pakai antibiotik dan vitamin dari pabrik.
Bahannya, dari aneka rempah. (Yoga)
TANAMAN PANGAN : PENYUBUR PERFORMA PRODUKSI PERTANIAN SUMBAR
Penambahan alokasi pupuk bersubsidi bagi para petani di Provinsi Sumatra Barat diyakini dapat menjadi katalis baru bagi wilayah ini yang dalam 3 tahun terakhir mampu menorehkan hasil yang cukup positif. Meski, ada sejumlah daerah yang mengalami penurunan produksi sepanjang tahun lalu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) menunjukkan bahwa sepanjang 2023, wilayah ini mampu menjaga tren peningkatan produksi beras. Pada 2023, produksi beras wilayah ini mampu menyentuh 843.927,06 ton, atau naik 6,11% secara tahunan (year-on-year/YoY). Capaian tersebut mampu melampaui peningkatan produksi pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,27% Yo Y. Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan bahwa penambahan pupuk bersubsidi oleh Kementerian Pertanian merupakan tindak lanjut arahan Presiden Joko Widodo yang kemudian dituangkan menjadi surat Kementerian Pertanian Nomor 51/SR.210/M/03/2024 perihal alokasi tambahan pupuk bersubsidi. Dalam surat itu, imbuhnya, disebutkan bahwa volume pupuk bersubsidi pada tahun ini sebanyak 9,55 juta ton, termasuk pupuk organik untuk sembilan jenis komoditas yang dialokasikan pada 34 provinsi.
Dia menjelaskan bahwa kuota pupuk bersubsidi yang ditambah itu terbagi pada tiga jenis. Pertama, pupuk urea ada penaingkatan sebanyak 48.684 ton, dari sebelumnya 68.638 ton menjadi 117.322 ton. Kedua, pupuk NPK sebelumnya 61.111 ton menjadi 130.643 ton atau ada penambahan 69.532 ton. Ketiga, pupuk NPK (fk) yang bertambah menjadi 2.284 ton dari sebelumnya hanya 385 ton. “Saya merasa sangat berterima kasih kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas tambahan kuota pupuk tersebut. Tentu petani akan gembira dengan peningkatan kuota ini,” katanya. Untuk itu, imbuhnya, dengan adanya kebijakan Menteri Pertanian pada 2024, Mahyeldi menyampaikan akan menyelesaikan kesulitan yang dihadapi petani dan sekaligus menjadi bukti bahwa perhatian pemerintah pusat pada sektor pertanian dan khususnya petani Indonesia makin meningkat. Mahyeldi menambahkan bahwa dengan kebijakan dari Kementerian Pertanian itu, maka makin juga menguatkan ketersediaan pupuk di Sumbar, sehingga ke depannya produksi pertanian yakni beras, padi, dan jagung bisa lebih baik. Kendati demikian, penambahan alokasi pupuk subsidi tersebut tak mengurangi upaya Sumbar guna menciptakan pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan sektor pertanian di wilayah ini, lewat pemanfaatan sampah.
Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Sumbar memandang bahwa persoalan sampah yang ada di Ranah Minang bisa diatasi melalui sistem pengelolaan yang dapat mendatangkan manfaat ekonomi. Kakanwil DJPb Sumbar Syukriah HG mengatakan bahwa pihaknya telah melihat dari keberhasilan serupa di Provinsi Jawa Timur (Jatim), yang melakukan ekspor pupuk organik hasil dari pengolahan sampah. Syukriah mengatakan bahwa sebenarnya Sumbar telah memulai dengan adanya budidaya maggot yang juga memakan sampah-sampah organik. Akan tetapi, imbuhnya, langkah itu belum memberikan peran atau dampak terhadap pengurangan sampah di wilayah ini. Dia mengungkapkan bahwa untuk maggot baru mampu untuk mengurangi sampah di lingkungan rumah. Padahal, Sumbar butuh gerakan yang bisa mengolah sampah-sampah tersebut dalam jumlah yang besar. Dia berharap ke depannya pemerintah daerah bisa menangkap peluang tersebut, sehingga persoalan sampah di Sumbar bisa teratasi dan dapat memberikan dampak secara nilai ekonomi.
Harga Beras Mahal, Desa Dapat Apa?
Jenis kapital yang tersedia di perdesaan dan jarang ditemukan
di perkotaan adalah lahan pertanian. Ini membuat sektor pertanian, termasuk
pertanian tanaman pangan, khususnya padi, sebagian besar ada di perdesaan.
Maka, ketika harga beras melambung, muncul pertanyaan, seberapa banyak kenaikan
harga dinikmati para petani padi sebagai produsen utama beras di Indonesia,
yang sebagian besar tinggal di perdesaan. Tapi, alih-alih menikmati rezeki
karena kenaikan harga produknya, petani padi sebagaimana yang diberitakan malah
ikut antre beras murah program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP)
pemerintah.
Liputan Kompas mendapati petani padi di Cirebon tak punya
simpanan beras hasil panen masa tanam sebelumnya karena panen mundur akibat
kekeringan sebagai dampak El Nino. Tapi lain cerita dengan petani padi organik,
simpanan beras mereka masih aman, tidak terjadi kekurangan, mereka masih makan nasi
hasil panen sebelumnya. Sejak lama, petani padi organik selalu membiasakan
menggunakan hasil panen mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka
terlebih dulu. Jika ada sisa, barulah itu dijual. Kebiasaan menempatkan pemenuhan
kebutuhan pangan keluarga sebagai prioritas utama dalam pemanfaatan hasil panen
memang selalu disampaikan para pendamping petani organik.
Adapun beras dengan harga yang mahal itu, awalnya, begitu
selesai panen, sebagian besar petani menjual beras kepada para penampung. Sebagian
dari mereka ini bermodal raksasa, dengan fasilitas gudang yang sangat besar.
Walau petani padi menyimpan beras hasil sawah mereka untuk kebutuhan pangan
keluarga, uang hasil penjualan sebagian gabah juga sangat diharapkan sebagai
modal tanam pada masa tanam berikutnya. Karena hasil bertani padi di Indonesia
tidak cukup untuk modal di musim tanam berikutnya, tekanan untuk menjual hasil
panen menjadi semakin tinggi. Situasi ini jarang terjadi pada para petani padi
sehat atau organik. Sebab, sarana produksi untuk padi jenis ini sebagian besar adalah
hasil produksi sendiri.
Banyak bukti di lapangan, pertanian padi organik memiliki
produktivitas di atas produktivitas padi konvensional. Jika produktivitas sawah
konvensional adalah 5,5 ton per hektar (ha), sawah padi sehat di Tasikmalaya
bisa menghasilkan 8 ton per ha, di Wonogiri bisa 13 ton per ha. Para petani
padi organik ini sudah lama tidak lagi merasakan kerepotan berburu pupuk
bersubsidi. Sebab, pupuk kompos bisa mereka produksi sendiri. Di sisi sarana produksi
pertanian, para petani padi organik adalah tuan bagi dirinya sendiri. Terlebih,
hasil produksi mereka jika dijual di toko ritel akan masuk ke kelompok beras
premium. Ada baiknya pemerintah mulai mendalami dan mendorong penerapan
pertanian padi organik secara lebih luas. Ketahanan pangan hanya dapat dicapai lewat
kedaulatan para petani tanaman pangan, yang sebagian besar tinggal di desa. (Yoga)
Wahai Petani, Musim Tanam Sudah Bergeser Jauh
Goris Takene (48) memetik satu per satu buah jagung di kebun
miliknya di Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT, Senin (8/4)
pagi. Jagung yang ia panen di lahan seluas 4.000 meter persegi itu lolos dari
bencana gagal tanam yang menimpa ribuan petani di NTT. Jagung yang baru dipanen
itu ditanam oleh Goris pada 16 Januari 2024 atau mundur jauh dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya. Saat menanam, ia seperti berjudi sebab hanya memanfaatkan
hari hujan yang tersisa. Setelah membeli benih Rp 95.000 per kg, ia coba menanam
di tanah yang disesaki hamparan batu karang itu. Ia tak berharap banyak karena
sudah banyak petani yang mengalami gagal tanam. Petani mulai menanam pada awal
Desember ketika hujan hampir seminggu.
Mereka mengira musim hujan tiba. Sayangnya, setelah jagung
atau padi mulai tumbuh beberapa sentimeter, hujan berhenti. Panas datang mematikan
tanaman. Akhir Desember hujan kembali turun. Petani berpikir itu saat tepat
menanam. Ketika tanaman mulai tumbuh, datang terik dan menyapu semua tanaman.
Banyak petani putus asa, lalu meninggalkan kebun. Mereka merasa seakan dikecoh oleh
alam yang tidak menurunkan hujan seperti dulu lagi. ”Biasanya, petani lahan tadah
hujan itu sudah mulai menanam pada awal Desember. Sejak 20 tahun terakhir,
terus mundur sampai Januari. Musim tanam sudah bergeser,” ucap Goris. Ia tak
lagi berpatokan pada pola lama, tapi mengikuti perkembangan cuaca dan iklim dari
BMKG.
”Saatnya petani menyesuaikan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan yang ternyata banyak membantu,” ujar Goris. Kelurahan Bello
merupakan salah satu sentra pangan di Kota Kupang, khususnya untuk padi,
jagung, dan hortikultura. Daerah itu punya cadangan air yang banyak.
Belakangan, debit air terus menurun sehingga petani mengandalkan hujan. Tak
jauh dari kebun Goris terdapat hamparan sawah yang kini baru mulai ditanam
padi. Petani menunggu debit air bertambah setelah hujan satu bulan terakhir.
Sekitar 20 tahun sebelumnya, sawah di Bello sudah panen pertama di awal April,
kemudian persiapan untuk musim tanam berikutnya. ”Sekarang tanam padi pertama
sudah bergeser ke April dan tidak mungkin tanam kedua karena musim hujan sudah selesai.
Satu kali tanam saja sudah bersyukur,” ujar Rino (27), warga. (Yoga)
Sudah Jatuh Tertimbun Beras
Sore itu, Senin (8/4) Herianto (48) mengendarai sepeda motor
menuju Balai Desa Belanti Siam, Pulang Pisau, Kalteng, untuk berbuka puasa
bersama petani lain. Setelah berbuka, semua berencana tarawih bersama. Saat
melihat sawahnya yang berisi jerami pascapanen berserakan, Herianto menghentikan
sepeda motornya. Ia bahkan sujud syukur di pematang sawah atas hasil panen yang
diberikan tahun ini. Sawah seluas 2 hektar miliknya itu mampu menghasilkan 10
ton gabah kering giling (GKG). Dari tiap hektar ia bisa mendapatkan 4 ton lebih
GKG, dua kali lipat panen normalnya selama ini. Ungkapan syukur juga diutarakan
petani-petani lain, termasuk Kelompok Tani Sido Mekar, tempat Herianto
bernaung. Semuanya punya cerita sukses panen luar biasa.
Ada yang menghasilkan 5 ton per hektar, ada yang 5,5 ton per
hektar, bahkan ada sawah yang dikunjungi para pejabat daerah untuk menjadi
penanda kesuksesan mereka. Panen raya dihadiri Wagub Kalteng Edy Pratowo, Senin
(1/4). Bangganya mereka, sawah yang berjarak 150 km dari Palangkaraya itu
didatangi pejabat, tapi ada yang mengganjal di hati mereka. ”Sebenarnya kasihan
petani, pas panen lagi bagus gini harga gabah malah anjlok,” ujar Herianto. Harga
gabah anjlok, bahkan dua kali. Pertengahan Maret, harga gabah kering turun dari
Rp 8.500 per kg menjadi Rp 7.200 per kg. Kini harga gabah tersungkur menjadi Rp
5.500 per kg. Sudah mendekati Lebaran, lanjut Herianto, harga gabah tak kunjung
merangkak naik.
Bagi dia, hasil panen yang baik sudah cukup untuk menambah kegembiraan Ramadhan. ”Meski anjlok, gabahnya, ya, tetap saya jual, mau enggak mau. Berapa saja harganya, itu untuk kebutuhan hidup, sekolah, dan lain-lain. Kalau Lebaran, ya, gini-gini aja udah alhamdulillah,” kata Herianto. Pujiaman dari Kelompok Sido Mekar juga demikian. Ia tak marah, apalagi mengeluh, saat harga gabah anjlok. ”Pasti harganya enggak pernah stabil,” ucapnya. Pujiaman menyebutkan, ”Kalau belum rugi dan gagal panen, belum petani Indonesia.” Dengan harga yang anjlok kerugian tidak bisa dihindari. Apalagi Herianto dan Pujiaman tidak mendapat jatah pupuk bersubsidi. Mereka mengeluarkan uang Rp 340.000 per 100 kg pupuk.
Untuk 1 hektar lahan ia membutuhkan empat sampai enam kali pemupukan dengan total lima sampai enam karung pupuk berukuran 100 kg tersebut. Ia menghabiskan Rp 10 juta hanya untuk pupuk, belum termasuk biaya lain. Herianto dan Pujiaman bahkan harus meminjam uang di bank untuk bisa menanam padi dan menyiapkan lahan. Untuk membeli pupuk, obat-obatan, dan benih padi yang ia inginkan. ”Semoga bisa untuk nyaur utang dan nabung kuliah anak,” kata Pujiaman. Ironisnya, saat harga gabah anjlok, harga beras justru mahal. Di Pulang Pisau, beras berjenama Pangkoh dijual Rp 18.000 per liter dari yang sebelumnya Rp 13.000. Lalu, harga beras Mayang Super Rp 22.000 per liter naik pada awal Februari menjadi Rp 25.000 per liter sampai saat ini. (Yoga)
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO : Urgensi Ketersediaan Lahan Pertanian Sumatra Selatan
Ketersediaan lahan di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) menjadi salah satu tantangan besar yang berisiko menahan laju produk domestik regional bruto (PDRB) wilayah ini di masa mendatang. Direktur ICRAF Indonesia sekaligus Koordinator Proyek Land4Lives Andree Ekadinata mengatakan bahwa kondisi Sumsel dengan seperlima pertumbuhan ekonomi yang bergantung pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memang erat kaitannya dengan ketersediaan lahan. Dia menjelaskan bahwa kondisi lahan saat ini tidak sama dengan dulu di mana ketersediaannya semakin menyempit.
“Kuncinya yakni membangun sinergi antara rencana pembangunan dengan rencana tata ruang, serta upaya untuk meningkatkan produktivitas sehingga setiap jengkal lahan memberikan produksi yang bermanfaat,” jelasnya, Rabu (3/4). Menurutnya, salah satu solusi yang juga bisa diterapkan untuk mengatasi persoalan lahan yakni penerapan agroforestri di mana bisa memadukan berbagai spesies di satu lahan. Dia menambahkan bahwa beberapa persoalan yang juga perlu diperhatikan sejalan dengan strategi pembangunan Sumsel 20 tahun ke depan diantaranya ketahanan pangan, pengelolaan ekosistem gambut, serta isu kesetaraan gender.
Penjabat (Pj.) Gubernur Sumsel Agus Fatoni menambahkan perekonomian wilayah ini masih mampu tumbuh stabil di kisaran 5% pada saat Covid-19. Selain itu, dia mengungkapkan bahwa beberapa capaian dari indikator makro juga menunjukkan tren yang positif.
Pahit-Manis Meroketnya Harga Kakao
Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) melaporkan
bahwa pencinta cokelat di seluruh dunia sedang terpukul oleh kelangkaan kakao
yang sebagian disebabkan oleh krisis iklim. Cuaca ekstrem dan perubahan pola iklim
telah mengganggu hasil panen, yang diperkirakan menurun selama tiga tahun berturut-turut,
sehingga memperketat pasokan global dan menaikkan harga. Harga kakao melonjak 136
% antara Juli 2022 dan Februari 2024. Harga biji kakao di pasar komoditas berjangka
telah melampaui 10.000 USD per ton untuk pertama kali pada 26 Maret 2024. Per
Selasa (2/4) kakao sudah diperdagangkan di harga 10.294 USD per ton. Harga saat
ini sudah tiga kali lipat dibandingkan rata-rata harga kakao global pada 2023
yang ada di kisaran 3.000 USD per ton.
Organisasi Kakao Internasional memperkirakan dunia mengalami
kekurangan pasokan kakao 374.000 ton pada musim 2023-2024 dibandingkan dengan
74.000 ton pada musim sebelumnya. Kelangkaan dan kenaikan harga kakao dunia
justru menguntungkan Indonesia sebagai produsen kakao terbesar ketiga di dunia
setelah Pantai Gading dan Ghana. Ketua Asosiasi Petani Kakao Arif Zamroni
mengatakan, El Nino yang melanda Indonesia tahun lalu dan memicu kekeringan
ekstrem sebenarnya juga menyebabkan penurunan produksi kakao di dalam negeri.
Namun, tidak sampai mengakibatkan gagal panen parah seperti di Afrika. Data BPS
menunjukkan, Indonesia memproduksi biji kakao sebanyak 641.700 ton sepanjang 2023,
turun 1,36 % dibanding tahun sebelumnya.
Volume yang mencapai 10 % total produksi kakao dunia tersebut
kini menjadi rebutan negara lain yang tidak cukup mengimpor kakao dari Afrika.
Permintaan tinggi dan kenaikan harga dinikmati petani kakao di Tanah Air. Saat
ini, harga biji kakao di tingkat petani bisa mencapai di atas Rp 85.000 per kg
dibanding tahun lalu yang hanya Rp 25.000-Rp 35.000 per kg. ”Petani yang punya
pohon dan terawat jadi dapat berkah. Bagi teman-teman yang punya pohon, tapi
enggak terawat pasti nyesel, apalagi yang nebang pohon diganti komoditas lain,
karena ini harga tertinggi kakao dalam sejarah,” ungkap Arif saat dihubungi
Kompas, Selasa (2/4). (Yoga)
Pertanian Diarahkan Tidak Sekadar Kejar Produksi
Presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto dan
Gibran Rakabuming Raka berkomitmen membangun ketahanan pangan yang tidak hanya
mengejar peningkatan produksi. Sektor ini juga akan dibangun berlandaskan
industrialisasi dan pengembangan ekonomi perdesaan. Ketua Dewan Pakar Tim
Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Burhanuddin Abdullah, menyampaikan hal itu dalam
Kompas Collaboration Forum (KCF) yang digelar harian Kompas di Jakarta, Jumat (22/3).
Tema yang diangkat forum tersebut adalah ”Arah dan Mesin Kebijakan Ekonomi 2024-2029”. Pertanian pangan jadi
salah satu dari tiga mesin penggerak ekonomi di era kepemimpinan Prabowo-Gibran.
Dua mesin penggerak lain adalah energi dan industri manufaktur.
Tahun lalu hingga awal tahun ini, impor pangan Indonesia
terbilang cukup besar. Salah satu faktor penyebabnya adalah El Nino. Beras,
misalnya, produksinya susut 1,36 % dari 31,54 juta ton pada 2022 menjadi 31,1
juta ton pada 2023. Menurut Burhanuddin, persoalan itu perlu dicarikan solusi
mengingat sektor pertanian cukup berperan besar menyerap tenaga kerja. Sektor pertanian
harus menjadi mesin pertumbuhan yang pertama dan utama. ”Di masa lalu, ketika
penduduk belum sebanyak sekarang, kita sempat swasembada beras. Kita memiliki
potensi alam dan manusia yang lebih dari cukup. Saya sangat optimistis
Indonesia bisa menggapai kembali kecukupan pangan,” tuturnya.
Pengembangan sektor pertanian ini termaktub dalam misi Asta
Cita kedua, visi pembangunan Prabowo-Gibran, yakni mendorong kemandirian pangan
melalui swasembada pangan. Untuk merealisasikan misi itu, 18 program kerja
dirancang, antara lain, meningkatkan produksi, memastikan ketersediaan dan
kepemilikan lahan, mengendalikan impor pangan, memperkuat fungsi badan pangan,
dan menyempurnakan food estate. Selain itu, ada juga program memodernisasi
model bisnis pertanian, menjamin pembiayaan petani, dan pemanfaatan teknologi
informasi. Sejumlah program kerja itu akan diintegrasikan dengan beberapa
program lain. Misalnya, program makan siang gratis, reforma agraria, dan
industrialisasi. (Yoga)
Harmoni Alam di Perdesaan Melbourne
Kawasan Mornington Peninsula, perdesaan di selatan kota
Melbourne, Australia, dihidupi oleh satu semangat yang sama, yaitu kesadaran
bergerak bersama harmoni alam. Ekonomi mereka pun tumbuh. Selain dari hasil bumi
untuk warga lokal, pesona alam yang dijaga lestari menarik pelancong dari berbagai
penjuru dunia. Mornington Peninsula dicapai satu jam perjalanan dengan mobil
dari pusat kota Melbourne, melewati jalan berliku di antara hutan-hutan semak
dan pinggir pantai. Perjalanannya seperti dari Jakarta ke Puncak, tetapi tanpa
kemacetan padahal di akhir pekan, Sabtu (2/3) lalu.
Di balik semak-semak itu, sejumlah usaha pertanian bersemi.
Mulai dari peternakan lebah, produsen minuman anggur, pembuatan minyak zaitun,
hingga pertanian stroberi kompak mengusung semangat kesadaran alam. Pesona
”hijau” di pantai selatan Australia itu ternyata juga menggiurkan dari sisi
bisnis pariwisata. ”Peternakan lebah kami, dari awal sampai sekarang, dikelola
berdasarkan prinsip kelestarian alam,” kata John Winkles, pemilik peternakan lebah,
Pure Peninsula Honey, di Mornington Peninsula. Dengan modal dua ratu lebah
liar, sekarang Winkles memiliki usaha rumahan dengan 30 jenis produk madu
manuka serta turunannya berupa permen, lilin lebah, dan ragam kosmetik berbahan
dasar madu. Jenis madu andalannya adalah manuka yang ia jual Rp 650.000 dalam
gelas kaca ukuran 250 gram.
Manuka adalah jenis tanaman semak-semak yang banyak tumbuh di
Negara Bagian Victoria, Australia. Beragam madu olahan yang dia sediakan
berbahan organik, seperti madu jahe, madu lemon, dan madu kayu manis. Pengunjung
bisa mencicipi beragam madu itu sebelum memutuskan membeli. Selain wisata
pertanian, kawasan Mornington Peninsula ibarat oasis untuk melepas penat warga
Melbourne. Di tengah alam yang hijau, beberapa tempat menyediakan aktivitas
melepas ketegangan. Green Olive at Red Hill, misalnya, adalah sebuah pertanian
anggur, lemon, dan zaitun di kawasan perbukitan di sana yang memadukan wisata
kebun dan restoran.
Ada pula Leo Estate. Restoran bintang empat itu memadukan
wisata pertanian, pembuatan minuman anggur, dan karya seni. Berdiri di punggung
perbukitan di tepi pantai, Leo Estate memiliki taman seni rupa seluas 330
hektar yang berisikan 60 karya seni seniman terkemuka dunia. Satu paket makan
malam di sana dibanderol 165 dollar Australia (Rp 1,7 juta) per orang. Dengan
berbagai keunikannya, para petani dan pengelola wisata Mornington Peninsula konsisten
bergerak bersama harmoni alam. Mereka membuktikan, menjaga alam pun bisa
menggerakkan ekonomi. (Yoga)
”Guremisasi” dan ”Miskinisasi”
BPS merilis hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023) mengenai
jumlah usaha pertanian tahun 2023 yang sebanyak 29,36 juta unit. Berkurang 2,35
juta unit atau 7,42 % dibandingkan dengan hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013)
yang 31,71 juta. Dampak langsung dari penurunan jumlah usaha pertanian adalah
menurunnya penyerapan tenaga kerja di sektor ini. BPS mencatat, tahun 2013, sektor
pertanian menyerap 39.220.261 tenaga kerja atau berkontribusi 34,78 % terhadap
total penyerapan tenaga kerja nasional. Angka ini menurun di 2022 menjadi
38.703.996 tenaga kerja atau 28,61 % dari total penyerapan tenaga kerja
nasional. Menurunnya jumlah usaha pertanian yang berdampak pada menurunnya penyerapan
tenaga kerja disebabkan oleh banyaknya petani yang mengganti profesinya ke
bidang usaha lain atau ”pensiun” dan relatif sedikitnya muncul ”petani baru”.
Mayoritas petani di Indonesia adalah petani yang melakukan
usaha pertanian dengan penguasaan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar atau
dikenal sebagai petani gurem. Pada 2013, terdapat 14,25 juta rumah tangga
petani gurem. Proporsi rumah tangga petani gurem terhadap total rumah tangga
petani di Indonesia tahun 2013 sebesar 55,33 %. Kondisi ini memburuk pada 2023,
di mana jumlah rumah tangga petani gurem naik 18,49 % menjadi 16,89 juta rumah
tangga. Akibatnya, proporsi rumah tangga petani gurem juga meningkat menjadi
60,84 % pada 2023. Dengan jumlah petani gurem yang sangat besar, maka
transformasi usaha pertanian ke nonpertanian hanya menunggu waktu. Apalagi, di
2023, ketika jumlah petani gurem semakin meningkat.
Di Indonesia, pengangguran bukanlah kelompok terbesar dari
penduduk miskin, melainkan petani. BPS mencatat, pada 2023 sebesar 48,86 % rumah
tangga miskin mempunyai sumber penghasilan utama dari bertani, sementara yang
tidak bekerja hanya 12,07 %. Artinya, mayoritas orang miskin di Indonesia
merupakan pekerja keras, yang sekaligus merupakan elemen penting tercapainya Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2-4, tetapi berusaha dalam sistem bisnis yang
tak mendukung. Para petani gurem merupakan cerminan dari kemiskinan tersebut. Pemerintah
perlu mengkaji kriteria kemiskinan ini karena bisa menyebabkan bansos jadi
salah sasaran. Kenyataan menunjukkan bahwa pertanian bukan sektor yang menarik
untuk digeluti oleh anak muda karena menjadi petani hanya akan menjadi miskin
dan kelak melahirkan generasi-generasi miskin. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022 -
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022









