Telekomunikasi
( 286 )Menara Mitratel Tetap Tangguh di Tengah Persaingan
Batu Sandungan Agenda Penghematan XLSmart
Pemerintah Instruksikan Opsel Disediakan Akses Internet 100 Mbps Untuk Daerah Pelosok
Telkom Menjalin Kolaborasi dengan IBM Sediakan Solusi Kedaulatan AI
ASSI Soroti Masuknya Pemain Satelit Internet Asing
Gihon Ekspansi ke Luar Jawa karena Pasar ”Tower” Telekomunikasi Masih Menarik
PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk menyiapkan belanja modal atau capex, Rp 140 miliar untuk 2025. Anggaran itu utamanya untuk memenuhi target penambahan tower karena peluang pasar dinilai masih bisa diraih tahun ini. PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk didirikan di Jakarta pada 27 April 2001, bergerak dalam bidang usaha utamanya, yaitu tower telekomunikasi. Berdasarkan data dalam Paparan Publik pada Senin (2/6) di Jakarta, perusahaan tersebut menargetkan penambahan tower di tahun ini. Direktur PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk, Yoyong, mengatakan, capex yang dianggarkan sekitar Rp 140 miliar. Belanja modal itu dipergunakan terutama untuk pembangunan tower.
”Target kami menambah 20 unit B2S (build to suit) pada2024 sehingga menjadi 1.025 unit. Lokasi ditargetkan ditambah 41 sehingga menjadi 738 lokasi. Perusahaan juga menambah tenancy (penyewaan) sebanyak 61 sehingga total target tenancy sebanyak 1.763. Untuk target fiber optik, kami menambah 5 km sehingga menjadi 1.526 km tahun ini,” tutur Yoyong. Dengan langkah tersebut, pihaknya menargetkan pendapatan pada 2025 sebesar Rp 228,532 miliar atau meningkat 7,96 % dari 2024. Sebab, prospek pasar untuk ekspansi tower masih ada ditahun ini yang bisa diraih. Dirut PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk, Rudolf P Nainggolan menuturkan, pihaknya berharap bisa berekspansi ke area-area di luar Jawa, seperti Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Sebagian besar penyebaran tower yang dibangun perusahaan tersebut berada di Pulau Jawa, yaitu 609 tower atau 61 %.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai, kebijakan pemerintah saat ini masih mendorong adanya digitalisasi di daerah-daerah, yang akan membutuhkan permintaan tower telekomunikasi. ”Ini menjadi peluang industri tower untuk berpenetrasi. Di daerah-daerah masih banyak blankspot yang bisa difasilitasi dengan fiber optik dan tower,” ujarnya. Terkait merger sejumlah operator seluler, menurut dia, itu menimbulkan peluang industri telekomunikasi bisa meningkatkan capex. Mereka bisa berekspansi ke luar wilayah-wilayah utama. ”Tower masih menjadi andalan untuk daerah kepulauan. Namun, terdapat tantangan dengan keberadaan Starlink, yaitu layanan internet berbasis satelit yang dikembangkan oleh SpaceX, perusahaan milik Elon Musk. Starlink borderless, dari satelit ke antena penerima, bisa langsung kontak ke internet,” ucap Nailul. (Yoga)
Kolaborasi Telkom - WIFI Iancar Konektivitas 40 Juta Rumah Tangga di Indonesia
PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom) melalui PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) menjalin kolaborasi strategis dengan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Sure, untuk menghadirkan konektivitas internet "Internet Rakyat" dengan target coverage hingga 40 juta rumah tangga di Indonesia. Kerja sama kedua perusahaan ini ditandai dengan Perjanjian Kerja Sama (MoU) akhir pekan lalu, dan diharapkan dapat segera dilanjutkan ke tahap implementasi teknis dan komersial dalam waktu dekat. Adapun kolaborasi ini bertujuan untuk mempercepat pemerataan akses digital di seluruh Indonesia melalui sinergi infrastruktur dan layanan yang dimiliki masing-masing pihak. Langkah ini juga diharapkan dapat menjadi katalis utama dalam menghadirkan "Internet Rakyat" internet yang terjangkau, inklusif dan berkelanjutan. Executive Vice President Divisi Wholesale Service Telkom Muhammad Rofik megatakan, kerja sama ini adalah manifestasi nyata dari komitmen perusahaan dalam memperluas konektivitas nasional. "Dengan memanfaatkan kekuatan infrastruktur dan teknologi dari semua pihak, kami ingin memastikan bahwa seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali bisa menikmati layanan internet yang terjangkau dan andal," kata Rofik. (Yetede)
Kemampuan Daya Beli Paket Internet Masyarakat Berkisar Rp50- Rp100 Ribu Perbulan
Di tengah penetrasi internet di Indonesia yang telah mencapai 79,5% pada 2024, kemampuan daya beli paket internet di Indonesia ternyata cukup meyakinkan, yaitu berkisar Rp50-Rp100 ribu per bulan. Kondisi ini mencerminkan sikap rasional masyarakat Indonesia dalam memilih layanan internet, dengan mempertimbangkan efisiensi biaya, kualitas jaringan, dan pengalaman penggunaan jangka panjang. Lembaga Survei KedaiKOPI merilis hasil survei bertajuk "Survei Penggunaan Internet di Indonesia". Survei daring yang dilakukan pada 14-16 Mei 2025 ini melibatkan 1.545 responden secara nasional dengan metode Computer Asisted Self Interview (CASI). Salah satu poin yang disorot dalam survei tersebut, yaitu terkait pengeluaran data daya beli paket internet masyarakat Indonesia. Disebut, mayoritas atau sekitar 62,3% responden menghabiskan Rp50.000-Rp100.000 per bulan untuk paket data, dengan pembelian mayoritas dilakukan melalui Gopay (25,4%), konter pulsa (20,8%), dan mobile banking (17,5%) Adapun paket berlangganan bulanan menjadi pilihan utama (83%), dengan kuota ideal berkisar antara 11-30 GB per bulan (29,6). "Temuan ini penting sebagai masukan bagi para penyedia layanan digital dan operator seluler untuk meningkatkan layanan mereka sekaligus menjaga loyalitas pelanggan," kata Peneliti Lembaga Survei KedaiKOPI Taufan Anindita Pradana. (Yetede)
AI Topang Kinerja Bisnis Operator Seluler
Telkom Rombak Direksi
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









