KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
Hanya dalam waktu kurang dari enam bulan tahun ini, Hanoi, ibu
kota Vietnam, disambangi dua pemimpin negara adidaya, yang sedang saling sikut,
saling ganjal, dan saling serang di berbagai palagan. Mulai dari ekonomi, perdagangan,
teknologi, kemampuan militer, hingga persaingan pengaruh di kawasan dan global.
Presiden AS Joe Biden adalah yang pertama berkunjung ke Hanoi, melewatkan
kehadirannya di KTT ASEAN di Jakarta, pada pertengahan September. Di sana ia
meneken sejumlah perjanjian kerja sama, sebagian besar di bidang ekonomi dan teknologi,
seperti transaksi pembelian 50 pesawat Boeing 737 Max senilai 7,8 miliar USD,
kerja sama pengembangan teknologi kecerdasan buatan generatif (generative AI)
antara Microsoft, Nvidia, dan Intel dengan perusahaan teknologi Vietnam, hingga
pengembangan industri semikonduktor untuk pasar global yang akan dipusatkan di
negara tersebut.
Tiga bulan kemudian, Presiden China Xi Jinping menyusul
menyambangi Hanoi. Ini kunjungan ketiganya ke Vietnam dalam enam tahun terakhir.
Di sana, ia secara langsung melihat penandatanganan 37 kesepakatan kerja sama
antara China dan Vietnam. Salah satu kesepakatan terbesar kedua negara adalah
pengembangan jalur kereta api yang menghubungkan Kunming di Provinsi Yunnan
(China) dengan Pelabuhan Haipong (Hanoi). China juga tertarik untuk ikut serta
mengembangkan jalur kereta api cepat Hanoi-Ho Chi Minh di Vietnam selatan dengan
jarak sekitar 1.545 km, dengan biaya 62 miliar USD. Pandangan yang sama soal
kerja sama multi lateral dan pentingnya dialog menjadi salah satu alasan kedua negara
menjalin hubungan erat dan damai. Dengan pandangan seperti itu, Xi menyatakan,
China menekankan prinsip inklusivitas dalam setiap hubungan yang saling
menguntungkan dengan negara-negara mitranya.
Investasi langsung China di Vietnam juga meningkat pesat, dari
628 proyek pada tahun 2008 dengan nilai 2,197 miliar USD menjadi 2.807 proyek pada
tahun 2019 dengan total nilai 16,264 miliar USD. China menjadi negara investor terbesar
ketujuh di Vietnam. Xi juga menekankan, perbaikan jalur kereta api kedua negara
telah meningkatkan volume perjalanan antarwarga dari China ke Vietnam dan sebaliknya.
Dampak positif perang dagang AS-China bagi Hanoi adalah banyaknya relokasi usaha
dari China ke Vietnam. Delapan bulan pertama tahun 2019, investasi langsung meningkat
7 % dengan nilai 12 miliar USD, lebih besar dibanding periode yang sama tahun
sebelumnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023