Konsumsi
( 5 )Konsumsi Kian Menantang, Lebaran Sepi Belanja
Suasana Lebaran sedikit berbeda pada 2025, meskip tanpa pandemi Covid-19 yang sempat melenyapkan momen sakral silaturahmi Lebaran beberapa tahun lalu. Lengangnya perjalanan mudik dalam masa cuti bersama delapan hari menunjukkan sisi lain pelemahan mobilitas dan ekonomi masyarakat. Kemenhub melaporkan, jumlah pergerakan selama periode Lebaran 2025 turun 4,69 % disbanding tahun lalu. Jumlah perjalanan intra dan antar-provinsi selama Lebaran 2025 tercatat 154,6 juta orang, lebih rendah dari 162,2 juta orang yang melakukan perjalanan pada 2024. Penurunan tingkat perjalanan masyarakat berdampak terhadap konsumsi BBM. Data BPH Migas mencatat, dibanding tahun 2024, konsumsi BBM pada periode dua pekan sebelum dan setelah Lebaran 2025 tercatat menurun.
Konsumsi BBM jenis bensin turun 6 %, avtur untuk pesawat juga 4 % dan kerosin atau minyak tanah turun 9 %. Sementara, penyaluran BBM jenis solar untuk mesin diesel naik 11 %. Bukti itu menguatkan proyeksi penurunan perputaran uang selama masa Lebaran. Tim Peneliti Bank Mandiri juga membedah indikator konsumsi musiman ini dalam publikasi Econ Mark April 2025 yang berjudul ”Konsumen Indonesia: Mengatasi Tantangan,” yang menguliti kebiasaan konsumsi masyarakat selama Ramadhan dan Lebaran, tingkat tabungan, hingga pola mobilitas selama masa libur panjang. Disimpulkan bahwa tren konsumsi Ramadhan 2025 menunjukkan adanya perubahan perilaku, seperti penundaan belanja, peningkatan ketergantungan pada THR, dan peralihan ke barang yang lebih terjangkau.
Mandiri Spending Index, yang mengukur pola konsumsi masyarakat menggunakan kanal pembayaran Bank Mandiri di seluruh Indonesia, mencatat, belanja masyarakat lesu di dua minggu pertama Ramadhan diikuti kenaikan tajam di paruh kedua, melampaui laju pertumbuhan yang terlihat pada tahun 2024. Namun, momentum ini kembali melambat selama periode liburan Lebaran. ”Sementara belanja meningkat pada paruh kedua Ramadhan, pertumbuhan keseluruhan mencapai 11,2 %, sedikit di bawah capaian 12,1 % tahun lalu,” kata mereka. Pola konsumsi Lebaran 2025 masih bergantung pada THR, sedangkan tingkat tabungan individu lebih rendah dari tahun 2024 dan terus menurun seusai Idul Fitri.
Mobilitas liburan bergeser ke destinasi jarak pendek dan transportasi umum, mencerminkan konsumen yang lebih hemat dan selektif. Temuan itu diperkirakan menekan pertumbuhan aktivitas ritel. Dengan penjualan yang stagnan, persaingan yang semakin ketat, pedagang juga berjuang untuk beradaptasi dengan permintaan yang berubah. Pada saat yang sama, risiko yang muncul dari potensi tarif Trump dapat membebani ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan akhirnya konsumsi, terutama di segmen menengah ke bawah. ”Tren belanja yang hati-hati dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi harus diantisipasi,” kata mereka. (Yoga)
Anomali Konsumsi Jelang Lebaran 2025 harus Diwaspadai
Indonesia tengah mengalami anomali konsumsi selama Ramadhan dan menjelang Lebaran 2025. Deflasi pada Februari 2025 jadi indikatornya. Kendati harga sebagian pangan pokok berhasil ditekan atau mengalami deflasi, konsumsi masyarakat tidak naik signifikan. Anomali itu mengindikasikan adanya ketidakberesan ekonomi domestik. BPS mencatat, pada Februari 2025, Indonesia mengalami deflasi 0,48 % secara bulanan dan 0,09 % secara tahunan. Deflasi itu terutama dipicu penurunan harga sejumlah pangan pokok, seperti beras, tomat, cabai merah, dan daging ayam ras; serta diskon tarif listrik sebesar 50 %.
Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai, anomali konsumsi pada Ramadhan kali ini mengindikasikan ketidakberesan ekonomi domestik yang harus diwaspadai. ”Di saat konsumen berhemat, ekonomi tak lagi sehat,” demikian isi laporan ”Awas Anomali Konsumsi Jelang Lebaran 2025!” yang dirilis pada Kamis (27/3). Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menuturkan, tarif diskon listrik yang diberikan pemerintah turut berperan besar terhadap deflasi Februari 2025. Namun, janggalnya, deflasi Februari 2025 juga dialami kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, dengan andil 0,12 % secara bulanan.
Padahal, menjelang Ramadhan, kelompok itu biasanya menyumbang inflasi. ”Ada sinyal kuat bahwa kelompok rumah tangga menengah-bawah mengerem belanja,” katanya. Yusuf menilai, banyak faktor yang memicu penurunan daya beli, terutama maraknya PHK, sulitnya mencari pekerjaan di sektor formal, dan terbatasnya pertumbuhan upah. ”Ini harus diwaspadai (Deflasi). Jika situasi semakin buruk, pertumbuhan ekonomi semester I-2025 bisa melemah, mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang 50 % dari total produk domestik bruto,” katanya. (Yoga)
Produk Perawatan Diri Berkinerja Baik di Pasar
Hidup Hemat Ala Gen Z
Gaya hidup konsumtif, terutama di kalangan Generasi Milenial dan Generasi Z, semakin menjadi perhatian karena meningkatnya penggunaan pinjaman online (pinjol) dan layanan paylater yang cenderung lebih banyak digunakan untuk pembiayaan konsumtif. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mayoritas penerima pinjaman tersebut adalah kalangan berusia 19 hingga 34 tahun. Untuk menghadapi hal ini, konsep frugal living atau gaya hidup hemat kini menjadi perhatian yang lebih penting.
Frugal living mengajak seseorang untuk lebih berhati-hati dalam mengelola uang dan membatasi pengeluaran konsumtif. Gaya hidup ini bukan berarti pelit, tetapi lebih kepada mengatur prioritas dan menahan diri dari dorongan belanja yang tidak penting. Frugal living menjadi relevan terutama bagi kalangan menengah ke bawah, yang bisa mengambil manfaat dari gaya hidup hemat ini untuk menghindari jebakan konsumtif.
Tokoh yang menonjol dalam diskusi ini adalah salah seorang kawan penulis yang menyarankan agar generasi muda mulai menerapkan frugal living di tahun 2025, mengingat semakin mahalnya biaya hidup. Penerapan gaya hidup ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada utang konsumtif dan membantu seseorang menjalani hidup yang lebih bijaksana dalam pengelolaan keuangan.
Kenaikan Konsumsi Jadi Harapan Pemulihan
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023




