;
Tags

Moneter

( 122 )

Stimulus Baru Jadi Jurus Pemerintah Pulihkan Ekonomi

HR1 07 May 2025 Bisnis Indonesia
Pemerintah berupaya mempercepat realisasi belanja APBN sebagai respons atas perlambatan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2025, yang dipicu antara lain oleh kontraksi belanja pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menekankan percepatan program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta dukungan terhadap sektor perumahan melalui FLPP dan insentif perpajakan.

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa penyaluran bantuan sosial dan pencairan gaji ke-13 ASN akan meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan pada kuartal II/2025. Kebijakan ini diharapkan menjadi stimulus fiskal yang efektif.

Namun, beberapa lembaga seperti Bank Permata dan Ciptadana Sekuritas menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 ke kisaran 4,5%–4,8%, di bawah target semula 5% atau lebih. Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyoroti bahwa ketidakpastian global, terutama akibat perang dagang, telah menekan investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Selain tekanan eksternal, analis seperti Renno Prawira dari Ciptadana Sekuritas juga menggarisbawahi tantangan domestik seperti pelemahan daya beli dan defisit fiskal. Untuk menjaga momentum, pelonggaran kebijakan moneter menjadi opsi yang dipertimbangkan. Ekonom OCBC, Lavanya Venkateswaran dan Ahmad A. Enver, memproyeksikan suku bunga acuan BI bisa turun ke 5,25% pada akhir 2025, jika stabilitas rupiah terjaga dan tekanan global mereda.

Pemerintah dan otoritas moneter berupaya mengombinasikan stimulus fiskal dan potensi pelonggaran moneter guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan di tengah tekanan ekonomi domestik maupun global. 

Menjaga Stabilitas di Era Gejolak Global

HR1 20 Feb 2025 Bisnis Indonesia

Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18–19 Februari 2025 menunjukkan sikap kehati-hatian dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan upaya menjaga inflasi tetap terkendali, stabilisasi nilai tukar rupiah, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Meskipun di dalam negeri inflasi relatif terkendali, BI tetap waspada terhadap pergerakan nilai tukar rupiah yang terpengaruh oleh kebijakan ekonomi eksternal, terutama dari AS.

Dari sisi perbankan, keputusan ini memberikan kepastian dalam menghadapi dinamika pasar, meski perbankan berharap BI dapat fleksibel dalam menyesuaikan kebijakan suku bunga ke depan. Pemerintah juga diharapkan lebih gesit dalam mendukung stabilitas ekonomi melalui kebijakan fiskal yang akomodatif, seperti insentif pajak dan stimulus ekonomi.

Ke depan, kebijakan suku bunga BI akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan The Fed dan dinamika ekonomi global. Jika The Fed menurunkan suku bunga lebih agresif, BI mungkin memiliki ruang lebih besar untuk pelonggaran kebijakan moneter. Oleh karena itu, keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi menjadi kunci dalam kebijakan moneter BI.


Bank Sentral Sepakat Pangkas Suku Bunga

HR1 14 Dec 2024 Kontan
Akhir tahun ini, sejumlah bank sentral dunia mulai memangkas suku bunga acuan sebagai respons terhadap ketidakstabilan ekonomi dan ancaman inflasi.

European Central Bank (ECB) baru saja memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3%, menjadikannya pemangkasan keempat tahun ini. Kepala Bank of France, Francois Villeroy de Galhau, menyebutkan bahwa pemotongan suku bunga akan terus dilakukan pada tahun depan untuk menghadapi ancaman perang dagang dan ketidakstabilan ekonomi di zona Euro.

Swiss National Bank (SNB) menurunkan suku bunganya sebesar 50 bps menjadi 0,5%, level terendah sejak November 2022. Penurunan ini dipicu inflasi rendah di Swiss (0,7%) dan penguatan franc Swiss yang membebani eksportir.

Bank of Canada juga memangkas suku bunga sebesar 50 bps menjadi 3,25% dalam pemangkasan terbesar pertama sejak pandemi Covid-19. Langkah ini diambil untuk mengatasi inflasi yang meningkat hingga 2% dan pelemahan ekonomi.

Di sisi lain, Reserve Bank of Australia (RBA) memilih menahan suku bunga tahun ini, tetapi memprediksi pemangkasan dapat dilakukan tahun depan jika inflasi tetap tinggi. Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) diperkirakan belum akan menaikkan suku bunga hingga awal 2025 karena masih menganalisis risiko global dan kenaikan upah.

Dalam pertemuan mendatang pada 17-18 Desember, Federal Reserve (The Fed) diproyeksikan akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps. The Fed juga diperkirakan melanjutkan pemangkasan suku bunga pada tahun 2025-2026 akibat tingginya inflasi dan pasar tenaga kerja yang masih kuat.

Tren pelonggaran moneter ini menunjukkan respons global terhadap kondisi ekonomi yang penuh tantangan.

Efektivitas Insentif BI bagi Bank dalam Sorotan

HR1 04 Dec 2024 Kontan
Tantangan likuiditas masih menjadi isu utama perbankan hingga tahun 2025, mengingat melambatnya pertumbuhan simpanan dan tipisnya peluang penurunan suku bunga acuan. Untuk mengatasi hal ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjanjikan insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) senilai Rp 283 triliun pada tahun depan. Insentif ini diberikan melalui pengurangan giro wajib minimum (GWM) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas seperti UMKM, ekonomi hijau, pariwisata, dan perumahan rakyat.

Namun, respons bank terhadap insentif ini beragam. Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, menegaskan bahwa bank tetap menyalurkan kredit sesuai dengan risk appetite-nya, dengan fokus utama BNI di segmen korporasi. Royke berharap insentif dapat lebih fleksibel, seperti penurunan GWM secara menyeluruh.

Sementara itu, Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menyebut pihaknya lebih memprioritaskan kredit ke sektor ritel dan memenuhi kewajiban rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM) dengan fokus pada UMKM. Rustarti Suri Pertiwi, Direktur Keuangan Bank Raya Indonesia, menilai insentif KLM mampu menjaga likuiditas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi, meskipun implementasinya tetap tergantung kebijakan masing-masing bank.

Melambatnya Peredaran Uang, Tanda Konsumsi Melemah

HR1 23 Nov 2024 Kontan
Perlambatan pertumbuhan likuiditas ekonomi Indonesia di akhir tahun 2024 menjadi lampu kuning bagi pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Data BI menunjukkan, jumlah uang beredar (M2) pada Oktober 2024 mencapai Rp 9.078,6 triliun, tumbuh 6,7% year-on-year (yoy). Namun, pertumbuhan ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya, yang mencatatkan pertumbuhan 7,2% yoy. Menurut Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, penurunan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan kredit yang stabil (10,4% yoy) dan kontraksi tagihan bersih kepada pemerintah pusat sebesar 0,1% yoy.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan bahwa perlambatan ini bisa menurunkan konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi jika sektor riil tidak mampu menyerap likuiditas. Ia juga menyoroti risiko tekanan likuiditas perbankan jika dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih lambat dari kredit, yang dapat mengganggu efisiensi intermediasi perbankan.

Awalil Rizky, Ekonom Senior Bright Institute, menambahkan bahwa pertumbuhan M2 sepanjang 2024 diperkirakan hanya bertahan di kisaran 7% yoy, jauh di bawah pertumbuhan pada 2020-2022. Ia juga mencatat bahwa kredit UMKM tumbuh lebih lambat dibanding kredit korporasi, sementara simpanan nasabah besar (di atas Rp 1 miliar) mendominasi pertumbuhan DPK.

Ke depan, Awalil menyarankan pemerintah, BI, dan OJK untuk mendorong aliran likuiditas ke sektor riil dan masyarakat bawah, terutama melalui peningkatan kredit UMKM. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan konsumsi, dan mendukung pertumbuhan yang inklusif di tengah tekanan likuiditas yang mengering.

Efektivitas Transmisi Kebijakan Moneter Masih Ditunggu

HR1 21 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS membawa dampak signifikan terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia. Kebijakan proteksionis Trump yang fokus pada kepentingan domestik meningkatkan ketidakpastian pasar global, menyebabkan penguatan indeks dolar AS dan melemahnya rupiah terhadap dolar. Kebijakan fiskal ekspansif Trump, seperti pemotongan pajak dan belanja infrastruktur, berpotensi memicu inflasi di AS dan mendorong kenaikan suku bunga oleh The Fed, yang bisa menarik arus modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini menambah tekanan pada rupiah dan meningkatkan risiko inflasi serta ketidakstabilan ekonomi domestik. Bank Indonesia (BI) harus hati-hati dalam kebijakan moneter, mempertahankan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sembari memastikan pertumbuhan ekonomi domestik. Ke depan, BI perlu memperkuat kebijakan makroprudensial dan meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter untuk menghadapai ketidakpastian global yang terus berkembang.



Ruang BI Pangkas Suku Bunga Acuan Menyempit Akibat Perkembangan Geopolitik dan Ekonomi Global

KT3 21 Nov 2024 Kompas

Di tengah terjaganya laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi domestik, ruang BI memangkas suku bunga acuan justru kian menyempit akibat perkembangan geopolitik dan ekonomi global yang dinamis. Kebijakan ini berpotensi membuat beban kredit masyarakat, seperti kredit kendaraan, tidak berubah. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, dinamika global berubah cepat seiring hasil pemilu AS, fragmentasi perdagangan, dan perkembangan geopolitik. Perkembangan politik AS diperkirakan menuju ke arah strategi ekonomi berorientasi domestik dan kebijakan fiskal ekspansif. Kondisi tersebut berpotensi mengakibatkan penurunan laju inflasi AS makin sulit, ditambah indeks USD terhadap seluruh mata uang menguat seiring meningkatnya imbal hasil obligasi Pemerintah AS akibat kebutuhan pembiayaan defisit fiscal yang lebih besar.

Sementara, fundamental ekonomi domestik masih terjaga, tecermin dari inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2024 yang tercatat 1,71 % secara tahunan atau berada dalam kisaran target 1,5-3,5 %. Di sisi lain, ekonomi nasional pada triwulan III-2024 tumbuh 4,95 % secara tahunan dan diperkirakan tumbuh 4,7-5,5 % pada 2024. ”Jadi, masih terbuka (ruang penurunan suku bunga), tetapi tentu saja akan sangat bergantung pada situasi tadi (perkembangan ekonomi global dan domestik). Ruangnya (penurunan) yang dulu agak lebar sekarang lebih terbatas,” kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI November 2024, di Jakarta, Rabu (20/11). Karena itu, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 6 %, sebagai langkah memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari rambatan dampak ketidakpastian geopolitik dan perekonomian global. (Yoga)


Langkah BI Menavigasi Kebijakan Moneter

HR1 21 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Dinamika politik di Amerika Serikat, terutama setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden, telah menambah risiko bagi ekonomi global. Kebijakan yang cenderung proteksionis, seperti penerapan tarif impor yang lebih tinggi dan pemotongan pajak domestik, memicu penguatan dolar AS dan menekan nilai tukar rupiah. Kondisi ini membuat Bank Indonesia (BI) memilih untuk mengubah arah kebijakan moneternya, dengan lebih memfokuskan pada stabilitas nilai tukar rupiah. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa ruang untuk penurunan suku bunga acuan kini semakin terbatas, mengingat ketidakpastian global yang semakin tinggi.

BI telah mempertahankan BI Rate di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG), meskipun ada potensi penurunan suku bunga The Fed yang diperkirakan akan terjadi pada 2025. Namun, dengan tekanan dari penguatan dolar AS dan volatilitas yang meningkat, BI lebih mengutamakan kebijakan yang dapat memperkuat stabilitas rupiah. Hal ini semakin penting mengingat rupiah yang mendekati level Rp16.000 per dolar AS.

Ekonom dari Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, berpendapat bahwa kemungkinan pemangkasan BI Rate pada tahun ini sudah sangat kecil, kecuali ada penurunan signifikan pada indeks dolar dan imbal hasil US Treasury. Di sisi lain, kalangan bankir menyebut bahwa penurunan suku bunga BI pada bulan September belum memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan kredit perbankan, dan stabilitas suku bunga saat ini memberikan kepastian bagi pasar.

Secara keseluruhan, meskipun BI masih memiliki ruang untuk pelonggaran kebijakan, fokus utama kini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi global yang terus berkembang.



Stabilitas Pasar Meski Ada Peluang Penurunan

HR1 19 Nov 2024 Kontan
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya (BI-Rate) di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan November ini. Banjaran Surya Indrastowo, Chief Economist Bank Syariah Indonesia, menjelaskan bahwa BI-Rate kemungkinan tetap karena adanya capital outflow yang masih berlangsung dan tekanan pada nilai tukar rupiah. Hal ini sesuai dengan kebijakan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

Namun, Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia, sepakat bahwa meski BI kemungkinan menahan suku bunga pada bulan ini, ruang untuk penurunan suku bunga masih terbuka pada bulan Desember 2024. Proyeksi keduanya adalah pemangkasan 25 basis poin pada akhir tahun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, Hosianna Evalia Situmorang, Ekonom Bank Danamon, berpendapat bahwa BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan November untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengingat posisi cadangan devisa yang cukup stabil dan potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik, BI harus berhati-hati dalam mengambil langkah kebijakan moneter. Meski demikian, langkah penurunan suku bunga di bulan Desember masih dipandang sebagai pilihan yang mungkin untuk mendorong perekonomian lebih lanjut.

Tiupan Angin Segar dari The Fed

KT1 09 Nov 2024 Investor Daily (H)

The Federal Rserve (The Fed) memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 4,50%-4,75%, pada Kamis (07/11/2024). Keputusan ini sesuai harapan pasar, terbukti dengan menguatnya bursa di sejumlah negara termasuk Indonesia. Pemangkasan suku bunga ini diprediksi akan diiukuti oleh bank sentral negara lainnya. Bank Indonesia juga diharapkan segera menurunkan suku bunga sehingga segera menurunkan sektor rill di Tanah Air. Tercatat bursa saham Asia naik secara umum pada perdagangan di hari Jumat (08/1102024), mengkuti kenaikan wall street yang memecah rekor tertingginya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup di zoona hijau.

IHSG berjalan konsisten di zona positif hingga ditutup bertambah 43 poin atau 0,60% menjadi 7.287. Kenaikan IHSG hari ini mengakhiri pelemahan selama 2 hari sebelumnya, yang tertekan akibat hasil Pilpres AS 2024 yang dimenangkan oleh Donald Trumph. Saat IHSG menguat, pasar saham Asia bervariasi. Nikkei 225 Index (Jepang) menguat 0,30% dan Straits Times (Singapura) bertambah 1,39%. Sementara indeks S&P 500 naik 0,7%, melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya setelah terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden AS. Indeks Dow Jones hampir tidak berubah, hanya turun tipis di bawah basis poin walaupun sebelumnya sempat menguat lebih tinggi 80 poin yang bertengger di level Rp15.672 dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp15.740 per dolar AS. (Yetede)