Dividen
( 218 )ICBP–INDF Tebar Dividen Besar
Dua emiten besar Grup Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), menunjukkan performa keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2024 dengan keputusan membagikan dividen jumbo kepada pemegang saham. ICBP menetapkan dividen sebesar Rp2,91 triliun atau Rp250 per saham, sedangkan INDF membagikan Rp2,45 triliun atau Rp280 per saham, yang menjadi dividen per saham tertinggi sejak 2019.
Direktur Utama ICBP Anthoni Salim mengapresiasi kepercayaan para pemegang saham serta menegaskan komitmen untuk mempertahankan profitabilitas dan neraca keuangan yang sehat di tengah tantangan ketidakpastian global 2025. Penjualan bersih ICBP tumbuh 6,90% YoY menjadi Rp72,59 triliun, dengan mi instan sebagai kontributor utama sebesar Rp53,87 triliun.
Di sisi lain, INDF terus menunjukkan konsistensi dalam membagikan dividen sejak 2019. RUPST 2024 juga memutuskan pengangkatan Notariza Taher sebagai Komisaris Independen menggantikan Bambang Brodjonegoro, menandakan penyegaran dalam struktur pengawasan perseroan.
Keputusan pembagian dividen besar ini mencerminkan keberlanjutan kinerja kuat Indofood Group sekaligus menjadi sinyal optimisme kepada investor dalam menghadapi dinamika ekonomi global ke depan.
Danantara Panen Besar dari Dividen BUMN
Dividen Tambang Masih Menggiurkan Investor
Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham
Musim Dividen Jadi Magnet Investor Saham
Dividen BUMN Jadi Mesin Pendorong Ekonomi
Pembagian dividen jumbo oleh sejumlah emiten BUMN seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), dan PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR) menjadi sentimen kuat yang diperkirakan akan mendongkrak kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek serta membuka peluang cuan bagi investor.
Tokoh seperti Fath Aliansyah Budiman dari Maybank Sekuritas dan Felix Darmawan dari Panin Sekuritas menilai bahwa pembagian dividen tersebut mencerminkan kinerja keuangan yang sehat dan fundamental perusahaan yang solid. Hal ini juga memicu optimisme di kalangan investor, termasuk terhadap saham-saham BUMN perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBNI.
IDX BUMN20 pun tercatat tampil paling kinclong dibandingkan indeks utama lainnya, tumbuh 11,37% dalam sebulan terakhir, menandakan bahwa saham-saham BUMN saat ini semakin prospektif. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset dan Indy Naila dari Provina Visindo juga menyoroti bahwa momentum ini memberi peluang besar tidak hanya dari capital gain, tetapi juga dari hasil dividen.
Selain menguntungkan investor, kebijakan dividen jumbo ini turut memperkuat peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai sovereign wealth fund baru yang akan mengelola dan menginvestasikan kembali dana dari dividen BUMN, menciptakan siklus positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Tokoh dari kalangan emiten, seperti Arsal Ismail (Direktur Utama PTBA) dan Nicolas D. Kanter (Direktur Utama ANTM), juga menegaskan bahwa pembagian dividen merupakan bentuk tanggung jawab kepada pemegang saham sekaligus strategi berkelanjutan yang mempertimbangkan tantangan jangka panjang seperti net zero emission dan perubahan iklim ekonomi global.
Dengan demikian, dividen jumbo BUMN saat ini bukan sekadar distribusi laba, tetapi menjadi instrumen strategis yang memperkuat pasar modal domestik, mendukung fiskal negara melalui Danantara, serta menjadi daya tarik investasi, baik bagi investor lokal maupun asing.
Kolaborasi BUMN dan Fiskal Kunci Pemulihan
Musim dividen tahun ini menampilkan semangat baru, terutama dari emiten BUMN, dengan pembagian dividen jumbo yang mencerminkan soliditas fundamental dan kesehatan arus kas perusahaan. PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) menjadi sorotan utama setelah mengumumkan dividen besar, masing-masing sebesar Rp21,04 triliun (89% dari laba bersih) dan Rp4,4 triliun (80%), menyusul tren serupa dari bank-bank Himbara.
Kebijakan dividen ini langsung berdampak positif terhadap pasar saham, dengan kenaikan signifikan pada saham-saham BUMN seperti BBRI, BBNI, TLKM, dan PGAS. Menurut artikel ini, pasar merespons dengan optimisme karena melihat sinyal keberlanjutan bisnis dan tata kelola yang sehat.
Lebih jauh, pemerintah memanfaatkan sebagian dana dividen untuk memperkuat modal awal Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), sebuah sovereign wealth fund baru. Hal ini, menurut pandangan media dan pelaku pasar, menunjukkan adanya sinergi antara strategi korporasi BUMN dan kebijakan fiskal nasional, yang berpotensi menjadi motor penggerak reformasi korporasi sekaligus memperkuat struktur pasar keuangan domestik.
Kebijakan ini mendapat dukungan dari tokoh Agus Harimurti Yudhoyono selaku pejabat pemerintah di bidang infrastruktur dan pengelolaan aset strategis negara, serta sinyal dukungan dari Presiden Prabowo Subianto dalam konteks pembangunan nasional jangka panjang melalui penguatan institusi keuangan negara.
Namun, tantangan seperti fluktuasi harga komoditas, risiko geopolitik, dan kebutuhan transformasi energi tetap harus diantisipasi. Oleh karena itu, strategi dividen yang berkelanjutan harus disertai dengan penguatan fundamental perusahaan—baik melalui efisiensi, digitalisasi, maupun diversifikasi.
Dengan tata kelola yang transparan dan kebijakan yang konsisten, dividen bukan hanya menjadi sarana distribusi keuntungan, tetapi instrumen strategis untuk membangun kepercayaan pasar dan daya saing ekonomi Indonesia di mata investor, baik lokal maupun global.
Dividen Jumbo Perusahaan Gas Negara
Musim Dividen, Investor Panen Cuan
Sedikitnya 26 emiten dijadwalkan membayarkan dividen final pada pekan ini, yakni periode 26–30 Mei 2025, dengan beberapa perusahaan menyiapkan dana dividen dalam jumlah besar serta yield yang menarik bagi para investor. PT United Tractors Tbk. (UNTR), bagian dari Grup Astra, menjadi emiten dengan pembagian dividen final terbesar pekan ini, yaitu sebesar Rp5,38 triliun. Presiden Direktur UNTR mencatat bahwa dividen ini didukung oleh kinerja sektor alat berat dan pertambangan yang solid, dengan laba bersih tahun lalu mencapai Rp19,53 triliun. Dividen per saham UNTR sebesar Rp1.487 menghasilkan yield sekitar 6,84%.
PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) juga akan membagikan dividen final senilai Rp1,14 triliun atau Rp18 per saham, dengan yield mencapai 10,71% berdasarkan harga saham terakhir. SCMA mencatat kenaikan laba bersih hingga 77,7% dan membagikan dividen tambahan dari laba ditahan, yang menegaskan performa keuangan perusahaan yang kuat.
Selain itu, tiga emiten lain yang akan membagikan dividen final besar adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dengan total dividen Rp1,77 triliun, PT Cita Mineral Investindo Tbk. (CITA) dengan Rp1,29 triliun, serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) yang menyiapkan dana dividen final sebesar Rp1,05 triliun, dengan pembayaran dijadwalkan pada 19 Juni 2025.
Momentum pembagian dividen yang menarik ini diharapkan menjadi stimulus positif bagi pasar saham dan mencerminkan bahwa kinerja emiten-emiten tersebut tetap dalam kondisi prima. Para investor pun memanfaatkan periode cum dividen yang padat untuk mengakumulasi saham dengan potensi imbal hasil yang menggiurkan.
BSI Bagikan Dividen
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023








