Dividen
( 218 )DIVIDEN JUMBO PELECUT BURSA
Sejumlah emiten BUMN menggelontorkan dividen jumbo tahun buku 2023 di tengah upaya menghadapi penurunan kinerja indeks saham pelat merah sepanjang tahun berjalan serta dampak sell in May. Kedua fenomena ini telah menekan pasar saham domestik. Sejak awal tahun sampai sekarang (year-to-date/YtD), koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat 2,53%. Di tengah koreksi tersebut, kinerja indeks saham BUMN pilihan atau IDXBUMN20 turun lebih dalam hingga 7,39% (YtD). Adapun, tekanan dari ‘sell in May and go away’ biasanya memicu aksi jual yang dikhawatirkan dapat memberikan dampak kurang menggembirakan pada performa saham-saham BUMN.
Berdasarkan siklus pasar saham selama 3 tahun terakhir, kinerja indeks pada Mei selalu mengalami koreksi seperti pada Mei 2023 melemah 4,08%. Selanjutnya, pada Mei 2022 melemah 1,11%, dan pada 2021 terkoreksi 0,8%. Adapun, kinerja IHSG sepanjang Mei 2024 sudah terkoreksi 0,02%. Oleh karena itu, gelontoran dividen BUMN besar-besaran diharapkan dapat menjadi katalis positif yang mendorong perbaikan kinerja indeks ke depan. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sebanyak 11 dari 20 konstituen indeks BUMN 20 memutuskan untuk membagi dividen dari laba bersih 2023. Bagi-bagi dividen gemuk dalam waktu dekat setidaknya akan datang dari ANTM, PTBA, JSMR yang menggelontorkan dividen secara berurutan Rp3,07 triliun, Rp4,57 triliun, dan 274,8 miliar. Toto Pranoto, Associate Director BUMN Research Group Lembaga Management Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (UI), mengatakan dividen yang dibagikan emiten BUMN memberikan sinyal bahwa kinerja pelat merah masih di jalur positif.
Di sisi lain, beberapa sektor akan menjadi pemberat indeks saham BUMN. Sebut saja sektor BUMN karya dan perusahaan pelat merah penghasil komoditas mineral dan batu bara, yang mengalami tren menurun akibat moderasi harga komoditas. Emiten anak usaha Pertamina, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada akhir Mei 2024, tepatnya pada Selasa (28/5). Emiten gas bumi ini pun menjanjikan rasio dividen meningkat. Direktur Keuangan PGEO Yurizki Rio mengatakan, dividend payout ratio (DPR) yang dibagikan perseroan akan meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Intinya, rasio kami dibandingkan dengan post-IPO naik dividend payout ratio-nya,” tuturnya. Pembagian dividen PGEO berdasarkan laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$163,59 juta, atau setara dengan Rp2,53 triliun sepanjang 2023. Angka tersebut naik 28,47% secara year-on-year (YoY) dibandingkan dengan 2022 sebesar US$127,34 juta.
Sementara itu, emiten grup holding tambang, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) memastikan rasio pembayaran dividen yang mencapai 100% dari laba bersih 2023, tidak akan mengusik rencana investasi perusahaan pada tahun ini. Direktur Pengembangan Usaha Aneka Tambang I Dewa Wirantaya menyatakan pembagian dividen dari seluruh laba bersih 2023 tidak akan mengganggu rencana investasi perusahaan sepanjang tahun ini. Pada 2024, Antam mengalokasikan Rp4,5 triliun untuk investasi organik dan anorganik. Dihubungi terpisah, Tim Riset Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer menuturkan deretan saham BUMN saat ini masih cukup tergerus oleh maraknya sentiment negatif di pasar saham.
Imbal Hasil Tinggi Dividen ANAK MIND.ID
Tiga emiten anggota holding tambang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mind Id menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Rabu (8/5). Agenda yang paling menarik perhatian pasar adalah pembagian dividen. Dua emiten tambang pelat merah, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) konsisten membayar dividen. Sedangkan PT Timah Tbk (TINS) absen membagi dividen. ANTM mengerek naik dividen payout ratio dari 50% pada tahun lalu, menjadi 100% atau mengalokasikan seluruh laba bersih tahun 2023 senilai Rp 3,07 triliun. Dengan asumsi jumlah saham yang beredar sebanyak 24,03 miliar, maka nilai dividen ANTM sekitar Rp 128 per saham. Berbeda dari PTBA yang menurunkan tingkat payout ratio dari 100% dalam dua tahun terakhir menjadi 75%, atau setara Rp 4,57 triliun. Dengan asumsi jumlah saham beredar sebanyak 11,52 miliar, dividen PTBA setara dengan Rp 397,7 per saham. Sedangkan TINS puasa membagi dividen, lantaran pada tahun lalu berbalik menanggung kerugian sebesar Rp 449,69 miliar.
Direktur Pengembangan Usaha Antam, I Dewa Wirantaya mengatakan, pembagian dividen ini sudah mempertimbangkan kebutuhan dana untuk keperluan investasi atau pengembangan usaha ANTM. Dewa mengatakan, pada tahun 2024, ANTM mengalokasikan investasi sekitar Rp 4,5 triliun untuk ekspansi organik maupun anorganik. Sedangkan Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail mengatakan, penurunan nilai dividen tahun ini mempertimbangkan posisi kas dan kebutuhan pendanaan untuk pengembangan PTBA. Harapannya, PTBA bisa mencapai pertumbuhan kinerja Sementara itu, Direktur Keuangan TINS Fina Eliani mengatakan, selain karena tahun lalu merugi, pada tahun ini TINS juga akan menghadapi jatuh tempo surat utang. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Arsita Budi Rizqi menyoroti pembagian dividen ANTM dan PTBA yang masih direspons positif oleh pasar. Hal ini nampak dari kenaikan harga saham ANTM dan PTBA yang masing-masing menguat 1,99% dan 1,74% pada Rabu (8/5).
INDY Akan Menebar Dividen US$ 30 Juta
Kendati laba bersih merosot, PT Indika Energy Tbk (INDY) masih akan membagikan dividen tunai kepada para pemegang sahamnya. Jumlah dividen yang akan dibagikan INDY senilai US$ 30 juta atau setara dengan US$ 0,0058 per saham.
Direktur Utama Indika Energy, Arsjad Rasjid menjelaskan, jadwal
recording date
dividen berlangsung pada 22 Mei 2024, dengan tanggal pembayaran atau pendistribusian dividen final tunai pada 5 Juni 2024 mendatang. Sebagai gambaran, jika dikonversi memakai asumsi kurs saat ini, total dividen yang dialokasikan INDY tersebut setara dengan Rp 480,73 miliar.
Keuntungan INDY menyusut 73,56% dibandingkan laba bersih sebesar US$ 452,67 juta pada tahun 2022. Penurunan
bottom line
tersebut sejalan dengan pelemahan dari sisi
top line
INDY. Pendapatan INDY turun 30,25% secara tahunan dari US$ 4,33 miliar menjadi US$ 3,02 miliar pada tahun 2023. Penurunan pendapatan tersebut antara lain akibat penurunan rata-rata harga jual batubara anak usaha INDY, PT Kideco Jaya Agung, pada tahun 2023 menjadi
Arsjad mengatakan, saat ini INDY akan fokus mengakselerasi pengembangan di bisnis non-batubara. Termasuk mineral, pembangkit listrik tenaga surya, kendaraan listrik, dan solusi berbasis alam.
sebesar US$ 72,9 per ton. Nilai tersebut merosot dibandingkan dengan US$ 86,6 per ton pada tahun sebelumnya.
Berkah Dividen Masih Mengalir
Agenda bagi-bagi dividen emiten belum usai. Ada beberapa emiten big caps yang siap membagikan dividen di bulan ini dan sayang dilewatkan Aksi ini diharapkan bisa memicu bursa lebih bergairah. Teranyar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengumumkan akan membagikan dividen senilai Rp 17,68 triliun atau setara 72% dari capaian laba bersih tahun buku 2023. Nantinya, setiap pemegang saham bakal memperoleh dividen Rp 178,5.
Selain itu masih ada kesempatan menadah dividen dari PT Astra International Tbk (ASII). Adapun ASII akan membagikan dividen final senilai Rp 421 per saham atau Rp 17,04 triliun. Di saham lapis kedua, ada PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), serta sejumlah emiten lain yang berpotensi memberikan imbal hasil dividen ( dividend yield) di kisaran 1% hingga 10%. IHSG berada di posisi 7.134,72, Jumat (3/5) atau melemah 3,14% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya. Dalam sepekan, investor asing mencatatkan net sell Rp 6 triliun.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, rencana pembagian dividen bisa menjadi pemanis di tengah koreksi harga saham. Perlu dicermati, jika koreksi saham terjadi sebelum Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), investor bisa mempertimbangkan membeli saham tersebut. Hal ini juga bisa menjadi bentuk mitigasi dividend trap.
Head of Proprietary Investment
Mirae Asset Sekuritas Handiman Soetoyo menyarankan, para pemburu dividen sebaiknya mempunyai jangka waktu atau
time horizon
jangka panjang minimal 10 tahun.
Sambil menanti pengumuman dividen selanjutnya, Mirae Asset Sekuritas menyarankan investor mencermati saham PBID, EPMT, TOTL, NRCA, SIDO, MERK, POWR, dan MPMX.
Grup Astra Guyurkan Dividen Rp30,6 Triliun ke Pasar Modal Indonesia
Group Astra melalui lima emitennya, PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Astra AGro Lestari Tbk (AALI), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dan PT Astra Graphia Tbk (ASGR) mengguyur pasar modal Indonesia dengan membagikan dividen tahun buku 2023 senilai total Rp30,62 triliun. Dengan kontribusi ini, Group Astra tidak hanya memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam berbagai sektor ekonomi di Indonesia, tetapi juga menjaga momentum positif dalam pengembangan dan pertumbuhan pasar modal di Tanah Air. Dari total dividen tunai Rp30,62 triliun sebanyak Rp 6,88 triliun telah dibagikan sebagai dividen interim pada bulan Oktober 2023, dan sisanya 23,74 triliun final kepada pemegang saham di bulan depan. Astra Internasonal menjadi penyumbang dividen terbesar dengan nilai Rp 21,01 triliun atau Rp519 per saham. Dividen tersebut setara dengan 62% dari laba bersih 2023 yang sebesar Rp 33,84 triliun. "Tanggal pembayaran dividen (final) akan dilakukan pada 30 Mei 2024," ujar Corporate Secretary Astra Internasional Gita Tiffany Boer. (Yetede)
MEMBURU CUAN DI MUSIM DIVIDEN
Kendati indeks IDX High Dividend 20 melemah seiring dengan situasi pasar yang bearish, saham-saham papan atas masih menjadi magnet bagi investor karena didorong oleh pembagian dividen yang menggiurkan. Tantangan pasar tidak mengurangi minat terhadap saham-saham di indeks ini, yang dikenal secara konsisten menawarkan yield dividen di atas rata-rata pasar. Berdasarkan data BEI, indeks IDX High Dividend (Hidiv) 20 menurun 4,97% menjadi 546,27 secara year-to-date (YtD) hingga akhir perdagangan 26 April 2024, di tengah sejumlah emiten yang telah mengumumkan pembagian dividen. Penurunan itu lantaran IDX Hidiv 20 diterpa sejumlah tantangan. Di lingkup eksternal, kondisi geopolitik global sejak awal April 2024 sudah memberikan ketidakpastian di pasar modal. Selain itu, penetapan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai Presiden dan Wapres terpilih, belum cukup mampu mengangkat IHSG, termasuk IDX Hidiv 20, keluar dari zona merah. Faktor lainnya adalah rupiah yang semakin tertekan sehingga membuat BI menaikkan suku bunga acuan. Secara spesifik, performa konstituen IDX Hidiv 20 berada dalam situasi yang dilematis.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto mengatakan peluang tersebut dapat terjadi selama kinerja IDX Hidiv 20 masih disertai dengan pertumbuhan kinerja dan dividen yield yang tinggi sehingga masih membuat saham-saham di indeks ini masih menarik. "Untuk saham pilihannya yaitu BBCA, PTBA, ADRO, dan AMRT. Ini rekomendasinya buy on weakness untuk memanfaatkan pelemahan pasar," ujar William kepada Bisnis, Jumat (26/4). Berdasarkan data Bloomberg, sektor yang menjadi penyokong utama konstituen IDX Hidiv 20 selama ini adalah sektor perbankan dan batu bara. Ada 5 emiten utama di situ yakni PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), dan PT United Tractor Tbk. (UNTR). Sementara itu, beberapa emiten yang menjadi pemberat utama IDX Hidiv 20 di antaranya PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), serta PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR).
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi berujar sebelum membagikan dividen, emiten bank yang masuk jajaran indeks dividen jumbo tersebut mencatatkan performa positif, bahkan sempat naik sebesar 7,14% (YtD). “Pasca-pembagian dividen empat bank jumbo, performa IDX High Dividend 20 menjadi negatif, bahkan sampai per hari ini kenaikan tensi geopolitik, dan keputusan BI yang di luar ekspektasi menaikkan suku bunga acuan,” ujar Audi. Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli terhadap sejumlah saham konstituen IDX High Dividend 20 di antaranya yaitu ICBP dengan target price (TP) Rp14.750, BMRI dengan TP Rp7.350, BBCA (TP Rp10.300) dan TLKM (TP Rp4.300). Angga Septianus, Community & Retail Equity Analyst Lead Indo Premier Sekuritas, menambahkan koreksi saham-saham royal dividen diakibatkan saham big caps mayoritas sedang mengalami koreksi karena kondisi global yang belum stabil. Pengamat BUMN sekaligus Akademisi Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menyebut terjadinya ketidakstabilan global yang dipicu oleh faktor eksternal dapat mengancam ketahanan ekonomi Tanah Air.
Bumi Resources Selangkah Lebih Dekat Menuju Pembagian Dividen
Menyoal Dividen Bebas Pajak
Apa pun bentuk perusahaan bertujuan mendapatkan laba. Dividen adalah bentuk pembagian laba tersebut. Inilah tujuan pemilik modal melakukan investasi.Nah, bagaimana pemajakannya? Sesuai ketentuan per-pajakan di Indonesia maka penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk dividen ini ada-lah objek pajak penghasilan (PPh). Namun, dikecualikan atau bebas pajak sepanjang diinvestasikan di Indonesia, yaitu dalam mendukung kemudahan berusaha dan mendorong investasi. UU No. 7/2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan dan Peraturan Menteri Keuangan No. 18/2021 melandasi peng-aturannya.Data diolah dari laman Bursa Efek Indonesia (BEI), pada periode 2018—2023 terdapat pembagian nominal dividen sekitar Rp1.186 trili-un, dengan distribusi sektor terbesar adalah keuangan (40,7%), barang konsumen (18,65%), energi (13,65%), infrastruktur (11,11%), dan perindustrian (6,16%). Sebagian perusahaan bahkan meningkatkan pembagian dividennya sampai dengan 300% (artinya perusahaan membagi dividen lebih besar dari laba).
Beberapa negara juga menggunakan pembebasan pajak atas dividen ini sebagai kebijakan dengan tujuan ekonomi yang berbeda-beda. Korea Selatan untuk mendorong peningkatan konsumsi (Lee et al., 2023), Swedia untuk mendorong kewira-usahaan dan meningkatkan alokasi investasi (Alstadsæter et al., 2017), atau Amerika Serikat dalam memberikan dukungan jangka pendek investasi dan modal untuk membangun pabrik (Yagan, 2015). Dalam konteks di Indonesia, sangat penting untuk melihat apakah benar kebijakan pembebasan pajak dividen ini dapat mendorong investasi. Apakah mendorong atau meningkatkan keinginan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham atau tidak. Mari kita cermati syarat-syaratnya. Pertama, investasi dilakukan paling lambat akhir bulan ketiga setelah tahun pajak dividen diterima atau diperoleh, dan paling singkat diinvestasikan selama 3 tahun pajak dengan tidak dapat dialihkan kecuali ke bentuk investasi lainnya. Kedua, ada kewajiban menyampaikan laporan realisasi investasi secara berkala selama 3 tahun. Dan ketiga, dicantumkan dalam laporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pada kolom penghasilan bukan objek pajak.
Sebagaimana tujuan dari beleid ini adalah untuk mendorong investasi, maka seharusnya dilakukan evaluasi kebijakan sampai dengan pengukuran dampaknya terhadap alokasi investasi riil oleh perusahaan (Anderson, 2015). Dalam konteks kebijakan pembebasan dividen ini, output bisa dilihat dari seberapa banyak penerima pengha-ilan dividen telah mengin-vestasikan dananya dalam instrumen yang ditentukan. Namun, untuk outcome, perlu dilihat secara cermat apakah dana-dana yang diinvestasikan tadi digunakan perusahaan untuk berinvestasi secara riil seperti pendirian pabrik, pembelian mesin, aset tetap dan peralatan baru.
Kebijakan berupa insentif perpajakan ini juga perlu mempertimbangkan trade off antara penurunan pene-rimaan dan potensi manfaat yang akan didapat.
Oleh karena itu, disarankan dividen bebas pajak harus dikombinasikan dengan beleid lain dari regulator lintas sektoral yang mendu-kung investasi perusahaan kecil dan menengah, serta pengembangan pasar modal dalam mewujudkan kesem-patan kepada masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam kegiatan perekonomian.
Target Dividen dan Kredit yang Tak Optimal
Kontribusi perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tergolong
minim dan bahkan cenderung menurun dari waktu ke waktu. Namun, laba yang diperoleh
perbankan terus meroket dengan pertumbuhan yang fantastis. Contohnya, tahun
2023 diperlukan dana investasi sekitar Rp 9.800 triliun untuk membiayai
pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05 % secara tahunan (yoy) dengan
penambahan produk domestik bruto (PDB) atas harga berlaku sekitar Rp 1.558 triliun.
Dana untuk membiayai pertumbuhan tersebut memang jumbo karena rasio modal yang
dibutuhkan untuk menambah output (incremental capital output ratio/ICOR) Indonesia
saat ini tergolong besar, yakni 6,3. Ternyata kontribusi industri perbankan yang
berasal dari penyaluran kredit investasi dan modal kerja hanya di bawah 10 %.
Pada 2023, Bank Mandiri meraih laba bersih Rp 55,1 triliun
atau tumbuh 33,7 % dibanding tahun sebelumnya. BRI meraup laba Rp 60,4 triliun,
tumbuh 17,5 %. Laba BNI Rp 20,9 triliun, tumbuh 14,2 %. BTN meraih laba Rp 3,5
triliun, tumbuh 15 %, dan laba BSI Rp 5,7 triliun atau tumbuh 33,9 %. Sedang pertumbuhan
penyaluran kreditnya, Bank Mandiri sebesar 16,3 %, BRI 11,2 %, BNI 7,6 %, BTN
11,9 %, dan BSI 16 %, berarti pertumbuhan laba bank-bank BUMN jauh di atas
pertumbuhan kreditnya. Dengan laba jumbo tersebut, bank-bank BUMN pun bisa
menyalurkan dividen tahun buku 2023 kepada pemegang saham dalam jumlah fantastis.
Karena itu, tatkala target dividen tahun buku 2024 dinaikkan oleh Menteri BUMN
Erick Thohir menjadi Rp 85,8 triliun, tentu saja dividen dari bank-bank BUMN
juga harus ditingkatkan.
Agar bisa menyetor dividen lebih besar, bank-bank BUMN
otomatis harus meningkatkan labanya pada tahun 2024. Di sinilah para bankir
diduga akan kembali memainkan paradoksnya, yakni bagaimana di tengah penyaluran
kredit yang tidak optimal, bank tetap bisa meningkatkan labanya. Untuk
meningkatkan laba, bank biasanya akan memperbesar margin keuntungan (profit
margin) dengan memperlebar spread antara suku bunga kredit dan suku bunga dana.
Jika terjadi tren penurunan suku bunga pada semester II-2024, bank akan
menurunkan bunga dana secepat mungkin mengikuti suku bunga acuan, tetapi akan
memperlambat penurunan suku bunga kredit. Bagi bank, strategi ini akan
menguntungkan. Namun, bagi sektor riil dan perekonomian secara keseluruhan, ini
jelas merugikan. Sektor riil, yang sudah dalam kondisi sulit, akan makin
terbebani dengan suku bunga kredit yang masih tinggi. (Yoga)
Dividen Tak Usik Modal
Keputusan bank-bank besar membagikan dividen jumbo dari laba bersih 2023 tak menurunkan kekuatan permodalan mereka. Tingkat kecukupan modal, yang ditandai capital adequacy ratio (CAR) perbankan tetap tinggi dan cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan ekspansi, juga untuk mengantisipasi potensi risiko yang bisa muncul ke depan. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) misalnya, akan membagi dividen 80% dari laba Rp 60,43 triliun. Bank Central Asia Tbk (BCA) menebar dividen 68,35% dari laba Rp 48,64 triliun. Sedangkan Bank Mandiri membagikan dividen 60% dari laba Rp 55,1 triliun. Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) membagi 50% dividen dari laba Rp 20,9 triliun. Adapun BTN akan membagikan 20% laba untuk dividen, atau senilai Rp 700,19 miliar. Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyampaikan, keputusan pembagian dividen jumbo sudah memperhitungkan kondisi permodalan.
CAR BNI per Desember 2023 berada di level 22,3%, jauh di atas syarat minimum yang ditetapkan regulator. Ke depan, BNI akan menjaga CAR di level 20%-21% lewat pertumbuhan secara organik. Laba akan dikejar tumbuh secara berkelanjutan, disertai perbaikan kualitas aset. Sementara itu, Direktur Utama BRI Sunarso menegaskan, BRI masih akan leluasa membagi dividen dalam lima tahun ke depan, karena modalnya besar. CAR BRI per Desember 2023 ada di level 27%. Sementara Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menyampaikan, dividen yang dibagi telah mempertimbangkan posisi likuiditas serta struktur permodalan Bank Mandiri dalam mendukung rencana pada 2024. Adapun EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, permodalan BCA saat ini solid dengan CAR di level 29,4%.
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









