;
Tags

Otomotif

( 406 )

Optimalkan Kekuatan Ekonomi Domestik

KT1 30 Jun 2025 Investor Daily (H)

Wakil Ketua Komite Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Djoko Widayatno mendorong hilirisasi nikel ke tahap lanjutan, yakni pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. "Transportasi masa depan harus ditopang oleh industri yang berkelanjutan. Nikel kita harus menjadi tulang punggung transisi energi hijau, bukan sekedar komoditas ekspor jangka pendek," kata Djoko. Saat ini, Indonesia mulai membangun ekosistem industri baterai EV secara terintegrasi, dari produksi prekusor hingga perakitan sel baterai dan kendaraan listrik. Proyek-proyek besar seperti pembangunan pabrik bateri di Kerawang di Morowali menjadi wujud dari komitmen menciptakan rantai pasok domestik  yang kompetitif di pasar global. Jika berhasil diakselerasi, pengembangan ekosistem ini diproyeksikan menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih besar. Sebagai pembanding, China, yang membangun rantai pasok EV sejak dekade lalu, pada 2023 mencatatkan kontribusi industri EV dan baterai mencapai lebih dari 150 miliar dolar AS dan menjadikan negara tersebut sebagai eksportir  utama kendaraan listrik dunia. (Yetede)

Program Pengampunan Diperluas

HR1 30 Jun 2025 Bisnis Indonesia
Sejumlah daerah di Indonesia memperpanjang program pemutihan pajak kendaraan bermotor (PKB) demi mengakomodasi antusiasme tinggi masyarakat. Di Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi resmi memperpanjang program ini hingga September 2025. Kepala Badan Pendapatan Daerah Jawa Barat, Asep Supriatna, menjelaskan bahwa program yang awalnya berakhir Juni 2025 diperpanjang atas arahan gubernur, setelah mencatat lebih dari 2,8 juta kendaraan memanfaatkan pemutihan, termasuk 2 juta kendaraan yang sebelumnya menunggak pada 2024.

Asep menegaskan kesiapan layanan, dengan menambah personel, memperluas saluran pembayaran digital, membuka layanan akhir pekan, serta menerapkan mesin antrean elektronik untuk kenyamanan masyarakat. Ia berharap perpanjangan ini meningkatkan kepatuhan wajib pajak bahkan setelah program berakhir.

Program serupa juga berjalan di provinsi lain dengan variasi periode dan bentuk keringanan. Pemprov DKI Jakarta menetapkan periode 14 Juni–31 Agustus 2025 dengan penghapusan denda keterlambatan. Jawa Timur membaginya menjadi dua tahap hingga Desember, sementara Aceh menjadi salah satu provinsi dengan durasi terpanjang, yaitu Januari–Desember 2025.

Kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah daerah meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) melalui insentif pajak, sembari mendorong kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak kendaraan.

Harga yang Patut untuk Kemewahan Mobil Hyundai Palisade

KT3 29 Jun 2025 Kompas

Di lini mobil mewah keluaran PT Hyundai Mo-tors Indonesia (HMID) di Indonesia, model Palisade adalah kasta tertinggi, walau belakangan, keelokannya seolah disalip model dibawahnya. Pada generasi kedua yang baru meluncur, superioritas itu direbut kembali dengan harga makin tinggi. AS adalah pasar terbesar mobil SUV. Di ajang pameran otomotif New York Auto Show 2025, April silam, Hyundai Palisade generasi kedua diperkenalkan. Perubahan Paling terlihat adalah bentuk gril, lampu utama dan pelek rodanya yang membesar, jadi 20 dan 21 inci. Peluncuran resminya di Indonesia dilakukan pada Jumat (13/6) di kawasan elite Dharmawangsa, Jaksel. Tema acara itu ”Premium Has Its Shape”, menegaskan posisi Palisade baru di kelas atas. ”Berbekal kepercayaan dari generasi sebelumnya, model ini memenuhi kebutuhan keluarga modern yang terus berkembang dengan performa hybrid yang efisien,” kata Ju Hun Lee, Presdir PT HMID. Generasi kedua Palisade inidijual dalam tiga varian.

Ketiganya memakai powertrain sama, yakni hibrida mesin Smartstream G2.5T dan motor listrik berbaterai litium1,65 kWh.  Varian terendah adalah Signature dengan harga Rp 1,105 miliar. Di atasnya ada varian Calligraphy dengan harga Rp 1,274 miliar. Varian tertingginya adalah Calligraphy AWD seharga Rp 1,359 miliar. Harga berlaku on the road Jakarta. Hilang sudah Palisade dibawah Rp 1 miliar. Tapi pemesannya sudah cukup banyak. ”Ada sekitar seratusanlah. Padahal, baru dibuka dua minggu,” cetus Uria Simanjuntak, Head of PR PT HMID. Tenaga mobil Palisade sangat menggoda, berkubikasi 2.497 cc diperkuat dengan turbo. Motor listriknya bertorsi besar, 264 Nm. Paduan mesin dan motor listrik itu menghasilkan tenaga maksimum 334 PS dan torsi puncak 460 Nm. Yang paling canggih adalah fitur autentifikasi sidik jari. Selama sidik jarinya sudah terdaftar, pengemudi tak perlu lagi membawa kunci mobil, cukup dengan sidik jari saja. Benar-benar harga yang patut untuk sebuah kemewahan.  (Yoga)


Industri Otomotif Indonesia: Peran Penting dan Dukungan Pemerintah

raharjo06 18 Jun 2025 Tim Labirin

Industri Otomotif Indonesia: Peran Penting dan Dukungan Pemerintah

Industri otomotif Indonesia telah berkembang selama 55 tahun, berawal dari kebijakan tahun 1969 yang mewajibkan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) membangun fasilitas perakitan di dalam negeri. Kini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-11 produsen otomotif terbesar dunia.

Peta Jalan dan Insentif Pemerintah

Pemerintah berperan aktif dalam pengembangan sektor ini melalui peta jalan yang ditetapkan sejak 2013, berfokus pada kendaraan rendah emisi karbon dalam dua tahap.

Tahap pertama (2013-2017) mendukung pengembangan low-cost green car (LCGC) atau kendaraan hemat bahan bakar terjangkau. Pemberian insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang lebih rendah, diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013, terbukti berhasil mendorong pertumbuhan penjualan otomotif melalui segmen LCGC.

Tahap kedua (2017-2035) mengarah pada pengembangan kendaraan berbasis listrik. Pemerintah menargetkan 20% penjualan mobil pada 2025 adalah kendaraan listrik (baterai atau hybrid). Berbagai insentif pajak digulirkan, seperti PPnBM untuk kendaraan listrik dan hybrid (PP Nomor 74 Tahun 2021) serta Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk kendaraan listrik ber-TKDN minimal 40% (PMK Nomor 38 Tahun 2023). Relaksasi syarat TKDN melalui Perpres Nomor 79 Tahun 2023 bahkan memungkinkan kendaraan listrik CBU dan CKD impor mendapat insentif.

Dukungan Fiskal dan Dampaknya

Insentif fiskal tidak hanya mendorong segmen tertentu, tetapi juga menjadi penolong industri saat terpuruk, seperti saat pandemi Covid-19. Kebijakan PPnBM DTP kala itu berhasil mendongkrak penjualan otomotif pada 2021-2022.

Sektor otomotif menerima belanja perpajakan () yang signifikan. Laporan tax expenditureTax Expenditure Report 2022 dari Badan Kebijakan Fiskal menunjukkan nilai belanja perpajakan untuk tiga jenis insentif di PP Nomor 74 Tahun 2021 mencapai Rp2,78 triliun pada 2022. Angka ini diproyeksikan melonjak hingga Rp9,5 triliun pada 2025, atau meningkat 341% dari 2022. Proyeksi ini belum termasuk insentif dari PMK Nomor 38 Tahun 2023, Perpres Nomor 79 Tahun 2023, dan rencana perluasan insentif PPnBM DTP 3% untuk kendaraan hybrid di akhir 2024.

Rasionalitas di Balik Insentif

Ada tiga alasan utama mengapa pemerintah memperluas dukungan insentif fiskal untuk sektor otomotif:

Pertama, tekanan pada produksi dan penjualan. Produksi otomotif 2024 turun signifikan (-14,2% dari 2023, dan -18,6% dari 2022), dengan tren penurunan selama 24 bulan terakhir. Penjualan retail 2024 (889.680 unit) juga menjadi yang terendah ketiga sejak 2012 (di luar masa pandemi), menunjukkan sektor ini sedang dalam tekanan berat dan butuh intervensi.

Kedua, kontribusi vital terhadap perekonomian. Sektor otomotif sangat strategis, melibatkan 550 perusahaan pendukung utama, 1.000 perusahaan pendukung lainnya, 14.000 diler/bengkel resmi, dan sekitar 42.000 diler/bengkel tidak resmi. Keseluruhan rantai ini menyerap setidaknya 1,5 juta tenaga kerja. Penurunan di sektor ini berpotensi menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang luas, sehingga pemerintah perlu merespons untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

Ketiga, konsistensi dengan peta jalan industri. Perluasan insentif fiskal ini selaras dengan peta jalan pengembangan industri otomotif, yang saat ini hingga 2035 fokus pada dukungan kendaraan berbasis listrik, termasuk hybrid. Ini menunjukkan konsistensi kebijakan pemerintah dalam membangun industri yang lebih hijau.

Bukan Sekadar Insentif, Melainkan Sinyal Kepercayaan

Insentif fiskal bukan satu-satunya solusi, namun berfungsi merangsang permintaan produk dan menjadi sinyal dukungan politis kuat dari pemerintah. Di tengah kelesuan, sinyal ini dapat meningkatkan kepercayaan pelaku pasar terhadap masa depan sektor otomotif. Pada akhirnya, pertumbuhan berkelanjutan sektor ini akan membawa dampak positif bagi perekonomian nasional secara keseluruhan.


Penjualan Mobil pada 5 Bulan Ini Masih Lesu

KT1 13 Jun 2025 Investor Daily
Penjualan mobil pada 5 bulan ini masih lesu, membuat target penjualan sebesar 900 ribu unit tampaknya sulit tercapai. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaran Bermotor Indonesia (Gaikindo) penjualan mobil secara wholesales periode Januari-Mei 2025 tercatat 316.981 unit atau turun 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 335.405 unit. Sementara itu, dari sisi penjualan mobil secara ritel periode Januari-Mei 2025 tercatat sebesar 328.852 unit atau turun 9,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 362.163 unit. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menerangkan, untuk mencapai target unit di sisa tujuh bulan. Pada hal angka ini jauh melampaui rata-rata penjualan per bulan sejauh ini yang hanya sekitar 63.400 unit. "Tanpa adanya perbaikan fundamental pada daya beli masyarakat dan stimulus kebijakan yang signifikan dari pemerintah, penjualan wholesales untuk 2025 tampaknya akan ada di kisaran 825.000-850.000 unit. Selain itu, belum terlihat gambaran bahwa pemulihan tahun ekonomi akan terjadi tahun ini," ucap dia. (Yetede)

Industri Otomotif Masih Terjebak Perlambatan

HR1 09 Jun 2025 Kontan
Sektor otomotif nasional masih menghadapi tekanan berat akibat kondisi makroekonomi domestik dan global yang belum stabil. Sepanjang kuartal I-2025, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan penjualan mobil sebesar 4,8% dan roda dua sebesar 3% secara tahunan. Analis Jason Sebastian dari Samuel Sekuritas Indonesia menilai, prospek sektor ini hingga akhir 2025 masih suram, utamanya karena lemahnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan PDB yang rendah.

Dampak perlambatan ini terasa pada emiten besar seperti PT Astra International Tbk (ASII). Tim riset Ajaib Sekuritas Asia memproyeksikan penurunan penjualan roda empat ASII sebesar 8,8% dan pertumbuhan roda dua yang hanya naik tipis 2%. Emiten komponen seperti PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) juga terdampak, dengan pendapatan turun 1,6% kuartalan pada kuartal I-2025. Jason menambahkan, depresiasi rupiah turut menekan margin DRMA karena 30% harga pokok penjualannya berbasis dolar AS.

Namun, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) justru mendapat angin segar dari depresiasi rupiah karena 60%-70% pendapatannya berasal dari ekspor. Meski demikian, Tim Riset Sinarmas Sekuritas tetap mewaspadai gangguan perdagangan global yang bisa memukul pendapatan ekspor SMSM.

Sektor otomotif juga mulai tersentuh sentimen kendaraan listrik. Penjualan battery electric vehicle (BEV) tumbuh pesat 211% (Januari–April 2025). SMSM dinilai oleh Sinarmas sebagai salah satu emiten yang paling siap menyambut pertumbuhan EV karena memiliki 70 jenis komponen khusus EV dan fasilitas produksi yang bisa diadaptasi tanpa investasi besar. Sebaliknya, ASII menghadapi tantangan karena harus mengalokasikan belanja modal signifikan tanpa jaminan laba jangka pendek.

Di tengah tekanan ini, Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas tetap optimistis akan pemulihan di paruh kedua 2025 jika daya beli masyarakat membaik. Ia merekomendasikan trading buy untuk saham AUTO, sementara Jason menyarankan hold untuk saham DRMA.

Sektor otomotif Indonesia masih dalam tekanan akibat ekonomi lesu, namun peluang tetap ada lewat pertumbuhan EV dan potensi pemulihan daya beli. Tokoh-tokoh seperti Jason Sebastian, Miftahul Khaer, dan tim riset Sinarmas dan Ajaib Sekuritas menjadi penyorot utama dalam analisis kinerja dan prospek emiten sektor ini.

Kompetisi Pasar Otomotif di Tanah Air Kian Sengit dengan Menjamurnya Mobil Listrik

KT1 07 Jun 2025 Investor Daily (H)
Kompetisi pasar otomotif di Tanah Air kian sengit dengan menjamurnya mobil listrik. Bukan hanya BYD ataupun Denza, yang kini menjadi penantang kuat. Tapi, kendaraan listrik asal pabrikan China, Xiaopeng Motors-Xpeng yang menggandeng  unit bisnis Erajaya Group juga akan memanas persaingan. Pelan tapi pasti, landskap pasar otomotif telah mengalami pergeseran sejak kendaraan listrik (electric vehicle/EV) resmi menggelinding di jalanan industri otomotif Indonesia. Data teranyar menunjukan, mobil listrik seperti BYD dan Denza menjadi dua jenama yang berhasil mendobrak pasar otomotif yang selama ini didominasi nama besar seperti PT Astra International Tbk (ASII). Tak mengherankan, sepanjang empat bulan pertama tahun ini, penjualan mobil Astra mengalami penyusutan sebanyak 6% dengan pangsa pasar sebesar 54%. Sebaliknya, penjualan mobol non-Astra justru tumbuh 10%, yang salah satunya disitribusikan oleh penjualan BYD-Denza sebanyak 4.307 unit. Posisi mobil listrik Xpeng sendiri dalam peta persaingan otomotif tersebut akan menyasar ceruk pasar yang berbeda dengan menjanjikan value proposition mobil listrik premium dan keunggulan fitur  teknologi yang canggih. (Yetede)

Suzuki Investasi Rp 1 T

KT1 30 May 2025 Investor Daily
PT Suzuki Motor (SIM) menggelontorkan investasi sedikitnya Rp 1 triliun untuk mengembangkan model terbarunya, Suzuki Fronx di Indonesia. SUV ringkas yang hadir dalam varian bensin maupin mild hybrid ini telah dirakit secara lokal dan memiliki kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang disebut sekitar 60%. Suzuki Fronx hadir dalam beberapa varian, yakni GL, seharga Rp 259 juta MT (transmisi manual) dan Rp271 juta AT (transmisi otomatis), GX seharga Rp271 juta (MT) dan Rp293,3 juta (AT), serta GSX seharga Rp 319,9 juta (AT). "Komponen saja investasi yang telah kita keluarkan lebih dari Rp1 triliun untuk pengadaan komponen (fronx) untuk produksi tidak hanya supplier tapi tentunya di pabrik perlu ada investasi, sehingga bisa dipastikan jumlahnya lebih dari Ro 1 triliun untuk mengembangkan Fronx," ujar Direktur Pelaksana  PT SIM Shodiq Wicaksono. PT SIM mendapatkan kepercayaan dari Suzuki Motor Corporation (SMC) Japan untuk memproduksi Suzuki Fronx secara lokal di Indonesia. Proses manufaktur keseluruhan model ini berlangsung di fasilitas Suzuki Cikarang Plant, Jawa Barat, yang telah memenuhi standar global dan didukung oleh berbagai pelaku industri lokal. (Yetede)

RI Bersiap Ekspor Mobil Listrik

HR1 26 May 2025 Bisnis Indonesia
Indonesia semakin memantapkan langkahnya untuk menjadi pusat koneksi global dalam industri kendaraan listrik (EV), dengan dukungan penuh dari pemerintah dan sektor investasi strategis seperti BPI Danantara. Pandu Sjahrir, selaku Chief Investment Officer BPI Danantara, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengekspor kendaraan listrik yang diproduksi di dalam negeri dan menjadi central hub dunia untuk ekosistem EV, tidak hanya untuk pasar domestik tetapi juga internasional.

Dalam upaya itu, BPI Danantara siap berkolaborasi dengan sejumlah perusahaan besar asal China, seperti Huayou, dalam berbagai sektor strategis termasuk penghiliran baterai, ketahanan energi, digitalisasi infrastruktur, dan kecerdasan buatan (AI). Pandu menekankan bahwa kerja sama tersebut harus bersifat komersial global dan saling menguntungkan, terutama dengan adanya transfer teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyoroti pentingnya pengembangan ekosistem baterai untuk sepeda motor listrik, mengingat Indonesia memiliki sekitar 140 juta unit sepeda motor yang saat ini masih berbahan bakar fosil. Bahlil menyatakan bahwa fokus pada kendaraan roda dua akan mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap BBM.

Indonesia juga telah menjalin kerja sama besar dalam proyek pengembangan baterai dari hulu ke hilir dengan dua perusahaan asing: Huayou (Proyek Titan, senilai US$9,8 miliar) dan CATL (Proyek Dragon, senilai US$6 miliar), dengan rencana groundbreaking pada Juni 2025.

Dengan kolaborasi ini, Indonesia menunjukkan keseriusannya menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global kendaraan listrik, serta mengintegrasikan strategi investasi, teknologi, dan peningkatan kapasitas lokal untuk mendukung visi jangka panjang transisi energi dan industri hijau nasional.

Ambisi Industri Nikel

KT1 23 May 2025 Investor Daily (H)

Indonesia saat ini menghadapi dua pilihan kritis, antara mengejar ambisi industrialisasi-khususnya sebagai produsen dan pusat manufaktur baterai kendaraan listrik (lectric vehicle atau EV) di pasar dunia. Sebagai produsen nikel terbesar dengan cadangan mencapai 55 juta metrik ton, posisi Indonesia memang sangat strategis dalam rantai pasok baterai EV global. Pemerintah menargetkan untuk menjadi salah satu dari tiga produsen baterai EV terbesar di dunia pada tahun 2027, dengan kapasitas produksi mencapai 2030 guna memenuhi hingga 9% dari permintaan global. Langkah strategis seperti larangan ekspor bijih nikel sejak 2020 bertujuan untuk mendorong hilirisasi dan menarik investasi asing guna mewujudkan ambisi ini. Oleh karena itu, pemerintah aktif mengundang masuknya perusahaan-perusahaan besar seperti Hyundai-LG, CATL, Faxconn, Ford, BASF, dan LG Solution. Kawasan industri seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tenggara juga berkembang pesat sebagai pusat pengolahan nikel. (Yetede)