;
Tags

Otomotif

( 406 )

Perbanyak Insentif Industri Otomotif, Daripada Menambah Pajak

KT1 20 May 2025 Investor Daily
Pemerintah diharapkan dapat memperbanyak insentif untuk industri otomotif daripada menambah pajak. Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menerangkan, pemberian insentif pajak mobil bisa menjadi obat mujarab untuk menaikkan penjualan mobil dalam jangka pendek, Ini sudah dibuktikan pada 2021. Dia mengakui, saat memberikan insentif, penerimaan negara bisa berkurang. Tetapi, ini akan ternormalisasi, begitu pasar mobil pulih. "Kami tidak minta utang atau subsidi, melainkan penundaan penyetoran pajak pada periode tertentu. Begitu ekonomi bangkit, penerimaan pemerintah akan kembali," kata Kukuh saat dalam diskusi "Menakar Efetivitas Insentif otomotif," yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta. Dia mengatakan, pajak kendaraan di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan di Malaysia. Di Malaysia pajak tahunan Avanza 1.5L Rp330.000, kemudian biaya balik nama hanya Rp7.000, tidak ada mutasi daerah dan tidak ada perpanjangan 5 tahunan. Sedangkan di Indonesia pajak tahunan mobil yang sama mencapai Rp4.000.000, ada wajib perpanjangan 5 tahunan serta biaya balik nama Rp.300.000-500.000. "Mohon maaf saya sebut jenama supaya gampang, Di sana pajak tahunannya engga lebih dari Rp 1 juta. Di sini Rp 6 juta, jadi bisa dibayangkan. Kalau ini dikurangikan  lumayan," kata Kukuh. (Yetede)

Industri Multifinance Melakukan Diversifikasi

KT1 20 May 2025 Investor Daily
Di tengah tantangan penjualan otomotif saat ini, OJK mendorong industri pembiayaan (multifinance) untuk melakukan diversifikasi ke sektor produktif. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengatakan, per maret 2025 mencatatkan pertumbuhan piutang  pembiayaan sebesar 4,6% secara year on year (yoy) menjadi Rp510,97 triliun. "Untuk menghadapi tantangan industri multifinance didorong untuk melakukan diversifikasi ke sektor produktif antara lain seperti alat berat, energi terbarukan, dan kendaraan listrik," kata Agusman. Agusman menilai prospek industri multifinance masih terbuka lebar dengan diversifikasi produk. Mengingat, pembiayaan kendaraaan listrik saat ini cukup menjanjikan. Di mana, penyaluran pembiayaan kendaraan listrk per Maret 2025 meningkat 5,66% secara bulanan (month to month/mtm) menjadi besar Rp16,63 triliun dibandingkan bulan sebelumnya Rp15,74 triliun, dengan porsi sebesar 3,08% dari total pembiayaan multifinance. "Secara umum, potensi pembiayaan atas kendaraan bermotor lisitrik di Indonesia masih cukup terbuka lebar seiring dengan rencana pembukaan investasi dalam bentuk pabrik dari manufaktur kendaraan bermotor lustirk di Indonesia," tutur Agusman. (Yetede) 

Pertumbuhan SPKLU Belum Seimbang dengan Pertumbuhan EV

KT1 19 May 2025 Investor Daily (H)
Pertumbuhan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum belum seimbang dengan pertumbuhan electric vehicle (EV). Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil Battery Electric Vehicle (BEV) di 2024 mencapai 43.188 unit untuk menguasai  5% pangsa pasar. Sedangkan, hingga April 2025, Indonesia baru mempunyai sekitar 3.772 SPKLU. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi  Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, rasio SPKLU untuk 17-20 EV, sementara populasi mobil listrik terus meningkat pesat melebihi  kecepatan pertumbuhan SPKLU. "Distribusi SPKLU masih timpang, dengan 80% berlokasi di Pulau Jawa. Banyak SPKLU hanya mendukung pengisian lambat (AC) dan belum dilengkapi teknologi fast charging," ucap dia kepada Investor Daily. Yannes melihat setidaknya ada beberapa faktor yang membuat kondisi timpang tersebut. Hal itu seperti biaya pembangunan yanga tinggi, distribusi SPKLU yang terkonsentrasi di beberapa kota besar saja di Pulau Jawa (khususnya Jabodetabek), serta perizinan yang rumit membuat ekspansi terhambat. (Yetede)

Mobil China Kini Dominasi dan Mengguncang Penjualan Jepang

KT1 10 May 2025 Investor Daily (H)
Mobil China menggoyang dominasi pabrikan Jepang di pasar Indonesia. Ini terlihat jelas pada lonjakan penjualan dan pangsa pasar di mobil China, sedangkan Jepang turun dalam. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang diolah Investor Daily. Per Maret 2025, penjualan mobil China melonjak 153% menjadi 20.672 nit, dibandingkan periode sama tahun lalu 8.148 unit, di tengah penurunan pasar mobil sebesar 4,75% menjadi 205.160 unit dari 215.160 unit dari 215.250 unit. Tak ayal lagi, pangsa pasar pemain China melesat dari 10%. Sebaliknya, pangsa pasar mobil Jepang turun cukup dalam dari 91,7% menjadi 85,6% menjadi 10%. . Mayoritas pemain Jepang, kecuali Toyota, mencetak penurunan penjualan per Maret 2025. Daihatsu mencetak penurunan penjualan terdalam, mencapai 23,9% menjadi 34.999 unit, Suzuki 20,4% menjadi 14.174 unit, Mitsubishi 15,6% menjadi 21.692 unit, dan Izusu 13,7% menjadi 5.911 unit. Hanya Toyota yang mampu membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 5% menjadi 68.955 unit. Toyota sejauh ini masih merajai pasar mobil domestik dengan pangsa pasar 33,6%. Namun, pemain Jepang lainnya mencetak penurunan pangsa pasar yang dalam akibat melorotnya penjualan. (Yetede)

Nasib RI di Tengah Perang Otomotif

KT3 06 May 2025 Kompas

Kebijakan Trump yang ingin memperkuat industri manufaktur membuat produsen mobil asing harus mendirikan pabriknya di AS dan menggunakan konten lokal AS. Proklamasi itu mengubah tarif terhadap mobil dan suku cadang dengan mendorong produsen merakit mobil di AS. Lewat kebijakan itu, semua impor mobil dikenai tarif 25 %. Meski begitu, jika produsen membuat mobil di AS dengan 85 % konten AS, produsen itu tidak dikenai tarif atas produksi kendaraan untuk tahun pertama. Selanjutnya, jika produsen membuat mobil di AS dengan 50 % konten lokal berasal dari AS dan 50 % diimpor dari tempat lain, produsen hanya membayar 35 % untuk tahun pertama.

Sejumlah ekonom menilai, tarif Trump itu dapat menyebabkan produksi otomotif AS lebih tinggi dalam jangka panjang. Namun, kebijakan itu menyakitkan bagi konsumen AS dan ekonomi untuk jangka pendek. Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin Minggu (4/50, menilai tarif Trump akan membuat harga mobil impor di AS meningkat sehingga mengurangi permintaan mobil. Trump berharap produsen AS bisa melihat ini sebagai peluang untuk meningkatkan produksi. Indonesia tidak akan terlalu terdampak langsung karena pasar otomotif di AS dan di Indonesia sangat berbeda. Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu menuturkan, tarif Trump tetap perlu diperhatikan karena adanya gangguan rantai pasok global dan risiko perang dagang yang dapat mengurangi permintaan produk komponen mobil Indonesia di pasar AS.

Berkurangnya permintaan itu akibat semakin tinggi biaya yang harus dibayarkan para importir suku cadang tersebut di AS. Di sisi lain, tarif Trump itu akan membuka peluang hilirisasi industri lokal Indonesia, terutama ban dan bagian komponen lainnya untuk meningkatkan nilai tambah. Celah ini harus dilihat sebagai peluang oleh Indonesia karena industri mobil Jepang dan Korsel di pasar AS memerlukan komponen elektrik dan transmisi dari Thailand dan Vietnam yang akan merasakan dampak ganda karena tarif tinggi dari AS. ”Peluang ekspor ke AS tetap terbuka jika Indonesia mampu bersaing dengan kualitas dan harga dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam,” katanya. (Yoga)


China yang Sulit Terkejar dan Mobil Listrik

KT3 03 May 2025 Kompas

Pertumbuhan penjualan kendaraan listrik global semakin masif seiring penguasaan teknologi terus meningkat, dengan China sebagai negara kontributor utama. Semakin banyak dan beragamnya produsen mobil listrik atau electric vehicle (EV) serta rantai pasok yang dominan membuat laju China makin tak terbendung. Laporan Rho Motion, lembaga riset pasar EV di Inggris, pada 15 April 2025, menunjukkan jumlah EV yang terjual di pasar global, Maret 2025, sebanyak 1,7 juta unit. Sementara pada triwulan I-2025, total EV yang terjual 4,1 juta unit atau meningkat 29 % dibanding pada 2024, dengan China menjadi penyumbang terbesar dengan penjualan 2,4 juta unit atau meningkat 36 % dibanding triwulan I-2024.  Dominasi China itu melanjutkan tren positif tahun-tahun sebelumnya.

Mengutip data Badan Energi Internasional (IEA), pada 2023, registrasi kendaraan listrik terbesar di dunia terkonsentrasi di China dengan proporsi 60 %. Adapun new energy vehicle di China meliputi EV berbasis baterai (BEV), plug-in hybrid EV (PHEV), dan fuel cell EV (FCEV). Berbagai jenama EV dengan volume penjualan terbesar di China antara lain BYD, SAIC-GM-Wuling, Tesla, Geely, GAC Aion, Chery, Changan, Li Auto, Nio, dan XPeng. ”Merek-merek China memantapkan diri di pasar EV global. Tak hanya berkembang, mereka juga membentuk ulang persaingan global melalui skala operasional besar dan keunggulan biaya,” ujar Data Manager Rho Motion Charles Lester dikutip dari Benchmark Source.

Pakar otomotif China, Lei Xing, menuturkan, catatan fantastis China dalam mobil listrik berkat kesadaran China, dekade lalu, yang menganggap EV sebagai inovasi transportasi terpenting sejak revolusi industri otomotif pada awal abad ke-20. Pada 2009, Pemerintah China meluncurkan program subsidi percontohan untuk membangun jaringan kendaraan listrik. Program Ten Cities and Thousand Vehicle atau 10 Kota dan 1.000 Kendaraan bertujuan memberikan subsidi bagi kendaraan listrik dan hibrida baru pada sektor transportasi umum, seperti bus dan taksi. Barulah pada 2013 subsidi mulai diberikan kepada konsumen individu melalui sistem tier atau bertingkat berdasarkan jarak tempuh EV. Prograsubsidi dicabut pada 2022. Namun, saat itu, China sudah ada di jalur yang tepat untuk mendominasi pasar EV global. Total, Pemerintah China menggelontorkan dana 231 miliar USD untuk subsidi dari 2009 hingga 2023. (Yoga)


Huayou China Menggantikan LG di Proyek Baterai

KT3 25 Apr 2025 Kompas (H)

Perusahaan China, Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd, akan menggantikan konsorsium asal Korsel, LG Energy Solution, yang mundur dari investasi baterai kendaraan listrik di Indonesia. Pemerintah menilai dinamika ini sebagai hal yang lumrah dan memastikan tidak akan mengganggu target program pengembangan kendaraan listrik nasional. Menperin, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (24/4) menyatakan, mundurnya LG Energy Solution dari proyek kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak perlu dikhawatirkan. Posisi LG akan segera digantikan oleh mitra investasi baru asal China, yakni Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd, yang bermarkas di Tongxiang, Zhejiang, China.

Mereka dikenal bergerak di bidang penelitian, pengembangan, serta manufaktur material baterai lithium ion dan material berbasis kobalt. Produk mereka banyak digunakan dalam perangkat elektronik hingga kendaraan listrik. ”Dalam sebuah konsorsium bisnis atau proyek skala besar, pergantian investor merupakan hal yang lazim. Hal ini tidak mengganggu target pengembangan EV di Indonesia. Akselerasi pembangunan ekosistem EV tetap berjalan sesuai perencanaan dan target, apalagi beberapa fasilitas sudah mulai berproduksi,” ujar Agus. Kabar hengkangnya LG diberitakan kantor berita Korsel, Yonhap, 18 April 2025. LG dikabarkan memutuskan untuk mundur dari proyek senilai sekitar 11 triliun won atau 7,7 miliar USD atau Rp 129 triliun. (Yoga)


Investor Tiongkok Siap Gantikan LG di Proyek Besar

HR1 24 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Mundurnya LG Energy Solution dari proyek baterai kendaraan listrik berbasis nikel di Indonesia tidak menggoyahkan komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem kendaraan listrik terintegrasi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa proyek senilai US$9,8 miliar tetap berjalan sesuai peta jalan, dengan Huayou Holding dari Tiongkok menggantikan posisi LG dalam konsorsium bersama BUMN.

Menteri BUMN Erick Thohir juga menekankan bahwa langkah LG tidak akan menghambat percepatan pembangunan rantai pasok baterai EV. Pemerintah bahkan terbuka menawarkan proyek tersebut kepada mitra baru, termasuk negara-negara seperti AS, Jepang, dan Timur Tengah.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani melihat hengkangnya LG hanya sebagai bentuk penundaan, bukan penolakan, karena alasan pasar dan waktu investasi. Sementara itu, Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto dan Ketua Umum Periklindo Moeldoko sama-sama optimis bahwa industri kendaraan listrik nasional tetap prospektif, terbukti dari meningkatnya penjualan dan antusiasme terhadap pameran EV di dalam negeri.

Moeldoko juga menilai bahwa mundurnya LG tidak berdampak besar secara nasional, bahkan bisa menguntungkan dari sisi persaingan bisnis. Secara keseluruhan, para tokoh menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi menarik bagi investasi industri kendaraan listrik dan terus melangkah menuju visi sebagai pusat industri EV global.

Astra Masih Bertahan dari Gempuran Mobil BEV China

KT1 21 Apr 2025 Investor Daily

Grup Astra penguasa pasar mobil Indonesia, masih bertahan di tengah masifnya gempuran mobil listrik baterai (battery electric vehicle/BEV), terutama asal China. Buktinya, pangsa pasar Astra sejauh ini masih solid. Berdasarkan riset Macquarie, pangsa pasar Toyota dan Daihatsu, merek andalan Astra, mencapai 50,4% pada Maret 2025. Sementara itu, pangsa pasar Toyota malah naik tipis menjadi 33,8% per kuartal 1-2025, dibandingkan periode sama tahun lalu 33,7%. "Adapun pangsa pasar Daihatsu memang turun menjadi 12,1% dari tadinya 18,8%," tulis Macquarie. Di sisi lain, penjualan merek mobil Jepang lainnya turun tajam ada Maret 2025. Penjualan Honda dan Suzuki rontok 40,4$ dan 33,4%.

Akumulasi penjualan kedua merek  ini turun 20,4% per Maret tahun ini. Pemain BEV China, BYD Plus Denza, mencetak  kenaikan pangsa pasar menjadi 3,7% per maret 2025 dari 1,8% per Desember tahun lalu Demikian pula dengan Hyundai yang bisa  menaikkan pangsa pasar menjadi 3,4% dari 2,6%. Selain BYD, pemain BEV China yang menonjol adalah Wuling dan Chery. Secara terpisah, Masquarie telah berdiskusi dengan Chief FInancial Officer (CFO) dan manajemen Astra dalam nondeal roadshow (NDR) di AS. Intinya, Astra masih yakin bisa memimpin pasar mobil nasional. Manajemen Astra juga mengingatkan, bisnis jasa keuangan yang memasok 24% laba bersih tahun 2024 terbukti resilen ketika penjualan mobil turun. (Yetede)

Penjualan BYD Terus Melesat, Tesla Anjlok

KT3 27 Mar 2025 Kompas

Penjualan mobil listrik Tesla di Eropa anjlok hingga 49 % dalam dua bulan pertama 2025. Sentimen negatif terhadap sikap politik CEO Tesla, Elon Musk di Eropa dan afiliasinya dengan Presiden AS, Donald Trump menjadi penyebab merosotnya minat pasar Eropa itu. Sementara, mobil listrik China, BYD, membukukan pendapatan 107 miliar USD pada 2024, mengalahkan pendapatan Tesla yang tercatat 77,7 miliar USD pada periode yang sama. Meski dikenai tarif tinggi di pasar Eropa dan AS, prospek penjualan BYD diyakini tetap melesat tahun ini. Anjloknya penjualan Tesla terlihat dari data yang dilansir Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA), awal pekan ini.

Dalam catatan ACEA, selama tiga bulan terakhir penjualan Tesla kurang dari 17.000 unit di wilayah Uni Eropa, Inggris, dan negara-negara Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa. Angka ini jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni 28.000 unit Tesla. Penurunan juga terjadi ketika penjualan kendaraan listrik melonjak hingga 28,4 % sepanjang dua bulan pertama tahun ini menjadi 255.489 unit. Dari angka tersebut, kenaikan terjadi di pasar Uni Eropa sebesar 15,2 %. Di dua negara Eropa, yakni Jerman dan Perancis, Tesla merasakan kemerosotan penjualan paling tinggi, yakni hampir separuhnya dibanding tahun 2024.

Reaksi keras yang sangat kuat terjadi di Jerman setelah Musk menyuarakan dukungannya terhadap partai sayap kanan AfD. Sebaliknya, penjualan BYD melesat, hampir 4,3 juta unit kendaraan tahun lalu, meningkat 40 % dibanding tahun sebelumnya. Pada Februari 2025, secara bulanan penjualan BYD tercatat 318.000 unit, melonjak 161 %, meninggalkan Tesla. Wakil Presiden BYD, Stella Li mengatakan, pendaftaran untuk pembelian BYD di Eropa selama Maret dan April akan melejit. (Yoga)