;

Nasib RI di Tengah Perang Otomotif

Ekonomi Yoga 06 May 2025 Kompas
Nasib RI di Tengah Perang Otomotif

Kebijakan Trump yang ingin memperkuat industri manufaktur membuat produsen mobil asing harus mendirikan pabriknya di AS dan menggunakan konten lokal AS. Proklamasi itu mengubah tarif terhadap mobil dan suku cadang dengan mendorong produsen merakit mobil di AS. Lewat kebijakan itu, semua impor mobil dikenai tarif 25 %. Meski begitu, jika produsen membuat mobil di AS dengan 85 % konten AS, produsen itu tidak dikenai tarif atas produksi kendaraan untuk tahun pertama. Selanjutnya, jika produsen membuat mobil di AS dengan 50 % konten lokal berasal dari AS dan 50 % diimpor dari tempat lain, produsen hanya membayar 35 % untuk tahun pertama.

Sejumlah ekonom menilai, tarif Trump itu dapat menyebabkan produksi otomotif AS lebih tinggi dalam jangka panjang. Namun, kebijakan itu menyakitkan bagi konsumen AS dan ekonomi untuk jangka pendek. Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin Minggu (4/50, menilai tarif Trump akan membuat harga mobil impor di AS meningkat sehingga mengurangi permintaan mobil. Trump berharap produsen AS bisa melihat ini sebagai peluang untuk meningkatkan produksi. Indonesia tidak akan terlalu terdampak langsung karena pasar otomotif di AS dan di Indonesia sangat berbeda. Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu menuturkan, tarif Trump tetap perlu diperhatikan karena adanya gangguan rantai pasok global dan risiko perang dagang yang dapat mengurangi permintaan produk komponen mobil Indonesia di pasar AS.

Berkurangnya permintaan itu akibat semakin tinggi biaya yang harus dibayarkan para importir suku cadang tersebut di AS. Di sisi lain, tarif Trump itu akan membuka peluang hilirisasi industri lokal Indonesia, terutama ban dan bagian komponen lainnya untuk meningkatkan nilai tambah. Celah ini harus dilihat sebagai peluang oleh Indonesia karena industri mobil Jepang dan Korsel di pasar AS memerlukan komponen elektrik dan transmisi dari Thailand dan Vietnam yang akan merasakan dampak ganda karena tarif tinggi dari AS. ”Peluang ekspor ke AS tetap terbuka jika Indonesia mampu bersaing dengan kualitas dan harga dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam,” katanya. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :