Deflasi
( 2 )Anomali Konsumsi Jelang Lebaran 2025 harus Diwaspadai
Indonesia tengah mengalami anomali konsumsi selama Ramadhan dan menjelang Lebaran 2025. Deflasi pada Februari 2025 jadi indikatornya. Kendati harga sebagian pangan pokok berhasil ditekan atau mengalami deflasi, konsumsi masyarakat tidak naik signifikan. Anomali itu mengindikasikan adanya ketidakberesan ekonomi domestik. BPS mencatat, pada Februari 2025, Indonesia mengalami deflasi 0,48 % secara bulanan dan 0,09 % secara tahunan. Deflasi itu terutama dipicu penurunan harga sejumlah pangan pokok, seperti beras, tomat, cabai merah, dan daging ayam ras; serta diskon tarif listrik sebesar 50 %.
Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai, anomali konsumsi pada Ramadhan kali ini mengindikasikan ketidakberesan ekonomi domestik yang harus diwaspadai. ”Di saat konsumen berhemat, ekonomi tak lagi sehat,” demikian isi laporan ”Awas Anomali Konsumsi Jelang Lebaran 2025!” yang dirilis pada Kamis (27/3). Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menuturkan, tarif diskon listrik yang diberikan pemerintah turut berperan besar terhadap deflasi Februari 2025. Namun, janggalnya, deflasi Februari 2025 juga dialami kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, dengan andil 0,12 % secara bulanan.
Padahal, menjelang Ramadhan, kelompok itu biasanya menyumbang inflasi. ”Ada sinyal kuat bahwa kelompok rumah tangga menengah-bawah mengerem belanja,” katanya. Yusuf menilai, banyak faktor yang memicu penurunan daya beli, terutama maraknya PHK, sulitnya mencari pekerjaan di sektor formal, dan terbatasnya pertumbuhan upah. ”Ini harus diwaspadai (Deflasi). Jika situasi semakin buruk, pertumbuhan ekonomi semester I-2025 bisa melemah, mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang 50 % dari total produk domestik bruto,” katanya. (Yoga)
Sinyal Perlambatan Ekonomi dari Deflasi Tahunan
Terjadinya deflasi bulanan dan tahunan menjelang Ramadhan merupakan sebuah anomali yang memberi sinyal bahwa ekonomi tengah terkontraksi akibat melemahnya daya beli konsumen. Meningkatnya PHK menjadi salah satu faktor utama pendorong turunnya harga secara berkelanjutan. Berdasarkan data BPS, deflasi tahunan Februari 2025 tercatat sebesar 0,09 % dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Deflasi merupakan penurunan tingkat harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan dalam periode waktu tertentu. BPS mencatat, terakhir kali deflasitahunan terjadi 25 tahun lalu atau pada pergantian milenium alias tahun 2000.
Selain deflasi tahunan, deflasi secara bulanan juga terjadi pada Februari 2025 sebesar 0,48 %. Kondisi ini menjadi anomali mengingat tahun ini Ramadhan sudah dimulai pada 1 Maret 2025. Secara historis, dari tahun ke tahun, konsumsi masyarakat meningkat menjelang Ramadhan. Tahun lalu saat Ramadhan dimulai pada 11 Maret 2024, BPS mencatat tingkat inflasi bulanan sebesar 0,37 % pada Februari 2024. Jika daya beli masyarakat sedang baik, tingginya tingkat permintaan akan mengerek naik harga barang dan jasa. Dalam keterangan resmi, Selasa (11/3), Ketua Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu menyebutkan, terjadinya deflasi secara tahunan pada Februari 2025 sebagian besar dipengaruhi oleh program diskon tarif listrik 50 % pada Januari dan Februari 2025. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023

