;
Tags

Bursa

( 805 )

Sinyal Kuat Kebangkitan IHSG

KT1 30 Jun 2025 Investor Daily (H)
Memasuki paruh kedua 2025, Indeks  Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang bangkit (rebound) dan kembali menembs level 7.000. Kondisi indeks yang sudah oversold, meredanya konflik Timur Tengah, hingga ekspektasi data ekonomi dan kinerja semester 1 emiten yang makin membaik, akan menjadi penopang pergerakan positif IHSG di sisa enam bulan terakhir tahun. Potensi penguatan IHSG makin besar, sejalan dengan menghijaunya bursa global. Dow Jones Index bahkan mencatatkan penguatan tajam hingga 1% dan indeks AS S&P 500 serta Nasdaq Composite tembus rekor teringgi baru. "Pasar modal Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menjanjikan. Setelah ditutup melemah tipis sebesar 0,14% secara mingguan di level 6.897 pada pekan keempa Juni, IHSG justru memperlihatkan kekuatan teknikal untuk rebound," kata Founder Stocknow.id Hendra Wardana. (Yetede)

Merger & Akuisisi di Asia Melonjak Dua Kali Lipat

HR1 28 Jun 2025 Kontan
Aktivitas merger dan akuisisi (M&A) di Asia melonjak pesat pada paruh pertama 2025, dengan total nilai transaksi mencapai US$ 650 miliar, naik dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu menurut data LSEG Reuters. Jepang menjadi motor utama lonjakan ini, mencatat nilai transaksi M&A sebesar US$ 232 miliar—lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Kei Nitta, Kepala Global M&A Nomura Securities, menjelaskan lonjakan ini didorong oleh reformasi tata kelola perusahaan di Jepang, penawaran pembelian kembali (take-private), ekspansi ke luar negeri, serta keterlibatan aktif investor ekuitas swasta. Pemerintah Jepang juga mendukung tren ini melalui kebijakan privatisasi anak usaha yang terdaftar di bursa, sehingga memicu mega-deal seperti privatisasi grup Toyota senilai US$ 34,6 miliar dan NTT senilai US$ 16,5 miliar. Nitta menegaskan, banyak transaksi serupa sedang diproses dan jumlahnya terus bertambah, mencerminkan kuatnya minat investor.

Selain itu, suku bunga rendah di Jepang membuat biaya pinjaman murah, mendorong perusahaan untuk melakukan ekspansi agresif termasuk akuisisi ke luar negeri guna mencari pertumbuhan baru di tengah pasar domestik yang menyusut. SoftBank Group juga menjadi sorotan dengan memimpin penggalangan dana US$ 40 miliar untuk OpenAI, mencatat rekor pendanaan swasta terbesar di sektor teknologi.

Namun, Atsushi Tatsuguchi, Kepala Grup Penasehat M&A Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, mengingatkan ada tantangan signifikan, seperti ketidakpastian ekonomi global yang dapat menciptakan kesenjangan valuasi antara pembeli dan penjual, sehingga berisiko membuat lebih banyak transaksi gagal mencapai kesepakatan.

Meski demikian, minat investasi tetap tinggi di berbagai sektor seperti keuangan, teknologi, dan asuransi. Bankir melihat bahwa meski terdapat kehati-hatian akibat konflik geopolitik dan isu perdagangan global, momentum pertumbuhan M&A di Asia—khususnya Jepang—diproyeksikan akan berlanjut pada semester kedua 2025.

Menara Mitratel Tetap Tangguh di Tengah Persaingan

HR1 26 Jun 2025 Kontan
Kinerja PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) pada kuartal I-2025 memang masih lesu dengan pendapatan turun 9% yoy menjadi Rp 2,3 triliun, namun perusahaan tetap solid berkat dominasi pangsa pasar nasional dan strategi optimalisasi aset.

Sukarno Alatas, Analis Senior Kiwoom Sekuritas Indonesia, menekankan kekuatan MTEL dengan pangsa pasar nasional 44% dan jaringan luas, termasuk wilayah luar Jawa yang banyak memiliki kontrak jangka panjang. Ia juga menyoroti peningkatan tenancy ratio dari 1,44 menjadi 1,52 kali, yang mencerminkan keberhasilan MTEL mengoptimalkan aset menara lewat kolokasi. Sukarno memproyeksi laba bersih MTEL sepanjang 2025 bisa mencapai Rp 2,1 triliun, dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 690 per saham.

Arief Machrus, analis Ina Sekuritas, menilai MTEL diuntungkan oleh potensi penurunan suku bunga, yang penting karena 98% dari utang Rp 15,83 triliun-nya memakai skema floating rate. Penurunan bunga akan membantu menstabilkan beban bunga MTEL. Arief juga merekomendasikan buy dengan target Rp 800 per saham.

Namun, MTEL menghadapi risiko dari merger XL Axiata dan Smartfren menjadi XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), yang bisa mengurangi sekitar 1.000 penyewa menara akibat tumpang tindih jaringan. Meski demikian, Aurellia Setiabudi dari BNI Sekuritas menilai dampak merger ini hanya sementara dan tak signifikan terhadap keuangan MTEL. Ia justru menekankan potensi dukungan dari Indosat (ISAT) yang bisa memberi order baru hingga 629 menara pada kuartal II-2025. Aurellia merekomendasikan hold untuk 3 bulan ke depan dan buy untuk 12 bulan dengan target Rp 800.

Intinya, meski awal tahun 2025 MTEL menghadapi tekanan pada pendapatan dan risiko kehilangan sebagian penyewa karena merger di industri, fundamental bisnisnya tetap kuat berkat dominasi pasar, kemampuan mengoptimalkan aset, potensi ekspansi fiber optic, dan peluang mendapat keuntungan dari penurunan suku bunga. Para analis umumnya optimistis dan merekomendasikan buy untuk prospek jangka menengah hingga panjang.

Aturan Baru Jadi Tantangan Industri

HR1 25 Jun 2025 Kontan
PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) sedang agresif melakukan ekspansi untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang, dengan alokasi belanja modal (capex) meningkat menjadi Rp 1 triliun pada 2025, naik dari Rp 704 miliar tahun sebelumnya. Ekspansi ini meliputi pembangunan RS Kasih di Cirebon (kuartal II-2025), RS Mitra Keluarga di Sidoarjo (kuartal III-2025), serta dua RS tambahan pada 2026. MIKA juga menargetkan penambahan 150–240 tempat tidur di rumah sakit baru dan yang sudah ada.

Sarkia Adelia, analis Panin Sekuritas, menilai kontribusi dua rumah sakit baru di 2025 masih akan minim, karena waktu yang dibutuhkan untuk mengisi kapasitas baru. Ia memproyeksikan tingkat keterisian tempat tidur MIKA bakal turun ke 50–57% pada 2025 dari 57,8% pada 2024. Namun, Sarkia menilai tekanan dari skema asuransi baru bisa diredam melalui implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dan Coordinator of Benefits (COB) mulai semester II-2025, sehingga siklus kas tetap terkendali. Ia merekomendasikan beli MIKA dengan target harga Rp 3.000 per saham.

Sabrina, analis Trimegah Sekuritas, menilai kondisi fundamental keuangan MIKA sangat kuat—kas Rp 1,7 triliun per kuartal I-2025—sehingga kenaikan capex tidak akan membebani kinerja. Namun, ia mencatat tantangan ke depan berupa skema co-payment sesuai SEOJK Nomor 7/2025 yang berlaku mulai 2026. Skema ini mewajibkan pasien menanggung sebagian biaya rawat jalan/inap, yang dapat memengaruhi volume pasien, terutama karena pendapatan MIKA masih sangat bergantung pada pasien dengan asuransi swasta. Sabrina mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 3.050 per saham.

Kenzie Keane dan Jonathan Guyadi dari Samuel Sekuritas memproyeksikan pendapatan MIKA naik 13% ke Rp 5,54 triliun dan laba bersih naik 11% ke Rp 1,27 triliun pada 2025. Namun, mereka menurunkan target harga dari Rp 3.300 ke Rp 3.100 per saham.

Analis menilai ekspansi MIKA—termasuk pembangunan RS baru, penambahan tempat tidur, dan investasi teknologi untuk layanan khusus (Center of Excellence)—menjadi strategi untuk menopang pertumbuhan jangka panjang. Namun, realisasi kontribusi ke kinerja akan bertahap, dengan tantangan dari implementasi regulasi baru yang bisa memengaruhi volume pasien berasuransi.

Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih

KT1 24 Jun 2025 Investor Daily (H)
Ketegangan geopolitik kembali meningkat di kawasan Timur Tengah  setelah serangan Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas  nuklir di Iran, serta potensi penutupan Selat Hormuz. Situasi yang memicu lonjakan harga minyak global ini turut mengangkat saham-saham sektor energi dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan  saham energi ini diyakini bakal berlanjut, dengan potensi gain yang masih  cukup tinggi. Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila menilai, kondisi saat ini sangat menguntungkan bagi emiten hulu migas yang berorientasi  pada produksi. "Dengan kekhawatiran gangguan rantai pasok, harga jual minyak bisa meningkat tajam, dan hal ini akan berdampak langsung pada kenaikan margin keuntungan bagi produsen seperti PT Medco Energi Internasioanl Tbk (MEDC)," kata dia. Indy memproyeksikan harga saham MEDC bakal melanjutkan penguatan menuju level Rp 1.600-1.700. Sementara PGAS atau PT Perusahaan Gas Negara Tbk juga bisa terdorong ke Rp 1.800. Meski saham migas mencatatkan penguatan signifikan, Indy menilai, kontribusinya terhadap IHSG masih terbatas. "Saham-saham energi bukan termasuk big cap IHSG. Jadi, untuk menopang indeks secara luas tetap diperlukan peran emiten perbankan yang bobot kapitalisasinya besar," tutur dia. (Yetede)

Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan

HR1 24 Jun 2025 Kontan
PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) terus melakukan ekspansi agresif untuk mendorong kinerja, terutama dengan menambah toko di luar Pulau Jawa dan meluncurkan konsep bisnis baru bernama Ja-Di (Jajan di Alfamidi), yaitu kios kopi dan makanan ringan.

Rifdah Fatin Hasanah, analis Ina Sekuritas, menilai dominasi 52,4% toko MIDI di luar Jawa adalah strategi yang tepat karena kawasan ini memiliki pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi lebih cepat. Hal ini tercermin dari kontribusi toko-toko luar Jawa yang menyumbang 44% pendapatan kuartal I-2025, dengan pertumbuhan penjualan 26% yoy. Rifdah juga menyoroti efisiensi Ja-Di, yang hanya membutuhkan belanja modal Rp 100 juta per kios, jauh lebih murah dibanding format lain seperti Lawson. Ia memproyeksi pendapatan MIDI tahun ini naik 6,48% menjadi Rp 21,17 triliun dengan laba bersih Rp 672,2 miliar, sehingga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 490 per saham.

Jessica Leonardy, analis OCBC Sekuritas, mendukung strategi MIDI yang menargetkan kontribusi toko luar Jawa mencapai 60% dalam jangka panjang. Selain membuka toko baru, MIDI juga menutup secara selektif toko yang kurang optimal, seperti beberapa gerai Midi Fresh, menyesuaikan perubahan perilaku konsumen. Jessica menilai konsep Ja-Di juga membantu MIDI memperluas kategori makanan segar yang diminati pasar.

Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai pelepasan bisnis Lawson ke induk usaha AMRT adalah langkah tepat yang akan membuat MIDI lebih fokus pada perdagangan eceran inti. Divestasi Lawson, kata Azis, tidak akan berdampak negatif pada margin perseroan, malah menjadi peluang untuk meningkatkan penjualan antar toko. Azis juga menilai konsep Ja-Di akan mendukung pertumbuhan penjualan MIDI ke depan dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 458 per saham.

Sementara itu, Gerry Harlan, analis Mandiri Sekuritas, optimistis terhadap prospek pertumbuhan MIDI yang berfokus pada perluasan jaringan toko di luar Jawa dan inovasi bisnis Ja-Di. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 640 per saham pada akhir tahun.

Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan

HR1 24 Jun 2025 Kontan
PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) terus melakukan ekspansi agresif untuk mendorong kinerja, terutama dengan menambah toko di luar Pulau Jawa dan meluncurkan konsep bisnis baru bernama Ja-Di (Jajan di Alfamidi), yaitu kios kopi dan makanan ringan.

Rifdah Fatin Hasanah, analis Ina Sekuritas, menilai dominasi 52,4% toko MIDI di luar Jawa adalah strategi yang tepat karena kawasan ini memiliki pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi lebih cepat. Hal ini tercermin dari kontribusi toko-toko luar Jawa yang menyumbang 44% pendapatan kuartal I-2025, dengan pertumbuhan penjualan 26% yoy. Rifdah juga menyoroti efisiensi Ja-Di, yang hanya membutuhkan belanja modal Rp 100 juta per kios, jauh lebih murah dibanding format lain seperti Lawson. Ia memproyeksi pendapatan MIDI tahun ini naik 6,48% menjadi Rp 21,17 triliun dengan laba bersih Rp 672,2 miliar, sehingga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 490 per saham.

Jessica Leonardy, analis OCBC Sekuritas, mendukung strategi MIDI yang menargetkan kontribusi toko luar Jawa mencapai 60% dalam jangka panjang. Selain membuka toko baru, MIDI juga menutup secara selektif toko yang kurang optimal, seperti beberapa gerai Midi Fresh, menyesuaikan perubahan perilaku konsumen. Jessica menilai konsep Ja-Di juga membantu MIDI memperluas kategori makanan segar yang diminati pasar.

Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai pelepasan bisnis Lawson ke induk usaha AMRT adalah langkah tepat yang akan membuat MIDI lebih fokus pada perdagangan eceran inti. Divestasi Lawson, kata Azis, tidak akan berdampak negatif pada margin perseroan, malah menjadi peluang untuk meningkatkan penjualan antar toko. Azis juga menilai konsep Ja-Di akan mendukung pertumbuhan penjualan MIDI ke depan dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 458 per saham.

Sementara itu, Gerry Harlan, analis Mandiri Sekuritas, optimistis terhadap prospek pertumbuhan MIDI yang berfokus pada perluasan jaringan toko di luar Jawa dan inovasi bisnis Ja-Di. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 640 per saham pada akhir tahun.

Pasar Dalam Tekanan

KT1 23 Jun 2025 Investor Daily (H)
Serangan Amerika Serikat ke tiga fasilitas nuklir Iran pada Minggu (22/6/2025), memicu kekhawatiran potensi meluasnya perang Iran-Israel, yang akan memberikan dampak lebih besar ke sektor keuangan global. Pasar modal Indonesia pun tidak luput dari tekanan, IHSG BEI yang pekan lalu telah melemah 3,61%, berpotensi turun menguji support kuat di kisaran 6.812 hingga 6.700. "Sentimen negatif bersifat eksternal ini sulit ditangkal oleh katalis domestik, mengingat meningkatnya potensi capital outflow dan melemahnya sentimen outflow dan melemahnya sentimen investor asing," kata Founder Stocknow.id Hendra Wardana. Hendra mengungkapkan, tindakan terbuka yang dilakukan militer AS menjadi babak baru dari ketegangan Timur Tengah yang sejak Oktober 2023 telah memanas akibat konflik Iran-Israel. Dengan keterlibatan langsung AS, dunia menghadapi risiko pecahnya perang terbuka skala besar di kawasan yang menjadi salah satu urat nadi pasokan energi global. Dia menyebut, ketidakpastian geopolitik ini menghapus optimisme jangka pendek terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed, dan menggantinya dengan kekhawatiran inflasi berbasis komoditas. Investor global kini cenderung berpindah ke aset defensif seperti US Treasury dan dolar AS, serta menurunkan eksposur terhadap pasar ekuitas terutama di negara berkembang. (Yetede)

Ketegangan AS–Iran Tekan Sentimen Pasar Global

HR1 23 Jun 2025 Kontan (H)
Keterlibatan Amerika Serikat (AS) di perang Israel-Iran, lewat serangan ke tiga fasilitas nuklir Iran pada 21 Juni yang diklaim Presiden Donald Trump berhasil melumpuhkan program nuklir Iran, menimbulkan kekhawatiran serius akan eskalasi konflik di Timur Tengah. Iran mengancam menutup Selat Hormuz—jalur vital 20% perdagangan minyak dunia—yang bisa memicu lonjakan harga minyak mentah global dan mengguncang ekonomi dunia.

Oktavianus Audi, analis dan VP Kiwoom Sekuritas, menilai agresi AS ke Iran menjadi sentimen negatif besar bagi pasar modal Indonesia. Eskalasi konflik berpotensi mendorong investor asing melakukan rebalancing aset—menjual saham-saham big caps sektor keuangan, industri, konsumer, hingga properti—dan mengalihkan dana ke instrumen aman seperti emas.

Teguh Hidayat, Direktur Avere Investama, menilai minimnya sentimen positif domestik memperburuk tekanan di Bursa Efek Indonesia. Ia memperkirakan IHSG bisa turun ke kisaran 6.000–6.200.

Rully Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, memperingatkan potensi besar arus keluar dana asing, dengan saham-saham favorit asing seperti BMRI, BBRI, ASII, dan TLKM paling rentan dijual.

Sementara itu, Budi Frensidy, Guru Besar Keuangan Universitas Indonesia, mengingatkan bahwa jika negara seperti China dan Rusia mendukung Iran secara militer, risiko pecahnya perang dunia ketiga akan muncul. Meski begitu, ia memprediksi aliran modal keluar (capital outflow) kemungkinan akan berpindah ke aset lindung nilai seperti emas.

Agresi militer AS terhadap Iran memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang bisa mengguncang harga energi global dan menekan pasar saham, termasuk Indonesia, lewat potensi capital outflow dan penurunan IHSG.

Momentum Rombak Kebijakan Bursa Saham

KT1 21 Jun 2025 Investor Daily (H)
Bursa saham terguncang hebat oleh memanasnya konflik Iran-Israel, terlihat dari penurunan tajam IHSG dari 7.200 ke level 6.900 hanya dalam tempo tiga hari. Ini menjadi momentum otoritas pasar modal merombak kebijakan yang selama ini menekan likuiditas demi meredam tekanan konflik geopolitik. Dari ketegangan pelaku pasar, ada sejumlah kebijakan yang perlu dievaluasi. Pertama, kebijakan yang perlu dievaluasi. Pertama, kebijakan unusual market activity (UMA) yang berujung suspensi saham. Kebijakan ini dinilai menjadi pemicu utama seretnya likuiditas. Betapa tidak, saat saham sedang naik tajam dan likuiditas mengalir kencang, BEI merilis pengumuman UMA, yang bisa berujung pada suspensi, likuditas tersendat dan tidak bisa pulih dalam waktu cepat. Kedua kebijakan saham papan pemantauan khusus (PPK) dengan metode perdagangan full action (FCA). Sebenarnya, PPK bertujuan baik, yakni memberikan perlindungan ke investor. Namun, ada satu kriteria saham PPK yang perlu dicoret, yakni suspensi selama lebih dari satu hari bursa, karena aktivitas perdagangan. Artinya, bursa tidak perlu memasukkan saham yang sedang panas ke PPK, lantaran kena suspensi selama dua hari. Sebab, kebijakan ini juga bisa menggerus likuiditas. (Yetede)