Bursa
( 805 )Bursa Kripto Siap Hadir di Semester II
Rencana pembentukan bursa khusus kripto terus dimatangkan. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menyampaikan, bursa kripto akan hadir di Indonesia pada semester dua tahun ini.
Kepala Bappebti Sidharta Utama menuturkan, pihaknya masih dalam proses verifikasi dokumen persyaratan calon Bursa Pasar Fisik Aset Kripto. "Terdapat beberapa persyaratan yang masih dilengkapi oleh calon Bursa Pasar Fisik Aset Kripto, " kata Sidharta, Selasa (27/4).
Perdagangan aset kripto di Indonesia menggunakan pendekatan yang menetapkan aset kripto sebagai komoditi yang dapat ditransaksikan di Bursa Berjangka. Ini sebagaimana diatur dalam UU Nomor 10 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas UU Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi (UU PBK).
IPO Penjual Kripto Sukses
Sejarah tercatat di bursa Amerika Serikat (AS). Coinbase Global Inc, perusahaan perantara jual beli kripto terbesar di AS melakukan debut di pasar saham. Dalam debutnya, valuasi Coinbase Global Inc mencapai USS 86 miliar pada Rabu (14/4) waktu setempat.
Saham Coinbase dibuka pada harga US$ 381 per saham, naik 52,4% dari harga referensi US$ 250 per saham yang ditetapkan pada hari sebelumnya. Valuasi Coinbase ini cukup fantastis. Sebagai perbandingan, pemilik Bursa Efek New York, Intercontinental Exchange Inc, memiliki kapitalisasi pasar US$ 66 miliar.
Siap-Siap Sambut Bursa Aset Digital
JAKARTA - Tren Investasi aset digital kripto atau cyrpto currency semakin berkembang pesat. Kementerian Perdagangan selaku regulator mendorong pembentukan bursa kripto pertama di Indonesia, Digital Future Exchange (DFX). Di bawah naungan PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX), serta di bawah pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). DFX nantinya memperdagangkan aset kripto, seperti Bitcoin dan Ethereum.
Direktur Utama BBJ, Stephanus Paulus Lumintang, menuturkan kehadiran bursa khusus tersebut diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan pasar dan industri kripto dalam negeri. "Kami melihat ini sebagai sebagai kesempatan serta potensi yang bisa digarap karena DFX membutuhkan keahlian dan keterampilan yang berbeda dengan industri perdagangan berjangka Komoditas lainnya," Ujarnya kepada Tempo, Kemarin.
Adapun dalam pembentukan DFX, BBJ juga bekerja sama dengan 11 perusahaan pedagang aset kripto yang telah terdaftar di Bappebti. Sedangkan PT Kriling Berjangka Indonesia (KBI) akan ikut memberikan dukungan infrastruktur untuk operasi DFX ke depan. Paulus menuturkan saat ini pihaknya masih menyelesaikan urusan perizinan dan administrasi pembentukan DFX di Bappebti. sebelum ditargetkan beroperasi pada awal semester II 2021. "Kami fokus menyiapkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi."
Presiden Komisioner HFX International, Sutopo Widodo, mengatakan industri mengapresiasi langkah pemerintah yang serius memfasilitas perdagangan kripto agar menjadi legal di Indonesia. Kehadiran Bursa diyakini dapat menciptakan pasar yang lebih likuid dan transparan.
Terlebih, prospek perkembangan aset kripto ke depan dinilai cukup menjanjikan. "Ini dapat menjadi salah satu alternatif trading atau investasi yang high right high return. "Sejak awal tahun lalu hingga Februari 2021, misalnya, harga Bitcoin telah melonjak 570 persen, ke level US$ 53 ribu per 1 Bitcoin. Menurut Sutopo, tren Bitcoin ke depan diproyeksikan terus melaju lebih tinggi lagi dalam jangka panjang.
(Oleh - HR1)
Bursa Kripto Segera Beroperasi
JAKARTA – PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ)
memastikan bursa kripto pertama di Indonesia,
Digital Future Exchange (DFX), beroperasi
mulai kuartal III-2021. Bursa yang akan
memperdagangkan aset kripto, seperti Bitcoin,
Doge, dan Litecoin itu merupakan hasil kolaborasi
BBJ dengan 11 perusahaan calon pedagang fisik
aset kripto yang telah terdaftar di Badan Pengawas
Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
“Kehadiran DFX akan memberikan banyak pilihan investasi bagi
masyarakat dan turut memberikan
nilai tambah terhadap perekonomian
nasional,” kata Direktur Utama BBJ
atau Jakarta Future Exchange (JFX),
Stephanus Paulus Lumintang saat
berkunjung secara virtual ke redaksi
BeritaSatu Media Holdings (BSMH)
di Jakarta, Senin (1/3).
Paulus Lumintang menjelaskan,
BBJ berkolaborasi dengan 11 perusahaan calon pedagang fisik aset
kripto yang telah terdaftar di Bappebti. Dari 11 perusahaan, empat di
antaranya merupakan perusahaan
berstatus penanaman modal asing
(PMA), yakni PT Indodax Nasional
Indonesia, PT Upbit Exchange
Indonesia, PT Zipmex Exchange Indonesia, dan PT Pintu Kemana Saja.
229 Aset Kripto
Kementerian Per dagangan
(Kemendag) melalui Bappebti,
menyatakan akan terus meningkatkan kepastian dan perlindungan hukum, serta kepastian berusaha di sektor komoditas digital
atau aset kripto. Salah satunya
melalui Peraturan Bappebti Nomor 7 Tahun 2020 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.
Menurut Kepala Bappebti, Sidharta Utama, peraturan tersebut
bertujuan meningkatkan kredibilitas
industri perdagangan berjangka komoditi (PBK) dan menciptakan iklim
investasi yang kondusif, terutama
dalam menghadapi persaingan
global dalam era ekonomi digital.
Sejak awal 2020, harga Bitcoin meningkat sekitar 570%. Harga 1 bitcoin pada awal 2020 tercatat US$ 8.440, kemudian pada akhir 2020 melonjak menjadi US$ 29.000, dan pada Februari 2021 melesat menjadi US$ 53.000 per Btc. Alhasil, pamor Bitcoin terus meningkat, mendominasi transaksi aset kripto sebagai salah satu pilihan investasi.
Rekor Tertinggi
Di sisi lain, Direktur Utama BBJ/
JFX, Stephanus Paulus Lumintang
menjelaskan, pihaknya menaikkan
target transaksi tahun ini, dari 10 juta
lot menjadi 11,1 juta lot.
Berdasarkan data BBJ, tahun lalu,
total transaksi di BBJ mencapai 9,43
juta lot. Dari jumlah itu, 7,75 juta lot
berasal dari transaksi bilateral, sisanya 1,68 juta lot berasal dari transaksi multilateral. Padahal, tahun lalu,
BBJ menargetkan transaksi 8,25 juta
lot, dengan rincian 6,50 juta lot dari
transaksi bilateral dan 1,75 juta lot
berasal dari transaksi multilateral
Pajak Final
Stephanus Paulus Lumintang
mengemukakan, untuk meningkatkan perdagangan komoditi primer
di Tanah Air, langkah tepat yang
dapat ditempuh pemerintah adalah
memberlakukan pajak final dengan
tarif lebih terjangkau terhadap perdagangan berjangka komoditi melalui
bursa berjangka
(Oleh - HR1)
Jetway Borong Saham Bank Artos
Jetway Wealth Management Ltd telah menyerap
sebanyak 531,95 juta saham baru yang diterbitkan oleh PT Bank Artos Indonesia
Tbk (ARTO).
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terkait kepemilikan efek emiten di atas 5% per 8 April 2020, Jetway Wealth Management tercatat menguasai 5,08% saham,
Setelah rights issue, kini total jumlah saham Bank Artos yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) bertambah menjadi 10,84 miliar saham. Sehingga perseroan meraih dana segar sekitar Rp 1,34 triliun. Bank Artos berencana untuk menggunakan 90% dana hasil rights issue untuk penyaluran kredit. Lalu, sekitar 5% akan digunakan untuk investasi infrastruktur di bidang teknologi informasi. Sisanya 5% untuk investasi pada infrastrukur jaringan kantor.
Seperti diketahui, pemegang saham Utama Bank Artos yakin yakni PT Metamorphosis Ekosistem Indonesia (MEI) yang didirikan oleh bankir senior Jerry Ng dan Wealth Track Technology Ltd (WTT) yang merupakan kendaraan investasi Patrick Walujo berharap Bank Artos berkembang menjadi bank digital pada masa mendatang.
Berdasarkan penelusuran Investor Daily pada data Accounting and Corporate Regulatory Authority (ACRA) Singapura, terdapat keterkaitan antara Jetway Wealth Management dengan DKatalis Pte Ltd. Dengan tiga orang berkewarganegaraan Singapura yang menempati kursi direksi DKatalis yakni Chan Huimin, Chen Lanjie, dan Florence Tan Suk Phern. Berdasarkan laman resmi perseroan, DKatalis menjabarkan diri sebagai entitas yang berkolaborasi dengan Gojek melalui akses layanan keuangan digital secara komprehensif.
Namun Saat dihubungi Investor Daily pada Minggu (12/4) terkait hal ini, Komisaris Utama Bank Artos Jerry Ng enggan berkomentar lebih jauh terkait potensi kerja sama strategis antara Bank Artos dengan Dkatalis
Otoritas Bursa Kejar Target Emiten Baru
BEI berupaya mengejar target realisasi penawaran saham perdana emiten baru hingga akhir 2019. Dari 33 perusahaan yang berencana mencatatkan diri sebagai emiten pasar modal, 17 perusahaan akan melantai di bursa pada penghujung tahun ini.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna Setia, berharap realisasi IPO tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya. Tahun lalu, entitas yang masuk bursa tercatat berjumlah 57 perusahaan. Adapun hingga kemarin, total entitas yang melantai di bursa saham sepanjang 2019 mencapai 49 perusahaan. Dari 17 perusahaan yang berencana masuk bursa di sisa waktu tahun ini, sebanyak 13 perusahaan menggunakan laporan keuangan Mei dan Juni 2019. Tenggat pencatatan saham mereka akan berakhir di penghujung tahun ini. Adapun 16 perusahaan yang dijadwalkan tercatat tahun depan tinggal menunggu pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan. Otoritas Bursa juga berkomitmen memberikan insentif bagi perusahaan yang melakukan IPO di dalam negeri. Rinciannya, pemerintah akan menurunkan tarif PPh dari 25 persen menjadi 22 persen pada periode 2021-2022, dan 20 persen untuk periode 2023.
Berburu Dana di Papan Bursa
Tiga pekan memimpin perusahaan terbuka, Budiasto Kusuma mulai merasakan mudahnya menyusun strategi untuk mengembangkan bisnisnya. Bos PT Digital Mediatama Maxima Tbk ini mengaku tak lagi dipusingkan oleh urusan duit untuk memperlebar kanal layanan iklan digital. DMMX—kode emiten Digital Mediatama—resmi tercatat di papan pengembangan Bursa Efek Indonesia pada 21 Oktober lalu. Hingga April lalu, nilai aset perusahaan sebesar Rp 73,5 miliar. Dari pelepasan saham perdana kepada publik (initial public offering/IPO) sebanyak 35 persen, perseroan meraup dana Rp 619,23 miliar. Sebanyak 75 persen dari dana itu akan dipakai untuk modal kerja, seperti penyediaan perangkat layar dan perangkat lunak serta konstruksi pemasangan. Sisanya untuk pengembangan sistem informasi dan teknologi.
Perusahaan teknologi lain, PT Envy Technologies Tbk (ENVY), lebih dulu merasakan manisnya dana segar lewat IPO awal Juli lalu. Dalam rapat umum pemegang saham luar biasa, Rabu, 6 November lalu, Direktur Utama ENVY Dato Sri Mohd. Sopiyan bin Mohd. Rashdi mengumumkan pendapatan perusahaan per September 2019 mencapai Rp 121,41 miliar, naik 147 persen dari periode yang sama tahun lalu. Laba bersih perusahaan juga melonjak 79 persen. Saat ini, aset perusahaan berlipat dari Rp 170,65 miliar menjadi Rp 361 miliar. Adapun ekuitas tercatat mencapai Rp 320,4 miliar. Dengan likuiditas tinggi, perusahaan berencana memperluas jangkauan bisnisnya di bidang analisis big data, kecerdasan buatan, serta Internet of things. Perusahaan yang beroperasi sejak 2004 ini juga akan mengembangkan blockchain, jasa keamanan siber, serta layanan QR Code Indonesia Standard.
Digital Mediatama dan Envy Technologies hanya dua dari sembilan perusahaan teknologi yang kini melantai di bursa. Pasar modal dianggap sebagai alternatif terbaik untuk menambah pendanaan usaha, juga buat memperluas promosi layanan dan memperbaiki tata kelola perusahaan. Pada saat yang sama, tren ekonomi digital memperbesar minat investor mengoleksi saham mereka lantaran menganggapnya memiliki prospek bisnis menggiurkan. Tak ayal, hampir semua penawaran saham perdana perusahaan teknologi mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed).
Asing Switching Portofolio
Aksi jual saham secara masif yang dilakukan investor asing sehingga memicu terjadinya net selling besar-besaran sepanjang Agustus-September bukan berarti terjadi pelarian modal ke luar negeri (capital outflow). Investor asing hanya beralih (switching) dari saham ke Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi. Hal ini tercermin pada kenaikansignifikan kepemilikan asing di SBN. Selama September (month to date), terjadi penambahan kepemilikan asing di SBN atau pembelian bersih (net buying) sebesar Rp 18,72 triliun, dari posisi Rp 1.009,6 triliun per akhir Agustus menjadi Rp 1.028,32 triliun pada 26 September. Kenaikan kepemilikan investor asing di SBN tersebut paralel dengan nilai jual bersih (net selling) asing di pasar saham yang mencapai Rp 9,29 triliun selama Agustus dan Rp 7,25 triliun selama September, sehingga total penjualan bersih asing di pasar saham selama dua bulan tersebut mencapai Rp 16,54 triliun. Sementara itu, net buying asing di SBN sepanjang tahun berjalan tercatat sebesar Rp 113,39 triliun.
Waspada, IHSG Bisa Bergerak ke 5.700
IHSG kembali menguat pasca demo yang berakhir ricuh pekan ini. Hal ini menunjukkan kembalinya kepercayaan investor terhadap bursa saham. Analis memprediksi IHSG bisa mencapai 6.800 di akhir tahun. Beberapa sentimen yang memengaruhi pasar ke depan, antara lain:
- perang dagang AS vs China
- kebijakan moneter The Fed
- hasil pemilihan umum 2019
- perkembangan defisit neraca dagang Indonesia
- penurunan harga komoditas
Rupiah ke Level 13.000, Pasar Saham Bullish
Pasar Indonesia memang dianggap menarik oleh investor asing. Berdasarkan data BEI, investor asing berkontribusi 35% pada transaksi perdagangan sepanjang tahun ini. Makanya, analis memprediksi pernyataan The Fed bisa mengerek IHSG ke level 7.000, bahkan bisa lebih tinggi lagi.
Pilihan Editor
-
Properti Terpukul, Proyek Terlambat
26 Mar 2020 -
Pemerintah Percepat Impor Bahan Pokok
23 Mar 2020 -
RI Ajukan Utang Ke Luar Negeri
23 Mar 2020









