;
Tags

Bursa

( 810 )

Pasar Bergairah Susul Penarikan Tentara Rusia

KT3 17 Feb 2022 Kompas

Kabar penarikan sebagian pasukan Rusia dari Belarus disambut meriah oleh pasar. Indeks berbagai bursa saham pada perdagangan Selasa dan Rabu (16/2/2022) naik. Namun, pasar masih berhati-hati karena AS dan sekutunya menambah pasukan di sekitar Rusia. Indeks utama Asia naik, yakni Hang Seng 1,03 %, Nikkei225 1,96 % dan Shanghai 0,44 %. Di Eropa, FTSE naik 1,03 % dan DAX 1,96 %. Bursa AS pun bergairah. Nasdaq melonjak sampai 2,53 %. (Yoga)

Sebanyak 26 Calon Emiten Antre Masuk Bursa

KT3 09 Feb 2022 Kompas

Selain PT Champ Resto Indonesia Tbk, emiten pengelola restoran, yang resmi mencatatkan sahamnya di BEI, Selasa (8/2), ada 26 calon emiten lain yang sedang menjalani proses masuk bursa. Direktur BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, hingga kini BEI telah menerima minat dari 26 perusahaan dengan total dana yang direncanakan didapat dari publik sebesar Rp 1,97 triliun. (Yoga)


Sebanyak 15 Unicorn Siap IPO

HR1 04 Feb 2022 Kontan

Bursa Efek indonesia (BEI) mencatat ada 15 perusahaan unicorn dan centaur siap go public. Jumlah ini didapat pasca pertemuan one-on-one BEI dengan 20 unicorn dan centaur sejak tahun lalu. Direktur penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, BEI telah memetakan 50 unicorn dan centaur dengan minimal penggalangan dana US$ 20 juta dan beroperasi di Indonesia. Nyoman memaparkan, dari 15 unicorn yang dikenal di kawaasan Asia Tenggara, sembilan unicorn berasal dari Indonesia. Di antaranya ada GoTo, Bukalapak, Traveloka, Xendit, Kopi Kenangan, dan Online Pajak.

Masih Ada 30 Perusahaan Mengantre IPO di BEI

HR1 17 Jan 2022 Kontan

Sejak awal tahun ini, dua emiten baru telah mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan total nilai emisi Rp 723 miliar. Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, masih ada 30 perusahaan dalam antrean initial public offering (IPO). "Dari 30 perusahaan tersebut, sebanyak empat perusahaan termasuk kategori aset skala kecil, 14 perusahaan masuk aset skala menengah, dan 12 perusahaan merupakan aset skala besar," kata Nyoman, Jumat (14/1).

Perusahaan dengan skala kecil adalah yang memiliki aset tidak lebih dari Rp 50 miliar, sedangkan perusahaan skala menengah memiliki aset lebih dari Rp 50 miliar sampai dengan Rp 250 miliar. Lalu perusahaan kategori aset skala besar memiliki aset di atas Rp 250 miliar. Secara sektoral, perusahaan dari sektor barang konsumsi non-primer mendominasi pipeline tersebut, yakni sebanyak sembilan perusahaan. Kemudian, empat perusahaan berasal dari sektor perindustrian, empat dari setor barang konsumsi primer, dan empat dari sektor teknologi.



Pertamina Geothermal Memanaskan Bursa IPO

HR1 14 Jan 2022 Bisnis Indonesia

Di tengah euforia pengembangan energi hijau di seluruh dunia, entitas anak badan usaha milik negara, PT Pertamina Geothermal Energy tengah bersiap untuk menggalang dana jumbo melalui initial public offering pada paruh pertama 2022. Kepastian soal rencana IPO entitas subholding PT Pertamina (Persero) itu disampaikan oleh Wakil Menteri BUMN II Pahala Nugraha Mansury. Pertamina Geothermal Energy (PGE) bakal menyusul langkah PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel yang listing di Bursa Efek Indonesia pada 22 November 2022 setelah merampungkan IPO senilai Rpp18,79 triliun.

Terkait dengan rencana go public PGE, Pahala mengungkapkan proses registrasi ditargetkan mulai pada Maret 2022 dan diharapkan IPO akan terlaksana pada Juni 2022. Adapun, jumlah saham yang bakal dilepas ke publik sekitar 20%—30%. “Kami harus kembangkan groundfield, menurut kami geotermal punya potensi untuk dikembangkan, salah satu yang ingin kami kembangkan melalui IPO PGE ini,” jelasnya. Rencana IPO itu, lanjutnya, didorong oleh tiga alasan utama, yakni untuk mencari dana segar, mengeksplorasi potensi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Tanah Air, dan menarik mitra strategis yang potensial.


Empat Pendatang Baru Masuk Bursa

HR1 07 Dec 2021 Kontan

Pergerakan saham empat emiten baru di Bursa Efek Indonesia yang tercatat kemarin beragam. Harga saham PT Cimory Mountain Dairy Tbk (CMRY) naik 10,71% jadi Rp 3.410. PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH), yang tercatat di Papan Akselerasi BEI, juga naik 10% ke level Rp 154 per saham. Sementara dua saham lain harganya turun. Harga saham PT Jaya Swarasa Agung Tbk (TAYS) merosot 6,67% menjadi Rp 336 per saham. Lalu saham PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) terkoreksi 0,62% ke Rp 159 per saham.

Cermati Sejumlah Fitur Baru di Sistem Perdagangan Bursa

HR1 29 Nov 2021 Kontan

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan beberapa ketentuan baru dalam perdagangan saham. Selain menutup informasi kode broker dan domisili investor, BEI akan menyesuaikan mekanisme pre-opening dan pre-closing, dan memperpanjang jam perdagangan saham di pasar negosiasi. Penyesuaian mekanisme pre-opening dan pre-closing dilakukan dengan menambah informasi Indicative Equilibrium Price (IEP) dan Indicative Equilibrium Volume (IEV), serta fitur random closing. BEI juga menambahkan fitur market order untuk meningkatkan potensi terjadinya transaksi sehingga mendorong likuiditas pasar.


Pengendalian Iklim, Carbon Trading Bakal Lewat Bursa

HR1 17 Nov 2021 Bisnis Indonesia

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia meminta PT Bursa Efek Indonesia menyiapkan skema perdagangan karbon atau carbon trading untuk memfasilitasi transaksi yang transparan dan berkelanjutan di masa mendatang. Menko Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan operator pasar modal perlu menyiapkan skema carbon trading sesuai dengan rencana jangka panjang pemerintah. “Kita punya dua kekuatan terkait cabon capture dari sektor pertambangan dan energy,” katanya dalam CEO Networking 2021, Selasa (16/11). “Diharapkan carbon trading bisa diluncurkan dan ini jadi pekerjaan bagi BEI dan pemerintah akan menyiapkan regulatory framework.”

Apabila platform carbon trading sudah tersedia di BEI, Airlangga sangat berharap perdagangan karbon bisa dilakukan di Indonesia, bukan di negara lain. Ketika dihubungi Bisnis, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Hasan Fawzi mengatakan secara singkat BEI sudah melakukan kajian untuk menyiapkan skema atau fasilitasi transaksi perdagangan karbon. Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi mengatakan operator pasar modal dan SRO telah melakukan implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG). Di antaranya melalui penerbitan green bond, green sukuk dan indeks green investment. “Kami juga terus melakukan sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan pasar modal.”


J&T Express Pilih Listing di Hong Kong daripada AS

HR1 31 Aug 2021 Investor Daily, 31 Agustus 2021

Perusahaan rintisan (start-up) berstatus unicorn asal Indonesia yang bergerak di bidang ekspedisi, J&T Express, dikabarkan bakal mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Hong Kong. Sebelumnya, J&T Express berencana listing di Bursa Efek Amerika Serikat (AS). J&T Express akan melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) tahun depan. Dari IPO tersebut, J&T Express disebut-sebut bisa menghimpun dana sekitar US$ 1 miliar.“J&T telah bekerja sama dengan Bank of America Corp, China International Capital Corp, dan Morgan Stanley terkait IPO itu,” ungkap sumber yang dikutip Bloomberg, Senin (30/8).Meskipun J&T Express berbasis di Indonesia, namun perusahaan ini beroperasi cukup signifikan di Tiongkok. Menurut sumber, Pemerintah Tiongkok berkemungkinan akan memberlakukan peraturan yang lebih ketat terhadap perusahaan yang melakukan listing di luar negeri.

J&T Express dibentuk pada 2015 oleh mantan eksekutif OPPO, Jet Lee dan Tony Chen. Perusahaan melakukan bisnis pengiriman dalam kota, serta antar kota dan antar provinsi. J&T juga menyediakan layanan pergudangan dan solusi supply chain untuk toko e-commerce di Indonesia. J&T berkembang signifikan di kawasan Asia Tenggara, yakni Kamboja, Vietnam, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina.


Sederet IPO Jumbo Antre di Semester II

Sajili 29 Jul 2021 Kontan

Di semester kedua tahun 2021 ini, bakal lebih banyak perusahaan besar menggelar penawaran umum perdana saham ke publik atau initial public offering (IPO). Kedatangan korporasi gede tersebut akan menambah daya tarik bursa saham Tanah Air. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, setidaknya terdapat 25 perusahaan dalam pipeline rencana IPO. Sebanyak 14 di antaranya, merupakan perusahaan dengan kepemilikan aset berskala besar atau beraset di atas Rp 250 miliar. Sementara tujuh perusahaan di antaranya beraset skala menengah, atau dengan nilai aset antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar. Sedangkan empat perusahaan lainnya, merupakan calon emiten dengan aset skala kecil, di bawah 50 miliar.

Salah satu perusahaan yang akan IPO dengan nilai jumbo adalah Bukalapak (BUKA). Menawarkan IPO dengan harga Rp 850 per saham, BUKA akan IPO pada 6 Agustus 2021 mendatang, dengan target emisi Rp 21,9 triliun. Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, saat Bukalapak tercatat nanti, maka kapitalisasi pasar bursa saham akan bertambah Rp 77,3 triliun-Rp 87,6 triliun. "Penambahan kapitalisasi pasar itu tergantung dari pricing di harga antara Rp 750-Rp 850 per saham. Harga ini adalah angka yang besar bagi peningkatan market cap," ucap Nyoman. Nyoman menambahkan, setelah Bukalapak, ada dua unicorn lain yang kemungkinan tercatat pada tahun ini. Meski tak gamblang, perusahaan ini adalah merger dua unicorn, sehingga kapitalisasi pasarnya lebih besar dari BUKA. "Kalau dari sisi jumlah, sebenarnya tahun ini bisa ada tiga unicorn, tetapi yang dua ini sudah bergabung jadi satu," kata Nyoman. Meskipun begitu, pihak BEI menyatakan belum menerima pernyataan pendaftaran IPO dari perusahaan itu.

Mengutip Bloomberg Senin (26/7), unicorn hasil merger Gojek dan Tokopedia, GoTo, dikabarkan bakal IPO tahun ini. GoTO terlebih dahulu akan IPO di Indonesia, sebelum melantai di bursa saham Amerika Serikat. Diperkirakan IPO GoTo bernilai deantara US$ 1 miliar-US$ 2 miliar, atau sekitar Rp 14,5 triliun hingga Rp 29 triliun. IPO di kedua negara ini bisa menjadikan valuasi GoTo mencapai US$ 25 miliar-US$ 30 miliar, atau maksimal Rp 435 triliun. Selain itu, ada juga rencana IPO perusahaan besar lainnya di tahun ini. Misalnya, Adhi Commuter Properti (ADCP) yang berencana IPO di kuartal IV-2021. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) juga ditargetkan IPO pada November 2021, setelah pembentukan Holding BUMN Geothermal dan mendapatkan transaksi aset hilir PLN.