Bursa
( 805 )Pertamina Geothermal Memanaskan Bursa IPO
Di tengah euforia pengembangan energi hijau di seluruh dunia, entitas anak badan usaha milik negara, PT Pertamina Geothermal Energy tengah bersiap untuk menggalang dana jumbo melalui initial public offering pada paruh pertama 2022. Kepastian soal rencana IPO entitas subholding PT Pertamina (Persero) itu disampaikan oleh Wakil Menteri BUMN II Pahala Nugraha Mansury. Pertamina Geothermal Energy (PGE) bakal menyusul langkah PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel yang listing di Bursa Efek Indonesia pada 22 November 2022 setelah merampungkan IPO senilai Rpp18,79 triliun.
Terkait dengan rencana go public PGE, Pahala mengungkapkan proses registrasi ditargetkan mulai pada Maret 2022 dan diharapkan IPO akan terlaksana pada Juni 2022. Adapun, jumlah saham yang bakal dilepas ke publik sekitar 20%—30%. “Kami harus kembangkan groundfield, menurut kami geotermal punya potensi untuk dikembangkan, salah satu yang ingin kami kembangkan melalui IPO PGE ini,” jelasnya. Rencana IPO itu, lanjutnya, didorong oleh tiga alasan utama, yakni untuk mencari dana segar, mengeksplorasi potensi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Tanah Air, dan menarik mitra strategis yang potensial.
Empat Pendatang Baru Masuk Bursa
Pergerakan saham empat emiten baru di Bursa Efek Indonesia yang tercatat kemarin beragam. Harga saham PT Cimory Mountain Dairy Tbk (CMRY) naik 10,71% jadi Rp 3.410. PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH), yang tercatat di Papan Akselerasi BEI, juga naik 10% ke level Rp 154 per saham. Sementara dua saham lain harganya turun. Harga saham PT Jaya Swarasa Agung Tbk (TAYS) merosot 6,67% menjadi Rp 336 per saham. Lalu saham PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) terkoreksi 0,62% ke Rp 159 per saham.
Cermati Sejumlah Fitur Baru di Sistem Perdagangan Bursa
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan beberapa ketentuan baru dalam perdagangan saham. Selain menutup informasi kode broker dan domisili investor, BEI akan menyesuaikan mekanisme pre-opening dan pre-closing, dan memperpanjang jam perdagangan saham di pasar negosiasi. Penyesuaian mekanisme pre-opening dan pre-closing dilakukan dengan menambah informasi Indicative Equilibrium Price (IEP) dan Indicative Equilibrium Volume (IEV), serta fitur random closing. BEI juga menambahkan fitur market order untuk meningkatkan potensi terjadinya transaksi sehingga mendorong likuiditas pasar.
Pengendalian Iklim, Carbon Trading Bakal Lewat Bursa
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia meminta PT Bursa Efek Indonesia menyiapkan skema perdagangan karbon atau carbon trading untuk memfasilitasi transaksi yang transparan dan berkelanjutan di masa mendatang. Menko Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan operator pasar modal perlu menyiapkan skema carbon trading sesuai dengan rencana jangka panjang pemerintah. “Kita punya dua kekuatan terkait cabon capture dari sektor pertambangan dan energy,” katanya dalam CEO Networking 2021, Selasa (16/11). “Diharapkan carbon trading bisa diluncurkan dan ini jadi pekerjaan bagi BEI dan pemerintah akan menyiapkan regulatory framework.”
Apabila platform carbon trading sudah tersedia di BEI, Airlangga sangat berharap perdagangan karbon bisa dilakukan di Indonesia, bukan di negara lain. Ketika dihubungi Bisnis, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Hasan Fawzi mengatakan secara singkat BEI sudah melakukan kajian untuk menyiapkan skema atau fasilitasi transaksi perdagangan karbon. Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi mengatakan operator pasar modal dan SRO telah melakukan implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG). Di antaranya melalui penerbitan green bond, green sukuk dan indeks green investment. “Kami juga terus melakukan sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan pasar modal.”
J&T Express Pilih Listing di Hong Kong daripada AS
Perusahaan rintisan (start-up) berstatus unicorn asal Indonesia yang bergerak di bidang ekspedisi, J&T Express, dikabarkan bakal mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Hong Kong. Sebelumnya, J&T Express berencana listing di Bursa Efek Amerika Serikat (AS). J&T Express akan melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) tahun depan. Dari IPO tersebut, J&T Express disebut-sebut bisa menghimpun dana sekitar US$ 1 miliar.“J&T telah bekerja sama dengan Bank of America Corp, China International Capital Corp, dan Morgan Stanley terkait IPO itu,” ungkap sumber yang dikutip Bloomberg, Senin (30/8).Meskipun J&T Express berbasis di Indonesia, namun perusahaan ini beroperasi cukup signifikan di Tiongkok. Menurut sumber, Pemerintah Tiongkok berkemungkinan akan memberlakukan peraturan yang lebih ketat terhadap perusahaan yang melakukan listing di luar negeri.
J&T Express dibentuk pada 2015 oleh mantan eksekutif OPPO, Jet Lee dan Tony Chen. Perusahaan melakukan bisnis pengiriman dalam kota, serta antar kota dan antar provinsi. J&T juga menyediakan layanan pergudangan dan solusi supply chain untuk toko e-commerce di Indonesia. J&T berkembang signifikan di kawasan Asia Tenggara, yakni Kamboja, Vietnam, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina.
Sederet IPO Jumbo Antre di Semester II
Di semester kedua tahun 2021 ini, bakal lebih banyak perusahaan besar menggelar penawaran umum perdana saham ke publik atau initial public offering (IPO). Kedatangan korporasi gede tersebut akan menambah daya tarik bursa saham Tanah Air. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, setidaknya terdapat 25 perusahaan dalam pipeline rencana IPO. Sebanyak 14 di antaranya, merupakan perusahaan dengan kepemilikan aset berskala besar atau beraset di atas Rp 250 miliar. Sementara tujuh perusahaan di antaranya beraset skala menengah, atau dengan nilai aset antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar. Sedangkan empat perusahaan lainnya, merupakan calon emiten dengan aset skala kecil, di bawah 50 miliar.
Salah satu perusahaan yang akan IPO dengan nilai jumbo adalah Bukalapak (BUKA). Menawarkan IPO dengan harga Rp 850 per saham, BUKA akan IPO pada 6 Agustus 2021 mendatang, dengan target emisi Rp 21,9 triliun. Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, saat Bukalapak tercatat nanti, maka kapitalisasi pasar bursa saham akan bertambah Rp 77,3 triliun-Rp 87,6 triliun. "Penambahan kapitalisasi pasar itu tergantung dari pricing di harga antara Rp 750-Rp 850 per saham. Harga ini adalah angka yang besar bagi peningkatan market cap," ucap Nyoman. Nyoman menambahkan, setelah Bukalapak, ada dua unicorn lain yang kemungkinan tercatat pada tahun ini. Meski tak gamblang, perusahaan ini adalah merger dua unicorn, sehingga kapitalisasi pasarnya lebih besar dari BUKA. "Kalau dari sisi jumlah, sebenarnya tahun ini bisa ada tiga unicorn, tetapi yang dua ini sudah bergabung jadi satu," kata Nyoman. Meskipun begitu, pihak BEI menyatakan belum menerima pernyataan pendaftaran IPO dari perusahaan itu.
Mengutip Bloomberg Senin (26/7), unicorn hasil merger Gojek dan Tokopedia, GoTo, dikabarkan bakal IPO tahun ini. GoTO terlebih dahulu akan IPO di Indonesia, sebelum melantai di bursa saham Amerika Serikat. Diperkirakan IPO GoTo bernilai deantara US$ 1 miliar-US$ 2 miliar, atau sekitar Rp 14,5 triliun hingga Rp 29 triliun. IPO di kedua negara ini bisa menjadikan valuasi GoTo mencapai US$ 25 miliar-US$ 30 miliar, atau maksimal Rp 435 triliun. Selain itu, ada juga rencana IPO perusahaan besar lainnya di tahun ini. Misalnya, Adhi Commuter Properti (ADCP) yang berencana IPO di kuartal IV-2021. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) juga ditargetkan IPO pada November 2021, setelah pembentukan Holding BUMN Geothermal dan mendapatkan transaksi aset hilir PLN.GoTO Bidik Dana US$ 2 Miliar dari IPO
GoTo, perusahaan hasil
merger Gojek dan Tokopedia, dikabarkan
akan mencatatkan sahamnya (listing) di
Bursa Efek Indonesia dan Amerika Serikat
(AS). GoTo membidik dana US$ 2 miliar
dari penawaran umum perdana (initial
public offering/IPO) saham.
Berdasarkan laporan
Bloomberg, GoTo berencana
mencatatkan sahamnya di
Bursa Efek Indonesia pada
tahun ini. Namun, sebelum
itu, GoTo akan menggalang
dana dari bursa AS terlebih
dahulu. “GoTo sudah memulai proses penggalangan
dana sekitar US$ 1-2 miliar
dengan valuasi sekitar US$
25-30 miliar,” ungkap sumber
yang mengetahui hal itu,
Selasa (27/7).
Sementara itu, perwakilan
dari GoTo menolak berkomentar mengenai kabar
dual listing tersebut. Namun, seorang sumber menyebutkan bahwa perundingan terus berlangsung
dan nilai penggalangan dana
bisa berubah.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) Hoesen pernah mengatakan,
saat ini ada tiga perusahaan
rintisan (start-up) bervaluasi
unicorn dan decacorn yang
akan mencatatkan sahamnya
di BEI. Dia tidak mengungkapkan nama-nama perusahaan
tersebut, tapi hanya menyebut total valuasi aset dari tiga
perusahaan itu di atas US$
21,5 miliar atau sekitar Rp
311,7 triliun.
Sebelumnya, Komisaris
BEI Pandu Sjahrir mengatakan, selain GoTo dan Bukalapak, terdapat dua unicorn
yang berpotensi IPO, yakni
PT Global JET Express (J&T
Express) dan PT Trinusa
Travelindo (Traveloka).
(Oleh - HR1)
Bukalapak Cetak Rekor Emisi IPO Terbesar
Proses penawaran saham perdana Bukalapak bakal segera memasuki tahapan baru. Perusahaan e-commerce tersebut akan mulai menggelar penawaran umum saham perdananya. Dimulainya masa penawaran IPO Bukalapak sekaligus mengukuhkan initial public offering (IPO) dengan nilai terbesar dalam sejarah bursa saham lokal. "Bukalapak menawarkan 25,76 miliar saham pada harga penawaran Rp 850 per saham," tulis manajemen Bukalapak dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, Selasa (27/7). Dengan struktur tersebut, Bukalapak berpotensi meraup dana segar sekitar Rp 21,9 triliun. Rekor IPO terbesar sebelumnya dipegang oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO), yang melepas emisi sebesar Rp 11,2 triliun.
Head of Research Samuel Sekuritas Suria Dharma menyebut, murah atau mahalnya valuasi saham sejatinya relatif. Sebab, perusahaan seperti Bukalapak lebih menonjolkan rekam jejak pertumbuhan. Meski masih mencatat kerugian, Bukalapak mampu menetapkan harga pelaksanaan di batas atas rentang penawaran. "Artinya, minatnya ada," ujar Suria, Selasa (27.7). Cuma memang, jika valuasi menggunakan basis perbandingan nilai perusahaan dengan penjualan atawa enterprise value to sales (EV/sales enterprise value to sales (EV/sales), valuasi Bukalapak tergolong premium. Tapi jika mengacu pada total processing value (TPV), valuasi Bukalapak belum premium. "Karena jika menggunakan TPV dan dibandingkan dengan peers di luar negeri, ini masih wajar," terang Suria.Gairah Transaksi di Bursa Komoditas
Volume transaksi komoditas di bursa berjangka masih bergairah dan cenderung stabil pada masa pandemi Covid-19. Emas mendominasi transaksi bursa.
Di Bursa Berjangka Jakarta (JFX), transaksi selama semester I 2021 mencapai 4 juta lot atau relatif sama dengan semester I 2020. Dia menargetkan transaksi hingga 11,1 juta lot hingga akhir tahun nanti.
Menurut Stephanus, hingga akhir tahun nanti, kontrak emas Loco London masih akan mendominasi volume transaksi di JFX. Sebab, harga mineral tersebut masih berpotensi meningkat secara global. Kontrak komoditas lainnya dia perkirakan fluktuatif pada semester kedua, sehingga berpotensi dijadikan momentum untuk mengambil untung oleh para investor.
Transaksi multilateral Bursa Berjangka Jakarta hingga Juni lalu sebanyak 798.228 lot. Angka itu turun jika dibanding pada periode yang sama tahun lalu, yaitu 806.473 lot. Namun sejumlah produk multilateral mengalami kenaikan signifikan. Stephanus mencontohkan kontrak kakao naik 53 persen menjadi 32.610 lot dari 15.313 lot pada periode yang sama tahun lalu.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat bursa berjangka dalam negeri mengalami tren positif sejak beberapa tahun terakhir. Setidaknya, sejak empat tahun terakhir, volume transaksi di bursa berjangka rata-rata tumbuh 17,68 persen.
Konglomerat Kuasai 20% Aset di Bursa Saham
Kekayaan bos Grup Indofood Anthony Salim makin bertambah. Penyebabnya, harga saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) naik tinggi. Anthony membeli saham perusalaan data center itu di Rp 5.277 per saham. Kemarin, harganya sudah Rp 50. 250. Anthony kini menguasai 11,12% saham DCII. Jadi, bila mengacu pada kapitalisasi pasar DCII kemarin yang sebesar Rp 119,78 triliun, menurut data RTI, maka kekayaan Anthony dari DIRI mencapai Rp 13,32 triliun. Bila dihitung dengan investasi Anthony di saham lain dan digabung dengan seluruh kepemilikan saham Grup Salim, total kekayaan keluarga Salim di bursa mencapai Rp 175,32 triliun.
Grup Salim bukan konglomerat dengan kekayaan terbanyak dari bursa saham. Dua bersaudara Hartono, yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, masih menjadi duo taipan tak terkalahkan berdasarkan jumlah kekayaan di pasar saham. Jumlah kekayaannya mencapai Rp 466,64 triliun. Lewat Grup Djarum, keduanya jadi pemegang saham pengendali di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan porsi 54,94% dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dengan porsi kepemilikan 52,02. Total nilai kepemilikan saham para konglomerat di saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai sekitar 19,12% dari total kapitalisasi pasar yang sebesar Rp 7.218,45 triiliun. Total kekayaan para taipan ini mencapai Rp 1.380,70 triliun.
Konglomerasi terbesar ketiga di BEI adalah Grup Astra dengan kekayaan Rp 174,31 triliun. Tapi, kapitalisasi grup ini tergerus dari awal tahun, mengingat kenaikan harga saham hanya dicetak PT Astra Otoparts Tbk (AUTO). Analis Erdhika Elit Sekuritas Hendri Widiantoro menuturkan, tiga grup tersebut memiliki emiten dengan kapitalisasipasar besar. Bahkan, sejumlah emiten dari tiga grup tersebut termasuk jadi penggerak indeks saham.









