Bursa
( 805 )Bursa Asia Catatkan Kenaikan Indeks
Indeks saham pada beberapa bursa Asia pada umumnya mencatatkan angka terbaik dalam sepekan terakhir. Kenaikan itu terjadi menyusul kenaikan indeks di Wall Street, AS. Akan tetapi, kenaikan indeks itu bukan pertanda optimisme akan perekonomian yang menguat, melainkan hanya bersifat siklikal. Meski demikian, kenaikan itu tetap memperlihatkan sinyal kebaikan secara temporer. Tapas Strickland, seorang analis, mengatakan, data Juli 2022 tetap tergolong rapuh walau terjadi penyesuaian musiman. Tiga indeks utama di Bursa Saham New York menunjukkan kenaikan pada penutupan perdagangan, Kamis (21/7). Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup 32.036,90 poin atau naik 0,51 %. Indeks gabungan Nasdaq ditutup menjadi 12.059,62 poin atau naik 1,36 %. Indeks saham Gabungan NYSE ditutup menjadi 14.871,14 poin atau naik 0,63 %.
Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) Jakarta naik 0,33 % menjadi 6.886,962 poin. Kenaikan serupa terjadi di bursa saham Tokyo yang ditutup menjadi 27.914,66 poin atau naik 0,40 %. Indeks Hang Seng (Hong Kong) naik 0,2 % menjadi 20.609,14 poin dan indeks STI Singapura naik 0,92 % menjadi 3.181,34 poin. Akan tetapi, kenaikan tidak terjadi di bursa saham Sydney, Wellington, Shenzen, dan Seoul. Di Eropa, bursa saham juga mencatatkan pekan terbaik dalam dua bulan pada Jumat seiring meredanya kekhawatiran akan suplai energi. Pasokan gas Rusia kembali mengalir setelah terhenti karena perawatan rutin. Investor yang khawatir tentang kenaikan suku bunga tinggi dan krisis politik di Italia sedikit tenang. (Yoga)
Positif Bagi Bursa, Negatif Bagi Rupiah
BI memilih tetap mempertahankan BI 7-day-RR di level 3,5 % selama 18 bulan berturut-turut, saat banyak negara mengerek suku bunga untuk mengatasi inflasi. Diluar dugaan, pasar saham merespon positif kebijakan ini. Kepala Riset Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya mengatakan, respon positif ini tercermin dari koreksi IHSG yang tipis, Kamis (21/7) IHSG terkoreksi 0,15 % ke level 6.864,13. Investor asing juga masih mencatatkan net buy Rp 540 miliar.
Namun di pasar valuta, keputusan BI tersebut berdampak negatif bagi nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom BCA David Sumual meyakini nilai tukar rupiah akan kembali melemah. Penyebabnya selisih suku bunga USD dan Rupiah semakin tipis. Analis Monex Investindo Faisyal juga melihat investor akan menjauhi Rupiah. “Bukan tidak mungkin Rupiah melemah ke Rp 15.200-Rp 15.500 per USD,” ujar Faisyal. (Yoga)
Ada 37 Perusahaan Antre Masuk Bursa
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 37 perusahaan mempersiapkan diri menawarkan sahamnya ke publik. Ada sembilan perusahaan beraset kurang dari Rp 50 miliar, 15 perusahaan beraset Rp 50 miliar-Rp 250 miliar, dan sisanya beraset di atas Rp 250 miliar. ”Terbanyak adalah perusahaan sektor konsumer non-cyclical,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, akhir pekan lalu. (Yoga)
Daftar Emiten yang Terancam Delisting Bertambah
Sejumlah emiten berpotensi didepak paksa dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Teranyar, ada PT Sugih Energy Tbk (SUGI) yang berpotensi terkena penghapusan saham alias delisting.
Kepala Divisi Penilaian Perusahaan 2 BEI Vera Florida mengatakan, masa suspensi saham SUGI telah mencapai 24 bulan pada tanggal 1 Juli 2021. Hal itu bermakna, BEI telah memberikan toleransi cukup panjang. Pasalnya, batas waktu suspensi saham adalah selama dua tahun berturut-turut sebelum masuk daftar delisting. Beberapa saham lain juga tercatat sudah masuk masa suspensi lebih dari 24 bulan. Misalnya, PT. Armidian Karyatama Tbk (ARMY), PT. Panasia Indo Resources Tbk (HDTX), PT. Jakarta Kyoei Steel Works Tbk (JKSW), dan PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP).
Semua Sektor Saham Terkoreksi, IHSG Merosot 2,28%
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Jakarta (BEI) melemah hingga 155,16 poin atau 2,28% ke posisi 6.639,17 pada penutupan perdagangan Senin (4/6) sore. Kali ini, pelemahan terdalam dialami saham sektor teknologi yang turun hingga 4%, kemudian sektor transportasi dan logistik 3,57%, sektor consumer non cyclicals 2,66%, sektor keuangan 2,58%, dan sektor material dasar 1,83%. Sentimen lain yang datang adalah terkoreksinya harga komoditas seperti nikel, minyak mentah, dan minyak sawit mentah (CPO). "Conference Board merilis data tingkat Indeks Keyakinan Konsumen AS tercatat menurun ke level 98,7 dari sebelumnya di level 103,3.
Penurunan angka yang merupakan titik terendah dalam 16 bulan terakhir ini menjadi katalis negatif bagi IHSG awal pekan ini," kata Financial Expert Ajaib Sekuritas M Julian Fadli dalam ulasannya di Jakarta, Senin (4/7). Chief Economist and Head of Global Markets Research Asia ex-Japan Nomura Rob Subbaraman dan Global Markets Analyst Nomura Si Ying Toh dalam catatan hasil risetn holdings perusahaan keuangan yang berbasis di Tokyo tersebut memprediksi bahwa zona uero, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Kanada, akan terperosok dalam resesi bersama dengan Amerika. (Yetede)
Inilah Saham Pilihan Kuartal Tiga 2022
Bursa saham berfluktuasi di akhir semester pertama 2022. Kondisi ini tampak dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melandai dalam tiga bulan terakhir. IHSG bahkan memerah empat hari beruntun di pekan terakhir bulan Juni ini, dan ditutup pada posisi 6.911,58. Sedangkan dari sisi pergerakan saham, pada periode kuartal I dan kuartal II ada rotasi sektoral meski relatif terbatas. Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengatakan, pergerakan tersebut tak lepas dari efek global lonjakan harga komoditas. Sedangkan dari dalam negeri, pengendalian pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi menjadi hal yang krusial Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono menjagokan sektor barang konsumsi primer, komoditas, komunikasi, dan perbankan. Saham pilihan yang bisa diperhatikan adalah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Japfa Confeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PTBA, dan INCO. "Untuk kuartal ketiga, saham-saham large cap dan defensive bisa dicermati. Sedangkan komoditas masih akan tetap bergerak sesuai gejolak geopolitik," ujarnya.
Pelambatan Global Membayangi IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tampak tertekan jelang penutupan akhir juni ini. Di paruh kedua tahun ini, indeks akan dipengaruhi banyak faktor, internal maupun eksternal. Kepala Riset Aldiracita Sekuritas Agus Pramono mengatakan, IHSG di kuartal ketiga tahun ini akan bergerak di rentang 6.900-7.200. Sedangkan sampai akhir tahun nanti, ada peluang pergerakan indeks sampai rentang 7.000.
Sektor Komoditas dan Infra-Telko Bakal Dongkrak IHSG Pekan Ini
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini diprediksi menguat, menguji level area 7.060-7.080. Penguatan ini antaranya ditopang oleh saham-saham sektor komoditas serta infrastruktur telekomunikasi (Infra-Telko). Saham-saham konsumsi nonsiklik yang tertekan selama pandemi Covid-19, kini juga dinilai mulai layak dikoleksi seiring mobilitas masyarakat yang meningkat. Penaikan agresif Fed fund rate (FFR), ancaman resesi terhadap ekonomi AS, perlambatan ekonomi dunia, dan konflik Rusia-Ukraina, tetap menjadi sentimen dominan yang membayangi aktivitas perdagangan di BEI ke depan. Dari dalam negeri, investor, diperkirakan terus mencermati kemungkinan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI-7 Day Reserve Repo Rate pada semester II tahun ini. (Yetede)
IDPR Telah Mengantongi Kontrak Baru Rp 670 Miliar
Emiten yang bergerak di bidang konstruksi pondasi PT Indonesia Pondasi Raya Tbk (Indopora) memperoleh kontrak baru sekitar Rp 670 miliar sejak awal tahun 2022 sampai dengan saat ini. Jumlah tersebut sudah melebihi setengah dari target sepanjang tahun. Direktur Keuangan sekaligus Corporate Secretary Indopora Dwijanto mengatakan, hingga akhir tahun 2022, Indopora menargetkan dapat mengantongi kontrak baru sekitar Rp 1 triliun. Dengan begitu, perolehan kontrak baru Indopora sejauh ini sudah setara 67% dari target.
Awas, Tekanan Outflow Hot Money
Seperti sudah diprediksi, Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan mempertahankan bunga acuan atau BI 7-day reverse repo rate (7-day-RR) di 3,5%. Keputusan ini disambut positif oleh investor dalam negeri.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin, ditutup menguat 0,2% ke 6.998,27. Kurs spot rupiah juga menguat 0,15% ke Rp 14.840 per dollar Amerika Serikat (AS). CEO Edvisor.id Praska Putrantyo menyebut, pelaku pasar domestik menilai BI pro pertumbuhan ekonomi. Karena itu, bursa saham menguat. Ini bisa terus memacu terjadinya capital outflow dari pasar modal Indonesia.
Pilihan Editor
-
CEO di Pentas Politik Tanah air
23 May 2020 -
LADANG STARTUP MAKIN SUBUR
19 May 2020 -
Geliat Ekonomi dari Rumah
23 May 2020 -
BANK SYARIAH TETAP SOLID
19 May 2020









