;
Tags

Hedging

( 3 )

Emiten Tekstil Ditopang Hedging Alami

Ayutyas 08 Apr 2020 Bisnis Indonesia, 6 April 2020

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melandai dalam sebulan terakhir, dari Rp14.113 per dolar AS pada 4 Maret 2020 menjadi Rp16.430 akhir pekan lalu. Secara year to date, rupiah melemah 18,49%. Meski demikian, pendapatan ekspor menjadi natural hedge atau lindung nilai alami bagi sejumlah emiten tekstil Tanah Air dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah.

Hal ini sebagaimana dikonfirmasi Direktur Utama PT Trisula International Tbk. (TRIS) Kris S Widjojo, Corporate Communication PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) Joy Citradewi serta Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk. (PBRX) Anne Patricia Sutanto di tempat terpisah. Ketiganya menyampaikan pendapat senada bahwa penurunan nilai tukar rupiah ini tidak akan berdampak signifikan meski senantiasa mewaspadai pergerakan nilai tukar rupiah terhadap berbagai mata uang lainnya.

Sekitar 70% penjualan TRIS ke pihak adalah penjualan ekspor dengan mengantongi penjualan bersih Rp687 miliar berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2019, kontribusi paling besar adalah nilai ekspor kepada pihak ketiga senilai Rp423,80 miliar. Berdasarkan laporan keuangan tahunan 2019, SRIL melaporkan penjualan US$1,18 miliar, tumbuh 14,30% dari US$1,03 miliar periode 2018. Kontribusi penjualan terbesar berasal dari ekspor US$704,88 juta pada 2019. Joy mengatakan perseroan sejauh ini masih menjadi net exporter.

Begitu juga dengan PBRX yang sebagian besar pendapatannya dalam denominasi dolar AS. Di lain sisi, PBRX memiliki rencana untuk melakukan pembiayaan kembali (Refinancing) fasilitas modal kerja senilai US$138 juta yang akan jatuh tempo 2021 menjadi lebih panjang sampai dengan 2023, fasilitas ini diperkirakan akan berasal dari enam perbankan.

Moody's Investors Service baru-baru ini menurunkan outlook PBRX dari stabil menjadi negatif dikarenakan rencana Refinancing di tengah kondisi yang menantang dan meningkatnya gejolak global serta regional. Saldo kas PBRX senilai US$64 juta per kuartal III/2019 dinilai akan cukup menutupi kebutuhan kas operasional, pengeluaran modal yang direncanakan, dan pembayaran utang jangka pendek serta dividen yang diproyeksikan selama 12 bulan-18 bulan ke depan. Namun di perkirakan tidak cukup untuk menutupi fasilitas kredit bergulir senilai US$138 juta yang jatuh tempo Februari 2021. Meski demikian, Anne menyebut penjelasan Moody's hanya dipakai sebagai persyaratan karena saat ini perseroan tidak memiliki isu permasalahan arus kas.

Tarif Kejutan yang Bikin Geram

budi6271 21 Jan 2019 Tabloid Kontan
Ketua INACA menganggap kenaikan harga tiket adalah hal wajar. Namun demikian, Ketua Pengurus Harian YLKI mengatakan bahwa kenaikan tarif pesawat saat ini tidak memperhatikan psikologis konsumen.
Direktur Utama Garuda Indonesia mengungkapkan, awalnya pihaknya ingin menyehatkan keuangan Garuda dengan menaikkan harga tiket. Hal itulah yang kemudia diikuti maskapai-maskapai lainnya. Biaya operasional dipengaruhi biaya bahan bakar. Ketika bahan bakar naik 50% biaya operasional penerbangan bisa naik 20%.
Untuk menyiasati harga avtur yang fluktuatif, dilakukan dengan dua cara. Pertama, efisiensi operasional melalui hedging bahan bakar dan efisiensi utilisasi pesawat. Kedua, melakukan inovasi, seperti kemudahan booking dan checking agar orang tertarik terbang bersama maskapai tersebut. Penjualan ruang iklan juga memungkinkan maskapai memperoleh penghasilan tambahan.
Anggota INACA sepakat bakal menurunkan tarif hingga 30%. Namun mereka meminta kompensasi berupa penurunan harga avtur sekitar 10% dari Pertamina. Hanya saja, masih banyak pengguna jasa penerbangan yang belum merasakan penurunan tarif. Di media sosial, banyak yang menyebut, penurunan tidak sampai 30%.

Waspadai Utang Luar Negeri

Admin 10 May 2018 Investor Daily
Bila terjadi pelemahan nilai tukar rupiah yang berkepanjangan dan makin dalam, biasanya perhatian banyak kalangan terhadap keberadaan utang luar negeri dalam bentuk valas makin meningkat. Tindakan yang perlu dilakukan oleh korporasi dalam upaya pengelolaan utang luar negeri adalah dengan hedging (lindung nilai). Hedging akan menjadi tameng bagi korporasi yang berfungsi untuk menghindari korporasi dari kerugian akibat gejolak nilai tukar rupiah. Dengan adanya isntrumen lindung nilai, permintaan valas akan lebih terukur, tekanan harga di pasar spot akan berkurang dan pasar valas semakin dalam. Imbasnya, nilai tukar rupiah berpotensi untuk stabil.