Baja
( 57 )Kebijakan Tarif Trump Dikhawatirkan Picu Impor Baja
Peluang untuk Perluas Ekspor Baja
Kenaikan Tarif Impor Baja AS Mengundang Hujatan Keras
Melindungi Mother of Industry
Baja Lapis Seng Diekspor ke Pasar Amerika
Para pegawai PT Arcelor Mittal Nippon Steel (AM/NS) Indonesia, terlihat tengah mengecek produk baja lapis seng (galvanize) sebelum diekspor ke pasar Amerika Serikat, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada hari Rabu (30/4/2025). PT AM/NS Indonesia mengekspor 10.000 ton galvanize senilai 10 juta dollar AS. Pabrik baja dengan kapasitas produksi yang dapat mencapai 400.000 ton per tahun ini menargetkan setiap bulan dapat secara teratur mengekspor 6.000 ton galvanize ke Amerika Serikat sebagai pasar terbesar untuk prduk mereka. (Yoga)
Nilai Ekspor Sultra Menurun Akibat Permintaan Baja Tahan Karat Berkurang
Nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada periode Januari-November 2024 menurun 9,45 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan itu terjadi karena berkurangnya permintaan baja tahan karat yang biasa diproduksi smelter di Sultra. Selain itu, ekspor produk pertanian dan kelautan juga stagnan. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, volume ekspor dari provinsi itu pada Januari-November 2024 mencapai 2,61 juta ton. Angka itu meningkat sekitar 400.000 ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,24 juta ton. Meski volumenya bertambah, nilai ekspor Sultra justru menurun 9,45 persen. Hingga November 2024, total nilai ekspor Sultra mencapai 3,64 miliar dollar AS atau sekitar Rp 54 triliun pada kurs Rp 16.000 per dollar AS. Pada periode yang sama tahun lalu, nilai ekspor provinsi itu sebesar 4,02 miliar dollar AS. Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sultra Nur Adnan Hadi mengakui, secara rekapitulasi, nilai ekspor tahun ini turun dibandingkan tahun lalu. Hal ini ditengarai akibat turunnya permintaan baja tahan karat.
Penurunan permintaan baja tahan karat itu membuat smelter-smelter di Sultra lebih banyak memproduksi feronikel. Feronikel adalah produk smelter kategori ”kelas dua” yang merupakan bahan baku pembuatan baja tahan karat. Pada periode sebelumnya, produksi feronikel dan baja tahan karat hampir seimbang. ”Sekitar 83 persen ekspor tahun ini didominasi hasil industri pengolahan berupa feronikel. Ini berbeda dengan tahun sebelumnya di mana produk baja tahan karattinggi. Hal itu berimbas pada nilai ekspor yang turun,” tutur Hadi, Kamis (26/12/2024), di Kendari. Nilai ekspor feronikel di Sultra tahun ini mencapai 82,9 persen dari total ekspor. Jumlah tersebut mencapai 3,01 miliar dollar AS atau Rp 48,16 triliun.Adapun nilai ekspor baja tahan karat mencapai 17 persen. Di sisi lain, hasil kelautan perikanan dan pertanian terus melemah dan tertinggal jauh. Nilai ekspor produk kelautan perikanan dan pertanian kurang dari 1 persen. Produk perikanan dan pertanian seperti ikan beku, gurita, kepiting, dan pinang hanya memiliki persentase kurang dari 1 persen dari total ekspor Sultra. (Yoga)
Dampak Minim dari Bea Masuk Antidumping Baja Impor
Pemerintah Indonesia telah lama menerapkan kebijakan perlindungan terhadap produsen baja nasional melalui bea masuk antidumping (BMAD), tantangan besar masih dihadapi oleh industri baja dalam negeri. Pemerintah melalui PMK No. 71/2024 kembali memperpanjang BMAD untuk produk baja tertentu, termasuk produk hot rolled coil (HRC) dan baja jenis H Section serta I Section, dengan tujuan membatasi impor dari negara-negara seperti China, Korea Selatan, dan Taiwan. Namun, meskipun kebijakan tersebut sudah ada sejak 2008, serbuan produk baja impor dengan harga sangat murah, terutama dari China, masih mengancam daya saing produsen baja lokal.
Berdasarkan data Komite Antidumping Indonesia (KADI) dan laporan dari asosiasi produsen baja, terdapat indikasi praktik dumping oleh negara-negara seperti China, Ukraina, dan Singapura. Produk baja impor ini telah mengalami kenaikan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan dampak yang cukup besar terhadap penjualan produsen baja lokal. Beberapa produsen bahkan melaporkan penurunan penjualan hingga 20%, dan khawatir menghadapi kesulitan bertahan tanpa dukungan kebijakan yang lebih kuat.
Tokoh penting seperti Direktur Eksekutif IISIA, Wi-dodo Setiadharmaji, dan Ketua Umum Asosiasi Roll Former Indonesia, Nicolas Kesuma, menekankan bahwa pemerintah perlu memberikan proteksi yang lebih besar untuk menjaga industri baja domestik. Salah satu langkah yang dianggap penting adalah pengamanan terhadap impor ilegal, yang semakin marak pascapandemi, serta memperketat peraturan tata niaga untuk mengurangi impor produk baja yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri.
Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics, Mohammad Faisal, pemerintah perlu memberikan proteksi yang lebih besar dan lebih tegas untuk mengatasi fenomena impor ilegal dan menjaga keberlanjutan industri baja nasional. Pemerintah diharapkan untuk meningkatkan kebijakan yang dapat melindungi produsen lokal dari tekanan harga baja impor yang lebih murah, agar industri baja dalam negeri dapat bertahan dan berkembang.
Anggaran Pemerintah Pusat Mendominasi, Daerah Tertinggal
Anggaran pembangunan di daerah tak sebesar anggaran pusat. Hal ini telah terjadi sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Bahkan komposisi anggaran itu berpotensi terjadi di tahun pertama pemerintahan baru.
Mengacu data Kementerian Keuangan (Kemkeu), proporsi anggaran kementerian dan lembaga (K/L) lima tahun terakhir berfluktuasi. Selama periode 2019 hingga 2024, rerata proporsi anggaran belanja K/L mencapai 39,07% dari total belanja negara.
Sementara di 2025, dalam Postur Sementara yang disepakati pemerintah dan DPR, anggaran belanja K/L dipatok sebesar Rp 1.160,09 triliun, atau 32,12% dari alokasi belanja negara tahun depan sebesar Rp 3.613,05 triliun.
Wakil Menteri Keuangan II Thomas Djiwandono memastikan anggaran belanja di RAPBN 2025 telah memperhitungkan rencana penambahan K/L oleh pemerintahan Prabowo. Namun ia belum menyebut jumlahnya. Di sisi lain, rerata proporsi anggaran TKD periode 2019-2024 mencapai 27,44% dari total belanja negara. Sementara proporsi TKD tahun depan mencapai 25,46%. Artinya, anggaran K/L masih lebih besar dibanding TKD.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto menilai, besarnya porsi anggaran K/L menggambarkan belanja birokrasi masih lebih besar dibandingkan belanja daerah.
Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Armand N Suparman menyebut, lebih besarnya anggaran belanja modal pemerintah pusat dibanding daerah menjadi kabar buruk. Pasalnya, anggaran pembangunan daerah sangat bergantung pada anggaran pusat. "Sekitar 70% bahkan 80% pendapatan daerah dari dana transfer daerah," kata dia, Rabu (11/9). Dengan anggaran daerah yang lebih rendah, kata Armand, maka ruang fiskal daerah semakin sempit.
DAMPAK PERANG DAGANG : PELUANG TERBUKA EKSPOR BAJA
Pemerintah mengincar negara-negara Barat sebagai tujuan ekspor baja nasional di tengah menghangatnya hubungan blok tersebut dengan China. Pelaku industri baja nasional pun diminta untuk mempersiapkan produknya agar bisa diterima di pasar global.
Kementerian Perdagangan menilai perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China bisa menjadi peluang bagi industri baja nasional. Pelaku industri bisa memasok kebutuhan baja di sejumlah negara yang terdampak dari situasi tersebut. Menteri Perdagangan Zulkifl i Hasan mengatakan bahwa situasi yang berkembang saat ini menjadi momentum bagi industri baja nasional untuk melakukan perluasan ekspor. AS, Kanada, Australia, dan sejumlah negara Eropa bisa menjadi tujuan ekspor baru dari produk baja nasional. Sebagai informasi, AS pada April 2024 berencana menaikkan tarif hingga tiga kali lipat untuk impor baja dan aluminium asal China jika Beijing terbukti menggunakan praktik anti persaingan. “[Akibat] persaingan dagang antara Tiongkok dan negara-negara Barat, baja-baja dari Tiongkok enggak bisa masuk. Saya kira ini menjadi peluang emas,” katanya saat pelepasan ekspor baja lapis milik PT Tata Metal Lestari, Jumat (21/6). Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, dalam kesempatan itu melepas ekspor produk nexalume nexium, dan nexcolor yang diproduksi oleh PT Tata Metal Lestari ke Australia, Kanada, dan Puerto Rico, dengan nilai mencapai Rp24 miliar.
Berdasarkan data dari Satu Data Perdagangan, Indonesia mengalami defisit dagang ke Australia sebesar US$1.597,8 juta pada periode Januari—April 2024. Pada periode tersebut, impor tercatat sebesar US$3,096,1 juta, sedangkan ekspor hanya sekitar US$1,498,3 juta.
Vice President Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi pun mengatakan bahwa kondisi yang terjadi saat ini memang menjadi peluang bagi industri baja, termasuk perusahaannya untuk melakukan perluasan ekspor. “Jadi bisa dibilang agak beruntung ekspornya, karena kebetulan adanya pertarungan antara dua ‘raksasa’,” ujarnya. Selain itu, industri baja nasional kian diuntungkan dengan sejumlah perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) antara Indonesia dan sejumlah negara lain, termasuk Australia. Perjanjian tersebut memungkinkan pelaku industri dalam negeri untuk melakukan ekspor ke Australia. Adapun, pada kuartal I/2023, Stephanus mengungkapkan bahwa ekspor baja perusahaannya mengalami peningkatan sebesar 8,2% atau 3,18 juta ton dibanding periode sebelumnya.
Dengan capaian yang baik tersebut, Tata Metal Lestari berencana untuk kembali berinvestasi pada 2025 dengan nilai mencapai Rp1,5 triliun di luar lahan dan pembangunan.
Di sisi lain, Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) mencatat penurunan volume impor baja sebesar 10,2%, yakni sebesar 3,51 juta ton pada kuartal I/2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 3,91 juta ton.Direktur Eksekutif IISIA Widodo Setiadharmaji sempat mengatakan bahwa kinerja impor yang turun merupakan dampak dari kebijakan pengendalian impor yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian melalui kebijakan larangan dan pembatasan impor.
Bahkan, dalam 5 tahun terakhir atau periode 2019—2023, volume impor turun 12,94% year-on-year (yoy) dari 17 juta ton pada 2019 menjadi 14,8 juta ton pada 2023. Angka impor itu belum pernah mencapai level sebelum Covid-19, meskipun permintaan baja domestik terus mengalami pertumbuhan.
Sementara itu, World Steel Association mencatat, produksi baja mentah sepanjang Mei 2024 dari 71 negara yang melaporkan ke lembaga tersebut mencapai 165,1 juta ton. Angka tersebut meningkat 1,5% dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. China masih menjadi negara yang memproduksi baja paling banyak pada bulan lalu, yakni 92,9 juta ton, naik 2,7% dari Mei 2023. Kemudian, India memproduksi 12,2 juta ton, naik 3,5% secara tahunan. Jepang 7,2 juta ton, tumbuh 6,3% YoY, sedangkan AS memproduksi 6,9 juta ton, turun 1,5% YoY. Data tersebut juga mencatat Rusia yang diproyeksi memproduksi baja sebanyak 6,3 juta ton pada Mei 2024, dan Korea Selatan 5,2 juta ton.
Permintaan Baja Masih Bisa Tumbuh
Kinerja emiten baja masih berat di awal tahun. Terlihat dari pencapaian beberapa emiten baja di kuartal I-2024. Misalnya PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) mencatatkan penjualan sebesar Rp 1,37 triliun per kuartal I-2024. Hasil ini susut 20,95% secara tahunan dari semula Rp 1,73 triliun per kuartal I-2023. Untungnya, ISSP mencatatkan kenaikan tipis laba ke pemilik entitas induk sebesar 1,73% menjadi Rp 108,84 miliar di periode tersebut. Di periode serupa 2023 raihan labanya Rp 106,99 miliar. "Penggerak utama kinerja kami masih dari proyek pemerintah. Penyerapan capex baru sekitar 10% di kuartal I 2024," ujar Johannes W Edward, Sekretaris Korporat Steel Pipe Industry Indonesia ke KONTAN, Senin (13/5).
Untuk mendongkrak kinerja, ISSP bakal melakukan penetrasi pasar ke pengguna langsung. Maklum, sebagaian besar pasar perusahaan baja ini ada di pasar domestik. Yakni sekitar 60%. Sementara, PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) mencatatkan penjualan bersih sebesar US$ 162,55 juta di kuartal I 2024. Hasil terebut tergerus sebesar 22,68% secara tahunan dari periode sama tahun lalu yang mencatatkan hasil sebesar US$ 210,25 juta. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada melihat kinerja ISSP dan GGRP masih lumayan baik. Ini tercermin dari peningkatan laba di tengah penurunan penjualan di kuartal I 2024.
Secara industri Reza melihat pasar baja masih mengalami penurunan. Ini imbas dari berkurangnya permintaan produk olahan baja. Penyebabnya belum banyak perusahaan yang melakukan ekspansi pembangunan pabrik. Meskipun begitu, konsumsi baja nasional di tahun 2024 diproyeksikan tumbuh. Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) memproyeksikan konsumsi baja nasional tumbuh 5,2% menjadi 18,3 juta ton pada 2024, dari realisasi sebanyak 17,4 juta ton pada tahun lalu. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama sependapat, harga baja masih tertekan akibat oversupply yang disebabkan adanya perlambatan ekonomi global. Kondisi yang sama pun terjadi di pasar dalam negeri.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









