Potensi
( 15 )Empat Hari Kerja di Asia yang Menggoda
Empat Hari Kerja di Asia yang Menggoda
Fajar Mulia, Mengubah Sampah Jadi Berkah
Sudah lama Fajar Mulia (42) gerah melihat sampah bertumpuk di
mana-mana. Ia tergerak menyedekahkan waktu untuk mengatasi persoalan sampah dan
mengubahnya menjadi berkah. Berkeliling di perumahan Althia Park, Bintaro, Tangsel,
Banten, pada Minggu (18/2) kita bisa menangkap kegairahan warga mengolah sampah
rumah tangga. Sekitar 70 % dari 122 rumah tangga di kompleks itu telah memilah
sendiri sampah dalam lima kategori: kardus/kertas, plastik, kemasan makanan,
beling, dan logam. Sampah yang masih punya nilai ekonomi itu mereka setorkan ke
tiga titik penampungan di kompleks tersebut. Setelah penuh, sampah diangkut ke
depo bank sampah di sisi belakang kompleks.
Sebulan sekali sampah itu ditimbang dan dijual kepada
pengepul. Sampah sisa makanan (organik) yang tidak bisa disetor ke bank sampah
diolah jadi kompos dan eco-enzyme. Di kompleks itu, ada 11 titik komposer kolektif
dan 60-an komposer individu milik warga. Kompos dipakai mereka untuk media
tanam taman pribadi dan kebun milik bersama. Ekoenzim dipakai untuk activator pembuatan
kompos, pupuk, dan sarana edukasi. Warga juga memanfaatkan ekoenzim untuk bahan
pembuatan sabun, pembersih lantai, dan produk ramah lingkungan lainnya.
”Semuanya masih kecil-kecilan, baru skala rumah tangga.
Tetapi, yang penting, kesadaran warga untuk mengolah sampah sudah muncul,” ujar
Fajar Mulia, inisiator gerakan pengolahan sampah yang ditunjuk warga sebagai Ketua
Bank Sampah Althia Bahagia. Sejak gerakan swakelola sampah dilakukan warga pada
akhir 2018 hingga akhir 2023, sampah bernilai ekonomi yang berhasil dipilah dan
dijual jumlahnya lebih dari 18 ton. Adapun sampah organik yang berhasil diubah
menjadi kompos dan ekoenzim sekitar 50 % dari sampah warga. Sampah yang dibuang
warga tinggal sampah yang benar-benar tak bisa diolah, seperti sampah B3. Menurut
Fajar, hasil penjualan sampah setiap tahun Rp 6 juta-Rp 9 juta. Jika diakumulasikan
pada 2018-2023, totalnya Rp 41 juta. Uang itu dimasukkan ke kas RT dan
digunakan untuk membiayai kegiatan kompleks. (Yoga)
NELAYAN BENGKULU KALAH BERTARUNG DI LAUT YANG KAYA
Dengan susah payah, Zulkoto (50) dibantu 30 tetangganya di kampung
nelayan Malebero, Kota Bengkulu, mendorong perahu motor dari daratan ke bibir
pantai, Rabu (15/11) sore. Dibutuhkan 30 menit untuk mendorong perahu berukuran
20 gros ton tersebut hingga sampai di pinggir laut. ”Kami biasanya melaut sejauh
30-40 mil ke arah utara menuju perairan Lais, Kabupaten Bengkulu Utara,” ucap ayah
dua anak itu. Saat ini laut masih bersahabat. Para nelayan di Bengkulu sedang
panen ikan tuna, layur, dan tongkol. Dalam sehari melaut, nelayan bisa mendapat
ikan 700-800 kg. Sayangnya, meski ikan melimpah, nelayan tetap tidak dapat
menikmati untung banyak karena harga ikan di pasaran anjlok. Ikan tongkol
paling tinggi dibeli Rp 13.000 per kg, tuna Rp 22.000 per kg, dan layur Rp 30.000
per kg. Harga jual itu bisa lebih rendah jika kualitas ikan hasil tangkapan
nelayan rusak karena terlalu lama di darat atau kekurangan es batu. Ikan
tongkol bisa jatuh pada harga Rp 10.000, tuna Rp 18.000, dan layur hanya Rp
20.000 per kg.
Tempat pelelangan ikan di kawasan Pulau Baai, yang
seharusnya menjadi tempat negosiasi harga, juga tak terpakai. Setelah mendarat,
sebagian besar nelayan menjual hasil tangkapan kepada tengkulak, karena ratusan
nelayan telah meminjam perahu untuk modal melaut. Mereka juga meminjam uang
sayur untuk keluarganya pada tengkulak. Bos nelayan adalah pemilik kapal yang
juga membeli semua ikan hasil tangkapan nelayan. ”Kami bagi hasil dengan bos. Kalau
sedang musim panen, alhamdulillah bisa dapat Rp 500.000 setelah dua hari melaut.
Itu setelah dipotong modal dan utang,” kata Setrayandi (43), nelayan asal
Sumbar, yang merantau ke Bengkulu sejak lima tahun lalu. Kekayaan laut di
Bengkulu membawa Setrayandi merantau ke provinsi di pesisir barat Sumatera itu.
Ia berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik, namun, nyatanya nasib
nelayan tradisional sama saja. Hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan.
Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu Syafriandi
mengakui potensi perikanan di Bengkulu belum tergarap secara optimal karena
keterbatasan sarana dan prasarana. Selain ukuran kapal nelayan yang masih di
bawah 30 GT, nelayan juga belum mempunyai fasilitas cold storage untuk
menyimpan ikan agar tetap segar. Bahkan, Bengkulu juga masih kekurangan es untuk
mengawetkan ikan. Saat musim panen ikan seperti sekarang, kebutuhan es untuk
nelayan di Bengkulu bisa mencapai 300 ton per hari. Namun, kapasitas produksi
es baru 175 ton per hari. Pemprov Bengkulu tengah membangun Pelabuhan Perikanan
Nusantara di Kabupaten Seluma. Pelabuhan itu ditargetkan selesai pada 2024 dan diharapkan
dapat mendukung usaha nelayan, khususnya yang berasal di luar Kota Bengkulu.
Pemerintah juga mengupayakan pembangunan pabrik es di Pulau Enggano, untuk
memenuhi kebutuhan es untuk nelayan di Enggano dan nelayan lain yang sedang
mencari ikan di perairan sekitar pulau tersebut. (Yoga)
Indonesia Siapkan US$ 5 juta untuk Aksistensi AIS Forum
Amman Mineral Cetak Laba Bersih Rp 1,8 Triliun
Mendukung Indonesia Keluar dari Middle Income Trap
Maritim Perlu Dibangun Berkelanjutan
Pembangunan maritim menjadi prioritas di masa depan. Indonesia kini dalam jalan panjang membangun ekonomi maritim, peradaban, dan kekuatan maritim. Namun, tata kelola laut yang masih berorientasi daratan menjadi hambatan dalam membangun masa depan maritim yang tidak merusak lingkungan. Pada tahun 2045, kontribusi PDB maritim terhadap PDB Nasional ditargetkan 12,5 %, berfokus pada pembangunan konektivitas laut yang efisien dan efektif, industrialisasi perikanan yang berkelanjutan dan berdaya saing, serta pariwisata bahari yang inklusif. Target PDB maritim itu meningkat dari 2015, yakni 6,4 % dari total PDB.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengemukakan, sektor maritim berperan penting dalam mencapai Visi Indonesia Emas 2045, yakni ”Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan”. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, pemanfaatan sektor maritim, selain difokuskan pada upaya meningkatkan kontribusi moneter, juga perlu memperhatikan keberlanjutan sumber daya kelautan. ”Sekarang seakan-akan kita (mengalami) disorientasi,” ujarnya dalam Seminar Penguatan Tata Kelola Kelautan Berkelanjutan dan Berkeadilan dalam Rencana Pembangunan Nasional di Jakarta, secara hibrida, Selasa (8/8). (Yoga)
PELABUHAN, Maersk Diajak Majukan Patimban
Kemenhub mengajak perusahaan pengapalan peti kemas asal Denmark, Maersk Line, dan investor dari sejumlah negara bekerja sama untuk mengembangkan Pelabuhan Patimban di Subang, Jabar. Menhub Budi Karya Sumadi mengajak Duta Besar Denmark untuk Indonesia Lars Bo Larsen bersama perusahaan Maersk Line melihat bongkar muat di Pelabuhan Patimban. ”Kami tawarkan Maersk Line dan beberapa investor bekerja sama dengan PT Pelabuhan Patimban International yang telah ditunjuk untuk mengembangkan Pelabuhan Patimban. Kami ingin pelabuhan ini berkembang dengan pesat,” kata Budi Karya Sumadi, Jumat (16/9). Menurut Budi Karya, kerja sama dengan Maersk Line sangat potensial. Sebab, perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan pengapalan terbesar di dunia yang memiliki potensi pengangkutan dari Asia menuju ke Eropa, AS, dan Timur Tengah. Menhub meyakinkan calon investor, kinerja Patimban menggembirakan, melebihi rencana pemerintah. ”Awalnya (pengapalan) ditargetkan mengangkut 160.000 unit kendaraan, tetapi saat ini sudah mengangkut 200.000 unit,” kata Budi.
Lars Bo Larsen menyambut baik tawaran Pemerintah Indonesia tersebut. Dalam keterangannya kepada Kemenhub, dia terkesan dengan kinerja Pelabuhan Patimban. Indonesia diyakini memiliki pertumbuhan ekonomi yang kuat ke depan. ”Transportasi laut menjadi satu elemen penting dalam memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan baik dengan Pemerintah Indonesia,” kata Lars. Dalam peninjauan itu, Menhub RI bersama Dubes Denmark untuk Indonesia juga memantau aktivitas pengangkutan 2.025 unit mobil oleh Kapal MV Siem Curie di Pelabuhan Patimban. Kapal tersebut datang dari Singapura untuk berangkat kembali menuju ke Luzon, Filipina. (Yoga)
Atlet Nasional Muhammad Abdurrahman Juarai Katagori Men Elite
Atlet nasional Muhammad Abdurrohman tampil sebagai juara katagori Men Elite dalam lomba balap sepeda Velocity Criterium di Central Park Meikarta, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Minggu (26/6). Muhammad Abdurrahman meraih gelar juara pertama setelah menyelesaikan 10 lap dalam waktu 30 menit 07,072 detik. Peringkat kedua direbut Muhammad Gilang Persada, kemudian posisi ketiga direbut Muhammad Andy Royan dengan selisih waktu. "Acara berlangsung dengan kondusif. Para penonton sangat tertib dan fasilitas di lokasi pertandingan juga usah memadai," ujar Muhammad Abdurrahman kepada Investor Daily seusai pertandingan, Minggu (26/6). Pada katagori Men Master A, Anang Prabowo tampil sebagai juara pertama. Sedangkan Arri Pratama menduduki posisi kedua dan Bagus Hefnar menyusul di urutan ketiga. Pada katagori Men Master B, juara pertama diraih Zulkifli. Posisi runner up berhasil dicapai ferri Nanto dan urutan ketiga oleh Asep Suryaman. Katagori ketiga Men Master B menempuh jarak 13,8 km atau 6 sip. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023








