;
Tags

Potensi

( 15 )

Empat Hari Kerja di Asia yang Menggoda

KT3 26 Sep 2024 Kompas
Sebagian besar pekerja di Asia ingin mencoba bekerja empat hari per pekan. Namun, kekhawatiran akan stres akibat beban kerja jadi penghambat utama percobaan. Temuan itu diungkap dalam jajak pendapat lembaga perekrutan pekerja, Robert Walters, terhadap lebih dari 5.000 profesional dan pengelola perusahaan di 11 negara Asia. Hasilnya, hingga 89 persen responden mau menjajaki empat hari kerja. Dilaporkan media Singapura, The Straits Times, Rabu (25/9/2024), Robert Walters menyoroti fakta budaya kerja yang sangat keras di Asia. Saat dan selepas pandemi Covid-19, ada keterbukaan pada model kerja yang selama ini berlaku.

Di kalangan manajer, sekitar 70 persen responden menganggap kerja empat hari per pekan bisa menjadi insentif. Di tengah kesulitan perusahaan meningkatkan gaji dan tunjangan, tambahan waktu libur bisa menjadi pilihan insentif. Sebanyak 67 persen responden di kalangan manajerial mengatakan, produktivitas pekerja bisa meningkat dengan empat hari kerja. Selain itu, 78 persen responden menganggap kesejahteraan karyawan akan meningkat jika bekerja empat hari saja. Di Indonesia, 64 persen manajer dan 88 persen staf menganggap sistem empat hari kerja perlu dicoba. Di Singapura, gagasan itu disetujui 69 persen manajer dan 93 persen pekerja.

Manajer di Jepang dan Vietnam paling rendah persetujuannya, masing-masing 56 persen dan 54 persen. ”Kala Indonesia menjajaki pendekatan baru untuk mengatur waktu kerja, seiring inisiatif kesejahteraan, mereka mengarah pada percobaan dan adaptasi. Pandangan yang didapat akan menginformasika strategi perekrutan dan pencitraan pemberi kerja,” kata Kepala Robert Walters Indonesia dan Vietnam Eric Mary. Survei menemukan, para pekerja Indonesia menganggap sistem empat hari kerja akan susah diterapkan. Sekitar 61 persen khawatir stres akibat pekerjaan malah bertambah banyak dengan sistem itu. Ada 28 persen responden menganggap sistem itu akan menyebabkan pengurangan gaji. (Yoga)

Empat Hari Kerja di Asia yang Menggoda

KT3 26 Sep 2024 Kompas
Sebagian besar pekerja di Asia ingin mencoba bekerja empat hari per pekan. Namun, kekhawatiran akan stres akibat beban kerja jadi penghambat utama percobaan. Temuan itu diungkap dalam jajak pendapat lembaga perekrutan pekerja, Robert Walters, terhadap lebih dari 5.000 profesional dan pengelola perusahaan di 11 negara Asia. Hasilnya, hingga 89 persen responden mau menjajaki empat hari kerja. Dilaporkan media Singapura, The Straits Times, Rabu (25/9/2024), Robert Walters menyoroti fakta budaya kerja yang sangat keras di Asia. Saat dan selepas pandemi Covid-19, ada keterbukaan pada model kerja yang selama ini berlaku.

Di kalangan manajer, sekitar 70 persen responden menganggap kerja empat hari per pekan bisa menjadi insentif. Di tengah kesulitan perusahaan meningkatkan gaji dan tunjangan, tambahan waktu libur bisa menjadi pilihan insentif. Sebanyak 67 persen responden di kalangan manajerial mengatakan, produktivitas pekerja bisa meningkat dengan empat hari kerja. Selain itu, 78 persen responden menganggap kesejahteraan karyawan akan meningkat jika bekerja empat hari saja. Di Indonesia, 64 persen manajer dan 88 persen staf menganggap sistem empat hari kerja perlu dicoba. Di Singapura, gagasan itu disetujui 69 persen manajer dan 93 persen pekerja.

Manajer di Jepang dan Vietnam paling rendah persetujuannya, masing-masing 56 persen dan 54 persen. ”Kala Indonesia menjajaki pendekatan baru untuk mengatur waktu kerja, seiring inisiatif kesejahteraan, mereka mengarah pada percobaan dan adaptasi. Pandangan yang didapat akan menginformasika strategi perekrutan dan pencitraan pemberi kerja,” kata Kepala Robert Walters Indonesia dan Vietnam Eric Mary. Survei menemukan, para pekerja Indonesia menganggap sistem empat hari kerja akan susah diterapkan. Sekitar 61 persen khawatir stres akibat pekerjaan malah bertambah banyak dengan sistem itu. Ada 28 persen responden menganggap sistem itu akan menyebabkan pengurangan gaji. (Yoga)

Fajar Mulia, Mengubah Sampah Jadi Berkah

KT3 22 Feb 2024 Kompas (H)

Sudah lama Fajar Mulia (42) gerah melihat sampah bertumpuk di mana-mana. Ia tergerak menyedekahkan waktu untuk mengatasi persoalan sampah dan mengubahnya menjadi berkah. Berkeliling di perumahan Althia Park, Bintaro, Tangsel, Banten, pada Minggu (18/2) kita bisa menangkap kegairahan warga mengolah sampah rumah tangga. Sekitar 70 % dari 122 rumah tangga di kompleks itu telah memilah sendiri sampah dalam lima kategori: kardus/kertas, plastik, kemasan makanan, beling, dan logam. Sampah yang masih punya nilai ekonomi itu mereka setorkan ke tiga titik penampungan di kompleks tersebut. Setelah penuh, sampah diangkut ke depo bank sampah di sisi belakang kompleks.

Sebulan sekali sampah itu ditimbang dan dijual kepada pengepul. Sampah sisa makanan (organik) yang tidak bisa disetor ke bank sampah diolah jadi kompos dan eco-enzyme. Di kompleks itu, ada 11 titik komposer kolektif dan 60-an komposer individu milik warga. Kompos dipakai mereka untuk media tanam taman pribadi dan kebun milik bersama. Ekoenzim dipakai untuk activator pembuatan kompos, pupuk, dan sarana edukasi. Warga juga memanfaatkan ekoenzim untuk bahan pembuatan sabun, pembersih lantai, dan produk ramah lingkungan lainnya.

”Semuanya masih kecil-kecilan, baru skala rumah tangga. Tetapi, yang penting, kesadaran warga untuk mengolah sampah sudah muncul,” ujar Fajar Mulia, inisiator gerakan pengolahan sampah yang ditunjuk warga sebagai Ketua Bank Sampah Althia Bahagia. Sejak gerakan swakelola sampah dilakukan warga pada akhir 2018 hingga akhir 2023, sampah bernilai ekonomi yang berhasil dipilah dan dijual jumlahnya lebih dari 18 ton. Adapun sampah organik yang berhasil diubah menjadi kompos dan ekoenzim sekitar 50 % dari sampah warga. Sampah yang dibuang warga tinggal sampah yang benar-benar tak bisa diolah, seperti sampah B3. Menurut Fajar, hasil penjualan sampah setiap tahun Rp 6 juta-Rp 9 juta. Jika diakumulasikan pada 2018-2023, totalnya Rp 41 juta. Uang itu dimasukkan ke kas RT dan digunakan untuk membiayai kegiatan kompleks. (Yoga) 

NELAYAN BENGKULU KALAH BERTARUNG DI LAUT YANG KAYA

KT3 18 Nov 2023 Kompas

Dengan susah payah, Zulkoto (50) dibantu 30 tetangganya di kampung nelayan Malebero, Kota Bengkulu, mendorong perahu motor dari daratan ke bibir pantai, Rabu (15/11) sore. Dibutuhkan 30 menit untuk mendorong perahu berukuran 20 gros ton tersebut hingga sampai di pinggir laut. ”Kami biasanya melaut sejauh 30-40 mil ke arah utara menuju perairan Lais, Kabupaten Bengkulu Utara,” ucap ayah dua anak itu. Saat ini laut masih bersahabat. Para nelayan di Bengkulu sedang panen ikan tuna, layur, dan tongkol. Dalam sehari melaut, nelayan bisa mendapat ikan 700-800 kg. Sayangnya, meski ikan melimpah, nelayan tetap tidak dapat menikmati untung banyak karena harga ikan di pasaran anjlok. Ikan tongkol paling tinggi dibeli Rp 13.000 per kg, tuna Rp 22.000 per kg, dan layur Rp 30.000 per kg. Harga jual itu bisa lebih rendah jika kualitas ikan hasil tangkapan nelayan rusak karena terlalu lama di darat atau kekurangan es batu. Ikan tongkol bisa jatuh pada harga Rp 10.000, tuna Rp 18.000, dan layur hanya Rp 20.000 per kg.

Tempat pelelangan ikan di kawasan Pulau Baai, yang seharusnya menjadi tempat negosiasi harga, juga tak terpakai. Setelah mendarat, sebagian besar nelayan menjual hasil tangkapan kepada tengkulak, karena ratusan nelayan telah meminjam perahu untuk modal melaut. Mereka juga meminjam uang sayur untuk keluarganya pada tengkulak. Bos nelayan adalah pemilik kapal yang juga membeli semua ikan hasil tangkapan nelayan. ”Kami bagi hasil dengan bos. Kalau sedang musim panen, alhamdulillah bisa dapat Rp 500.000 setelah dua hari melaut. Itu setelah dipotong modal dan utang,” kata Setrayandi (43), nelayan asal Sumbar, yang merantau ke Bengkulu sejak lima tahun lalu. Kekayaan laut di Bengkulu membawa Setrayandi merantau ke provinsi di pesisir barat Sumatera itu. Ia berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik, namun, nyatanya nasib nelayan tradisional sama saja. Hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan.

Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu Syafriandi mengakui potensi perikanan di Bengkulu belum tergarap secara optimal karena keterbatasan sarana dan prasarana. Selain ukuran kapal nelayan yang masih di bawah 30 GT, nelayan juga belum mempunyai fasilitas cold storage untuk menyimpan ikan agar tetap segar. Bahkan, Bengkulu juga masih kekurangan es untuk mengawetkan ikan. Saat musim panen ikan seperti sekarang, kebutuhan es untuk nelayan di Bengkulu bisa mencapai 300 ton per hari. Namun, kapasitas produksi es baru 175 ton per hari. Pemprov Bengkulu tengah membangun Pelabuhan Perikanan Nusantara di Kabupaten Seluma. Pelabuhan itu ditargetkan selesai pada 2024 dan diharapkan dapat mendukung usaha nelayan, khususnya yang berasal di luar Kota Bengkulu. Pemerintah juga mengupayakan pembangunan pabrik es di Pulau Enggano, untuk memenuhi kebutuhan es untuk nelayan di Enggano dan nelayan lain yang sedang mencari ikan di perairan sekitar pulau tersebut. (Yoga)

Indonesia Siapkan US$ 5 juta untuk Aksistensi AIS Forum

KT1 10 Oct 2023 Investor Daily (H)
BADUNG,ID-Pemerintah Indonesia mendukung eksistensi Archipelagic and Island States (AIS) Forum atau Forum Negara Pulau dan Kepulauan melalui komitmen pendanaan sebesar US$ 5 juta. Lewat dukungan ini, inisiatif program-program konkret yang implementatif diharapkan bisa dikembangkan, sehingga mampu memberi kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan negara-negara AIS. "Pada 2019 Indonesia (telah) menyalurkan kontribusi sebesar US$1 juta untuk beberapa hal seperti pendirian sekretariat, implementasi kerja sama dan memperkuat kolaborasi antar negara," kata ujar Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Jodi Mahardi dalam keterangan tertulis, Senin (09/10/2023). Selain itu, tambah dia, pemerintah Indonesia juga membuat platform berbagai pengetahuan dan lokarya. Kegiatan itu melibatkan pemuda, inovator hingga usaha UMKM guna mendukung ekonomi biru. (Yetede)

Amman Mineral Cetak Laba Bersih Rp 1,8 Triliun

KT1 30 Sep 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membukukan laba bersih US$ 118,8 juta atau setara Rp1,83 triliun pada semester I-2023, turun 78,85% dibandingkan periode sama tahun lalu. Penurunan laba periode  berjalan yang dapat diditribusikan kepada pemilik entitas induk tersebut, sejalan dengan berkurangnya penjualan bersih perseroan  dari US$ 1,38 miliar pada semester satu tahun lalu menjadi US$ 580,52 juta akibat cuaca buruk dan kendala  ekspor. "Lokasi tambang kami mengalami curah hujan tinggi, hampir dua kali lipat rata-rata tahunan historis, selama hampir tujuh bulan dari Oktober 2022 hingga April 2023," kata Direktur Utama Amman  mineral Internasional Alexander Ramlie dalam keterbukaan informasi, Jumat (29/9/2023). Di sisi lain, produksi emas Amman juga turun 51% (yoy) menjadi 172 kilo ons pada semester !-2023. Sedangkan emas terjualnya turun 63% (yoy) jadi 119 kilo ons dengan harga bersih emas US$ 2.004 per ons yang naik 8% (yoy). (Yetede)

Mendukung Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

KT1 25 Sep 2023 Investor Daily
JAKARTA,ID-Empat aspek prioritas menjadi dasar penyusunan Peta Jalan Indonesia Emas 2045, yakni aspek meningkatkan ketahanan pangan dan kesehatan, aspek kesejahteraan, aspek inkluisivitas, dan aspek keberlanjutan. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia  berharap peta jalan tersebut mendukung Indonesia keluar dari jebakan middle income trap. Kadin Indonesia membuat Peta Jalan Indonesia Emas 2045. Dengan adanya Peta Jalan ini diharapkan dapat menjadi sebagai panduan yang melengkapi kerangka kebijakan pemerintah untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045, yaitu menjadi sebagai panduan yang melengkapi kerangka kebijakan pemerintah untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2024, yaitu menjadi negara maju dan sejahtera. "Kadin telah menghimpun masukan dari setiap sektor industri dengan melibatkan UMKM lebih dari 150 asosiasi industri, 500 pelaku usaha 10 lembaga swadaya masyarakat 30 akademisi 20 serikat buruh, dan 5 organisasi keagamaan," kata Arsjad. (Yetede)

Maritim Perlu Dibangun Berkelanjutan

KT3 09 Aug 2023 Kompas

Pembangunan maritim menjadi prioritas di masa depan. Indonesia kini dalam jalan panjang membangun ekonomi maritim, peradaban, dan kekuatan maritim. Namun, tata kelola laut yang masih berorientasi daratan menjadi hambatan dalam membangun masa depan maritim yang tidak merusak lingkungan. Pada tahun 2045, kontribusi PDB maritim terhadap PDB Nasional ditargetkan 12,5 %, berfokus pada pembangunan konektivitas laut yang efisien dan efektif, industrialisasi perikanan yang berkelanjutan dan berdaya saing, serta pariwisata bahari yang inklusif. Target PDB maritim itu meningkat dari 2015, yakni 6,4 % dari total PDB.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengemukakan, sektor maritim berperan penting dalam mencapai Visi Indonesia Emas 2045, yakni ”Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan”. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, pemanfaatan sektor maritim, selain difokuskan pada upaya meningkatkan kontribusi moneter, juga perlu memperhatikan keberlanjutan sumber daya kelautan. ”Sekarang seakan-akan kita (mengalami) disorientasi,” ujarnya dalam Seminar Penguatan Tata Kelola Kelautan Berkelanjutan dan Berkeadilan dalam Rencana Pembangunan Nasional di Jakarta, secara hibrida, Selasa (8/8). (Yoga)


PELABUHAN, Maersk Diajak Majukan Patimban

KT3 17 Sep 2022 Kompas

Kemenhub mengajak perusahaan pengapalan peti kemas asal Denmark, Maersk Line, dan investor dari sejumlah negara bekerja sama untuk mengembangkan Pelabuhan Patimban di Subang, Jabar. Menhub Budi Karya Sumadi mengajak Duta Besar Denmark untuk Indonesia Lars Bo Larsen bersama perusahaan Maersk Line melihat bongkar muat di Pelabuhan Patimban. ”Kami tawarkan Maersk Line dan beberapa investor bekerja sama dengan PT Pelabuhan Patimban International yang telah ditunjuk untuk mengembangkan Pelabuhan Patimban. Kami ingin pelabuhan ini berkembang dengan pesat,” kata Budi Karya Sumadi, Jumat (16/9). Menurut Budi Karya, kerja sama dengan Maersk Line sangat potensial. Sebab, perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan pengapalan terbesar di dunia yang memiliki potensi pengangkutan dari Asia menuju ke Eropa, AS, dan Timur Tengah. Menhub meyakinkan calon investor, kinerja Patimban menggembirakan, melebihi rencana pemerintah. ”Awalnya (pengapalan) ditargetkan mengangkut 160.000 unit kendaraan, tetapi saat ini sudah mengangkut 200.000 unit,” kata Budi.

Lars Bo Larsen menyambut baik tawaran Pemerintah Indonesia tersebut. Dalam keterangannya kepada Kemenhub, dia terkesan dengan kinerja Pelabuhan Patimban. Indonesia diyakini memiliki pertumbuhan ekonomi yang kuat ke depan. ”Transportasi laut menjadi satu elemen penting dalam memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan baik dengan Pemerintah Indonesia,” kata Lars. Dalam peninjauan itu, Menhub RI bersama Dubes Denmark untuk Indonesia juga memantau aktivitas pengangkutan 2.025 unit mobil oleh Kapal MV Siem Curie di Pelabuhan Patimban. Kapal tersebut datang dari Singapura untuk berangkat kembali menuju ke Luzon, Filipina. (Yoga)


Atlet Nasional Muhammad Abdurrahman Juarai Katagori Men Elite

KT1 27 Jun 2022 Investor Daily (H)

Atlet nasional Muhammad Abdurrohman tampil sebagai juara katagori Men Elite dalam lomba balap sepeda Velocity Criterium di Central Park Meikarta, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Minggu (26/6). Muhammad Abdurrahman meraih gelar juara  pertama setelah menyelesaikan 10 lap dalam waktu 30 menit 07,072 detik. Peringkat kedua direbut Muhammad Gilang Persada, kemudian posisi  ketiga direbut Muhammad Andy Royan dengan selisih waktu. "Acara berlangsung dengan kondusif. Para penonton sangat tertib dan fasilitas di lokasi pertandingan  juga usah memadai," ujar Muhammad Abdurrahman kepada Investor Daily seusai pertandingan, Minggu (26/6). Pada katagori Men Master A, Anang Prabowo tampil sebagai juara pertama. Sedangkan Arri Pratama menduduki posisi kedua dan Bagus Hefnar menyusul di urutan ketiga. Pada katagori Men Master B, juara pertama diraih Zulkifli. Posisi runner up berhasil dicapai ferri Nanto dan urutan ketiga oleh Asep Suryaman. Katagori ketiga Men Master B menempuh jarak 13,8 km atau 6 sip. (Yetede)