AM IMF-WB
( 10 )Penyesuaian Kebijakan Bank Sentral Akan Memicu Aksi Jual Pasar
Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (19/4) waktu setempat mengeluarkan peringatan bahwa aksi jual di pasar saham akan terjadi lagi karena bank sentral dunia tengah menyesuaikan kebijakan dalam rangka memerangi laju inflasi tinggi dan menarik langkah-langkah stimulus terkait pandemi Covid-19. "Tentu saja ada resiko aksi jual lebih lanjut. Konsekuensi pengetaatan moneter dimaksudkan memperketat kondisi keuangan untuk memperlambat kegiatan ekonomi, dan saya tidak akan terkejut jika melihat sejumlah penyesuaian valuasi kedepan. Hal itu bisa terjadi di pasar obligasi perusahaan dan pasar negara," ujar Tobias Adrian, direktur pasar moneter dan modal di IMF kepada CNBC pada Selasa (19/4).
IMF Koreksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,4%
Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) kembali mengoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini menjadi 5,4% secara tahunan (year on year/yoy), turun 0,2% poin dibandingkan proyeksi ini sedikit lebih rendah dari target BI dengan kisaran 4,7-5,5%. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menguat pada 2022 hingga 2023. Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,4% (yoy) pada 2022, dan 6% pada 2023," dengan tertulis dalam laporan Article IV Consultation with Indonesia yang dirilis Rabu (23/3). Direksi IMF juga mendukung pihak berwenang untuk mengembangkan strategi pendapatan jangka menengah untuk membiayai pengeluaran prioritas tinggi yang penting untuk mencapai tujuan pembangunan Indonesia. "Penghematan dari reformasi subsidi energi juga dapat digunakan untuk memperkuat jaring pengaman sosial," tulis IMF. (Yetede)
Serangan Rusia Dapat Mengubah Tatanan Ekonomi Global
IMF menyampaikan bahwa serangan Rusia ke Ukraina akan memengaruhi seluruh ekonomi global dengan memperlambat dan mendongkrak inflasi. Bahkan secara fundamental dapat membentuk kembali tatanan ekonomi global dalam jangka panjang. Dalam pernyataan yang diunggah IMF disitus lamannya pada Selasa (15/3) waktu setempat bahwa diluar penderitaan manusia dan arus pengungsi bersejarah, perang meningkatkan harga makanan dan energi, memacu inflasi dan mengikis nilai perdagangan, rantai pasokan dan pengiriman uang di negara-negara tetangga Ukraina. Para pejabat IMF menuturkan berencana menurunkan perkiraan IMF sebelumnya untuk pertumbuhan ekonomi global 4,4% pada 2022. "Negara-negara yang menjalin perdagangan langsung, pariwisata dan keterbukaan keuangan akan merasakan tekanan yang meningkat," kata IMF, mengutip resiko kerusuhan yang lebih di beberapa wilaya, dari Afrika-Sahara dan Amerika Latin hingga Kaukasus dan Asia Tengah. (Yetede)
IMF: Suku Bunga The Fed naik Pemulihan di Asia Melambat
Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa langkah The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga dan memperketat kebijakan secara agresif akan menghambat pemulihan ekonomi di Asia. "Surplus transaksi berjalan dan tingkat cadangan saat ini jauh lebih tinggi diantara negara-negara Asia dibandingkan dengan 2013, selama periode yang disebut taper tantrum," ujar Departemen Asia dan Pasifik IMF Changyong Rhee, kepada CNBC pada Rabu (26/1). Sebagai informasi, The Fed memicu taper tantrum pada 2-13 pada saat menghentikan program pembelian asetnya. Alhasil, pasar negera berkembang di Asia mengalami arus keluar modal yang tajam dan terjadi depresi mata uang. "Kali ini, suku bunga The Fed yang lebih tinggi mungkin tidak menyebabkan kejutan besar bagi pasar keuangan, tetapi pasti dapat memperlambat pemulihan dan pertumbuhan Asia," tambah Rhee. Negara-negara di Asia perlu mempersiapkan normalisasi kebijakan yang lebih cepat menyusul langkah The Fed untuk mengekang tekanan inflasi. (Yetede)
Ketidaksetaraan dan Inflasi Ganggu Pemulihan
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalia Georgieva mengingatkan bahwa ekonomi global yang rebound dari krisis Covid-19 akan mengalami penurunan pada tahun ini. Penyebabnya, banyak negara sedang berjuang menghadapi kenaikan harga, beban hutang tinggi, pemulihan yang berbeda dimana banyak negara miskin masih tertinggal dari negara-negara kaya. Meskipun IMF memilki kekuatan baru bernilai ratusan miliar dollar untuk membantu negara-negara pulih dari bencana, Georgieva mengungkapkan bahwa faktor-faktor mulai dari kenaikan harga pangan hingga akses vaksin yang tidak setara telah menimbulkan kerugian.
IMF dijadwalkan meliris proyeksi pertumbuhan baru pada pekan depan, tetapi Georgieva mengingatkan bahwa laju pertumbuhan tahun ini diperkirakan sedikit moderat dari prediksi 6% pada Juli. Selain itu, resiko dan hambatan untuk pemulihan global yang seimbang menjadi lebih jelas. Hal-hal ini, termasuk melebarkan perbedaan antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin dalam lintasan pemulihan mereka dari pandemi. Pidato Georgieva itu juga disampaikan menjelang pertemuan musim gugur IMF dan bank dunia, dimana akan jadi pertama yang mengungkapkan World Economic Outlook atau Prospek Ekonomi Dunia terbaru tentang penawaran berbagai topik
Georgieva mengibaratkan pemulihan global dari pandemi seperti berjalan dengan batu didalam sepatu kita dan pemulihan itu bisa saja keluar jalur. Dia menambahkan, Italia dan negara-negara lain di Eropa telah mengalami percepatan ekonomi tetapi raksasa ekonomi dunia Amerika Serikat dan Tiongkok mengalami momentum yang melambat. "Sebaliknya, dibanyak negara lain, pertumbuhan terus meburuk, terhambat oleh rendahnya akses vaksin dan respon kebijakan yang terbatas. Perbedaan dalam peruntungan ekonomi ini menjadi lebih persiten," tutur Gerogieva. (yetede)
Pertemuan IMF-WB Ciptakan Muliplier Effect
Kepercayaan Investor Global Dukung Stabilitas Rupiah
Beban APBN Dikurangi
IMF-WB Diprediksi Sumbang Penerimaan Pajak Hingga Rp 1T
Pertemuan IMF-WB dan Ekonomi Digital
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023





