Investasi lainnya
( 1347 )Pemerintah Siapkan Insentif Pajak Panas Bumi, Bahlil Dorong Pengembang Percepat Proyek
Jakarta – Pemerintah menyiapkan insentif
perpajakan untuk mendorong investasi dan mempercepat pengembangan energi panas
bumi atau geothermal di Indonesia. Kebijakan tersebut akan dibarengi
dengan pembenahan regulasi menyusul masih besarnya potensi panas bumi nasional
yang belum dimanfaatkan.
Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia
memiliki potensi panas bumi sekitar 23.202,77 megawatt (MW). Namun, kapasitas
yang sudah terpasang baru mencapai sekitar 2.776,39 MW atau 11,6 persen dari
total potensi tersebut. Artinya, sekitar 88,4 persen sumber daya panas bumi
Indonesia masih belum tergarap.
Bahlil
menyebut besarnya sumber daya tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu
negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Namun dari sisi kapasitas
pembangkit yang telah beroperasi, Indonesia masih berada di posisi kedua secara
global. Kondisi itu membuat pemerintah mendorong percepatan investasi agar
besarnya potensi panas bumi dapat segera dikonversi menjadi sumber energi
produktif.
Salah
satu langkah yang disiapkan adalah pemberian insentif perpajakan kepada pelaku
usaha. Kebijakan tersebut muncul setelah pemerintah mengevaluasi keekonomian
proyek panas bumi serta masukan dari pelaku industri terkait harga listrik yang
dinilai belum cukup menarik untuk mendukung pengembangan proyek baru.
Bahlil
mengatakan nilai keekonomian listrik panas bumi saat ini berada di kisaran 9,5
sen dolar AS per kilowatt hour (kWh). Namun, menurutnya, pelaku industri masih
menilai tingkat tersebut belum memadai.
“Kita
akan memberikan terobosan dengan insentif pajak,” kata Bahlil dalam Indonesia
International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta,
Rabu (19/8/2026).
Pemerintah
belum merinci bentuk insentif perpajakan yang nantinya akan diberikan. Namun,
kebijakan tersebut disiapkan bersamaan dengan revisi Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 7 Tahun 2017 mengenai panas bumi serta Peraturan Presiden (Perpres) Nomor
112 Tahun 2022 mengenai percepatan pengembangan energi terbarukan untuk
penyediaan tenaga listrik.
Revisi
PP Nomor 7 Tahun 2017 antara lain diarahkan untuk memperbaiki pengaturan
pemanfaatan tidak langsung panas bumi dan meningkatkan tingkat pengembalian
investasi. Sementara itu, perubahan Perpres Nomor 112 Tahun 2022 ditujukan
untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan.
Langkah
tersebut melanjutkan agenda pemerintah untuk mengatasi berbagai hambatan
pengembangan panas bumi. Selain persoalan keekonomian, pemerintah menilai
panjangnya proses regulasi dan perizinan turut memengaruhi kecepatan realisasi
investasi.
Bahlil
mengatakan evaluasi pemerintah menunjukkan masih terdapat hambatan dalam aturan
meskipun sejumlah tahapan regulasi sebelumnya telah dipangkas. Karena itu,
percepatan proyek panas bumi dinilai membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat
antara pemerintah sebagai regulator dan pelaku usaha.
Di
sisi lain, pemerintah meminta kemudahan dan insentif yang diberikan kepada
industri diikuti dengan komitmen dari pemegang konsesi. Bahlil mengingatkan
perusahaan yang telah memperoleh konsesi panas bumi agar segera merealisasikan
proyek dan tidak menahan wilayah pengelolaan tanpa perkembangan yang jelas.
Menurut
pemerintah, keterlambatan pengembangan panas bumi tidak hanya bersumber dari
perizinan. Permohonan penghentian sementara serta perpanjangan izin secara
berulang dari pengembang juga menjadi perhatian, terutama apabila keterlambatan
disebabkan belum siapnya teknologi atau pembiayaan proyek.
Kejar
Posisi Nomor Satu Dunia
Pemerintah
menargetkan pengembangan panas bumi sebagai salah satu pilar untuk memperkuat
ketahanan dan swasembada energi nasional. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga
Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah mendorong Indonesia menjadi produsen
energi panas bumi terbesar dunia pada 2030.
Potensi
panas bumi nasional tersebar di berbagai wilayah. Sumatera memiliki potensi
sekitar 9.441 MW, disusul Jawa sekitar 7.588 MW, Sulawesi sekitar 3.006 MW,
serta Nusa Tenggara sekitar 1.273 MW. Sejumlah wilayah lain seperti Kalimantan,
Bali, Maluku dan Papua juga memiliki potensi yang dapat dikembangkan.
Pemerintah
juga mulai mempercepat proyek baru. Dalam IIGCE 2026, pemerintah menyerahkan
Izin Panas Bumi kepada PT PLN (Persero) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP)
Gunung Ungaran dan kepada PT Telaga Rano Geothermal untuk WKP Telaga Ranu.
Selain itu, pemerintah menyiapkan penawaran lima WKP dan tujuh Wilayah
Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) sepanjang 2026.
Secara
keseluruhan, pipeline wilayah yang tengah disiapkan tersebut memiliki potensi
pengembangan sekitar 392 MW dengan rencana investasi sekitar US$2,23 miliar.
Lima WKP yang akan ditawarkan mencakup Danau Ranau, Hamiding, Songgoriti, Oka
Ile Ange dan Gunung Sirung.
Pengembangan
panas bumi ke depan juga tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan listrik.
Pemerintah mulai mendorong konsep beyond geothermal atau geothermal
economy, yakni pemanfaatan sumber daya panas bumi untuk aktivitas ekonomi
lain. Contohnya meliputi pemanfaatan panas bumi untuk pengeringan kopi di
Kamojang, pengolahan gula aren di Lahendong, hingga potensi ekstraksi mineral
seperti litium dan silika dari proyek panas bumi Dieng.
Dengan
pembenahan regulasi, pemberian insentif dan peningkatan keekonomian proyek,
pemerintah berharap investasi panas bumi dapat bergerak lebih cepat. Namun,
insentif tersebut sekaligus akan diikuti tuntutan kepada pengembang untuk
mempercepat realisasi investasi sehingga potensi panas bumi Indonesia tidak
hanya berhenti sebagai cadangan sumber daya, tetapi dapat berkontribusi nyata
terhadap pasokan energi dan perekonomian nasional.
Industri Tekstil Mulai Pulih, Ekspor Tembus US$4,85 Miliar dan Investasi Naik
Jakarta – Industri tekstil
dan produk tekstil (TPT) nasional menunjukkan tanda-tanda pemulihan sepanjang
2026. Selain mencatat pertumbuhan produksi yang lebih tinggi dibandingkan
perekonomian nasional, investasi di sektor ini meningkat dan kinerja ekspor
tetap membukukan surplus. Namun, derasnya pertumbuhan impor masih menjadi
tantangan bagi industri tekstil dalam negeri.
Menteri Perindustrian Agus
Gumiwang Kartasasmita menilai industri tekstil dan pakaian jadi masih memiliki
ruang pertumbuhan yang besar. Sektor padat karya tersebut saat ini menyerap
lebih dari 3,8 juta tenaga kerja dan tetap menjadi salah satu industri penting
bagi perekonomian nasional.
“Meski beberapa perusahaan
menghadapi tekanan, tetapi pada saat yang sama juga ada investasi baru dan
ekspansi usaha,” kata Agus dalam keterangannya, Selasa, 18 Agustus 2026.
Kementerian Perindustrian dalam
keterangan terbarunya menyebut nilai ekspor industri tekstil dan pakaian jadi
mencapai sekitar US$4,85 miliar pada Semester I 2026. Namun, data
perdagangan yang dipaparkan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) secara lebih
rinci mencatat angka US$4,85 miliar tersebut sebagai realisasi Januari–Mei
2026, meningkat 1,57 persen dibandingkan US$4,77 miliar pada periode yang
sama tahun lalu.
Di tengah pertumbuhan ekspor
tersebut, impor TPT justru meningkat lebih cepat. Nilainya naik dari US$3,41
miliar pada Januari–Mei 2025 menjadi US$3,58 miliar pada periode yang sama
tahun ini. Akibatnya, surplus perdagangan industri tekstil dan pakaian jadi
menyusut dari sekitar US$1,37 miliar menjadi US$1,27 miliar.
Kondisi tersebut menjadi
perhatian pelaku industri. API menilai pertumbuhan impor yang lebih tinggi
dibandingkan ekspor berpotensi menggerus daya saing produsen domestik apabila
tidak disertai penguatan pasar dalam negeri serta pengawasan terhadap impor ilegal
dan praktik perdagangan tidak sehat.
Pertumbuhan TPT Lampaui
Ekonomi Nasional
Pemulihan industri tekstil juga
terlihat dari pertumbuhan produksinya. Pada kuartal II 2026, industri tekstil
dan pakaian jadi tercatat tumbuh 6,36 persen secara tahunan, lebih
tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen dan
industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32 persen.
Laju tersebut juga lebih tinggi
dibandingkan pertumbuhan industri TPT sebesar 4,35 persen pada kuartal II 2025.
Dari kuartal sebelumnya, tren pertumbuhan juga menguat setelah sektor TPT
tumbuh sekitar 4,86 persen pada tiga bulan pertama 2026.
Wakil Ketua Umum API Ian Syarif
menilai pencapaian tersebut menunjukkan industri TPT masih memiliki daya tahan
dan kesempatan untuk berekspansi setelah mengalami tekanan dalam beberapa tahun
terakhir.
Optimisme pemerintah juga
ditopang oleh Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 yang berada pada
level 53,10. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas industri secara umum
masih berada pada fase ekspansi.
Investasi Capai Rp11,4 Triliun
Selain pertumbuhan produksi, arus
investasi ke industri TPT ikut meningkat. Sepanjang Semester I 2026, nilai
investasi industri tekstil dan pakaian jadi mencapai Rp11,40 triliun,
naik 11,85 persen dibandingkan Rp10,19 triliun pada periode yang sama tahun
sebelumnya.
Investasi pada subsektor tekstil
meningkat dari Rp6,05 triliun menjadi Rp6,78 triliun. Sementara investasi pada
industri pakaian jadi naik dari Rp4,14 triliun menjadi Rp4,62 triliun.
Investasi tersebut dinilai penting untuk menambah kapasitas produksi, melakukan
modernisasi mesin, meningkatkan efisiensi energi, dan menyesuaikan proses
produksi dengan standar keberlanjutan pasar global.
Masuknya modal baru juga mulai
berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Asosiasi Garment dan Textile
Indonesia (AGTI) mencatat enam perusahaan yang merealisasikan investasi pada
sejumlah proyek tekstil dan pakaian jadi di Jawa Tengah dan Jawa Barat sepanjang
2025 hingga Agustus 2026 memiliki nilai investasi yang diumumkan sekitar Rp2,7
triliun.
Proyek-proyek tersebut berpotensi
menciptakan sekitar 9.000 hingga 9.800 lapangan kerja baru. Di antaranya
pembangunan pabrik PT Xinhai Knitting Indonesia di Brebes yang diproyeksikan
menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja serta pengembangan kawasan manufaktur
tekstil terintegrasi di Subang yang diperkirakan menciptakan 3.000–3.800
pekerjaan.
Selain itu, beroperasinya kembali
fasilitas PT Wong Hang Bersaudara dan PT Akarsa Garment di Pemalang disebut
telah memulihkan sekitar 1.500 kesempatan kerja yang sebelumnya terdampak
penghentian operasional.
Pemerintah Dorong Modernisasi
dan Ekspor
Untuk menjaga momentum pemulihan,
pemerintah menjalankan sejumlah kebijakan mulai dari insentif investasi,
program restrukturisasi, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), pembiayaan ekspor
melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), hingga penguatan kebijakan
pengamanan perdagangan.
Pemerintah juga mendorong
percepatan implementasi Making Indonesia 4.0, modernisasi mesin dan teknologi,
peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penerapan Standar Industri
Hijau. Menurut Kemenperin, aspek keberlanjutan kini semakin menentukan kemampuan
produk tekstil Indonesia bersaing di pasar internasional karena pembeli global
tidak hanya menilai produk akhir, tetapi juga proses produksinya.
Peluang ekspor juga diharapkan
semakin terbuka melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional. Salah
satunya Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement
(IEU-CEPA), yang kesepakatan substansialnya telah diumumkan Indonesia dan Uni
Eropa pada September 2025. Kesepakatan tersebut membuka peluang penghapusan
atau penurunan tarif terhadap sebagian besar perdagangan barang kedua pihak dan
dipandang dapat memperluas akses produk Indonesia ke pasar Eropa.
API menilai akses pasar ke Uni
Eropa, Amerika Serikat, dan negara mitra lainnya perlu dimanfaatkan untuk
meningkatkan pesanan ekspor industri TPT. Namun, perluasan pasar ekspor tetap
perlu berjalan beriringan dengan penguatan pasar domestik.
Impor Masih Jadi Tantangan
Meski indikator pertumbuhan dan
investasi membaik, pemulihan industri tekstil nasional belum merata. Sejumlah
perusahaan masih menghadapi tekanan pasar, sementara pelaku industri menyoroti
biaya produksi, ketersediaan bahan baku, harga energi, produktivitas, akses
pembiayaan, serta persaingan dengan barang impor sebagai persoalan yang perlu
diselesaikan.
API juga mengingatkan bahwa
menyempitnya surplus perdagangan menunjukkan penguatan ekspor saja belum cukup.
Kenaikan impor dari US$3,41 miliar menjadi US$3,58 miliar pada Januari–Mei 2026
menunjukkan produsen dalam negeri masih menghadapi persaingan yang semakin
ketat di pasar domestik.
Karena itu, momentum pertumbuhan
2026 menjadi titik penting bagi industri TPT. Peningkatan produksi dan
investasi menunjukkan industri tekstil nasional masih memiliki daya tarik dan
potensi ekspansi, tetapi keberlanjutan pemulihannya akan sangat bergantung pada
kemampuan meningkatkan produktivitas, memperluas pasar ekspor, melakukan
modernisasi serta menjaga pasar domestik dari praktik perdagangan yang
merugikan industri dalam negeri.
SEFAS Group Ambil Alih 100% Bisnis SPBU Shell di Indonesia
Jakarta – Bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar
Umum (SPBU) Shell di Indonesia memasuki babak baru. SEFAS Group menyepakati
rencana akuisisi 100% kepemilikan bisnis SPBU Shell di Indonesia, setelah
sebelumnya proses pengalihan bisnis tersebut direncanakan melibatkan perusahaan
patungan antara SEFAS Group dan Citadel Pacific Limited.
Berdasarkan
perkembangan terbaru pada Rabu, 19 Agustus 2026, SEFAS akan melanjutkan proses
pengambilalihan kepemilikan penuh atas bisnis SPBU tersebut. Penyelesaian
transaksi ditargetkan berlangsung pada tahun ini, dengan tetap bergantung pada
persetujuan regulator serta pemenuhan persyaratan transaksi lainnya.
CEO
SEFAS Group Ricky Roesli mengatakan langkah tersebut menjadi kelanjutan
pengembangan bisnis perusahaan yang selama ini telah lama bermitra dengan
Shell, khususnya sebagai distributor pelumas Shell di Indonesia.
“Sebagai
distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia, SEFAS bangga dapat mengambil
langkah bisnis berikutnya,” kata Ricky dalam keterangan perusahaan, Rabu
(19/8/2026).
Menurut
Ricky, kepemilikan lokal diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan bisnis
ritel energi SEFAS ke depan. Perusahaan menargetkan pembangunan bisnis ritel
energi yang tepercaya dan berkelanjutan sekaligus mendukung kebutuhan energi
dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selama proses pengalihan, SEFAS juga
memprioritaskan kelancaran transisi serta keberlangsungan kegiatan operasional
secara aman dan andal.
Presiden
Direktur Shell Indonesia Andri Pratiwa menilai SEFAS bukan merupakan mitra baru
bagi Shell. Hubungan bisnis kedua perusahaan telah berlangsung lama, sementara
SEFAS dinilai memiliki pemahaman terhadap pasar Indonesia, kebutuhan konsumen,
serta jaringan lokal yang dapat mendukung pengembangan bisnis selanjutnya.
Berubah
dari Rencana Awal Bersama Citadel Pacific
Akuisisi
penuh oleh SEFAS menjadi perkembangan baru dari rencana pengalihan bisnis SPBU
Shell yang pertama kali diumumkan pada 23 Mei 2025.
Ketika
itu, Shell Indonesia menyatakan calon pembeli bisnis SPBU adalah perusahaan
patungan baru yang dibentuk oleh Citadel Pacific Limited dan SEFAS Group.
Rencana tersebut mencakup jaringan SPBU Shell beserta kegiatan pasokan dan
distribusi BBM, sedangkan bisnis pelumas Shell tidak termasuk dalam transaksi.
Bahkan
hingga Februari 2026, Shell masih menyatakan proses pengalihan kepemilikan
kepada Citadel Pacific dan SEFAS sedang dalam penyelesaian. Shell ketika itu
menyebut seluruh pihak tetap berkomitmen terhadap transaksi dan menargetkan
prosesnya selesai pada 2026, dengan tetap menunggu berbagai persetujuan sesuai
ketentuan di Indonesia.
Namun,
perkembangan terbaru pada Agustus 2026 menunjukkan struktur transaksi berubah
menjadi akuisisi 100% oleh SEFAS Group. Sampai saat ini belum terdapat
penjelasan publik yang terperinci mengenai perubahan posisi Citadel Pacific
Limited dari struktur transaksi yang sebelumnya diumumkan.
Sekitar
200 SPBU dan Terminal BBM
Bisnis
yang dialihkan Shell bukan merupakan jaringan yang kecil. Berdasarkan
keterangan resmi Shell ketika mengumumkan transaksi pada 2025, bisnis SPBU
perusahaan di Indonesia mencakup sekitar 200 lokasi, dengan lebih dari 160
SPBU dimiliki langsung oleh perusahaan. Shell juga memiliki terminal BBM di
Gresik, Jawa Timur.
Citadel
Pacific sebelumnya dipilih sebagai salah satu mitra transaksi karena telah
memiliki pengalaman mengelola bisnis dengan lisensi merek Shell di sejumlah
wilayah Asia Pasifik, termasuk Guam, Saipan, Palau, Makau, dan Hong Kong.
Sementara SEFAS memiliki hubungan panjang dengan Shell dari sisi distribusi
pelumas di Indonesia.
SEFAS
sendiri berawal dari PT Sefas Pelindotama yang berdiri pada 1997 sebagai
distributor resmi pelumas Shell Indonesia. Bisnisnya kemudian berkembang dari
Balikpapan ke sejumlah kawasan industri dan pertambangan di Kalimantan serta
wilayah lain di Indonesia. Grup tersebut kini memiliki sejumlah entitas yang
bergerak dalam distribusi pelumas, produk kelautan, coolant, hingga penyediaan
solar untuk industri.
Merek
Shell Tidak Hilang dari Indonesia
Pengalihan
kepemilikan SPBU tidak berarti merek Shell akan menghilang dari Indonesia.
SEFAS
menyatakan merek Shell tetap akan digunakan pada jaringan SPBU setelah
pengalihan karena perusahaan memperoleh hak penggunaan merek melalui mekanisme
lisensi. Dengan demikian, perubahan terutama terjadi pada kepemilikan dan
pengelolaan bisnis ritel, sementara identitas Shell tetap dipertahankan pada
jaringan SPBU.
Skema
tersebut sejak awal telah menjadi bagian dari rencana divestasi Shell. Dalam
pengumuman pada 2025, Shell menyatakan mereknya akan tetap berada di Indonesia
melalui perjanjian lisensi, sementara produk BBM tetap disediakan melalui
Shell.
Adapun
bisnis pelumas tidak masuk dalam pengalihan bisnis SPBU. Shell sebelumnya
menegaskan Indonesia masih menjadi salah satu pasar pertumbuhan utama untuk
bisnis pelumas. Perusahaan memiliki fasilitas produksi pelumas berkapasitas
hingga 300 juta liter per tahun dan telah mengembangkan fasilitas manufaktur
gemuk di Marunda.
Dengan
demikian, transaksi tersebut lebih tepat dipandang sebagai perubahan model
kehadiran Shell di bisnis ritel BBM Indonesia, bukan keluarnya merek Shell
secara keseluruhan dari pasar Indonesia. Di satu sisi, kepemilikan dan
pengelolaan jaringan SPBU beralih kepada perusahaan lokal, SEFAS Group. Di sisi
lain, merek Shell tetap dipertahankan melalui skema lisensi.
Nilai
transaksi pengambilalihan bisnis SPBU tersebut sejauh ini belum diumumkan
kepada publik.
Penerimaan Pajak Meroket 20,7 Persen, Sinyal Kuat Roda Ekonomi Indonesia Berputar Kencang
Jakarta
-- Di tengah narasi pesimisme yang kerap membayangi prospek ekonomi global,
Indonesia justru mengirimkan sinyal yang sangat positif. Kinerja penerimaan
pajak nasional pada Triwulan I 2026 mencatatkan lonjakan yang luar biasa,
tumbuh 20,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai Rp394,8 triliun.
Angka yang fantastis ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan
indikator paling sahih bahwa roda ekonomi di sektor riil sedang berputar dengan
sangat kencang.
Penerimaan pajak sering kali diibaratkan
sebagai termometer kesehatan ekonomi suatu negara. Ketika penerimaan pajak
melonjak, itu berarti aktivitas bisnis, konsumsi masyarakat, dan investasi
sedang berada dalam fase ekspansi. Realisasi pajak sebesar Rp394,8 triliun ini
telah memenuhi 16,7 persen dari total target APBN 2026, sebuah awalan yang
sangat menjanjikan untuk mengamankan pembiayaan pembangunan sepanjang tahun.
Kementerian Keuangan patut mendapat apresiasi
atas kinerja gemilang ini. Lonjakan penerimaan pajak ini didorong oleh
pertumbuhan yang solid di hampir semua jenis pajak utama. Pajak Pertambahan
Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi bintang utama
dengan mencatatkan pertumbuhan meroket hingga 57,7 persen, menyumbang Rp155,6
triliun ke kas negara.
Lonjakan PPN dan PPnBM ini adalah cerminan
langsung dari kuatnya daya beli dan tingginya tingkat konsumsi masyarakat.
Ketika masyarakat berbelanja lebih banyak, baik untuk kebutuhan sehari-hari
maupun barang sekunder, penerimaan PPN otomatis akan terkerek naik. Hal ini
sejalan dengan data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang ditopang kuat oleh
konsumsi rumah tangga.
Selain itu, Pajak Penghasilan (PPh) Orang
Pribadi dan PPh 21 juga mencatatkan pertumbuhan impresif sebesar 15,8 persen
menjadi Rp61,3 triliun. Kenaikan ini mengindikasikan adanya perbaikan tingkat
pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja yang lebih baik di sektor
formal. Sementara itu, PPh Badan yang mencerminkan keuntungan perusahaan juga
tumbuh positif 5,4 persen menjadi Rp43,3 triliun, menandakan bahwa dunia usaha
masih mampu mencetak laba di tengah tantangan global.
Jika dibedah berdasarkan sektor usaha,
mayoritas sektor utama penyumbang pajak mencatatkan pertumbuhan yang sangat
menggembirakan. Sektor Perdagangan, yang berkontribusi 26,2 persen terhadap
total penerimaan, mencatatkan pertumbuhan neto yang fantastis sebesar 59,9
persen. Lonjakan ini dipengaruhi oleh tingginya aktivitas perdagangan besar BBM
dan tren belanja online (e-commerce) yang semakin masif di masyarakat.
Sektor Industri Pengolahan (manufaktur) yang
menjadi tulang punggung ekonomi nasional juga tidak mau kalah. Sektor yang
menyumbang 21,3 persen penerimaan pajak ini tumbuh double digit sebesar 11,5
persen secara neto. Pertumbuhan ini ditopang kuat oleh subsektor industri
pengolahan tembakau dan industri barang kimia lainnya, yang menunjukkan adanya
peningkatan penjualan dan ekspansi lini bisnis.
Sektor Keuangan dan Asuransi turut memberikan
kontribusi positif dengan pertumbuhan neto 7,6 persen, didorong oleh aktivitas
penunjang jasa keuangan yang semakin bergairah. Bahkan, sektor Pertambangan
yang kerap fluktuatif akibat harga komoditas global, masih mampu mencatatkan
pertumbuhan neto 6,3 persen, ditopang oleh kinerja sektor pertambangan minyak
dan gas.
Di balik angka-angka yang memukau ini, terdapat
faktor fundamental lain yang tidak boleh dilupakan: reformasi administrasi
perpajakan. Peningkatan penerimaan pajak yang kuat ini juga dipengaruhi oleh
semakin baiknya implementasi sistem inti administrasi perpajakan (Coretax).
Sistem yang modern dan terintegrasi ini telah berhasil meningkatkan kepatuhan
wajib pajak, memperluas basis pemajakan, dan menutup celah-celah kebocoran
penerimaan negara.
Kinerja penerimaan pajak yang meroket ini
memberikan ruang fiskal yang sangat lega bagi pemerintah. Dengan kas negara
yang terisi penuh, pemerintah memiliki amunisi yang cukup untuk mengeksekusi
berbagai program prioritas, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan
kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga penguatan jaring pengaman sosial bagi
masyarakat rentan.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa strategi
Kementerian Keuangan dalam mengelola sisi penerimaan negara telah berjalan di
jalur yang tepat. APBN yang sehat, yang ditopang oleh penerimaan pajak yang
kuat dan mandiri, adalah kunci utama untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang
tinggi dan berkelanjutan. Dengan momentum positif di kuartal pertama ini,
optimisme bahwa target penerimaan negara tahun 2026 akan tercapai—bahkan
terlampaui—menjadi sangat realistis.
Ke depan, Kementerian Keuangan akan terus fokus
pada upaya-upaya peningkatan kepatuhan wajib pajak dan perluasan basis
pemajakan. Dengan semakin banyaknya pelaku usaha yang terdaftar dalam sistem
perpajakan dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajiban
pajak, potensi penerimaan pajak masih sangat besar. Investasi dalam teknologi
dan infrastruktur perpajakan modern akan terus ditingkatkan untuk memastikan
bahwa setiap rupiah yang seharusnya masuk ke kas negara tidak terlewatkan.
Dengan demikian, pertumbuhan penerimaan pajak yang solid akan terus menjadi
tulang punggung pembiayaan pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
Referensi:
[1]:
"Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers
APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."
Modal Asing Kembali Banjiri Pasar RI, Bukti Tingginya Kepercayaan Investor Global
Jakarta
-- Di tengah dinamika pasar keuangan global yang kerap bergejolak akibat
ketidakpastian arah kebijakan moneter negara maju, Indonesia justru tampil
sebagai oase yang menjanjikan. Kepercayaan investor global terhadap fundamental
ekonomi Ibu Pertiwi terbukti semakin menguat. Hal ini tercermin dari derasnya
arus modal asing (capital inflow) yang kembali membanjiri pasar keuangan
domestik pada awal tahun 2026.
Data terbaru menunjukkan bahwa hingga 30 April
2026, akumulasi aliran masuk modal asing telah mencapai angka yang fantastis,
yakni Rp10,4 triliun. Menariknya, momentum pembalikan arus modal ini terjadi
sangat masif di bulan April, di mana tercatat inflow sebesar Rp38,5 triliun
hanya dalam kurun waktu satu bulan. Derasnya aliran dana segar ini menjadi
sinyal kuat bahwa investor asing melihat prospek cerah pada instrumen investasi
di Indonesia.
Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia
(SRBI) menjadi primadona utama yang memikat hati para pemodal asing. Sepanjang
tahun berjalan hingga April, SRBI berhasil mencatatkan inflow jumbo sebesar
Rp72,0 triliun, dengan Rp42,2 triliun di antaranya masuk pada bulan April saja.
Selain itu, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) juga mulai menunjukkan
tajinya dengan mencatatkan inflow sebesar Rp13,4 triliun di bulan April,
membalikkan tren outflow yang sempat terjadi di bulan-bulan sebelumnya.
Kembalinya arus modal asing ini bukanlah sebuah
kebetulan semata. Ini adalah buah manis dari kerja keras pemerintah, khususnya
Kementerian Keuangan, yang bersinergi erat dengan Bank Indonesia dalam menjaga
stabilitas makroekonomi dan sektor keuangan. Koordinasi kebijakan fiskal dan
moneter yang solid telah berhasil menciptakan iklim investasi yang kondusif dan
meningkatkan market confidence secara signifikan.
Dari sisi fiskal, pengelolaan APBN yang prudent
dan terukur telah memberikan kepastian bagi investor. Defisit yang terkendali
dan rasio utang yang aman membuat risiko investasi di Indonesia (country risk)
tetap terkelola dengan sangat baik. Hal ini tercermin dari pergerakan yield SBN
10 tahun yang tetap stabil di kisaran 6,76 persen, lebih rendah dari asumsi
APBN yang dipatok 6,9 persen. Spread yield antara SBN dan US Treasury juga
terjaga, menunjukkan daya tarik imbal hasil investasi di Indonesia yang masih
sangat kompetitif.
Sementara itu, dari sisi moneter, Bank
Indonesia terus memperkuat transmisi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan
kredit di sektor riil. Sinergi ini semakin nyata dengan langkah strategis
pemerintah menempatkan dana di Bank Himbara dan Bank Pembangunan Daerah (BPD).
Penempatan dana ini terbukti efektif mendorong penurunan suku bunga perbankan,
baik suku bunga deposito maupun suku bunga kredit.
Data menunjukkan bahwa suku bunga kredit
tertimbang perbankan telah menurun secara konsisten hingga menyentuh level 9,20
persen. Penurunan suku bunga ini menjadi angin segar bagi dunia usaha, karena
biaya pinjaman (cost of fund) menjadi lebih murah. Dampak positifnya langsung
terlihat pada pertumbuhan kredit perbankan yang melesat hingga 9,5 persen pada
Maret 2026.
Pertumbuhan kredit yang kuat ini menjadi bahan
bakar utama bagi sektor riil untuk melakukan ekspansi bisnis, meningkatkan
kapasitas produksi, dan pada akhirnya menciptakan lapangan kerja baru.
Likuiditas perekonomian (M0) juga terpantau tumbuh tinggi sebesar 18,8 persen
pada pertengahan April 2026, memastikan ketersediaan dana yang memadai untuk
memutar roda ekonomi.
Meskipun pasar saham sempat mencatatkan outflow
sebesar Rp49,9 triliun hingga April, hal tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh
transaksi negosiasi korporasi berskala besar pada bulan Maret, bukan karena
memburuknya fundamental ekonomi. Secara keseluruhan, neraca aliran modal asing
tetap positif dan memberikan dukungan kuat bagi stabilitas nilai tukar Rupiah.
Pelemahan Rupiah yang sempat terjadi lebih
banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti eskalasi geopolitik dan arah
kebijakan moneter global. Namun, dibandingkan dengan mata uang negara-negara
peers, depresiasi Rupiah masih tergolong moderat dan sangat terkendali.
Ke depan, dengan fundamental makroekonomi yang
kokoh, inflasi yang terkendali, dan pertumbuhan ekonomi yang impresif di angka
5,61 persen, Indonesia memiliki daya tarik yang tak terbantahkan di mata
investor global. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang terus diperkuat akan
menjadi jangkar stabilitas, memastikan bahwa arus modal asing yang masuk tidak
hanya bersifat jangka pendek (hot money), tetapi juga investasi jangka panjang
yang produktif. Optimisme ini sangat beralasan, membawa harapan baru bagi terwujudnya
pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi dan berkelanjutan.
Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus
menjaga sinergi kebijakan yang telah terbukti efektif ini. Dengan terus
memperkuat transmisi kredit ke sektor riil dan memastikan bahwa likuiditas
perekonomian tetap terjaga, momentum pertumbuhan ekonomi akan terus berlanjut.
Investor asing yang telah merasakan manfaat dari investasi mereka di Indonesia
akan terus mempercayai pasar keuangan domestik, menciptakan lingkaran positif
yang menguntungkan bagi semua pihak. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya
akan menjadi tujuan investasi yang menarik, tetapi juga mitra ekonomi yang
dapat diandalkan dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang terus berubah.
Referensi:
[1]:
"Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2026). Publikasi Web Konpers
APBN Kita (Mei 2026). Jakarta: Kementerian Keuangan."
Ramalan Permintaan Emas Dunia untuk Sisa 2026, Peluang ATH Baru
Harga Emas Antam Anjlok Lagi!
Pesta Dividen Bank BUMN, Investor Panen di Tengah Risiko Makroekonomi
ESDM Dorong Pembukaan Lahan Perkebunan, Kejar Impelemtasi E20
Impor Emas Indonesia Melonjak di Awal 2026, Australia dan Singapura Jadi Pemasok Utama
Jakarta
— Impor emas dan logam
mulia Indonesia melonjak tajam pada awal 2026. Di tengah kenaikan harga emas
global dan meningkatnya tekanan inflasi dari komoditas emas perhiasan, data
Badan Pusat Statistik menunjukkan arus masuk logam mulia ke Indonesia tumbuh jauh
di atas rata-rata kenaikan impor nasional.
BPS
mencatat nilai impor Indonesia sepanjang Januari–Februari 2026 mencapai US$42,09
miliar, naik 14,44% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh impor nonmigas yang tumbuh 17,49%
menjadi US$36,93 miliar. Pada Februari 2026 saja, impor Indonesia
mencapai US$20,89 miliar, naik 10,85% secara tahunan.
Salah
satu komoditas yang mencuri perhatian adalah logam mulia dan
perhiasan/permata, khususnya yang berasal dari Australia. Deputi Bidang
Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut impor nonmigas dari
Australia pada Januari–Februari 2026 mencapai US$2,07 miliar, dengan
porsi terbesar berasal dari logam mulia dan perhiasan/permata. Nilai impor
kelompok ini mencapai US$865,74 juta, atau mengambil porsi 41,84%
dari total impor nonmigas asal Australia.
Secara
tahunan, impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia melonjak
sekitar 646%. Kenaikan tersebut menjadikan Australia salah satu sumber
utama lonjakan impor komoditas emas dan logam mulia Indonesia pada awal tahun
ini.
Lonjakan
serupa juga terjadi pada impor dari Singapura. Sepanjang Januari–Februari 2026,
impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Singapura tercatat sebesar US$323,43
juta, meningkat 196,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan
impor logam mulia ini berlangsung di tengah tren kenaikan harga emas dunia. BPS
sebelumnya mencatat harga emas global naik tajam dari sekitar US$2.398 per
troy ounce pada Juli 2024 menjadi sekitar US$5.002 per troy ounce pada
Februari 2026. Kenaikan harga internasional tersebut turut tercermin pada
harga emas perhiasan di dalam negeri.
Pada
Februari 2026, emas perhiasan tercatat mengalami inflasi 8,42% secara
bulanan dan memberikan andil 0,19% terhadap inflasi. BPS juga
menyebut emas perhiasan telah mengalami inflasi selama 30 bulan
berturut-turut hingga Februari 2026, menunjukkan tekanan harga yang
konsisten pada komoditas tersebut.
Dari
sisi perdagangan luar negeri, kenaikan impor dari Australia ikut memperlebar
defisit perdagangan Indonesia dengan negara tersebut. BPS mencatat defisit
perdagangan Indonesia dengan Australia pada Januari–Februari 2026 mencapai US$1,58
miliar, dengan komoditas penyumbang utama defisit antara lain logam mulia
dan perhiasan/permata, serealia, serta bahan bakar mineral.
Meski
impor meningkat, neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan masih mencatat
surplus. Pada Januari–Februari 2026, surplus perdagangan Indonesia mencapai US$2,23
miliar, ditopang surplus sektor nonmigas sebesar US$5,42 miliar,
sementara sektor migas mengalami defisit US$3,19 miliar.
Kenaikan
impor emas juga terjadi di tengah kebijakan pemerintah yang mulai memperketat
tata kelola komoditas emas. Reuters melaporkan Indonesia menerapkan bea keluar
untuk produk emas mulai 23 Desember 2025, dengan tarif bervariasi berdasarkan
jenis produk dan harga acuan emas. Kebijakan ini ditujukan untuk mendorong
pengolahan domestik, menangkap nilai tambah, serta meningkatkan penerimaan
negara dari komoditas bernilai tinggi tersebut.
Dengan
demikian, lonjakan impor emas pada awal 2026 mencerminkan kombinasi beberapa
faktor: kenaikan harga emas global, kebutuhan domestik terhadap logam mulia dan
perhiasan, serta perubahan kebijakan yang mendorong penataan ulang rantai pasok
emas nasional. Namun, besarnya nilai impor dari Australia dan Singapura juga
menjadi sinyal bahwa permintaan domestik terhadap emas masih kuat, baik sebagai
bahan baku industri perhiasan, instrumen investasi, maupun aset lindung nilai
di tengah ketidakpastian ekonomi.
Referensi
- Badan
Pusat Statistik, Ekspor dan Impor Indonesia Februari 2026, rilis 1
April 2026.
- Badan
Pusat Statistik, Ekspor dan Impor Indonesia Januari 2026, rilis 2
Maret 2026.
- Bloomberg
Technoz, “Impor RI dari Australia & Singapura Melonjak, Belanja
Logam Mulia”, 1 April 2026. Impor RI dari Australia &
Singapura Melonjak, Belanja Logam Mulia - Market
- DetikFinance,
“Fantastis! RI Dibanjiri Perhiasan Australia, Impornya Meledak 646%”,
1 April 2026.
- Kumparan
Bisnis, “Emas Australia Banjiri Indonesia, Inflasi Perhiasan 8,42
Persen”, 2 Maret 2026. Emas Australia Banjiri Indonesia,
Inflasi Perhiasan 8,42 Persen | kumparan.com
- Antara/Infobank
terkait data inflasi emas perhiasan Februari 2026. BPS: Emas Alami Inflasi Selama 30
Bulan Berturut-turut - Infobanknews
- Reuters,
laporan kebijakan bea keluar emas Indonesia mulai akhir 2025. Indonesia to levy gold export
duties from December 23 | Reuters
- Kontan,
1 April 2026. AS Jadi Penopang Surplus Dagang,
Tapi Defisit dengan China hingga Singapura
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023




