Valuta Asing
( 36 )Melemahnya Rupiah terhadap USD
Seorang karyawan terlihat sedang memeriksa kondisi lembaran dollar AS di tempat penukaran valuta asing PT Valuta Artha Mas di Jakarta, pada Hari Jumat (20/6/2025). Pada penutupan perdagangan kemarin, Hari Jumat (20/6/2025), Rupiah ditutup melemah 21 poin menjadi Rp 16.399 per dollar AS. Sudah selama kurang lebih sepekan ini rupiah mengalami tekanan karena gejolak geopolitik yang terjadi akibat perang Israel-Iran yang sangat memengaruhi sentimen investor. (Yoga)
Tekanan Diperkirakan Masih Akan dialami Rupiah
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan mengalami tekanan dalam jangka pendek akibat konflik geopolitik. Jika risiko geopolitik terus memburuk, beberapa pihak memperkirakan rupiah akan menembus level Rp 16.600 per USD. Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah Kamis (19/6) ditutup di level Rp 16.378 per USD atau terdepresiasi 0,47 % dibanding akhir Mei 2025. Rupiah bahkan sempat menembus level Rp 16.400, terlemah sejak 21 Mei 2025. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan, tensi geopolitik yang dipicu serangan Israel terhadap Iran memberi sentimen negatif terhadap pasar keuangan global. Akibatnya, nilai tukar rupiah ikut terdampak. ”Sementara ini ada sedikit tekanan (terhadap rupiah) dalam jangka pendek. Semoga kondisi geopolitik mereda tensinya sehingga investor, sentimennya bisa kembali positif,” katanya.
Dalam jangka pendek, nilai tukar rupiah cenderung akan bergerak dalam rentang Rp 16.300-Rp 16.600 per USD. Artinya, terdapat risiko depresiasi rupiah hingga 1,35 % dibanding level saat ini. Depresiasi nilai tukar tidak hanya dialami rupiah, tapi juga beberapa mata uang negara berkembang (emerging market) lainnya. Mata uang yang mengalami pelemahan cukup dalam adalah peso Filipina yang terdepresiasi 2,72 % secara bulanan, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia seiring serangan Israel ke Iran. Alhasil, investor cenderung berhati-hati menempatkan investasinya ke pasar keuangan negara berkembang, terutama negara dengan tingkat impor minyak tinggi (net importir). Harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) kini menyentuh level 74,05 USD per barel, meningkat 11,11 % dibanding sebelum Israel menyerang Iran pada Jumat (13/6). (Yoga)
Aturan DHE Dongkrak Dana Valas di Perbankan
Pertumbuhan Kredit Valas Mulai Tertahan
Pertumbuhan kredit valuta asing (valas) perbankan Indonesia masih mencatatkan angka dua digit hingga Maret 2025, yakni 13,3% year-on-year (yoy). Namun, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, mencerminkan sikap hati-hati pelaku usaha dan perbankan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global serta volatilitas nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp 17.052 per dolar AS pada April.
Sejumlah bank besar seperti Bank Mandiri, CIMB Niaga, dan BCA tetap menyalurkan kredit valas, namun dengan pendekatan kehati-hatian.
M. Ashidiq Iswara, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, menyatakan bahwa mereka menyalurkan kredit valas secara selektif, terutama ke sektor ekspor-impor yang dianggap prospektif dan tangguh. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas aset di tengah volatilitas pasar.
Rusly Johannes, Direktur Business Banking CIMB Niaga, menambahkan bahwa CIMB juga berhati-hati dengan risiko valas yang semuanya di-hedging. Kredit valas mereka stabil dan banyak disalurkan ke sektor pertanian dan tambang.
Sementara itu, Hera F. Haryn, EVP Komunikasi Korporat BCA, mengatakan bahwa BCA menjaga pertumbuhan kredit valas secara terukur, dengan nilai mencapai US$ 3 miliar (sekitar 5% dari total kredit). Mereka juga melakukan stress test secara konsisten dan menjaga likuiditas serta modal yang kuat.
Meskipun menghadapi tantangan global dan depresiasi rupiah, bank-bank besar tetap menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan kredit valas, asalkan disertai mitigasi risiko yang disiplin dan penyaluran ke sektor yang resilien.
Pertumbuhan Dana Valas Semakin Agresif
Perbankan Nasional Sigap Menjaga Likuiditas Valas
Dampak Ganda Aturan DHE SDA: Peluang atau Ancaman?
Kredit Valas Tetap Tumbuh Meski Rupiah Bergejolak
Volatilitas rupiah tidak menyurutkan penyaluran kredit valuta asing (valas) perbankan selama semester I-2024. Juni lalu, kurs rupiah di pasar spot sempat melemah hingga Rp 16.450 per dollar AS. Jumat lalu, rupiah sudah menguat ke Rp 15.693 lagi. Peningkatan kredit valas juga dicatatkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo Budiprabowo mengatakan, kredit valas BNI tumbuh 15,88% secara tahunan pada semester I-2024. "Pelemahan rupiah tidak mengurangi minat debitur BNI untuk memanfaatkan fasilitas kredit valas, porsi kredit valas saat ini 20%-23% dari total kredit BNI," ujar Okki, Jumat (16/8). Okki memproyeksikan permintaan kredit valas akan tetap stabil pada sektor industri tertentu, yang memang memiliki pendapatan atau pengeluaran dalam valas alias untuk natural hedging.
Selain itu, suku bunga kredit valas relatif lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga rupiah. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mengalami peningkatan kredit valas 8,86% secara tahunan menjadi Rp 44 triliun pada semester I-2024. EVP Corporate & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F. Haryn mengatakan, jumlah tersebut setara 5,3% dari total portofolio pembiayaan. CEO Citibank Indonesia (Citi Indonesia) Batara Sianturi mengatakan, penyaluran kredit valas Citi Indonesia di semester I-2024 tercatat sebesar Rp 31,94 triliun, menurun dari periode sama tahun lalu Rp 43,25 triliun. "Permintaan kredit valas turun karena tren diferensiasi The Fed dengan BI rate, ada tendensi permintaannya lebih banyak di rupiah. Kalau bunga turun, kredit valas akan naik," ujar dia.
Bank Sentral Intensif Kumpulkan Valas
Bank Indonesia (BI) masih mengawasi pasar valuta asing (valas) dengan ketat. Yang terbaru, di awal pekan ini, BI bersama Bursa Efek Indonesia, Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan delapan bank menyepakati pengembangan Central Counterparty (CCP). CCP akan beroperasi di pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA). Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, CCP dibentuk untuk pengembangan infrastruktur transaksi repo hingga derivatif. Menurut Destry, selama ini di pasar derivatif ada fragmentasi. Maksudnya, BI melihat hanya segelintir bank yang aktif bertransaksi di pasar uang. "Padahal bank lain punya peluang melakukan hal yang sama. Hanya saja tidak terlalu aktif, jadi agak sulit saat mau transaksi repo ataupun derivatif lainnya," kata Destry ke KONTAN, kemarin.
Edi Masrianto, Direktur Keuangan, Treasury & Global Services BPD Jawa Timur (Bank Jatim) menyebut, berbagai instrumen pengelolaan valas dari BI berpotensi meningkatkan likuiditas valas perbankan. "Dampak pada likuiditas tergantung pada desain instrumen, kondisi pasar dan kapasitas perbankan dalam memanfaatkan instrumen tersebut," kata Edi, kemarin.
"Sejauh ini masih aman. Cadangan devisa bisa dilihat masih tinggi," ujar Destry. Hingga Juli 2024, cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai US$ 145,4 miliar, naik dari Juni 2024 sebesar US$ 140,2 miliar. Aliran dana asing masuk ke dalam negeri saat ini memang cukup besar. Kepemilikan asing di surat berharga negara (SBN) per 12 Agustus berada di level tertinggi sejak Februari 2024, mencapai Rp 823,2 triliun.
Simpanan dalam bentuk valas juga masih tumbuh dua digit. Menilik data BI, per Juni 2024, simpanan dalam bentuk valas mencapai Rp 1.331 triliun, naik 19,55% secara tahunan. Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, getolnya BI menerbitkan berbagai instrumen pengendali pasar valas mulai menstabilkan dan menguatkan nilai tukar rupiah. Sepekan terakhir, misalnya, rupiah menguat ke kisaran Rp 15.900-an per dolar AS.
Utang Valas Memompa Cadangan Devisa
Posisi cadangan devisa Indonesia meningkat di tengah tren pelemahan rupiah yang masih melampaui level psikologis Rp 16.000 per dolar Amerika Serika (AS). Rupanya kenaikan cadangan devisa tertolong lagi oleh penerbitan utang valas yang dilakukan pemerintah. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa Indonesia per akhir Mei 2024 mencapai US$ 139,0 miliar, naik US$ 2,8 miliar dibandingkan posisi akhir bulan sebelumnya. Bahkan kenaikan ini kali pertama setelah tren penurunan sejak Januari 2024. Menurut BI, kenaikan cadangan devisa kali ini sejalan dengan penerbitan global bond pemerintah. Pada 17 Mei 2024, Kementerian Keuangan (Kemkeu) menerbitkan surat utang negara (SUN) dalam denominasi yen Jepang alias Samurai Bond dengan nilai sebesar JPY 200 miliar atau setara Rp 20,8 triliun. Namun menurut BI, kenaikan cadangan devisa juga ditopang penerimaan pajak dan jasa. "Posisi cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor," kata Erwin Haryono, Asisten Gubernur BI dalam keterangan tertulis, Jumat (7/6).
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, kenaikan cadangan devisa juga dipengaruhi oleh masuknya arus modal asing secara neto sebesar US$ 319 juta sepanjang Mei lalu. Selain itu, ia juga memperkirakan, neraca perdagangan masih akan mencatat surplus di bulan lalu lantaran adanya pemulihan aktivitas manufaktur dan ekspor setelah libur Idul Fitri. Pada semester kedua nanti, Josua memperkirakan posisi cadangan devisa bisa meningkat karena The Fed diproyeksikan akan menurunkan suku bunga acuannya pada Desember 2024. "Penurunan suku bunga tersebut dapat meningkatkan sentimen risk-on, yang berpotensi meningkatkan arus modal masuk ke Indonesia," tambah dia. Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan, kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) sekaligus surplus neraca perdagangan masih bisa menopang cadangan devisa RI. Namun ia melihat, surplus neraca perdagangan disebabkan impor menyusut. Banjaran juga melihat, rupiah masih menghadapi turbulensi keuangan global dari reposisi investasi. Ia memperkirakan, rupiah akan berada di level Rp 15.680–Rp 16.180 per dolar AS.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









