Pertanian
( 502 )Paradoks Penerimaan Pajak 2025: Saat Ekonomi Tumbuh, Setoran Sektor Utama Justru Menyusut
Perekonomian Indonesia pada 2025 menunjukkan kinerja yang
relatif solid. Produk Domestik Bruto (PDB) riil tumbuh 5,11 persen, sedikit
lebih tinggi dibandingkan 5,03 persen pada 2024. Dari sisi nominal, pertumbuhan
bahkan meningkat dari 5,97 persen menjadi 7,60 persen. Pertumbuhan juga terjadi
pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali sektor Pertambangan dan Penggalian
yang terkontraksi 0,66 persen.
Namun, di balik
pertumbuhan tersebut, data menunjukkan bahwa perkembangan penerimaan pajak
tidak selalu bergerak searah dengan dinamika ekonomi sektoral. Temuan paling
menonjol muncul pada sektor Industri Pengolahan dan Perdagangan Besar dan
Eceran. Kedua sektor ini merupakan kontributor terbesar terhadap PDB nasional
masing-masing sekitar 19,07 persen dan 13,17 persen pada 2025. Keduanya juga
termasuk penyumbang penerimaan pajak terbesar. Meski demikian, penerimaan pajak
neto dari kedua sektor justru mengalami kontraksi di tengah pertumbuhan ekonomi
yang masih positif.
Fenomena tersebut menjadi
sinyal yang patut dicermati karena terjadi pada sektor-sektor dengan basis
ekonomi dan basis penerimaan yang besar. Dengan kata lain, pertumbuhan
aktivitas ekonomi belum sepenuhnya tercermin dalam perkembangan penerimaan
pajak pada sektor-sektor utama tersebut.
Di sisi lain, sektor
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menunjukkan dinamika yang berbeda. Sektor
ini menjadi kontributor terbesar ketiga terhadap PDB nasional dengan kontribusi
meningkat dari 12,61 persen pada 2024 menjadi 13,10 persen pada 2025.
Pertumbuhan riilnya meningkat dari 0,68 persen pada 2024 menjadi 5,33 persen
pada 2025. Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh Tanaman Perkebunan,
Tanaman Pangan, dan Perikanan. Tanaman Perkebunan menjadi kontributor terbesar
dalam sektor tersebut, sementara Tanaman Pangan mencatat pertumbuhan riil
tertinggi pada 2025.
Meski perannya dalam perekonomian
semakin besar, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tidak termasuk dalam
kelompok penyumbang penerimaan pajak terbesar. Temuan ini menunjukkan adanya
perbedaan antara kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian nasional dan
posisinya dalam struktur penerimaan pajak berdasarkan data yang tersedia.
Meski demikian, berbagai
perbedaan tersebut tidak serta merta dapat diartikan sebagai tax gap
atau rendahnya kepatuhan perpajakan. Penerimaan pajak dipengaruhi oleh banyak
faktor selain pertumbuhan ekonomi, mulai dari profitabilitas usaha, restitusi,
pemanfaatan insentif perpajakan, struktur pelaku usaha, hingga karakteristik
basis pajak masing-masing sektor.
Koperasi Desa Siap Terlibat dalam Program Gentengisasi Nasional
Pemerintah Indonesia kini
mendorong implementasi program gentengisasi dengan memanfaatkan koperasi
desa sebagai pelaku utama produksi genteng. Program ini diluncurkan Presiden
Prabowo Subianto sebagai bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat,
Resik, Indah) dan difokuskan pada penggantian atap seng dengan genteng tanah
liat di seluruh wilayah Indonesia.
Pemerintah Dorong Koperasi
Desa Bangun Pabrik Genteng
Presiden Prabowo menyampaikan
bahwa koperasi desa, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) akan
didorong untuk membangun pabrik genteng di tingkat desa. Menurut pernyataan
tersebut, peralatan produksi genteng relatif sederhana dan bahan bakunya mudah
diperoleh dari tanah lokal, sehingga koperasi dapat menjadi ujung tombak
pelaksanaan program ini.
Program ini bertujuan tidak hanya
mengubah tampilan fisik atap rumah tetapi juga menggerakkan ekonomi desa dan
membuka peluang usaha baru sehingga koperasi desa tidak hanya menjadi lembaga
simpan pinjam, tetapi juga unit produksi genteng lokal.
Menteri Koperasi: Koperasi
Desa Bisa Produksi Genteng
Menteri Koperasi, Ferry
Juliantono, menegaskan bahwa produktion genteng bisa dijalankan oleh Koperasi
Desa Merah Putih dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di setiap
daerah, termasuk kemungkinan penggunaan limbah batu bara sebagai campuran untuk
meningkatkan kualitas genteng. Ferry menyatakan bahwa koperasi desa siap
memproduksi genteng sebagai bagian dari dukungan terhadap program gentengisasi.
Ia juga menambahkan bahwa
koperasi tidak harus memproduksi dari nol. Alternatif kolaborasi dengan perajin
genteng setempat yang telah memiliki pengalaman produksi juga dapat dilakukan
sebagai strategi awal produksi genteng di desa.
Gentengisasi Dipandang Sebagai
Motor Penggerak Ekonomi Desa
Berbagai pihak menganggap gentengisasi
bukan semata perubahan material atap rumah, tetapi juga motor penggerak ekonomi
di tingkat desa. Dengan memberikan peran produksi genteng kepada koperasi desa,
pemerintah berharap program ini dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat
lembaga ekonomi desa, dan memperluas kegiatan ekonomi lokal.
Untuk mencapai hal ini,
pemerintah sedang menyusun skema pendanaan kolaboratif yang melibatkan koperasi
desa, swasta, dan pemerintah pusat serta daerah agar program ini tidak
sepenuhnya bergantung pada anggaran negara.
Produk Unggulan ke Depan Harus Menyasar Komoditas Pertanian
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Pemerintah Mengimbau Pelaku Industri Diminta Serap Gula Petani
Operasi Pasar Beras Segera Digelar Pemerintah Melalui Perum Bulog
BUMDes mengembangkan Budidaya Jamur Tiram
Pengurus BUMDes Kahuripan terlihat sedang memanen jamur tiram yang dibudidayakan dengan pola tanam baglog di Desa Malang Semirang, Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat, Senin (16/6/2025). Budidaya jamur tiram yang dikembangkan dan dikelola oleh BUMDes itu dapat menghasilkan jamur hingga sebanyak1,5 ton dalam kurun waktu satu bulan. Jamur tersebut kemudian dijual dengan harga Rp 13.000-Rp 15.000 per kilogramnya. (Yoga)
Anggaran Perekrutan 24.000 Tamtama TNI AD untuk Pertanian Sudah Dhitung Pemerintah
Rencana TNI AD merekrut 24.000 prajurit tamtama tahun ini diyakini telah melalui perencanaan matang, termasuk alokasi anggarannya. Segala aspek terkait perekrutan tersebut, menurut Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar, Dave Laksono, telah sesuai dengan kebijakan efisiensi anggaran yang tengah dijalankan pemerintah. ”Semua hal, aspek, dalam kebijakan tersebut telah disiapkan pemerintah, dari awal hingga akhir. Saya yakin dampak kebijakan ini akan bermanfaat sangat besar pada kemajuan bangsa,” tutur Dave, Minggu (15/6/2025). Perekrutan itu disebut selaras dengan Doktrin Pertahanan Negara Tahun 2023, yakni membangun sistem pertahanan yang mandiri dan berbasis kewilayahan. Sebagai implementasi konkret, akan dibentuk BatalyonTeritorial Pembangunan di seluruh Indonesia. Setiap batalyon berdiri di lahan seluas 30 hektar dan akan memiliki kompi-kompi yang secara langsung menjawab kebutuhan masyarakat, dengan empat kompi, yaitu pertanian, peternakan, medis, dan zeni.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemenhan Pertahanan, Brigjen Frega Ferdinand Wenas menyebutkan bahwa lang-kah TNI AD yang akan merekrut 24.000 tamtama sudah dihitung secara cermat. ”Sayakurang tahu nominalnya, tapi pastinya sudah dalam kalkulasi dan juga untuk mendukung kedaulatan negara,” tu-tur Frega. Peneliti Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, Beni Sukadis, mempertanyakan maksud dan urgensinya. Kebijakan merekrut 24.000 tamtama yang tujuannya untuk membantu sektor pertanian dan peternakan itu menunjukkan kekeliruan prioritas dalam konteks pertahanan nasional. Perekrutan itu berpotensi menjadi pemborosan anggaran negara dalam skala besar. ”Ketika dikalikan 24.000 personel, total beban anggaran mencapai triliunan rupiah setiap tahun,” katanya. Apalagi, kebijakan ini muncul di tengah kondisi anggaran pertahanan Indonesia yang sedang menghadapi tekanan. (Yoga)
Satgas PKH Juni 2025 Berhasil Menguasai Kembali 1 Juta Hektare
Mentan Minta dengan Tegas Pedagang Patuhi Aturan HET Beras
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









