;
Tags

Pertanian

( 500 )

Digitalisasi di Sektor Pertanian Terus Digalakkan oleh Pemerintah

KT1 16 Oct 2024 Investor Daily (H)
Modernisasi digital yang diterapkan di berbagai sektor  seperti keuangan, kesehatan, pendidikan, perdagangan, pertanian, dan menjadi prioritas pemerintah  Presiden Jokowi dalam 10 tahun terakhir telah  memberikan dampak signifikan, terutama dalam peningkatan  produktivitas. Hal ini pula yang diyakini akan mendorong tercapainya target pertumbuhan ekonomi dan sejumlah program yang dicanangkan pemerintah Prabowo Subianto di masa mendatang. Direktur Eksekutif ICT sekaligus Pengamat Ekonomi Digital, Heru Sutadi mengatakan, Presiden Terpilih Prabowo Subianto telah mencanangkan target pertumbuhan ekonomi 8%. target ini tidak mudah untuk dicapai. Untuk mewujudkan target tersebut salah satu upaya yang bisa dilakukan  melalui peningkatan ekonomi digital. Perlu langkah extra ordinary untuk mencapai target pertumbuhan 8%, salah satu upaya yang mungkin bisa dilakukan adalah bagaimana kita mendukung pertumbuhan ekonomi digital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik dan lebih tinggi," kata Heru. (Yetede)

Paradoks kondisi kesejahteraan petani

KT3 14 Oct 2024 Kompas
Sekitar 48,86 persen rumah tangga miskin di ndonesia menjadikan sektor pertanian sebagaitumpuan nafkahnya. Sektor pertanian juga menampung hampir sepertiga (28,21 persen) penduduk Indonesia yang bekerja. Sebuah paradoks dengan kondisi kesejahteraan petani tergambar dari kinerja produksi padi nasional. Kerja keras petani yang merupakan penghasil pangan bagi 270 juta jiwa lebih penduduk Indonesia membuahkan hasil manis dan mendapat apresiasi secara internasional pada bulan kemerdekaan dua tahun lalu. Pada Agustus 2022, Indonesia memperoleh penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) karena telah berhasil mencapai swasembada beras.

Tahun setelah penghargaan itu diterima adalah tahun yang berat untuk mempertahankan volume produksi padi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data, produksi padi nasional tahun 2023 mencapai 53,98 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini turun 1,4 persen dibandingkan 2022 yang mencapai 54,75 juta ton GKG atau turun 1,4 persen. Diperlukan strategi untuk mengatasi penurunan ini agar tak terjadi lagi pada 2024. Meskipun alarm penurunan sebenarnya sudah terlihat pada realisasi produksi padi pada periode subround 1 2024 (Januari-April) yang tumbuh negatif 17,54 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2023, masih ada peluang untuk menggenjot produksi di dua subround selanjutnya hingga akhir 2024.

Teknologi pertanian perlu sentuhan teknologi untuk memitigasi kondisi alam yang kadang tidak sejalan dengan fase pertumbuhan padi. Pertanyaannya, seberapa banyak berbagai hasil riset mengenai teknologi pertanian telah diadopsi oleh petani? Diperlukan suatu lembaga yang dapat menjembatani kebermanfaatan hasil riset ilmiah itu hingga sampai ke tangan petani dengan bahasa sederhana. BPS mencatat pertanian Indonesia lewat Sensus Pertanian setiap sepuluh tahun sekali. Banyak informasi bisa direfleksikan dari pencatatan SensusPertanian. Pada Sensus Pertanian 2023, terdapat sekitar 59,53 persen petani yang terjaring kedalam petani milenial, yaitu berusia 19-39 tahun dan/atau menggunakan teknologi digital dalam proses pertaniannya. (Yoga)

Harga Cabai Melonjak Turun

KT3 07 Oct 2024 Kompas
Harga cabai merah besar anjlok. Dalam tiga hari terakhir, harga cabai merah besar di Jawa Timur menyentuh Rp 3.500 per kilogram dan Rp 4.000 per kg. Petani rugi besar sebab harga pokok penjualan Rp 15.000 per kg. Di tempat lain, seperti Kota Cirebon, Jawa Barat, hal serupa terjadi. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, harga cabai merah turun dari Rp 30.000 per kg pada akhir Agustus menjadi Rp 15.000 per kg pada September. ”Dalam tiga hari terakhir ini harga terus buruk. Cabai merah besar ukuran kecil sampai Rp 3.500 per kg, sedangkan yang biasa Rp 4.000-Rp 5.000 per kg. Dalam kondisi seperti ini, kami berharap pemerintah turut memikirkan solusi bagi petani,” kata Nanang Triatmoko, Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim, Jumat (4/10/2024).

Oleh karena kondisi terpuruk tersebut, Nanang mengatakan AACI membuat surat terbuka kepada Presiden RI agar pemerintah memberikan perhatian dan solusi. Mereka memilih bersurat karena tidak bisa berunjuk rasa lantaran masih harus mengurus lahan. ”Permintaan kami sangat sederhana, yaitu di saat harga di tingkat petani Rp 4.000 per kg, pemerintah bisa hadir. Jadi sama seperti pemerintah hadir saat harga mahal. Kalau harga mahal, pemerintah ribut membuat operasi pasar dan lainnya. Kalau harga jatuh, apa yang akan dilakukan?Berlaku adillah kepada petani,” katanya. Menurut Nanang, hal yang bisa dilakukan pemerintah adalah membuat regulasi jelas terhadap fluktuasi harga produk pertanian seperti cabai tersebut. Dengan demikian, saat harga mahal atau murah, kerugian, baik di konsumen maupun petani, tidak terlalu besar. Penyerapan bisa melalui pihak ketiga, Bulog, atau lainnya.

”Harga jatuh karena sentra-sentra  cabai seperti di Sembalun Mataram, Banyuwangi, Jember, Paiton, Blitar, dan Bojonegoro semuanya sedang panen. Makanya, cabai di tingkat petani harganya rendah. Apalagi saat ini daya beli masyarakatturun sehingga pembelian cabai juga menurun,” katanya. Rendahnya harga cabai merah pernah terjadi lima tahun lalu saat pandemiCovid-19. Saat itu harga cabai merah di bawah Rp 5.000 per kg. Adapun 12 tahun lalu harga cabai merah pernah di angka Rp 2.000 per kg.Wahyu Nur Cahaya (35), petani cabai asal Ngantang, Malang, mengatakan, hampir dua bulan ini harga cabai merah besar terus merosot. ”Saat ini di petani harganya Rp 3.000-Rp 3.500 per kg. Kemarin di pasar dijual Rp 4.000 per kg tidak laku,” katanya. (Yoga)

Rumitnya Mata Rantai Pertanian dan Inflasi Pangan

KT3 24 Sep 2024 Kompas
Selama 2023, inflasi nasional meningkat, bahkan mencapai hampir 5,5 persen pada Februari 2023. Inflasi bahan pangan menjadi momok yang menjadi penyebab peningkatan tersebut. Saat itu banyak negara yang merupakan penghasil pangan beras, seperti India, Thailand, dan Vietnam, mengalami penurunan produksi yang juga mengancam kecukupan pangan mereka. Akibatnya, mereka membatasi ekspor bahan pangan mereka. Di sisi lain, El Nino mengakibatkan sejumlah kekeringan di sejumlah daerah, termasuk penghasil pangan utama di Indonesia, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat.

Walaupun secara tahunan produksi pangan mencukupi, secara bulanan terjadi kekurangan pasokan disejumlah daerah. Hal ini memicu peningkatan harga beras yang berakibat pada peningkatan harga pangan dan inflasi secara keseluruhan. Jawa Tengah yang juga merupakan daerah penghasil beras mengalami inflasi yang cukup tinggi. Di dalam benak banyak orang, daerah penghasil, seperti Jawa Tengah, seharusnya tidak mengalami inflasi yang tinggi. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian beras yang dihasilkan Jawa Tengah berpindah dulu ke provinsi lain sebelum kembali lagi masuk ke Jawa Tengah. Mekanisme rantai perdagangan yang panjang mengakibatkan tak ada ruang cukup untuk menurunkan harga. Penelitian Bank Indonesia (2023) menunjukkan setidaknya ada tujuh mata rantai perdagangan beras dari petani sebelum sampai ke konsumen akhir.

Hal itu berarti ketika harga akan diturunkan, cuma dapat bersumber dari dua hal, yaitu biaya transportasi dan biaya di petani. Tanpa subsidi biaya angkut, petanilah yang menjadi penanggung penurunan harga beras. Peningkatan harga yang tinggi lebih banyak dinikmati oleh pedagang perantara. Hal ini ternyata tidak hanya beras, tetapi juga disejumlah bahan pangan lain, seperti aneka cabai dan bawang merah. Penguatan kelembagaan petani. Penguatan kelembagaan petani menjadi jembatan bagi peningkatan posisi tawar petani yang berujung pada peningkatan kesejahteraan petani. Petani harus dipandang sebagai bagian dari pengendalian inflasi pangan dari sisi suplai. Petani harus jadi mitra pemerintah dalam pengendalian inflasi. Hal itu berarti petani menjadi pahlawan inflasi. (Yoga)

Korupsi Agraria Semakin Memburuk

KT3 24 Sep 2024 Kompas
Praktik korupsi dinilai berada di balik masifnya konflik agraria selama dua periode pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dalam kurun satu dekade tercatat 2.939 konflik agraria di lahan seluas 6,3 juta hektar dan berdampak pada 1,75 juta rumah tangga. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) bersama Serikat Petani Pasundan (SPP) yang mewakili 80 organisasi petani disejumlah daerah mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (23/9/2024), untuk menyampaikan aspirasi terkait urgensi pemberantasan korupsi agraria di Indonesia. Aksi ini merupakan bagian dari Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2024 yang diperingati setiap 24 September.

”Para petani meminta KPK serius membongkar korupsi agraria yang sangat masif. Selama dua periode pemerintahan Joko Widodo, ada 2.939 letusan konflik agraria dengan luas mencapai 6,3 juta hektar. Korban yang terdampak 1,75 juta rumah tangga di seluruh wilayah di Indonesia,” kata Sekjen KPA Dewi Kartika. Menurut Dewi, agraria dan segenap isinya merupakan penunjang pokok hidup petani, masyarakat adat, nelayan, dan kaum perempuan. Namun, sumber-sumber agraria, terutama tanah, air, dan hutan,
kini dikuasai segelintir orang saja. Data KPA menunjukkan, hingga saat ini sudah 25 juta hektar tanah dikuasai pengusaha sawit, 10 juta hektar tanah dikuasai pengusaha tambang, dan 11,3 juta hektar tanah dikuasai pengusaha kayu.

Sementara itu, 17,24 juta petani gurem hanya menguasai tanah di bawah 0,1 sampai dengan 0,5 hektar, sisanya buruh tani dan tidak memiliki tanah. ”Parahnya, kemiskinan struktural ini berada dalam sistem ekonomi-politik agraria yang diskriminatif kepada rakyat, tanpa kepastian hukum, rentan menjadi korban mafia tanah dan koruptor,” kata Dewi. Dalam kesempatan ini, KPA dan SPP juga menyerahkan beberapa dokumen dan contoh lokasi yang diduga menjadi ladang korupsi agraria ke KPK. (Yoga)

Korupsi Agraria Semakin Memburuk

KT3 24 Sep 2024 Kompas
Praktik korupsi dinilai berada di balik masifnya konflik agraria selama dua periode pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dalam kurun satu dekade tercatat 2.939 konflik agraria di lahan seluas 6,3 juta hektar dan berdampak pada 1,75 juta rumah tangga. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) bersama Serikat Petani Pasundan (SPP) yang mewakili 80 organisasi petani disejumlah daerah mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (23/9/2024), untuk menyampaikan aspirasi terkait urgensi pemberantasan korupsi agraria di Indonesia. Aksi ini merupakan bagian dari Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2024 yang diperingati setiap 24 September.

”Para petani meminta KPK serius membongkar korupsi agraria yang sangat masif. Selama dua periode pemerintahan Joko Widodo, ada 2.939 letusan konflik agraria dengan luas mencapai 6,3 juta hektar. Korban yang terdampak 1,75 juta rumah tangga di seluruh wilayah di Indonesia,” kata Sekjen KPA Dewi Kartika. Menurut Dewi, agraria dan segenap isinya merupakan penunjang pokok hidup petani, masyarakat adat, nelayan, dan kaum perempuan. Namun, sumber-sumber agraria, terutama tanah, air, dan hutan,
kini dikuasai segelintir orang saja. Data KPA menunjukkan, hingga saat ini sudah 25 juta hektar tanah dikuasai pengusaha sawit, 10 juta hektar tanah dikuasai pengusaha tambang, dan 11,3 juta hektar tanah dikuasai pengusaha kayu.

Sementara itu, 17,24 juta petani gurem hanya menguasai tanah di bawah 0,1 sampai dengan 0,5 hektar, sisanya buruh tani dan tidak memiliki tanah. ”Parahnya, kemiskinan struktural ini berada dalam sistem ekonomi-politik agraria yang diskriminatif kepada rakyat, tanpa kepastian hukum, rentan menjadi korban mafia tanah dan koruptor,” kata Dewi. Dalam kesempatan ini, KPA dan SPP juga menyerahkan beberapa dokumen dan contoh lokasi yang diduga menjadi ladang korupsi agraria ke KPK. (Yoga)

Ribuan Hektar Sawah Baru Dicetak di Kalteng

KT3 20 Sep 2024 Kompas

Program cetak sawah nasional di Kalimantan Tengah akan membuka lahan seluas 400.000 hektar atau hampir seluas Pulau Bali. Warga ber harap pemerintah memperha tikan keberlangsungan di lahan yang sebelumnya dibuka. Ardianto (47), warga Desa Pilang, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, mengatakan, banyak lokasi sawah yang sejak dicetak pada 2021-2022 belum memiliki saluran irigasi. Sawah miliknya yang masuk dalam program ekstensifikasi food estate (lumbung pangan) belum terakses irigasi. Akibatnya, lahan jadi cepat kering di musim kemarau dan kebanjiran di masa musim hujan. ”Kami sudah pernah gagal panen atau turun produksi. Jadi, ya, sudah biasa. Tapi, kami masih menanam, kok,”kata Ardianto, dihubungi dari Palangka Raya, Kamis (19/9/2024). Ardianto dansebagianbesar warga Desa Pilang sebelumnya berladang tradisional. Se jak dilarang membakar pada 2015, ia tak berani lagi berladang.


Saat program lumbung pangan masuk pada 2020, ia antusias menyambutnya. Dalamprogram itu, ladangnya ”disulap” menjadi sawah oleh pemerintah. Setelah sawah dibuka, saluran irigasi belum dibuat. Sejak saatitu, ia acap kali mengalami puso. ”Beberapa kali juga (sawah) terendam air karena sungai meluap,” kata Ardianto. Belum usai program itu berjalan sesuai harapan Ardianto, pemerintah sudah menciptakan program baru berjudul. Optimasi Lahan dan Cetak Sawah Nasional. Pada Rabu (18/9), Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Andi Nur Alamsyah mengunjungi Kalteng. Bersama Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo, Andi menggelar rapat koordinasi sekali lagi untuk memantapkan program baru tersebut. Dalam rapat itu, pemerintah sepakat mencetak 400.000 hektar. ”Enggak lagi, jadi tidak ada lagi food estate. Ini sekarang cetak sawah,” ujar Andi. MenurutAndi, untuk pelaksanaan cetak sawah nasional telah dialokasikan anggaran Rp 16 triliun. Pelaksanaannya hampir di seluruh Pulau Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Sumatera.

Sebelumnya, Selasa (20/8), Menteri Pertanian Amran Sulaiman datang ke Palangka Raya untuk menggelar rapat koordinasi optimasi lahan dan cetak sawah di Kalteng. Ia memaparkan rencana pemerintah untuk menciptakan lumbung pangan di Pulau Kalimantan, Papua, Sumatera, dan Sulawesi. Total 3 juta hektar bakal digarap selama tiga tahun. Rinciannya, 1 juta hektar pada tahun pertama dengan wilayah Papua Selatan, Kaltim, Kalsel, Kalbar, dan Sumatera Selatan. Tahun kedua juga 1 juta hektar dengan wilayah Papua Selatan, Kalteng, Papua Barat, Kalbar, danRiau.Tahu ketiga, 1 juta hektar di Sumsel, Kalteng, Papua Selatan, Papua, dan Kalimantan Utara. Potensi lahan Kalteng disebut memiliki potensi lahan untuk perluasan pertanian sebesar 2,4 juta hektar yang tersebar di 14 kabupaten dan kota. Namun, dalam proyek ini, pemerintah hanya membutuhkan 621.684 hektar atau sama dengan 1,1 kali luas Pulau Bali. Amran mengatakan, lahan seluas 621.684 hektar itu tersebar di seluruh wilayah Kalteng. Lahan yang digunakan meliputi area penggunaan lain, kawasan hutan produksi, dan kawasan hutan produksi konversi. Edy Pratowo menyatakan siap mendukung program tersebut. Apalagi, sebelumnya Menteri Pertanian sudah beberapa kali datang untuk menyampaikan keinginan pemerintah pusat melaksanakan program tersebut. ”Kami ada 400.000 hektar yang sudah siap. Tadi, dirjen menyampaikan, 165.000 hektar diKapuas jaditarget utama dulu,” kata Edy. Ia berharap semua pihak bisa membantu pemerintah untuk mewujudkan Kalteng sebagai lumbung pangan nasional, angan-angan yang sudah lama direncanakan. (Yoga)

Stok Gabah yang Terakhir

KT3 05 Sep 2024 Kompas

Arsimah, seorang petani, terlihat sedang menjemur gabah di Desa Sukabudi, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat,  pada Hari Rabu (4/9/2024). Gabah kering panen ini adalah stok terakhir yang dijual seharga Rp 7.500 per kilogram. Sudah 3 bulan persawahan di kawasan tersebut mengalami kekeringan. Sehingga hasil panen tidak maksimal, padahal harga gabah kering panen sedang bagus. (Yoga)

Sektor Pertanian Merosot

KT3 28 Aug 2024 Kompas

Satu dekade kepemimpinan Presiden Jokowi, sektor pertanian justru tumbuh melambat. Subsektor tanaman pangan yang menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat performanya justru paling buruk. Kepala Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra PG Talattov, Selasa (27/8) mengatakan, capaian kinerja sektor pertanian dalam 10 tahun pemerintahan Presiden Jokowi belum sesuai harapan. Pertumbuhan tahunan sektor pertanian melambat, dari 4,24 % pada 2014 menjadi 1,3 % pada 2023.

”Bahkan, pada triwulan I-2024, sektor pertanian justru terkontraksi atau tumbuh minus  3,54 % secara tahunan,” ujarnya dalam diskusi publik bertajuk ”Evaluasi 10 Tahun Jokowi di Bidang Ekonomi” yang digelar Indef secara daring di Jakarta. Abra juga menuturkan, pertumbuhan sektor pertanian selalu di bawah pertumbuhan ekonomi nasional selama satu dekade terakhir. Kontribusi tahunan sektor tersebut terhadap PDB juga stagnan, yakni 13,34 % pada 2014 dan 12,53 % pada 2023. Bahkan, kinerja subsektor tanaman pangan justru merosot paling tajam dibanding subsector lain. Padahal, tanaman pangan merupakan subsektor paling strategis untuk menjaga kebutuhan pokok masyarakat, terutama beras.

”Tidak mengherankan jika Indonesia terus mengimpor beras lantaran produksi beras nasional berkurang,” katanya. BPS mencatat, subsektor tanaman pangan pada 2014 hanya tumbuh 0,06 % secara tahunan. Pada 2023, subsektor tersebut bahkan tumbuh -3,88 %. Pada triwulan I-2024, subsektor tanaman pangan terkontraksi cukup dalam, yakni tumbuh -24,73 %. Baru pada triwulan II-2024, subsektor ini tumbuh 12,5 % secara tahunan. Untuk itu, Abra berharap pemerintahan baru nanti benar-benar serius memperbaiki kinerja sektor pertanian, terutama subsektor tanaman pangan. Perbaikan itu tidak hanya mencakup peningkatan produksi, tetapi juga kesejahteran para produsen pangan di hulu. (Yoga)


Produksi Padi Terancam Turun

KT3 23 Aug 2024 Kompas

Ratusan hektar sawah di Kabupaten Indramayu, Jabar, terdampak kekeringan pada musim tanam kedua. Jumlah itu diprediksi bertambah karena keke ringan masih bisa berlanjut. Produksi padi di lumbung pangan itu terancam menurun. Di Desa Karanganyar, Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, kekeringan tampak dari tanah yang retak-retak. ”Rata-rata usia tanaman padi yang kekeringan ini 1,5 bulan. Itu lagi butuh banyak air,” ucap H Fahrurozi, Ketua Kelompok Tani Sriwijaya IV, Kamis (22/8). Kekeringan terjadi karena minimnya pasokan air saluran irigasi dari Bendungan Rentang di Majalengka dan Bendungan Cipanas.

Terakhir, sawahnya mendapat air pekan lalu, dengan debit yang sedikit karena harus berbagi dengan desa dan kecamatan lainnya. ”(Petani) di sini sudah sebulan enggak maksimal kebagian air,” ucapnya. Padahal, ia memperkirakan, di Desa Karanganyar sekitar 350 hektar terdampak kekeringan. Bahkan, sejumlah petani menggelar balap lari dan motor di sawah yang mengering, Selasa (20/8). ”Petani spontan saja (balap lari dan motor). Kami bikin ini biar kekeringan dipikirkan,” ungkap Fahrurozi yang turut serta dalam kegiatan itu. Setelah video balap lari dan motor di lahan kering itu tersebar di media, sejumlah lembaga pemerintah terkait datang ke daerah tersebut.

Ia berharap, pemerintah segera menangani dampak kekeringan itu agar petani tidak merugi. Sejauh ini ia menghabiskan 14 juta untuk biaya tanam dan pemupukan sawah seluas 2 hektar. Tanpa pasokan air, sawahnya terancam puso. ”Produksi padi juga berpotensi berkurang karena tanah tidak subur lagi. Tanahnya kering, retak-retak,” ucapnya. Namun, ia belum bisa memprediksi berapa penurunan produksi padi di lahannya. Dalam kondisi normal, ia bisa memanen 5 ton gabah kering panen (GKP). Kondisi serupa juga terjadi di desa lainnya di Kandanghaur. Dari 13 desa, hanya dua desa yang bisa terselamatkan jika pasokan air irigasi belum normal. Fahrurozi menyebut, hampir 80 % sawah di Kandanghaur kekeringan. Luas area tanamnya mencapai 4.000 hektar. (Yoga)