;
Tags

Pertanian

( 500 )

Ekspresi Kegelisahan Petani Karet

KT3 26 May 2024 Kompas

Petani penyadap karet menghadapi realitas surutnya harga karet mentah. Mereka tidak sesejahtera seperti di zaman dulu lagi. Sejumlah perupa mengekspresikan kegelisahan petani itu dengan membuat karet mentah menjadi karya seni untuk pertama kalinya. Para perupa itu sempat menengok keprihatinan para petani penyadap karet di Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung. Mereka antara lain Agus Suwage, Anusapati, Catur Nugroho, Dolorosa Sinaga, Elyezer, Handiwirman, Iwan Yusuf, Maharani Mancanagara, Septian Harriyoga, Suvi Wahyudianto, Titarubi, dan Yuli Prayitno. Beberapa di antaranya tinggal sejenak di sana untuk menyelami kehidupan petani karet dan akhirnya mengekspresikan kegelisahan mereka ke dalam karya seni yang dipamerkan di Galeri Jagad, Wisma Geha, dekat pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta.

Pameran bertajuk ”Beyond Elasticity: Rubber and Materiality (Di Balik Elastisitas: Karet dan Materialitas)” berlangsung 17 Mei hingga 30 Juni 2024. Galeri Jagad menggandeng Sekolah Seni Tubaba untuk pameran ini. Mereka menampilkan karya-karya yang tidak pernah ada sebelumnya karena material karet mentah tidak pernah digunakan sebagai media karya seni. Bupati Tubaba periode 2017–2022 Umar Ahmad memberi catatan pengantar pameran yang cukup menarik, yakni ”Karet, Tubaba, dan Jalan Pulang ke Masa Depan”. Umar menceritakan, di masa lalu, karet adalah dapur bagi masyarakat Tubaba. Mereka menyejahterakan diri lewat hasil penyadapan karet yang dimulai tahun 1900, ketika Pemerintah Hindia Belanda mulai mengenalkan beberapa jenis tanaman karet.

Selanjutnya, perkebunan karet di Kawasan Tubaba tumbuh sejak tahun 1970 ketika dibuka sebagai Kawasan transmigrasi. Sejak itu karet menjadi primadona, sampai satu dekade silam. Tapi, situasi berubah. Hasil penyadapan karet tidak lagi menyejahterakan mereka. Umar menukil kisah dari seorang buruh petani yang bekerja dengan upah Rp 45.000 per hari. Padahal, pengeluaran dalam seharinya menembus Rp 50.000. Mulai ada pemilik lahan Perkebunan karet yang membakar perkebunananya dan mengganti dengan tanaman singkong. Saat musim panen singkong tiba, harga komoditas ini juga jatuh. Bagi Rambat, pemilik Galeri Jagad, pameran karya seni dengan media karet mentah sebagai transformatif eksplorasi artistik dan diharapkan bisa berkelanjutan. (Yoga)


RI Ajak China Kembangkan Teknologi Pertanian Padi

KT1 25 May 2024 Investor Daily

Indonesia menjalin kerja sama dengan lembaga riset pada terbesar di China, China National Rice Research Institute (CNRRI), untuk mengembangkan teknologi pertanian guna menurunkan biaya produksi hingga 40-60%. CNRRI dikenal sebagai pusat riset terkemuka yang memainkan peran kunci dalam mengkoordinasikan program penelitian padi tingkat nasional dan global. Lembaga itu telah menghasilkan berbagai varietas padi unggul yang resisten hama penyakit, toleran cekaman lingkungan, serta menggunakan teknologi ramah lingkungan, dan hemat biaya.

Kerja sama yang diinisiasi Indonesia itu disambut  baik oleh CBRRI dan difokuskan pada beberapa area penting. Area itu meliputi peningkatan  kualitas benih dengan  mengembangkan benih lebih adaptif terhadap kondisi kekeringan serta teknologi pertanian modern dengan mengaplikasikan teknologi digital (kecerdasan buatan/AI) dan alat mesin pertanian modern seperti mesin pembibitan otomatis, transplanter, drone, combine harvester, dan RMU (rice milling unit). (Yetede)

Indonesia Akan Ekspor 65 Ribu Ton Jagung

KT1 21 May 2024 Investor Daily
Pemerintah mengkaji pembukaan keran ekspor jagung demi menjaga harga komoditas itu agar tidak kian jatuh di tingkat petani. Usulan ekspor telah disampaikan dua perusahaan  pembeli siap siaga (off-taker) jagung lokal, yakni PT Gorontalo Pangan Sejahtera (GPS) 15 ribu ton dan PT Seger Agro Nusantara (SAN) 50  ribu ton. Hasil panen raya yang melimpah  membuat harga jagung anjlok di bawah Rp4.000 per kg, sementara penyerapan oleh pemerintah melalui Perum Bulog, perusahaan pakan ternak, dan pemangku kepentingan lainnya terbentur kapasitas simpanan. Berdasarkan Kerangka Sampel Area Badan Statistik (KSA BPS), produksi  jagung pipilan kering (JPK) kadar air 14% pada Januari-Juni 2024 diperkirakan hanya 6,56 juta ton atau turun 1,75 juta ton (10,61%) dibandingkan 2022 yang mencapai 16,53 juta ton. (Yetede)

Perluasan Inovasi Padi Apung Terkendala Biaya Tinggi

KT3 21 May 2024 Kompas

Inovasi padi apung berhasil dikembangkan dalam skala kecil di lahan rawa pasang surut Desa Sampurna, Barito Kuala, Kalsel. Namun, pengembangannya dalam skala luas masih terkendala biaya produksi yang tinggi. Perawatannya terbilang rumit. Tanaman padi apung dengan media tanam pot plastik dan styrofoam menghijau di lahan rawa pasang surut, di samping rumah Suparlan (55), warga Desa Sampurna, Senin (20/5).  Desa ini berjarak 35 km dari Banjarmasin. Ia menuturkan, padi apung yang ditanamnya itu baru berusia satu bulan. Tahun 2024 merupakan tahun keduanya mengembangkan padi apung dengan bantuan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel. Jenis padi yang ditanamnya adalah siam madu.

”Padi ini bisa panen dalam usia tiga bulan. Kalau tidak ada kendala, dalam dua bulan ke depan, Juli, sudah bisa panen,” ujar Suparlan. Pada tahun pertama uji coba padi apung di desanya, hanya Suparlan yang berhasil panen pada Mei 2023. Dari 630 rumpun padi yang ditanam menggunakan 30 lembar styrofoam berukuran 1 x 2 meter, Suparlan dapat 12 kaleng padi atau 240 kg.  ”Kalau sebagian hasilnya tidak dijual, hasil panen padi apung tahun lalu itu cukup untuk makan kami bertiga di rumah selama setahun,” katanya. Namun, karena hasil panennya sangat bagus, banyak petani setempat yang meminta agar Suparlan menjualnya sebagai benih. ”Hasil panen padi apung tahun lalu itu setara hasil panen padi di sawah 2 borong (340 meter persegi),” ujarnya.

Menurut Suparlan, padi apung cocok dikembangkan di lahan rawa pasang surut setelah dirinya dan banyak petani di desanya kerap gagal panen pascabanjir besar di Kalsel tahun 2021. Namun, pengembangannya saat ini terkendala biaya besar di awal, khususnya untuk media tanam. ”Saya terbantu karena sudah dua tahun ini mendapat bantuan media tanam dari pemerintah. Tahun ini, saya menggunakan 76 lembar styrofoam dengan lebih dari 1.500 pot padi apung,” ucapnya. Meskipun modal awal besar, Suparlan menyebut biaya perawatan padi apung lebih ekonomis dibandingkan perawatan padi di sawah. Hal itu karena tanaman padi apung tidak membutuhkan banyak pupuk dan pestisida. (Yoga)


Ironi Pertanian Tanpa Petani

KT1 21 May 2024 Tempo
SEBAGIAN hasil Sensus Pertanian 2023 (ST23) yang dirilis Badan Pusat Statistik menginformasikan banyak data dan hal-hal penting ihwal perkembangan pertanian Indonesia pada periode 2013-2023. Salah satunya isu regenerasi petani. Selama ini, isu regenerasi petani dipandang sebelah mata. Akibatnya, upaya mengatasi persoalan tersebut masih setengah hati. Hasil ST23 membuka fakta bahwa pertanian Indonesia mengalami gerontokrasi akut. Tanpa upaya serius membalik kondisi ini, pertanian kita akan makin terpuruk.

Menurut ST23, jumlah petani tua makin besar, sebaliknya jumlah petani muda menurun. Dalam satu dekade terakhir, proporsi petani pengelola unit usaha perorangan berusia 55-64 tahun meningkat dari 20,01 persen menjadi 23,3 persen. Begitu juga petani berusia 65 tahun ke atas, proporsinya meningkat dari 12,75 persen menjadi 16,15 persen. Sebaliknya, pada periode yang sama, proporsi petani berusia 25-34 menurun dari 11,97 persen menjadi 10,24 persen. Begitu pula petani berusia 35-44 tahun yang proporsinya menurun dari 26,34 persen menjadi 22,08 persen.

Kecenderungan menurunnya jumlah generasi muda memasuki sektor pertanian dalam satu dekade terakhir ini berkebalikan dengan kondisi sepuluh tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari hasil Sensus Pertanian 2013 yang menyebutkan ada kenaikan jumlah generasi muda yang menekuni pertanian dibanding hasil sensus 2003. Atas kondisi ini, muncullah sejumlah pertanyaan: mengapa generasi muda saat ini kian menjauh dari sektor pertanian? Apa saja faktor yang membuat mereka tak melirik sektor pertanian? Bukankah Kementerian Pertanian memiliki program khusus untuk menarik petani muda? Apa yang generasi muda butuhkan agar mau masuk ke sektor pertanian? (Yetede)


RI-Vietnam Kerja Sama Pertanian Padi Lahan Rawa

KT1 21 May 2024 Investor Daily

Indonesia dan Vietnam sepakat memperkuat kerja sama pengembangan pertanian padi di lahan rawa, khususnya varietas bibit untuk lahan rawa  dengan produktivitas tinggi serta teknologi mekanisme dan pertanian presisi. Hal itu demi memacu produktivitas dan indeks pertanaman (IP) padi di lahan rawa. Kedua negara juga sepakat mengembangkan  sistem pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable agriculture).

Demikian inti pertemuan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman serta menteri Pertanian dan Pembangunan Desa Vietnam Le Minh Hoan bseretaa pejabat tinggi Kementerian Pertanian dan Pembangunan Desa Republik Sosialis Vietnam (MARD) di kantor Pusat MARD di Hanoi, Vietnam, Minggu (19/05/2024). Pertemuan ini menyepakati kerja sama teknologi lahan rawa yang sedang digalakkan RI. Pada akhir pertemuan, Menteri Pertanian RI dan Vietnam meneken MoU on Agriculture Cooperation. Sebagai tindak lanjut, kedua Menteri sepakat Membentuk Kelompok Kerja Pertanian yang beranggotakan perwakilan pejabat teknis kedua negara. (Yetede)

Pabrik Gula Diimbau Beli Tebu Petani Rp 690 Ribu per Ton

KT1 20 May 2024 Investor Daily
Kementerian Pertanian (Kementan)  menentukan harga pembelian tebu di tingkat petani Rp 690 ribu per ton dengan rendemen 7% untuk wilayah Jawa pada musim giling yang mulai berlangsung pertengahan Mei ini.  Harga tersebut menjadi dasar bagi pabrik gula (PG) dalam membeli tebu para petani sebagai mitranya. Kementan melalui Ditjen Perkebunan menerbitkan  Surat Edaran (SE) No.B-406/KB110/E/05/2024 tertanggal 3 Mei 2024 yang menyatakan harga dengan sistem pembelian tebu di wilayah Jawa pada rendeman 7% senilai Rp 690 ribu per ton.

Dalam SE itu, harga pokok pembelian (HPP) tebu Rp 60 ribu per ton di wilayah Jawa sudah memperhatikan biaya pokok produksi (BPP) di Jawa ditambah 10% keuntungan petani. Untuk wilayah Lampung Rp 540 ribu per ton, Sulsel Rp620 ribu per ton, dan Gorontalo Rp 510 ribu per ton. HPP itu juga memperhatikan rendeman, apabila rendeman lebih tinggi atau lebih rendah dari 7% maka harga pembelian tebu harus disesuaikan proposional. Harga tebu di luar wilayah juga mempertimbangkan ongkos angkutan, semisal tebu diluar wilayah Jawa mendapat harga Rp 720 ribu per ton karena selisih Rp 40 ribu per ton merupakan ongkos angkutan yang diperhitungkan. (Yetede)

Rileksasi Harga Masih Berlaku, Jagung Petani Terserap 16 Ribu Ton.

KT1 20 May 2024 Investor Daily
Pemerintah terus mengoptimalkan serapan hasil panen petani guna menjaga stabilitas harga jagung di dalam negeri. Salah satunya, fleksibilitas harga acuan pembelian (HAP) di tingkat produsen jagung sebesar Rp5.000 per kilogram (kg) masih diberlakukan hingga 31 Mei 2024 dengan harapan harga komoditas itu di petani tetap terjaga atau tidak jatuh melalui kegiatan penyerapan oleh Bulog, pelaku usaha, dan stakeholder lainnya. Per 14 Mei 2024, serapan jagung petani khususnya oleh Bulog mencapai 16 ribu ton.  Kepala badan pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA) Arief Prasetyo Adi menyatakan, dalam menyikapi situasi produksi jagung di beberap sentra produsen yang saat  ini melimpah, Bapanas menugasi Bulog dan mendorong pelaku usaha serta stakeholder untuk menyerap secara optimal hasil panen petani. (Yetede)

Strategi Petani NTT Cegah Gagal Panen

KT3 19 May 2024 Kompas

Potret gagal panen terlihat di sejumlah wilayah NTT sepekan terakhir hingga Sabtu (18/5). Wilayah yang didatangi mulai dari Kabupaten Rote Ndao, Sikka, Flores Timur, hingga Lembata. Noviana Lete (43), warga Desa Obafok, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, menuturkan, hasil panen padi tadah hujan tahun ini di bawah 2 ton gabah kering giling per hektar. Secara nasional, rata-rata produktivitas padi per hektar mencapai 5,5 ton gabah kering giling. ”Masalahnya hujan tidak jelas. Setelah hujan satu minggu, kami pikir sudah masuk musim tanam sehingga kami mulai tanam. Nyatanya setelah kami tanam, hujan tidak turun lagi selama berminggu-minggu,” kata Noviana.

Minimnya air diperparah dengan kesulitan mereka mengakses pupuk bersubsidi. Banyak kendala, mulai dari alokasi kuota, proses administrasi oleh pemerintah, hingga penebusan pupuk di level kios dan distribusi ke petani. Ketersediaan pupuk yang minim membuat banyak tanaman kerdil dan tidak berproduksi maksimal. Banyak gabah yang hampa tanpa isi. Untuk mengatasi kondisi semacam itu, di Maumere, Kabupaten Sikka, Yance Maring (35) mempraktikkan sistem pertanian menggunakan irigasi tetes pada tanaman hortikultura. Sistem tersebut dipelajari Yance ketika melakukan studi pertanian di Israel beberapa tahun silam.

Dengan irigasi tetes, air mengalir lewat selang kemudian menetes di setiap tanaman. Satu tetes per detik. Satu tanaman membutuhkan 250 mililiter air setiap hari. Dengan sistem irigasi tetes, penggunaan air untuk tanaman lebih efisien, tetapi presisi sehingga efektif mengairi tanaman. Dalam hitungannya, efisiensi air hingga 40 % jika dibandingkan dengan pengairan secara konvensional. Yance menganjurkan penggunaan pupuk berimbang dengan memperbanyak pupuk organik sebelum penanaman. Pupuk organik diambil dari kotoran ternak seperti ayam dan kambing. Selanjutnya, petani bisa menggunakan pupuk kimia secara bertahap. Yance menggunakan pupuk nonsubsidi.

Di Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, petani mempraktikkan tanaman pangan bervariasi dengan memperbanyak pangan lokal, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, dan pisang. Tanaman itu bisa tahan terhadap panas dibandingkan dengan padi dan jagung. Ini jadi pelajaran. Kami akan perbanyak tanam pangan lokal untuk makanan sehari-hari,” kata Servince Seus (65), petani setempat. Di Flores Timur, Maria Loretha, perempuan petani, konsisten mendorong tanaman sorgum yang dianggap cocok untuk daerah itu. Ia mengampanyekan konsumsi sorgum sebagai pengganti beras. Dari sisi kesehatan, sorgum lebih rendah gula dibandingkan beras. ”Seharusnya kondisi ini membuat sadar petani untuk mengolah tanaman pangan yang cocok di daerah mereka,” kata Loreta. (Yoga)


Kejar Swasembada Gabah, Lupa Mengurus Beras

HR1 16 May 2024 Bisnis Indonesia

Dari sisi ekonomi, usaha tani padi masih menjanjikan. Selain menguntungkan (BPS, 2018), usaha tani padi juga berdaya saing kuat (Agustian, 2014). Masalah terjadi setelah padi atau gabah berubah jadi beras. Berbagai kajian menunjukkan, daya saing beras terus menurun yang menandai beras Indonesia tak punya daya saing di pasar dunia (Azahari dan Hadiutomo, 2013; Syahyuti, 2020). Ini terjadi karena selama puluhan tahun pemerintah lebih fokus swasembada gabah, tapi melupakan beras. Industri padi/gabah dan industri beras sejatinya saling terkait erat dan saling memperkuat. Jika salah satu di antaranya melemah, kurang atau tak diurus, keduanya akan melemah atau tak terurus. Harga beras, kualitas beras dan produktivitas beras tidak hanya ditentukan tingkat produktivitas (gabah kering giling/hektare) dan efisiensi pada tingkat usaha tani, tapi juga ditentukan oleh efisiensi pada tahap proses pengeringan gabah dan penggilingan padi. Dua tahapan pascapanen ini amat menentukan kualitas dan produktivitas beras, serta efisiensi yang dicerminkan pada harga beras.

Sialnya, di dua tahapan pascapanen itu kita amat lemah. Ini terkait dominasi penggilingan padi kecil dan sederhana. Merujuk data BPS (2020), jumlah penggilingan padi mencapai 169.789 unit, turun 12.000 unit dari 2012 (182.199 unit). Dari 169.000 unit, 95% tergolong penggilingan kecil, disusul penggilingan menengah 44,32% dan besar 0,62%. Dominasi penggilingan padi kecil adalah hasil kebijakan era 1970-an, ketika konsumen masih memperlakukan beras sebagai komoditas homogen. Berbagai atribut kualitas pada beras, seperti butir patah, rasa, dan kepulenan, belum jadi isu penting. Masalahnya, lebih dua dekade terakhir telah terjadi perubahan drastis pada preferensi konsumen beras. Dominasi penggilingan padi kecil menghambat upaya menekan kehilangan hasil pada tahap pengeringan dan penggilingan, rendemen giling rendah, dan mempersulit peningkatan kualitas beras.

Betapa tidak efisiennya pascapanen padi di Indonesia tampak dari kehilangan saat panen dan pascapanen sebesar 10,82%. Rendemen giling hanya 62,74%, jauh lebih rendah dari Thailand (69,1%) dan Vietnam (66,6%) (Patiwiri, 2016). Potensi kehilangan hasil padi mulai dari proses pengeringan, penggilingan, dan rendemen giling pada 2018—2019 sebesar 2,75 juta ton gabah kering giling (GKG) per tahun atau setara Rp15,4 triliun (Sawit dan Burhanuddin, 2020). Kehilangan tertinggi terjadi pada tahap pengeringan: Rp5,3 triliun. Ini karena penggilingan padi kecil rerata tak punya dryer. Dari total kehilangan itu, 80% atau Rp12,32 triliun disumbang oleh penggilingan padi kecil. Bila input usaha tani, seperti pupuk, pestisida, BBM, benih, dan pekerja juga dihitung maka kehilangan 2,75 juta ton GKG pemborosan yang luar biasa. Kalau potensi kehilangan hasil padi ini bisa ditekan, katakanlah 50%, ada peluang tambahan 0,86 juta ton beras. Apalagi bila bisa ditekan 100% akan ada tambahan 1,72 juta ton beras.