Pertanian
( 502 )Strategi Petani NTT Cegah Gagal Panen
Potret gagal panen terlihat di sejumlah wilayah NTT sepekan terakhir hingga Sabtu (18/5). Wilayah yang didatangi mulai dari Kabupaten Rote Ndao, Sikka, Flores Timur, hingga Lembata. Noviana Lete (43), warga Desa Obafok, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, menuturkan, hasil panen padi tadah hujan tahun ini di bawah 2 ton gabah kering giling per hektar. Secara nasional, rata-rata produktivitas padi per hektar mencapai 5,5 ton gabah kering giling. ”Masalahnya hujan tidak jelas. Setelah hujan satu minggu, kami pikir sudah masuk musim tanam sehingga kami mulai tanam. Nyatanya setelah kami tanam, hujan tidak turun lagi selama berminggu-minggu,” kata Noviana.
Minimnya air diperparah dengan kesulitan mereka mengakses pupuk bersubsidi. Banyak kendala, mulai dari alokasi kuota, proses administrasi oleh pemerintah, hingga penebusan pupuk di level kios dan distribusi ke petani. Ketersediaan pupuk yang minim membuat banyak tanaman kerdil dan tidak berproduksi maksimal. Banyak gabah yang hampa tanpa isi. Untuk mengatasi kondisi semacam itu, di Maumere, Kabupaten Sikka, Yance Maring (35) mempraktikkan sistem pertanian menggunakan irigasi tetes pada tanaman hortikultura. Sistem tersebut dipelajari Yance ketika melakukan studi pertanian di Israel beberapa tahun silam.
Dengan irigasi tetes, air mengalir lewat selang kemudian menetes di setiap tanaman. Satu tetes per detik. Satu tanaman membutuhkan 250 mililiter air setiap hari. Dengan sistem irigasi tetes, penggunaan air untuk tanaman lebih efisien, tetapi presisi sehingga efektif mengairi tanaman. Dalam hitungannya, efisiensi air hingga 40 % jika dibandingkan dengan pengairan secara konvensional. Yance menganjurkan penggunaan pupuk berimbang dengan memperbanyak pupuk organik sebelum penanaman. Pupuk organik diambil dari kotoran ternak seperti ayam dan kambing. Selanjutnya, petani bisa menggunakan pupuk kimia secara bertahap. Yance menggunakan pupuk nonsubsidi.
Di Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, petani mempraktikkan tanaman pangan bervariasi dengan memperbanyak pangan lokal, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, dan pisang. Tanaman itu bisa tahan terhadap panas dibandingkan dengan padi dan jagung. Ini jadi pelajaran. Kami akan perbanyak tanam pangan lokal untuk makanan sehari-hari,” kata Servince Seus (65), petani setempat. Di Flores Timur, Maria Loretha, perempuan petani, konsisten mendorong tanaman sorgum yang dianggap cocok untuk daerah itu. Ia mengampanyekan konsumsi sorgum sebagai pengganti beras. Dari sisi kesehatan, sorgum lebih rendah gula dibandingkan beras. ”Seharusnya kondisi ini membuat sadar petani untuk mengolah tanaman pangan yang cocok di daerah mereka,” kata Loreta. (Yoga)
Kejar Swasembada Gabah, Lupa Mengurus Beras
Dari sisi ekonomi, usaha tani padi masih menjanjikan. Selain menguntungkan (BPS, 2018), usaha tani padi juga berdaya saing kuat (Agustian, 2014). Masalah terjadi setelah padi atau gabah berubah jadi beras. Berbagai kajian menunjukkan, daya saing beras terus menurun yang menandai beras Indonesia tak punya daya saing di pasar dunia (Azahari dan Hadiutomo, 2013; Syahyuti, 2020). Ini terjadi karena selama puluhan tahun pemerintah lebih fokus swasembada gabah, tapi melupakan beras. Industri padi/gabah dan industri beras sejatinya saling terkait erat dan saling memperkuat. Jika salah satu di antaranya melemah, kurang atau tak diurus, keduanya akan melemah atau tak terurus. Harga beras, kualitas beras dan produktivitas beras tidak hanya ditentukan tingkat produktivitas (gabah kering giling/hektare) dan efisiensi pada tingkat usaha tani, tapi juga ditentukan oleh efisiensi pada tahap proses pengeringan gabah dan penggilingan padi. Dua tahapan pascapanen ini amat menentukan kualitas dan produktivitas beras, serta efisiensi yang dicerminkan pada harga beras.
Sialnya, di dua tahapan pascapanen itu kita amat lemah. Ini terkait dominasi penggilingan padi kecil dan sederhana. Merujuk data BPS (2020), jumlah penggilingan padi mencapai 169.789 unit, turun 12.000 unit dari 2012 (182.199 unit). Dari 169.000 unit, 95% tergolong penggilingan kecil, disusul penggilingan menengah 44,32% dan besar 0,62%. Dominasi penggilingan padi kecil adalah hasil kebijakan era 1970-an, ketika konsumen masih memperlakukan beras sebagai komoditas homogen. Berbagai atribut kualitas pada beras, seperti butir patah, rasa, dan kepulenan, belum jadi isu penting. Masalahnya, lebih dua dekade terakhir telah terjadi perubahan drastis pada preferensi konsumen beras. Dominasi penggilingan padi kecil menghambat upaya menekan kehilangan hasil pada tahap pengeringan dan penggilingan, rendemen giling rendah, dan mempersulit peningkatan kualitas beras.
Betapa tidak efisiennya pascapanen padi di Indonesia tampak dari kehilangan saat panen dan pascapanen sebesar 10,82%. Rendemen giling hanya 62,74%, jauh lebih rendah dari Thailand (69,1%) dan Vietnam (66,6%) (Patiwiri, 2016). Potensi kehilangan hasil padi mulai dari proses pengeringan, penggilingan, dan rendemen giling pada 2018—2019 sebesar 2,75 juta ton gabah kering giling (GKG) per tahun atau setara Rp15,4 triliun (Sawit dan Burhanuddin, 2020). Kehilangan tertinggi terjadi pada tahap pengeringan: Rp5,3 triliun. Ini karena penggilingan padi kecil rerata tak punya dryer. Dari total kehilangan itu, 80% atau Rp12,32 triliun disumbang oleh penggilingan padi kecil. Bila input usaha tani, seperti pupuk, pestisida, BBM, benih, dan pekerja juga dihitung maka kehilangan 2,75 juta ton GKG pemborosan yang luar biasa. Kalau potensi kehilangan hasil padi ini bisa ditekan, katakanlah 50%, ada peluang tambahan 0,86 juta ton beras. Apalagi bila bisa ditekan 100% akan ada tambahan 1,72 juta ton beras.
Pemerintah Tingkatan Produktivitas Karet
Pemerintah berupaya memacu produktivitas tanaman karet guna mengubah nasib petani komoditas tersebut yang kini cukup memprihatinkan. Hal itu tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (DHK) dari industri karet, barang dari karet, dan plastik turun 7,18%, yakni dari Rp 16,6 triliun pada kuartal II-2022 menjadi Rp 15,85 triliun di kuartal II-2023. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan, taraf hidup dan ekonomi petani karet di Indonesia penting untuk dinaikkan. Presiden Jokowi prihatin atas kondisi petani karet di Tanah Air, ada dua isu yang dihadapi mereka, yaitu penurunan harga dan produktivitas yang merosot. "Bahkan, sempat ada kebijakan pemerintah untuk membeli hasil para petani karet, ini prihatin sekali. Karenanya, pemerintah mencoba memastikan nasib mereka segera berubah," ujar Moeldoko. Karenanya, Moeldoko, mewakili KSP, yang juga selaku Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, bekerja sama dengan PT Mercu BioTech Nusantara untuk menggunakan teknologi mercu system. Teknoloi itu bisa menambah produktivitas karet hingga 300%. Pemanfaatan teknologi MTS dapat digunakan dalam segala cuaca, termasuk saat curah hujan cukup tinggi. (Yetede)
Harum Aroma Cuan Kopi & Kakao
Bukan cuma kelapa sawit, Indonesia punya komoditas unggulan perkebunan lainnya, mulai kopi, kakao, teh, cengkeh, hingga rempah. Indonesia pernah berjaya dan dikenal dunia karena merupakan penghasil utama berbagai komoditas perkebunan tersebut. Sebut saja, kopi. Indonesia merupakan produsen terbesar ketiga di dunia, setelah Brasil dan Vietnam. Produksi kopi Indonesia mencapai 765. 415 ton pada tahun 2023. Kini, para pekebun kopi di dalam negeri tengah menikmati berkah lonjakan harga kopi khusunya robusta, akibat pasokan dari Vietnam sebagai produsen utama yang seret menyusul kekeringan. Tercatat, harga kopi robusta di pasar berjangka naik lebih dari 2% menjadi US$ 3.496 per ton di bursa London pada Kamis (9/5), setelah naik 1,1% sehari sebelumnya.
Ketua Kompartemen Kopi Specialty & Industri Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Moelyono Soesilo bilang, ekspor kopi Indonesia banyak mengisi pangsa pasar Amerika Serikat, Mesir, Malaysia, Jepang, serta Jerman. Harga kakao pun naik gila-gilaan tahun ini. Produksi yang lebih rendah di Pantai Gading, produsen kakao terbesar di dunia, menjadi faktor utama kenaikan harga kakao. Tak pelak, harga kakao untuk kontrak Juli 2024 di bursa komoditas berjangka New York melambung hingga 13,47% atau mencapai US$ 8.610 per ton. Harga saat ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata harga kakao global pada 2023 di kisaran US$ 3.000 per ton. Ketua Umum Asosiasi Petani Kakao Arief Zamroni mengungkapkan, Indonesia merupakan penghasil kakao terbesar keenam, menurut International Cocoa Organization (ICCO). Produksi kakao kita bisa terus digenjot lantaran tersebar di banyak wilayah, mulai Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, NTT, hingga Papua.
Butuh 215 Ribu Pompa untuk 2,15 Juta Ha Sawah Tadah Hujan
Kementerian Pertanian (Kementan) menggeber program pompanisasi pada lahan-lahan sawah tadah hujan guna mengejar target produksi beras 32 juta ton tahun ini dan 34 juta ton tahun depan. Setelah diverifikasi, terdapat 2,15 juta hektare (ha) sawah tadah hujan yang berpotensi mengadopsi program pompanisasi dengan total kebutuhan 215 ribu unit pompa. Saat ini, pompa yang sudah beroperasi 27 ribu unit dengan jangkauan 275 ribu ha, atau masih kurang 194 ribu unit lagi bagi 1,95 juta ha sawah tadah hujan yang pemenuhannya akan dilakukan bertahap. Menurut menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, pompanisasi adalah solusi cepat dalam mengantisipasi dampak kekeringan atau musim kemarau terhadap produksi beras /padi. Kekeringan panjang yang sempat terjadi tahun lalu menurunkan produksi padi/beras nasional karena areal tanaman menyusut akibat kekurangan air. Amran pernah mengatakan, apabila ditempuh opsi cetak sawah untuk meningkatkan luas tanam maka dibutuhkan 2-3 tahun. "El Nino panjang sempat menurunkan produksi padi/beras tahun lalu. Karenanya, pompanisasi ini merupakan solusi paling cepat guna memacu produksi dalam menghadapi kemarau panjang atau EL Nino," papar mentan (Yetede)
Indonesia Berpotensi Defisit Beras Lagi pada Juni 2024
BPS memperkirakan neraca produksi dan konsumsi beras nasional
pada Juni 2024 akan defisit lagi setelah pada Maret, April, dan Mei 2024
surplus. Pemerintah perlu mewaspadainya dan mengoptimalkan serapan gabah atau
beras untuk memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Kendati begitu, Bapanas
menjamin stok beras hingga akhir tahun ini aman, yakni 10,09 juta ton. Namun,
stok sebesar itu baru dapat terpenuhi jika produksi dan impor beras sesuai dengan
perkiraan dan perencanaan. Hal itu mengemuka dalam Rakor Pengendalian Inflasi
Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta, Senin (29/4). Rapat
yang dipimpin Mendagri Tito Karnavian itu dihadiri perwakilan pemda dan
sejumlah pemangku kepentingan pangan.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, harga
beras terus turun seiring panen raya padi pada Maret-April 2024. Per pekan keempat
April 2024, harga rerata nasional berbagai jenis beras Rp 15.667 per kg atau
turun 2,41 % dibandingkan Maret 2024. Penurunan harga beras tersebut
diperkirakan terus berlanjut hingga Mei 2024 lantaran neraca produksi dan
konsumsi beras bulan itu masih surplus. ”Namun, pada Juni 2024, neraca tersebut
berpotensi defisit karena produksi beras diperkirakan turun. Pemerintah perlu
mewaspadai dan menyiapkan sejumlah langkah antisipasi karena harga beras bisa
naik lagi,” ujarnya. BPS memperkirakan pada Juni 2024, defisit beras berpotensi
terjadi lagi, yakni 0,45 juta ton, lantaran produksi padi berupa gabah kering giling
(GKG) pascapanen raya semakin turun, dari 5,54 juta ton pada Mei 2024 menjadi
3,68 juta ton pada Juni 2024. (Yoga)
Kontroversi Padi Cina di Lahan Gambut 1 Juta Hektare
Pro-Kontra Warnai Rencana Kerja Sama
Proyek pengembangan padi di Kalteng bakal berlanjut setelah
pemerintah memulai kerja sama baru dengan China. Namun, sejumlah pihak khawatir
hal itu hanya akan menambah deretan kisah sumbang dari angan-angan lumbung
pangan di Kalteng. Rencana itu disampaikan Menko Bidang Kemaritiman dan
Investasi Luhut Binsar Pandjaitan di sela Pertemuan Ke-4 High Level Dialogue
and Cooperation Mechanism RI–China di Labuan Bajo, NTT, Jumat (19/4) seperti
dikutip Kompas.com. Luhut menyampaikan telah meminta China memberikan teknologi
menanam padi ke Indonesia. China disebut sukses swasembada pangan. Bahkan,
keinginan itu telah menjadi kesepakatan dan rencananya dimulai pada Oktober
2024.
Mendengar rencana itu, Herianto (48), petani Desa Belanti Siam,
Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, tersenyum kecut. Menurut dia, soal pertanian,
Indonesia tak kalah dari negara lain. Namun, ia menyayangkan persoalan yang
masih menghadang, seperti pupuk subsidi yang sulit didapat petani. ”Saya berharap,
kalau memang ada proyek seperti itu, bisa membuat hidup petani lebih baik,”
kata Herianto, Kamis (25/4).Direktur Save Our Borneo Muhammad Habibi berpendapat,
program-program itu belum bisa membuat Indonesia berdaulat pangan. Masyarakat
hanya mendapat bencana.
Ia khawatir kerja sama dengan China itu menggunakan lahan yang
dipakai food estate, cetak sawah, atau program sejuta gambut. Senator asal
Kalteng, Agustin Teras Narang, menyambut baik rencana itu. Ia berharap kerja
sama itu bisa segera terealisasi. ”Apabila benar dapat direalisasikan dengan terencana,
perlu melibatkan para ahli serta masyarakat atau petani setempat,” ujarnya. Menanggapi
hal itu, Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo menyatakan bakal bergerak cepat
menyiapkan Kalteng sebagai lumbung pangan nasional dan menyambut kerja sama
itu. Sebelumnya, Kementerian Pertanian menggelar program optimalisasi lahan
rawa dan irigasi di 10 kabupaten di Kalteng dengan total 81.000 hektar. (Yoga)
Harga Acuan Gabah Belum Untungkan Petani
Bapanas telah menyesuaikan harga pembelian pemerintah atau
HPP gabah kering panen di tingkat petani dari Rp 5.000 per kg menjadi Rp 6.000
per kg. HPP itu dinilai belum menguntungkan petani. Ketua Umum Asosiasi Bank
Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa, Kamis (25/4) mengatakan,
HPP gabah kering panen (GKP) Rp 6.000 per kg masih di bawah usulan HPP sejumlah
organisasi tani. Usulan HPP tersebut di kisaran Rp 6.500-Rp 7.000 per kg. AB2TI
mengusulkan HPP GKP di tingkat petani Rp 6.900 per kg. Jumlah itu berasal dari biaya
produksi GKP di lahan 1.500 meter persegi sebesar Rp 5.966 per kg dan
keuntungan petani sebesar 15 %.
”Dari biaya produksi GKP saja, petani hanya untung sedikit
sekali. Apalagi jika merujuk pada ambang batas nilai tukar petani tanaman
pangan (NTP TP),” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta. Dwi menjelaskan,
ambang batas NTP TP sebesar 100. Angka itu menunjukkan pendapatan dan pengeluaran
petani sama besar atau tidak untung atau rugi. Dari NTP TP tersebut, harga
wajar GKP Rp 6.035 per kg. Jika Bapanas menetapkan HPP GKP Rp 6.000 per kg, berarti
petani tidak untung. ”Oleh karena itu, kami berharap Bapanas mengoreksi lagi
HPP itu. Angka kompromi antara HPP GKP Bapanas dan usulan sejumlah organisasi
petani adalah Rp 6.450 per kg,” katanya.
Selain HPP GKP, Bapanas juga merelaksasi HET sementara beras
medium dari Rp 10.900-Rp 11.900 per kg menjadi Rp 12.500-Rp 13.500 per kg berdasarkan
zonasi. HET sementara berlaku pada 24 April-31 Mei 2024. Bapanas juga memperpanjang
masa berlaku HPP sementara beras premium Rp 14.900-Rp 15.800 per kg hingga 30
Mei 2024. Bapanas juga sedang menggodok harga acuan penjualan (HAP) daging dan
telur ayam ras. Pada 25 April 2024, Bapanas mengundang pemangku kepentingan di
sektor peternakan ayam dan BPS untuk mendiskusikan HAP tersebut. Dalam
pertemuan itu, harga acuan pembelian jagung pipilan kering berkadar air 15 % di
tingkat petani telah disetujui Rp 5.000 per kg. Harga acuan pembelian itu
meningkat dari sebelumnya Rp 4.200 per kg. (Yoga)
Harga Acuan Beras Medium dan Jagung Dinaikkan
Pemerintah memperpanjang lagi harga eceran tertinggi (HET) beras
premium Rp 14.900 per kg yang berlaku sejak Maret 2024. Harga acuan beras
medium, gabah, dan jagung juga dinaikkan. Hal itu disampaikan Kepala Bapanas
Arief Prasetyo Adi seusai melaporkan kondisi pangan nasional kepada Presiden
Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (24/4). Dalam pertemuan yang
berlangsung pukul 14.45 sampai pukul 15.40 itu, disampaikan bahwa kondisi stok
kebutuhan pangan pokok masih aman. Cadangan pangan pemerintah saat ini 1,3 juta
ton. Kendati harga beras cenderung stabil bahkan turun, Arief mengatakan,
Presiden Jokowi mengarahkan harga di tingkat petani harus dijaga. ”Karena itu,
(Presiden) memerintahkan Bapanas bersama Bulog untuk melakukan off take atau
serap (gabah) karena bulan April ini panennya setara beras 5,5 juta ton,” tutur
Arief seusai pertemuan.
Harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen untuk
penyerapan oleh Bulog juga disesuaikan. ”Harga gabah yang sebelumnya Rp 5.000
kita tetapkan menjadi Rp 6.000,” katanya. Pada 10-23 Maret 2024, HET beras
premium sudah dinaikkan menjadi Rp 14.900. HET tersebut dilanjutkan sampai 31 Mei
2024. HET beras medium, kataArief, ditetapkanRp 12.500 per kg. Keberpihakan
pemerintah HET ini, kata Arief, bisa disesuaikan kembali. Jika panen baik dan
produksi meningkat serta komponen lain, seperti pupuk dan sewa lahan turun, bisa
saja HET diturunkan. Selain beras, harga acuan pembelian (HAP) jagung pipilan
kering di tingkat petani dengan kadar air 15 % juga dinaikkan dari sebelumnya
Rp 4.200 per kg menjadi Rp 5.000 per kg. Hal ini disebut Arief sebagai
keberpihakan pemerintah terhadap petani dan peternak. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









