Pertanian
( 502 )Harga Beras di Jatim Malah Naik saat Panen Melimpah
Dalam kondisi panen melimpah, harga beras di sejumlah daerah di Jatim justru malah naik. Kondisi ini membuat masyarakat terbebani. Ironisnya, petani tak ikut menikmati kenaikan harga beras, karena umumnya telah menjual stok gabah untuk menyiapkan produksi musim tanam padi saat ini. Petani berharap agar pemerintah tak lantas tergoda untuk mengekspor beras. Walakin, pemerintah mengklaim Perum Bulog memiliki cadangan beras hingga 3,7 juta ton. Petani lebih berharap, pemerintah dapat menstabilkan harga beras terlebih dahulu. Sebab, seperti masyarakat umumnya, kini petani juga ikut membeli beras karena stok gabah yang dimiliki telah dijual pada musim panen lalu. Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Pemprov Jatim per Minggu (8/6) menunjukkan, harga rata-rata beras medium di 38 kabupaten/kota mencapai Rp 12.566 per kg.
Untuk beras premium, rata-rata harga Rp 14.667 per kg. Padahal, pertengahan Mei lalu, harga beras medium masih tercatat Rp 12.448 per kg dan beras premium Rp 14.483 per kg. Kenaikan paling tajam terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Selama empat hari terakhir, beras kelas medium naik dari Rp13.250 menjadi Rp 13.500 per kg. Sementara, harga beras premium naik Rp 1.000 per kg dari Rp 15.250 menjadi Rp 16.250 per kg. Padahal, jumlah produksi gabah kering panen (GKP) di Jatim pada Januari-Juni 2025, meningkat dari 6.684.299 ton menjadi 7.529.028 ton atau naik 12,64 %. Produksi gabah kering giling (GKG) pun naik dari 5.559.415 ton menjadi 6.261.989 ton. Adapun produksi beras meningkat dari 3.210.118 ton menjadi 3.615.707 ton dalam periode yang sama. (Yoga)
Kebun Bakal Terbengkalai akibat anjloknya Harga Karet
Harga karet di tingkat petani anjlok dari
Rp13.500 menjadi Rp 10.500 per kg dalam dua bulanterakhir, dipicu gejolak pasar
dunia. Agar penurunan harga tidak terus berlanjut, pemerintah diminta segera
mengantisipasi keadaan ini. ”Dua bulan ini harga karet turun terus. Petanik hawatir
jika harga karet semakin anjlok hingga dibawah Rp 10.000 per kg,” kata
Sungkunen Tarigan, Ketua Kelompok Tani Mbuah Page, di Kabupaten Deli Serdang,
Sumut, Jumat (6/6). Petani sebenarnya sedang bergairah dalam setahun terakhir setelah
harga karet naik hingga Rp14.500 per kg. Merespons kenaikan harga, para petani
bahkan menyadap kembali kebun karet yang sudah lama terbengkalai. Sebelumnya,
Kelompok Tani Mbuah Page hanya bisa mengumpulkan 15 ton karet per dua minggu.
Dengan harga karet yang sempat naik, mereka bisa menghasilkan 30 ton karet, meningkat
dua kali lipat ketimbang sebelumnya.
Harga karet yang kembali anjlok membuat para
petani mengeluh. Jika harga turun hingga di bawah Rp 10.000 per kg, para petani
sudah siap-siap meninggalkan kebun karet dan beralih ke tanaman lain atau
pekerjaan lain. Harga dibawah Rp 10.000 per kg tidak menguntungkan bagi petani dan
buruh tani yang bekerja sebagai penyadap karet. Dengan harga di bawah Rp 10.000
per kg, penyadap karet lebih memilih menjadi buruh bangunan atau pekerjaan
lainnya. Hal itu pernah dialami petani karet beberapa tahun lalu sehingga
banyak kebun terbengkalai. ”Kami berharap harga karet bisa naik lagi,” kata
Sungkunen. Penurunan harga karet pun berpengaruh pada volume ekspor karet Sumut,
yang turun 4 % dari 21.666 ton pada Maret menjadi 20.799 ton pada April 2025. (Yoga)
Demi Lindungi Petani Distribusi Bantuan Beras Diatur
Produksi Padi Karawang Digenjot Dua Kali Lipat
Pemerintah Kabupaten Karawang, melalui Ketua Tim Hortikultura DPKP Asep Saprudin, secara aktif mendorong para petani untuk melakukan program tanam padi sebanyak tiga kali dalam setahun. Langkah ini diambil guna mencapai target produksi gabah kering panen (GKP) sebesar 1,45 juta ton pada tahun 2025, meningkat dari capaian 1,2 juta ton pada tahun sebelumnya.
Program ini merupakan bagian dari strategi ketahanan pangan nasional, terlebih setelah pemerintah pusat menghentikan impor beras tahun ini. Untuk mendukung keberhasilan program tersebut, Pemkab Karawang menyediakan bantuan berupa alat dan mesin pertanian, perbaikan irigasi, bantuan benih, serta distribusi pupuk subsidi yang kini lebih mudah diakses hanya dengan KTP.
Asep juga menegaskan bahwa tanam tiga kali tidak selalu harus berupa padi, tetapi bisa juga sayuran untuk menjaga kesuburan tanah dan mengendalikan hama. Dengan berbagai dukungan tersebut, diharapkan lahan pertanian di Karawang dapat dimanfaatkan secara maksimal demi mendukung program nasional yang kini diprioritaskan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan.
Dana Desa Fleksibel
Kalangan Petani Dukung RI Jadi Eksportir Beras
Petani Kelapa Sawit Tercekik Pungutan Ekspor
Pertanian Cabai secara Hibrida
Petani terlihat sedang menancapkan pasak bambu yang akan dipasangi tali penahan cabai keriting hibrida Santavi di Desa Donotirto, kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Hari Kamis (15/5/2025). Tanaman cabai pada beberapa musim tanam terakhir ini menjadi pilihan petani setempat karena dinilai lebih tahan terhadap penyakit bulai atau virus Gemini. Cabai tersebut dapat dipanen dalam waktu 65 hari dan harga jual di tingkat petani saat ini berkisar Rp 20.000 per kilogram. (Yoga)
Kaltim Pacu Produksi Padi Demi Swasembada
Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menargetkan swasembada beras dalam waktu enam bulan ke depan meskipun saat ini sekitar 60% kebutuhan berasnya masih dipasok dari luar daerah. Dengan populasi sekitar 4,27 juta jiwa dan kebutuhan beras tahunan mencapai 450.000 ton, upaya swasembada ini menjadi prioritas strategis, terutama karena Kaltim merupakan lokasi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai strategi, seperti optimalisasi lahan sawah eksisting seluas 46.640 hektare dan pemanfaatan lahan tidur. Ia menegaskan pentingnya kemandirian pangan dan menyambut arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk mencetak minimal 20.000 hektare sawah baru yang dekat dengan sumber air.
Guna mendorong produktivitas, intensitas tanam akan ditingkatkan hingga dua bahkan tiga kali panen per tahun, dengan dukungan teknologi pertanian modern. Menteri Amran menyampaikan komitmennya mendukung penuh program ini, termasuk pengadaan alat pertanian senilai Rp10 triliun dan bantuan pompa air. Ia menegaskan pertanian di Kaltim harus sepenuhnya termekanisasi agar lebih efisien dan produktif.
Langkah terkoordinasi antara pemerintah pusat dan daerah ini diharapkan menjadi katalisator pencapaian swasembada beras dalam waktu dekat.
Larangan Impor disepakati Petani dan Pengusaha
Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia dan Perkumpulan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia meminta pemerintah pusat mengeluarkan larangan terbatas impor tepung tapioca untuk mengakhiri polemik anjloknya harga singkong dan menjaga keberlanjutan industri tapioka dalam negeri. Ketua Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI) Lampung Dasrul Aswin mengatakan telah mengirimkan surat kepada Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto untuk menerbitkan larangan terbatas impor tepung tapioka. Harapannya, industri diharapkan dapat menyerap singkong petani sesuai harga acuan, yakni Rp 1.350 per kg.
”Kami berharap larangan terbatas itu segera diterbitkan agar industri dapat mengutamakan produksi dalam negeri dan menyerap singkong petani sesuai harga yang telah ditetapkan,” kata Dasrul, Jumat (9/5). Tahun ini, harga singkong di Lampung anjlok hingga Rp 900 per kg. Kondisi itu membuat ratusan petani singkong dan mahasiswa berunjuk rasa di depan kompleks kantor Pemprov Lampung pada Senin (5/5). Setelah didemo, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal menerbitkan Instruksi Gubernur Lampung Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penetapan Harga Ubi Kayu di Provinsi Lampung. Harga singkong ditetapkan Rp 1.350 per kg dengan ketentuan potongan rafaksi maksimal 30 % dan tidak mengukur kadar pati.
Kebijakan itu memperkuat surat Dirjen Tanaman Pangan Kementan No 1180/TP.220/C/05/2025 yang menetapkan harga pembelian ubi kayu petani oleh industri sebesar Rp 1.350 per kg. Meski begitu, kebijakan tersebut belum dipatuhi industri. Setelah terbitnya kebijakan harga acuan pembelian singkong, puluhan pabrik tapioca justru memilih tidak beroperasi sementara waktu. Hingga kini, setidaknya 27 pabrik pengolahan tapioka tutup sementara. Padahal, kata Dasrul, harga pembelian Rp 1.350 per kg dinilai wajar. Dengan asumsi hasil panen berkisar 20-25 ton per hektar, petani singkong hanya mendapatkan keuntungan Rp 15 juta per tahun setelah dipotong biaya tanam dan operasional. (Yoga)
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









