Krisis
( 88 )Konflik Timur Tengah membuat Harga Minyak Dunia Menuju 80 USD
Eskalasi konflik Iran-Israel yang belakangan melibatkan AS, menyebabkan lonjakan harga di pasar minyak dunia. Harga minyak diprediksi akan mencapai 80 USD per barel dalam jangka pendek. Eskalasi konflik juga membuat pasar finansial dunia bergejolak. Minyak mentah WTI pada Senin (23/6) pukul 14.00 mencapai 74,87 USD per barel, naik 1,03 % sejak pembukaan pasar. Harga minyak mentah Brent sudah menyentuh 78 USD per barel, bahkan sempat menyentuh 79 USD per barel, tertinggi sejak Januari 2025. Pengamat komoditas, Sutopo Widodo mengatakan, pemicu utama lonjakan harga minyak mentah dunia adalah serangan AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada akhir pekan. Pergerakan harga ini merupakan reaksi langsungpasar yang cukup agresif terhadap kian panasnya ketegangangeopolitik di Timur Tengah.
Kekhawatiran yang lebih besar muncul terkait ancaman Iran menutup Selat Hormuz. ”Harga minyak akan melonjak ekstrem, berpotensi menembus 100 dollar per barel, bahkan lebih tinggi, memicu inflasi di seluruh dunia dan menyeret ekonomi global dalam resesi,” ungkapnya. Pengamat komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, dalam jangka pendek, harga minyak mentah bisa naik kelevel 80 USD per barel. Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak bisa terus meningkat. Analisis Oxford Economics memperkirakan harga minyak dunia bisa meroket sampai 130 USD per barel dalam situasi itu, jauh di atas asumsi harga minyak mentah di APBN 2025 sebesar 82 USD per barel, yang berdampak pada stabilitas fiskal Indonesia sebagai importir neto minyak. Setiap kenaikan 1 USD harga minyak mengakibatkan pembengkakan belanja negara Rp 10 triliun dan harga minyak 130 USD/barel akan memicu defisit fiskal hingga Rp 330 triliun. (Yoga)
Bersiap Menghadapi Skenario Terburuk akibat serangan AS ke Iran
Menyusul serangan AS terhadap tiga situs nuklir Iran yang disebut Presiden AS, Donald Trump sangat sukses, dunia waswas menunggu perkembangan berikutnya situasi di Timur Tengah, juga reaksi sentimen pasar keuangan global saat perdagangan di berbagai belahan dunia kembali dibuka Senin pekan ini. Campur tangan militer AS dalam konflik Iran-Israel kian memicu kekhawatiran meluasnya konflik Timur Tengah. Dampaknya terhadap pasokan minyak, jalur pelayaran global dan perekonomian dunia juga semakin sulit diprediksi. Hari Minggu (22/6) Iran dilaporkan menembakkan 30 rudal dalam dua gelombang serangan ke Israel. Spekulasi kian meningkat bahwa perang akan semakin tereskalasi, melibatkan kekuatan besar lain, seperti Rusia, China dan negara anggota NATO lain. Semakin lama perang berlangsung akan semakin besar pula kerusakan yang diakibatkannya pada perekonomian global.
Perang tak akan berlangsung singkat. Perang Iran-Israel bukan sekadar konflik regional yang melibatkan dua negara, melainkan perang terbuka yang berpotensi mengguncang ekonomi dunia dan memicu resesi global. Dampaknya: melonjaknya harga energi, disrupsi perdagangan atau terganggunya rantai pasok global gejolak pasar keuangan, serta kian meningkatnya instabilitas dan tensi geopolitik global. Skenario terburuk, jika Iran menghentikan total pasokan minyak mentahnya dan memblokade Selat Hormuz, alur transportasi 30 % pasokan minyak global, maka harga minyak mentah diprediksi mencapai 130 USD per barel, jauh di atas asumsi harga minyak mentah di APBN 2025 sebesar 82 USD / barel. Harga minyak yang tinggi akan memicu lonjakan biaya produksi, transportasi dan energi di sejumlah negara sehingga mendorong inflasi global.
Tekanan inflasi global akan membuat The Fed menunda penurunan suku bunga. Ini akan memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia dan kian menekan nilai tukar rupiah, mengancam daya saing ekspor dan membuat beban utang semakin membengkak. Bagi Indonesia, situasi ini kian menambah tekanan di tengah memburuknya prospek perekonomian dalam negeri yang ditandai dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik dan memburuknya sejumlah indikator ekonomi makro dan sektor riil lainnya. Lonjakan harga minyak akan berdampak pada stabilitas fiskal Indonesia sebagai importir neto minyak. Setiap kenaikan 1 USD harga minyak mengakibatkan pembengkakan belanja negara hingga Rp 10 triliun dan harga minyak 130 USD / barel akan memicu defisit fiskal hingga Rp 330 triliun. (Yoga)
Industri Manufaktur Terancam Konflik Iran-Israel
Eskalasi konflik Iran dan Israel berpotensi melonjakkan biaya produksi dan mengganggu logistik global serta kelancaran rantai pasokan bahan baku. Menurut Menperin, Agus Gumiwang Kartasasmita, dampak konflik Iran-Israel paling terlihat di pasar energi karena Timur Tengah memasok 30 % produksi minyak global. ”Energi bagi industri sangat vital karena tidak hanya sebagai sumber energi produksi, tapi juga sebagai bahan baku dalam proses produksi,” ujar Agus, Kamis (19/6). Pascaperang Iran-Israel harga minyak Brent berfluktuasi antara 73 USD dan 92 USD per barel. Volatilitas harga energi dunia semakin tinggi seiring munculnya ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi urat nadi pasokan energi dunia, yang menangani 30 % pengiriman minyak global. Konflik geopolitik di Timur Tengah juga bisa mengganggu rute perdagangan maritim lainnya di Terusan Suez, yang menangani 10 % perdagangan dunia.
Kondisi ini, bisa berdampak pada berbagai industri manufaktur di Indonesia. Margin laba industri tekstil dan alas kaki, bisa mengalami penyusutan 5-7 % akibat kenaikan biaya logistik. Sektor otomotif dan elektronika yang sebagian besar komponennya bergantung pada impor berpotensi mengalami kerugian ekspor hingga 500 juta USD. Industri nikel dan baja Indonesia juga menghadapi kenaikan biaya transportasi batubara sebesar 15-20 % dan penundaan pengiriman tiga hingga empat minggu. Potensi kerugian ekspornya 1,2 miliar USD. Disektor pangan, Indonesia mengimpor pupuk dan bahan baku pupuk berbasis NPK, seperti fosfat. Sekitar 64 % diantaranya berasal dari Mesir yang terletak di kawasan Timur Tengah. ”Industri nasional harus mulai mengandalkan sumber energi domestik, termasuk energi baru dan terbarukan seperti bioenergi, panas bumi, serta memanfaatkan limbah industri sebagai bahan bakar alternatif,” ujar Agus. (Yoga)
Risiko Ekonomi akibat Konflik Iran-Israel
Pemerintah mewaspadai dampak lanjutan eskalasi ketidakpastian global terhadap perekonomian Indonesia. Perang Iran-Israel, perang dagang AS-China, serta kebijakan fiskal Washington yang ekspansif jadi pemicu pelemahan ekspor, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta lonjakan harga komoditas global. Menkeu Sri Mulyani menyampaikan hal itu pada konferensi pers APBN Kita edisi Juni 2025 dikantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (17/6). Situasi global saat ini membentuk kombinasi risiko yang kompleks, yaitu meningkatnya inflasi di tengah perlambatan ekonomi dunia. ”Risiko bagi Indonesia juga patut diwaspadai. Melemahnya ekonomi global akan berdampak pada barang-barang ekspor Indonesia. Harga komoditas ada yang meningkat tajam, tapi bukan karena factor supply-demand, melainkan akibat disrupsi,” ujarnya. Perang Iran-Israel menyebabkan lonjakan harga minyak 9 % dari kisaran 75 USD per barel hanya dalam tiga hari sebelum terkoreksi ke level 70 USD.
Ketegangan tersebut menimbulkan gejolak pada nilai tukar dan suku bunga global, termasuk Indonesia. Di saat yang sama, AS tengah mendorong kebijakan fiskal ekspansif dengan proyeksi penambahan defisit anggaran lebih dari 10 triliun USD dalam 10 tahun. Tambahan defisit tersebut menimbulkan sentimen negatif terhadap kredibilitas fiskal negara maju, khususnya AS, dan berimbas naiknya imbal hasil surat utang Pemerintah AS (US Treasury). Ketidakpastian global berdampak terhadap aktivitas manufaktur. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur global pada Mei 2025 tercatat 49,6, terendah sejak Desember 2024. Sebanyak 70,8 % negara yang disurvei mengalami kontraksi manufaktur, termasuk Indonesia yang mencatatkan PMI sebesar 47,4. Penurunan aktivitas manufaktur menunjukkan gangguan signifikan pada rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik dan perdagangan. (Yoga)
Peringatan Dini Krisis Ekonomi Kian Nyaring
Sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia sedang mengalami krisis yang serius, ditandai dengan banyaknya perusahaan tekstil yang mengalami kesulitan, seperti PT Sri Rejeki Isman Tbk. (Sritex), yang tengah menghadapi proses pailit. Selain itu, perusahaan lain seperti PT Sejahtera Bintang Abadi Textile (SBAT) dan PT Pan Brothers Tbk. (PBRX) juga mengalami masalah keuangan. Penutupan puluhan pabrik dan tingginya angka PHK menjadi indikasi buruknya kondisi industri ini. Faktor-faktor penyebabnya antara lain proteksi impor yang tidak maksimal, ketegangan geopolitik, dan lemahnya daya beli domestik. Meski pemerintah telah berusaha mengatasi masalah ini dengan kebijakan seperti proteksi impor dan restrukturisasi, hasilnya belum optimal. Pemerintah dinilai perlu lebih serius dalam mengatasi impor ilegal dan memberikan dukungan lebih konkret untuk menyelamatkan industri TPT, termasuk perbaikan regulasi dan penguatan daya saing produk lokal.
Dunia Bergerak Mencegah Peningkatan Krisis Lebanon
Puluhan ribu orang terpaksa mengungsi akibat serangan Israel ke Lebanon. Pemerintah Indonesia tengah berupaya memulangkan WNI yang terdampa mengecam keras serangan Israel ke wilayah Lebanon yang menewaskan warga sipil dan pekerja kemanusiaan. Indonesia mengajak semua negara dan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memberikan respons cepat agar korban sipil tidak terus berjatuhan. Hingga Rabu (25/9/2024), militer Israel masih menggempur sejumlah wilayah di Lebanon dengan alasan memburu anggota Hezbollah. Jet-jet tempur Israel menyerang kota-kota di perbatasan Israel-Lebanon. Presiden Joko Widodo mengatakan telah berkoordinasi untuk pemulangan warga negara Indonesia yang terdampak serangan Israel di Lebanon. ”Saya sudah menelepon Bu Menlu (Retno Marsudi). (Pemulangan WNI) sedang dalam proses,” kata Presiden ketika memberi ketika memberi keterangan pers seusai peresmian.
peletakan batu pertama sejumlah infrastruktur di Ibu Kota Nusantara, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu Indonesia resah dengan perkembangan di Lebanon. Ada 1.200 warga Indonesia menjadi anggota pasukan penjaga perdamaian PBB dan 159 warga sipil Indonesia di Lebanon. ”Kekerasan ini tidak boleh menjadi ’normal baru’. Dewan Keamanan PBB dan masyarakat internasional harus mengambil langkah tegas untuk mendorong deeskalasi dan menghentikan kekerasan,” kata Retno yang tengah berada di New York, Amerika Serikat, untuk mengikuti Sidang Majelis Umum PBB. Israel telah melancarkan lebih dari 7.000 serangan ke Lebanon pada 17-25 September 2024. Setidaknya 4.000 serangan teror dilancarkan dengan meledakkan berbagai perangkat elektronik di Lebanon. Setelah itu, Israel meluncurkan lebih dari 3.000 serangan udara ke Lebanon. Dalam tiga hari terakhir, 591 warga tewas dan ribuan orang cedera akibat serangan Israel. Menteri Kesehatan Lebanon Firras Abiad mengatakan, warga Lebanon sedang dibantai Israel. (Yoga)
Aksi Mogok Pekerja Boeing di Pantai Barat AS
Para pekerja pabrik Boeing di Pantai Barat AS melakukan mogok kerja pada jumat (13/09/2024) setelah menolak kesepakatan kontrak kerja. Aksi tersebut berdampak pada penghentian produksi pesawat jet, sekaligus harus bergulat dengan penundaan produksi yang parah dan utang besar. Krisis yang makin memuncak itu pun memukul saham Boeing dan memicu pergolakan kepemimpinan. Akibatnya, saham Boeing turun 4% dalam perdagangan pra-pasar AS pada Jumat. Saham ini juga telah merosot hampir 38% sejak awal 2024. Menanggapi situasi tersebut, CEO Boeing Kelly Ortberg pun mengusulkan kesepakan termasuk kenaikan gaji sebesar 25% selama empat tahun. Tetapi kenaikan ini jauh lebih rendah daripada yang dituntut oleh 40% pekerja. Sebagai informasi, Ortberg baru saja ditunjuk beberapa minggu lalu untuk memulihkan kepercayaan terhadap perusahaan produsen pesawat ini. Menurut laporan aksi mogok tersebut merupakan yang pertama sejak 2008. Disamping itu, produsen pesawat ini berada di bawah pengawasan ketat regulator dan pelanggan AS setelah sebuah panel pintu terlepas dari jet 737 MAX di udara pada Januari tahun ini. (Yetede)
Deflasi Bertubi-tubi Karena Krisis
Krisis Kejujuran Skandal Guru Besar
Mengatasi Krisis Daya Beli/Konsumsi
Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, khususnya pangan, membuat konsumsi rumah tangga terus tertekan. Daya beli masyarakat terpuruk di tengah pendapatan yang stagnan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi nasional jauh di bawah potensinya. Pertumbuhan konsumsi yang belum pulih sejak pandemi ini memunculkan kekhawatiran para ahli. Mereka mengingatkan, pemerintah tak bisa terus mengandalkan cara konvensional, seperti pengucuran bansos, untuk mendongkrak daya beli. Perlu terobosan baru, yang menembak langsung ke pokok masalah: pendapatan masyarakat. Dalam jangka pendek, kebijakan pengendalian inflasi yang dibarengi gelontoran program perlindungan sosial (perlinsos) mungkin mampu menjadi bantalan sementara masyarakat dari tekanan daya beli.
Dalam, jangka panjang, peningkatan daya beli dan pertumbuhan konsumsi yang berkelanjutan hanya terjadi jika pendapatan juga terus meningkat. Sayangnya beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pendapatan juga tertekan. Rata-rata laju inflasi pangan jauh di atas pertumbuhan pendapatan masyarakat. Banyak kelompok ini terselamatkan karena bansos. Peran bansos sangat penting dalam menekan lonjakan kemiskinan akibat kenaikan harga. Anggaran perlinsos yang terus membengkak dari tahun ke tahun, sementara angka kemiskinan tak turun secara signifikan menunjukkan program ini bukan jawaban tuntas untuk bisa mengentaskan kelompok miskin dari garis kemiskinan secara permanen.
Pertumbuhan ekonomi 5 % selama beberapa tahun terakhir terbukti tak cukup mengangkat taraf ekonomi dan pendapatan kelompok ekonomi bawah, tidak pula cukup untuk menciptakan lapangan kerja bagi 7,86 juta penganggur dan tiga juta angkatan kerja baru per tahun. Pertumbuhan yang terjadi juga tak cukup berkualitas dan tak inklusif karena jumlah tenaga kerja yang bisa diserap terus menurun dan meninggalkan sektor-sektor yang menyerap banyak tenaga kerja. Terobosan baru untuk mengatasi tingginya pengangguran terbuka diperlukan jika kita ingin meningkatkan pendapatan, daya beli, dan konsumsi domestik sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









