Mengatasi Krisis Daya Beli/Konsumsi
Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, khususnya pangan, membuat konsumsi rumah tangga terus tertekan. Daya beli masyarakat terpuruk di tengah pendapatan yang stagnan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi nasional jauh di bawah potensinya. Pertumbuhan konsumsi yang belum pulih sejak pandemi ini memunculkan kekhawatiran para ahli. Mereka mengingatkan, pemerintah tak bisa terus mengandalkan cara konvensional, seperti pengucuran bansos, untuk mendongkrak daya beli. Perlu terobosan baru, yang menembak langsung ke pokok masalah: pendapatan masyarakat. Dalam jangka pendek, kebijakan pengendalian inflasi yang dibarengi gelontoran program perlindungan sosial (perlinsos) mungkin mampu menjadi bantalan sementara masyarakat dari tekanan daya beli.
Dalam, jangka panjang, peningkatan daya beli dan pertumbuhan konsumsi yang berkelanjutan hanya terjadi jika pendapatan juga terus meningkat. Sayangnya beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pendapatan juga tertekan. Rata-rata laju inflasi pangan jauh di atas pertumbuhan pendapatan masyarakat. Banyak kelompok ini terselamatkan karena bansos. Peran bansos sangat penting dalam menekan lonjakan kemiskinan akibat kenaikan harga. Anggaran perlinsos yang terus membengkak dari tahun ke tahun, sementara angka kemiskinan tak turun secara signifikan menunjukkan program ini bukan jawaban tuntas untuk bisa mengentaskan kelompok miskin dari garis kemiskinan secara permanen.
Pertumbuhan ekonomi 5 % selama beberapa tahun terakhir terbukti tak cukup mengangkat taraf ekonomi dan pendapatan kelompok ekonomi bawah, tidak pula cukup untuk menciptakan lapangan kerja bagi 7,86 juta penganggur dan tiga juta angkatan kerja baru per tahun. Pertumbuhan yang terjadi juga tak cukup berkualitas dan tak inklusif karena jumlah tenaga kerja yang bisa diserap terus menurun dan meninggalkan sektor-sektor yang menyerap banyak tenaga kerja. Terobosan baru untuk mengatasi tingginya pengangguran terbuka diperlukan jika kita ingin meningkatkan pendapatan, daya beli, dan konsumsi domestik sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. (Yoga)
Postingan Terkait
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Rendahnya Belanja Produktif Menghambat Pemulihan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023