Pembatasan Impor
( 4 )WTO: Restriksi Dagang Makin Meningkat
Jumlah restriksi atau pembatasan ekspor dan impor di
negara-negara anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) semakin meningkat.
Kondisi itu memperburuk perdagangan global tahun ini dan berpotensi menghambat
laju pertumbuhan sektor tersebut tahun depan. WTO, Kamis (7/12) waktu setempat,
melaporkan, dalam periode 16 Oktober 2022-15 Oktober 2023, terdapat 193
pembatasan perdagangan barang. Dari total tersebut, dua di antaranya berupa
restriksi ekspor sebanyak 99 pembatasan (51 %) dan impor 93 pembatasan (48 %).
Total nilai pembatasan barang ekspor dan impor itu 337,1 miliar USD, meningkat
dibandingkan medio Oktober 2021-medio Oktober 2022 yang mencapai 278 miliar USD.
Pembatasan ekspor dilakukan untuk mengamankan stok dan kebutuhan dalam negeri,
sedangkan pembatasan impor terutama guna melindungi produk dan industri
domestik. Restriksi ekspor pangan, pakan, dan pupuk juga masih banyak, yakni 75
pembatasan dari 122 tindakan serupa yang muncul sejak perang Rusia-Ukraina pada
Februari 2022.
Negara-negara yang membatasi ekspor komoditas-komoditas itu,
antara lain, Rusia dan Ukraina (pupuk dan gandum); India, Mesir, dan Kirgistan
(beras); serta Maroko (bawang, tomat, dan kentang). Sementara itu, dalam periode
yang sama, langkah-langkah fasilitasi perdagangan justru turun dari 406 upaya
menjadi 303 upaya. Total nilai barang yang diurai hambatan perdagangannya juga
turun dari 1.160,5 miliar USD menjadi 977,2 miliar USD. Dirjen WTO Ngozi
Okonjo-Iweala mengatakan, di tengah upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
perdagangan global pascapandemi Covid-19, fasilitasi perdagangan sangat penting
dilakukan. Melalui fasilitasi dagang itu, semua negara dapat mengakses berbagai
jenis komoditas global, terutama pangan, pakan, dan pupuk. Fasilitasi
perdagangan juga dapat menekan biaya ekspor dan impor serta menjadi alat
berharga melawan tekanan inflasi. Oleh karena itu, restriksi ekspor
komoditas-komoditas penting, termasuk pangan, perlu dihapus. (Yoga)
Buwas: Tiga Tahun Berturut-turut Indonesia Tidak Impor Beras
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menegaskan, Indonesia tidak melakukan impor beras untuk memenuhi kebutuhan domestik, khusunya sebagai cadangan beras pemerintah (CBP), selama tiga tahun berturut-turut atau sejak 2019. Bulog mengandalkan produksi petani dalam negeri untuk memenuhi stok CBP. Hingga minggu ketiga Desember, Bulog telah menyerap 1,20 juta ton beras petani. Budi Waseso yang akrab dipanggil Buwas menambahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), prakiraan produksi beras nasional pada triwulan 1-2022 sebesar 11,16 juta ton. Selain menjaga stabilitas harga ditingkat petani, sepanjang 2021, Bulog juga berperan penting dalam menjaga stabilitas harga beras ditingkat konsumen dengan melaksanakan operasi pasar atau KPSH (Ketersediaan pasokan dan stabilitas harga). (Yetede)
Penarikan Devisa, Presiden Minta Kementerian/Lembaga Serius Bekerja
Perkenomian Nasional, Komite Stabilitas Sistem Keuangan: Risiko Kurs Korporasi Terkendali
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023


