Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memicu lonjakan harga minyak global yang berpotensi menekan fiskal Indonesia. Sepanjang Juni, harga minyak WTI sudah melonjak 22,28% dan Brent 21,60%, meski masih di bawah asumsi Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 82 per barel.
M. Rizal Taufiqurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, menilai kenaikan harga minyak menjadi risiko terbesar bagi APBN karena struktur energi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dan elpiji. Jika harga terus naik, anggaran subsidi energi yang sudah dialokasikan Rp 203,4 triliun untuk 2025 berpotensi membengkak lebih jauh, menekan ruang fiskal, meningkatkan inflasi, dan melemahkan daya beli masyarakat kelas bawah.
Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menekankan bahwa ketegangan geopolitik juga menimbulkan tekanan pada nilai tukar rupiah. Jika konflik berlarut, rupiah bisa semakin melemah, memicu capital outflow dari pasar obligasi, serta meningkatkan volatilitas pasar valas. Perhitungannya, setiap kenaikan ICP US$ 1 per barel menambah defisit APBN Rp 6,9 triliun, dan pelemahan rupiah Rp 100 per dolar AS menambah defisit Rp 3,4 triliun.
Bertu Merlas, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB, menegaskan bahwa kenaikan harga minyak bisa membebani anggaran subsidi BBM sehingga ruang belanja produktif semakin sempit. Efek berantai lainnya adalah kenaikan harga bahan baku dan biaya distribusi industri yang bisa menekan daya beli masyarakat.
Namun, Deni Surjantoro, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, menilai tekanan pasar keuangan domestik sejauh ini masih dalam batas wajar. Pemerintah mengandalkan APBN sebagai shock absorber melalui subsidi dan kompensasi untuk menahan tekanan inflasi dari harga BBM. Meski demikian, pemerintah tetap waspada dan menyiapkan langkah mitigasi dengan sinergi kebijakan pusat-daerah serta koordinasi fiskal, moneter, dan sektor keuangan untuk menghadapi risiko berkelanjutan dari konflik Timur Tengah.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023