;

Strategi Petani NTT Cegah Gagal Panen

Ekonomi Yoga 19 May 2024 Kompas
Strategi Petani NTT
Cegah Gagal Panen

Potret gagal panen terlihat di sejumlah wilayah NTT sepekan terakhir hingga Sabtu (18/5). Wilayah yang didatangi mulai dari Kabupaten Rote Ndao, Sikka, Flores Timur, hingga Lembata. Noviana Lete (43), warga Desa Obafok, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, menuturkan, hasil panen padi tadah hujan tahun ini di bawah 2 ton gabah kering giling per hektar. Secara nasional, rata-rata produktivitas padi per hektar mencapai 5,5 ton gabah kering giling. ”Masalahnya hujan tidak jelas. Setelah hujan satu minggu, kami pikir sudah masuk musim tanam sehingga kami mulai tanam. Nyatanya setelah kami tanam, hujan tidak turun lagi selama berminggu-minggu,” kata Noviana.

Minimnya air diperparah dengan kesulitan mereka mengakses pupuk bersubsidi. Banyak kendala, mulai dari alokasi kuota, proses administrasi oleh pemerintah, hingga penebusan pupuk di level kios dan distribusi ke petani. Ketersediaan pupuk yang minim membuat banyak tanaman kerdil dan tidak berproduksi maksimal. Banyak gabah yang hampa tanpa isi. Untuk mengatasi kondisi semacam itu, di Maumere, Kabupaten Sikka, Yance Maring (35) mempraktikkan sistem pertanian menggunakan irigasi tetes pada tanaman hortikultura. Sistem tersebut dipelajari Yance ketika melakukan studi pertanian di Israel beberapa tahun silam.

Dengan irigasi tetes, air mengalir lewat selang kemudian menetes di setiap tanaman. Satu tetes per detik. Satu tanaman membutuhkan 250 mililiter air setiap hari. Dengan sistem irigasi tetes, penggunaan air untuk tanaman lebih efisien, tetapi presisi sehingga efektif mengairi tanaman. Dalam hitungannya, efisiensi air hingga 40 % jika dibandingkan dengan pengairan secara konvensional. Yance menganjurkan penggunaan pupuk berimbang dengan memperbanyak pupuk organik sebelum penanaman. Pupuk organik diambil dari kotoran ternak seperti ayam dan kambing. Selanjutnya, petani bisa menggunakan pupuk kimia secara bertahap. Yance menggunakan pupuk nonsubsidi.

Di Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, petani mempraktikkan tanaman pangan bervariasi dengan memperbanyak pangan lokal, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, dan pisang. Tanaman itu bisa tahan terhadap panas dibandingkan dengan padi dan jagung. Ini jadi pelajaran. Kami akan perbanyak tanam pangan lokal untuk makanan sehari-hari,” kata Servince Seus (65), petani setempat. Di Flores Timur, Maria Loretha, perempuan petani, konsisten mendorong tanaman sorgum yang dianggap cocok untuk daerah itu. Ia mengampanyekan konsumsi sorgum sebagai pengganti beras. Dari sisi kesehatan, sorgum lebih rendah gula dibandingkan beras. ”Seharusnya kondisi ini membuat sadar petani untuk mengolah tanaman pangan yang cocok di daerah mereka,” kata Loreta. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :