;

Paradoks kondisi kesejahteraan petani

Ekonomi Yoga 14 Oct 2024 Kompas
Paradoks
kondisi kesejahteraan petani
Sekitar 48,86 persen rumah tangga miskin di ndonesia menjadikan sektor pertanian sebagaitumpuan nafkahnya. Sektor pertanian juga menampung hampir sepertiga (28,21 persen) penduduk Indonesia yang bekerja. Sebuah paradoks dengan kondisi kesejahteraan petani tergambar dari kinerja produksi padi nasional. Kerja keras petani yang merupakan penghasil pangan bagi 270 juta jiwa lebih penduduk Indonesia membuahkan hasil manis dan mendapat apresiasi secara internasional pada bulan kemerdekaan dua tahun lalu. Pada Agustus 2022, Indonesia memperoleh penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) karena telah berhasil mencapai swasembada beras.

Tahun setelah penghargaan itu diterima adalah tahun yang berat untuk mempertahankan volume produksi padi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data, produksi padi nasional tahun 2023 mencapai 53,98 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini turun 1,4 persen dibandingkan 2022 yang mencapai 54,75 juta ton GKG atau turun 1,4 persen. Diperlukan strategi untuk mengatasi penurunan ini agar tak terjadi lagi pada 2024. Meskipun alarm penurunan sebenarnya sudah terlihat pada realisasi produksi padi pada periode subround 1 2024 (Januari-April) yang tumbuh negatif 17,54 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2023, masih ada peluang untuk menggenjot produksi di dua subround selanjutnya hingga akhir 2024.

Teknologi pertanian perlu sentuhan teknologi untuk memitigasi kondisi alam yang kadang tidak sejalan dengan fase pertumbuhan padi. Pertanyaannya, seberapa banyak berbagai hasil riset mengenai teknologi pertanian telah diadopsi oleh petani? Diperlukan suatu lembaga yang dapat menjembatani kebermanfaatan hasil riset ilmiah itu hingga sampai ke tangan petani dengan bahasa sederhana. BPS mencatat pertanian Indonesia lewat Sensus Pertanian setiap sepuluh tahun sekali. Banyak informasi bisa direfleksikan dari pencatatan SensusPertanian. Pada Sensus Pertanian 2023, terdapat sekitar 59,53 persen petani yang terjaring kedalam petani milenial, yaitu berusia 19-39 tahun dan/atau menggunakan teknologi digital dalam proses pertaniannya. (Yoga)

Tags :
#Pertanian
Download Aplikasi Labirin :