Investasi lainnya
( 1326 )Danantara Suntik Pendanaan ke PT Garuda Indonesia Rp 6,65 T
Pemerintah akan Menjaga Laju Invetasi Asing
Pemerintah Perlu Mengkaji Ulang Rencana untuk Merenovasi Dua Juta Rumah
Indonesia Genjot Investasi Pusat Data hingga 2 GW Dalam Dua Tahun Kedepan
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membuka peluang selebar-lebarnya bagi investasi pusat data (data center) di Tanah Air. Investasi ini akan menjadi bagian penting dari upaya percepatan transformasi digital nasional. Upaya ini juga seiring dengan proyeksi kebutuhan pusat data Indonesia yang diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2 gigawatt (GW) dalam dua tahun ke depan. Jika target ini tercapai, Indonesia berpotensi besar menjadi pusat data digital (digital data hub) utama di kawasan Asia Tenggara (Asean). Adapun saat ini, ketersediaan kapasitas pusat data disebut baru sekitar 290 megawatt (MW). Hingga akhir 2025, Pemerintah menargetkan untuk meningkatkan kapasitas pusat data hingga 900 MW. Sebagai perbandingan kapasitas pusat data Malaysia saat ini sekitar 400 MW.
"Kami berharap tingkat kepercayaan investor, baik dari dalam maupun luar negeri, terus meningkat untuk mendukung ekosistem infrastruktur digital nasional yang tangguh dan inklusif," kata Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. Terkait minat investor global dalam investasi pusat data di Indonesia. Indonesia berhasil mengamankan komitmen jumlah investasi pusat data senilai US$ 2,3 miliar (sekitar Rp37 triliun) oleh perusahaan EDGNEX yang berasal dari Dubai, Qatar, belum lama ini. Investasi EDGNEX ini akan digunakan untuk membangun infrastruktur pusat data modern di atas lahan seluas 12 hektare di kawasan industri Cikarang. Fase awal proyek ditargetkan rampung pada 2026 dan akan terus berkembang hingga 2028. (Yetede)
Ketegangan AS–Iran Tekan Sentimen Pasar Global
Danantara Melakukan Konsolidasi Perusahaan Asuransi Milik BUMN
Ri-Rusia Teken Sejumlah Dokumen Kerjasama Transportasi dan Pendidikan
Tuntaskan PR Penggangu Terciptanya Kepastiaan Berusaha
Berburu Saham Murah CDIA
Aksi penawaran umum perdana (public initial offering/IPO) saham PT Chandra Daya Investasi atau CDIA menjadi salah satu IPO calon emiten raksasa (lighthouse) yang akan banyak diburu tahun ini. Membandroli harga IPO sebesar Rp170-190 per saham, valuasi CDIA dinilai murah. Valuasi murah CDIA ini terefleksi setelah membandingkan dengan emiten sejenis industri seperti saham HGII, PGEO, bahkan saham emiten sesama Grup Barito seperti BREN yang rata-rata valuasinya premium. Sebut misalnya, price-to-earning ratio (PER) rata-rata industri di 14,5x. Belum lagi, price-to-sale value (PBV) CDIA yang berada di 1,5x-1,6x, lebih rendah ketimbang rata-rata industri di 18,3x.
Sementara dilihat dari net profit margin (NPM), CDIA berada di 30% atau lebih tinggi daripada industri yang rata-rata di 21%. Kemudian, return on equity (RoE) sebesar 3% alias di bawah industri yang 9%, dan debt-to-equity ratio CDIA berada di 0,37x, jauh dibawah rata-rata industri yang berada 1,6x, sebagaimana Indonesia (KSI) yang disusun Analis Senior KSI Sukarno Alatas, Kamis (19/6/2026). Sebaliknya, jika dikomparasikan dengan PER saham lain yang tercatat di IHSG, PER Chandra Daya Investasi terbilang premium. Karena umumnya PER perubahaan lain yang sudah tercatat di BEI berada di 10-20x. Merujuk pada riset Agloresearch, valuasi IPO CDIA yang PER-nya dihargai tinggi oleh pasar. Ini tidak lepas dari prospek CDIA yang dipandang menjanjikan. (Yetede)
Pemerintah Serap Dana Senilai Rp 30 Triliun dari lelang delapan seri SBN
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









