Investasi lainnya
( 1334 )Pemerintah Tawarkan Sukuk Ritel SR024, Alternatif Investasi Aman di Tengah Dinamika Global
JAKARTA – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal
Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan kembali membuka
penawaran instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel seri SR024. Masa
penawaran instrumen investasi ini berlangsung mulai 6 Maret hingga 15 April
2026.
Penerbitan SR024
merupakan bagian dari strategi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) sekaligus upaya pendalaman pasar keuangan domestik. Di tengah
volatilitas pasar global, pemerintah menawarkan instrumen lindung nilai (safe haven) dengan tingkat imbal
hasil (kupon) tetap yang kompetitif, yakni sebesar 5,55% per tahun untuk tenor
3 tahun (SR024T3) dan 5,90% per tahun untuk tenor 5 tahun (SR024T5).
Berikut adalah analisis
daya tarik SR024 dibandingkan instrumen investasi lainnya di pasar saat ini:
1. Tingkat Imbal Hasil yang Kompetitif
Dibandingkan SBN Sebelumnya
Kupon yang ditawarkan pada seri SR024 tercatat
lebih tinggi dibandingkan seri Surat Berharga Negara (SBN) ritel pendahulunya.
Sebagai perbandingan, pada seri ORI029 yang masa penawarannya ditutup pada
Februari 2026, pemerintah menetapkan kupon sebesar 5,45% (tenor 3 tahun) dan
5,80% (tenor 6 tahun).
Selain memberikan selisih imbal hasil (premium spread) yang lebih tinggi
dan melampaui seri ST015 serta ORI028, SR024 juga menawarkan durasi penguncian
dana (tenor) yang lebih singkat untuk imbal hasil maksimal (5 tahun berbanding
6 tahun pada ORI029). Hal ini menunjukkan langkah proaktif pemerintah dalam
merespons kenaikan yield
obligasi di pasar sekunder guna menjaga minat investor ritel.
2. Keunggulan Imbal Hasil Bersih (Net Yield) di Atas Deposito
Jika dikomparasikan dengan deposito perbankan,
SR024 menawarkan imbal hasil yang lebih optimal. Saat ini, rata-rata tingkat
bunga deposito perbankan, khususnya pada bank BUMN, berada di kisaran 4%
(sesuai tingkat bunga penjaminan LPS).
Keunggulan SR024 juga
terlihat dari aspek perpajakan. Pajak atas imbal hasil SBN ritel hanya
dikenakan sebesar 10%, lebih rendah dibandingkan pajak bunga deposito yang
mencapai 20%. Melalui skema net
yield, investasi pada SR024 memberikan imbal hasil bersih yang lebih
tinggi, yang dibayarkan pada tanggal 10 setiap bulannya. Pembayaran pokok dan
kupon investasi ini juga dijamin 100% oleh Undang-Undang.
3. Likuiditas Terjaga di Pasar Sekunder (Tradable)
Berbeda dengan instrumen Savings Bond Ritel (SBR) atau
Sukuk Tabungan (ST) yang bersifat non-tradable, SR024 merupakan instrumen yang dapat
diperdagangkan di pasar sekunder (tradable). Instrumen tanpa warkat (scripless) ini dapat mulai
diperjualbelikan pada 11 Mei 2026, setelah melewati masa tunggu minimum (minimum holding period).
Bagi investor dengan
profil risiko agresif, status tradable
ini memberikan peluang untuk memperoleh keuntungan modal (capital gain) jika harga sukuk
mengalami kenaikan di pasar sekunder. Sementara itu, bagi investor konservatif,
SR024 dapat disimpan hingga jatuh tempo (hold to maturity) sebagai instrumen pendapatan pasif
(passive income) bulanan
yang stabil terhadap fluktuasi harga.
4. Kepatuhan Prinsip Syariah dan Kontribusi
Pembangunan Riil
SR024 diterbitkan menggunakan akad Ijarah Asset to be Leased,
sehingga memenuhi prinsip syariah dan bebas dari unsur riba, maysir (judi),
serta gharar (ketidakpastian). Hal ini memberikan kepastian hukum dan
ketenangan bagi basis investor syariah di Indonesia.
Aset dasar (underlying asset) yang digunakan meliputi Barang
Milik Negara (BMN) dan berbagai proyek atau kegiatan kementerian yang tercantum
dalam APBN 2026. Dengan minimum investasi mulai dari Rp1 juta, masyarakat termasuk
generasi Milenial dan Gen Z yang mendominasi porsi pembelian SBN
sebelumnya, dapat berkontribusi secara langsung dalam pembiayaan pembangunan
infrastruktur nasional, seperti jalan, jembatan, hingga fasilitas pendidikan.
Pemerintah telah menunjuk 32 mitra distribusi
(midis) resmi, yang terdiri dari bank umum konvensional (seperti BCA, Mandiri,
BNI), bank syariah (seperti BSI), hingga platform teknologi finansial (fintech) seperti Bareksa dan
Bibit. Mengacu pada keberhasilan penjualan ORI029 yang mampu menyerap dana
hingga Rp14,44 Triliun di tengah ketidakpastian awal tahun, SR024 diproyeksikan
akan mendapat respons positif yang serupa dari pasar domestik sebelum masa
penawaran berakhir pada 15 April mendatang.
Pemerintah Tawarkan Sukuk Ritel SR024, Alternatif Investasi Aman di Tengah Dinamika Global
JAKARTA – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal
Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan kembali membuka
penawaran instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) ritel seri SR024. Masa
penawaran instrumen investasi ini berlangsung mulai 6 Maret hingga 15 April
2026.
Penerbitan SR024
merupakan bagian dari strategi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) sekaligus upaya pendalaman pasar keuangan domestik. Di tengah
volatilitas pasar global, pemerintah menawarkan instrumen lindung nilai (safe haven) dengan tingkat imbal
hasil (kupon) tetap yang kompetitif, yakni sebesar 5,55% per tahun untuk tenor
3 tahun (SR024T3) dan 5,90% per tahun untuk tenor 5 tahun (SR024T5).
Berikut adalah analisis
daya tarik SR024 dibandingkan instrumen investasi lainnya di pasar saat ini:
1. Tingkat Imbal Hasil yang Kompetitif
Dibandingkan SBN Sebelumnya
Kupon yang ditawarkan pada seri SR024 tercatat
lebih tinggi dibandingkan seri Surat Berharga Negara (SBN) ritel pendahulunya.
Sebagai perbandingan, pada seri ORI029 yang masa penawarannya ditutup pada
Februari 2026, pemerintah menetapkan kupon sebesar 5,45% (tenor 3 tahun) dan
5,80% (tenor 6 tahun).
Selain memberikan selisih imbal hasil (premium spread) yang lebih tinggi
dan melampaui seri ST015 serta ORI028, SR024 juga menawarkan durasi penguncian
dana (tenor) yang lebih singkat untuk imbal hasil maksimal (5 tahun berbanding
6 tahun pada ORI029). Hal ini menunjukkan langkah proaktif pemerintah dalam
merespons kenaikan yield
obligasi di pasar sekunder guna menjaga minat investor ritel.
2. Keunggulan Imbal Hasil Bersih (Net Yield) di Atas Deposito
Jika dikomparasikan dengan deposito perbankan,
SR024 menawarkan imbal hasil yang lebih optimal. Saat ini, rata-rata tingkat
bunga deposito perbankan, khususnya pada bank BUMN, berada di kisaran 4%
(sesuai tingkat bunga penjaminan LPS).
Keunggulan SR024 juga
terlihat dari aspek perpajakan. Pajak atas imbal hasil SBN ritel hanya
dikenakan sebesar 10%, lebih rendah dibandingkan pajak bunga deposito yang
mencapai 20%. Melalui skema net
yield, investasi pada SR024 memberikan imbal hasil bersih yang lebih
tinggi, yang dibayarkan pada tanggal 10 setiap bulannya. Pembayaran pokok dan
kupon investasi ini juga dijamin 100% oleh Undang-Undang.
3. Likuiditas Terjaga di Pasar Sekunder (Tradable)
Berbeda dengan instrumen Savings Bond Ritel (SBR) atau
Sukuk Tabungan (ST) yang bersifat non-tradable, SR024 merupakan instrumen yang dapat
diperdagangkan di pasar sekunder (tradable). Instrumen tanpa warkat (scripless) ini dapat mulai
diperjualbelikan pada 11 Mei 2026, setelah melewati masa tunggu minimum (minimum holding period).
Bagi investor dengan
profil risiko agresif, status tradable
ini memberikan peluang untuk memperoleh keuntungan modal (capital gain) jika harga sukuk
mengalami kenaikan di pasar sekunder. Sementara itu, bagi investor konservatif,
SR024 dapat disimpan hingga jatuh tempo (hold to maturity) sebagai instrumen pendapatan pasif
(passive income) bulanan
yang stabil terhadap fluktuasi harga.
4. Kepatuhan Prinsip Syariah dan Kontribusi
Pembangunan Riil
SR024 diterbitkan menggunakan akad Ijarah Asset to be Leased,
sehingga memenuhi prinsip syariah dan bebas dari unsur riba, maysir (judi),
serta gharar (ketidakpastian). Hal ini memberikan kepastian hukum dan
ketenangan bagi basis investor syariah di Indonesia.
Aset dasar (underlying asset) yang digunakan meliputi Barang
Milik Negara (BMN) dan berbagai proyek atau kegiatan kementerian yang tercantum
dalam APBN 2026. Dengan minimum investasi mulai dari Rp1 juta, masyarakat termasuk
generasi Milenial dan Gen Z yang mendominasi porsi pembelian SBN
sebelumnya, dapat berkontribusi secara langsung dalam pembiayaan pembangunan
infrastruktur nasional, seperti jalan, jembatan, hingga fasilitas pendidikan.
Pemerintah telah menunjuk 32 mitra distribusi
(midis) resmi, yang terdiri dari bank umum konvensional (seperti BCA, Mandiri,
BNI), bank syariah (seperti BSI), hingga platform teknologi finansial (fintech) seperti Bareksa dan
Bibit. Mengacu pada keberhasilan penjualan ORI029 yang mampu menyerap dana
hingga Rp14,44 Triliun di tengah ketidakpastian awal tahun, SR024 diproyeksikan
akan mendapat respons positif yang serupa dari pasar domestik sebelum masa
penawaran berakhir pada 15 April mendatang.
RI Tetap "On Track": IMF Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh Konsisten 5,1% hingga 2027
JAKARTA – Di tengah
kondisi ekonomi global yang saat ini tengah dibayangi oleh tarikan kekuatan
yang saling bertolak belakang, Indonesia tampak berhasil menemukan pijakan yang
kokoh untuk beberapa tahun ke depan. Laporan terbaru dari Dana Moneter
Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook (WEO) Update edisi
Januari 2026 membawa kabar yang sangat optimis bagi Tanah Air. Sementara banyak
negara maju saat ini sedang berjuang keras menghadapi berbagai hambatan
struktural yang kompleks, ekonomi Indonesia justru diproyeksikan tetap melaju
stabil di jalur pertumbuhan yang sangat positif.
Titik Terang di Kawasan Asia
Proyeksi terbaru ini menunjukkan
bahwa ekonomi Indonesia bukan sekadar mampu bertahan di tengah ketidakpastian,
melainkan juga menunjukkan tren penguatan yang terukur. IMF memperkirakan bahwa
Produk Domestik Bruto (PDB) riil Indonesia akan tumbuh secara konsisten sebesar
5,1% pada tahun 2026 dan diprediksi akan mempertahankan angka yang sama kuatnya
pada tahun 2027. Menariknya, angka-angka pertumbuhan ini mencerminkan adanya
revisi naik masing-masing sebesar 0,2 poin persentase untuk tahun 2026 dan 0,1
poin persentase untuk tahun 2027 jika dibandingkan dengan ramalan yang
dikeluarkan oleh IMF pada bulan Oktober tahun lalu.
Stabilitas pertumbuhan yang
ditunjukkan oleh Indonesia ini menjadi sebuah kontras yang sangat menarik jika
diletakkan dalam konteks regional, khususnya di dalam kelompok negara ASEAN-5
yang meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Secara
kolektif, kelompok negara ini diprediksi hanya akan tumbuh rata-rata sebesar 4,4%
pada tahun 2026 dan melandai ke angka 4,2% pada tahun berikutnya. Dengan
proyeksi 5,1% tersebut, Indonesia secara efektif memposisikan dirinya sebagai
salah satu motor penggerak utama pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara, jauh
melampaui rata-rata pertumbuhan kawan-kawan regionalnya.
Berkah Komoditas Non-Bahan
Bakar
Salah satu faktor pendorong utama
yang sangat relevan bagi Indonesia adalah dinamika harga komoditas global yang
diprediksi akan mengalami pergeseran tajam. Meskipun harga komoditas energi,
seperti minyak bumi, diproyeksikan bakal lesu dengan perkiraan penurunan harga
mencapai 8,5% pada tahun 2026, sektor komoditas non-bahan bakar justru
menunjukkan arah cerita yang berbeda. IMF memprediksi bahwa harga komoditas
non-bahan bakar secara global justru akan melonjak hingga 7,5% pada tahun 2026.
Bagi Indonesia, yang memiliki
portofolio ekspor yang sangat kuat di sektor pertanian dan mineral, kenaikan
harga ini merupakan peluang emas yang sangat berharga untuk memperkuat neraca
perdagangan nasional. Di saat harga minyak mentah dunia diperkirakan akan terus
menurun akibat permintaan global yang cenderung lemah dan pasokan yang tetap
kuat, lonjakan harga di sektor non-bahan bakar ini diharapkan dapat menjadi
bantalan yang sangat krusial bagi penerimaan negara. Hal ini tentu memberikan
ruang napas fiskal yang lebih lega bagi pemerintah dalam mengelola berbagai
program pembangunan nasional.
Arus Teknologi Asia sebagai
"Angin Buritan"
Laporan IMF juga menyoroti
fenomena "angin buritan" atau kekuatan pendorong yang berasal dari
sektor teknologi global. Kawasan Asia saat ini tercatat sedang menikmati
pertumbuhan yang sangat pesat dalam arus perdagangan terkait produk-produk teknologi,
yang secara efektif berhasil menutupi perlambatan momentum ekspor di kategori
produk-produk lainnya. Indonesia, yang termasuk dalam klasifikasi data
teknologi Asia oleh IMF, berada di posisi yang sangat diuntungkan oleh lonjakan
investasi global di bidang kecerdasan buatan (AI) serta pengembangan
infrastruktur digital yang masif.
IMF mencatat bahwa investasi
terkait teknologi ini telah menjadi pendorong pertumbuhan yang signifikan,
terutama di kawasan Amerika Utara dan Asia. Bagi Indonesia, ini berarti ada
peluang besar untuk terintegrasi jauh lebih dalam ke dalam rantai pasok teknologi
global, terutama pada saat ekonomi dunia sedang giat mencari titik-titik
pertumbuhan baru di luar pasar tradisional yang mulai menunjukkan tanda-tanda
jenuh. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mendorong transformasi ekonomi
yang lebih berbasis pada inovasi dan nilai tambah tinggi.
Waspada Risiko Geopolitik dan
Kebijakan Global
Meskipun awan cerah melingkupi
proyeksi pertumbuhan, IMF memberikan catatan peringatan yang sangat serius
mengenai berbagai risiko yang masih mengintai di balik layar. Ketegangan
perdagangan tetap menjadi ancaman utama; walaupun gencatan perang dagang antara
Amerika Serikat dan China berhasil menenangkan suasana dengan penundaan tarif
bilateral hingga November 2026, ketidakpastian kebijakan ini tetap berada pada
level yang tinggi dan sewaktu-waktu dapat memicu gangguan mendadak pada rantai
pasok global. Di sisi lain, bayang-bayang tensi geopolitik yang kian memanas,
baik di Timur Tengah, Ukraina, maupun wilayah Asia sendiri, berpotensi memicu
kejutan pasokan negatif yang besar, menghambat rute pengiriman utama, dan
meningkatkan biaya logistik secara signifikan. Selain ancaman fisik dan
politik, terdapat risiko yang lebih modern berupa potensi koreksi pasar
keuangan global jika ekspektasi terhadap produktivitas AI ternyata meleset dari
kenyataan. IMF memperingatkan bahwa ledakan spekulasi ini bisa meletus kapan
saja, memperketat kondisi pendanaan internasional, dan secara otomatis
memberikan tekanan berat pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,
dalam mengelola stabilitas ekonominya.
Menjaga "Napas"
Fiskal dan Reformasi Struktural
Sebagai rekomendasi bagi para pembuat kebijakan, termasuk di lingkungan Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak, IMF sangat menekankan pentingnya membangun kembali cadangan fiskal (fiscal buffers). Dengan proyeksi bahwa utang publik global akan menembus angka 100% dari PDB dunia pada akhir dekade ini, menjaga disiplin fiskal menjadi sangat penting untuk memastikan ketahanan makroekonomi jangka panjang bagi setiap negara. Komitmen terhadap konsolidasi fiskal yang kredibel akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Selain itu, IMF juga mendorong percepatan reformasi struktural untuk terus meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi secara permanen. Langkah-langkah ini mencakup peningkatan keterampilan tenaga kerja, pengurangan berbagai hambatan mobilitas tenaga kerja, serta penyederhanaan regulasi bisnis guna mendorong iklim inovasi yang lebih sehat. Bagi Indonesia, mempertahankan angka pertumbuhan 5,1% bukan hanya soal menjaga angka di atas kertas, melainkan soal bagaimana memanfaatkan momentum stabilitas ini untuk melakukan transformasi ekonomi yang lebih dalam sebelum dinamika global kembali berubah di masa depan. Kewaspadaan terhadap guncangan eksternal tetap menjadi kunci utama agar target pertumbuhan ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat secara merata.
Diplomasi Modal Danantara: Mengamankan Kepercayaan Global dan Ekspansi di Makkah
JAKARTA, 13 Februari 2026 – Di tengah ketidakpastian
ekonomi global, Danantara Indonesia berhasil memposisikan diri sebagai entitas
investasi yang kredibel di mata dunia. Danantara Investment Management (DIM)
baru saja mengantongi peringkat Long-Term Foreign Currency 'BBB'
dengan outlook stabil dari lembaga pemeringkat internasional,
Fitch Ratings. Peringkat ini disetarakan dengan sovereign rating Republik
Indonesia, yang menegaskan peran strategis DIM sebagai lengan investasi negara.
Kredibilitas ini membuahkan hasil
nyata dalam bentuk aliran pendanaan luar negeri. Pada November 2025, DIM
menandatangani perjanjian Fasilitas Kredit Bergulir (Revolving Credit
Facility) senilai USD 10 miliar dengan dukungan bank-bank internasional
seperti DBS, HSBC, Standard Chartered, dan UOB.
Aliansi
dengan SWF Dunia
Danantara
juga aktif membangun Joint Fund melalui kolaborasi dengan berbagai Sovereign
Wealth Fund (SWF) global. Komitmen pendanaan yang berhasil dihimpun
meliputi:
- Qatar Investment Authority (QIA): USD 4 miliar.
- Russian Direct Investment Fund: USD 2 miliar.
- China Investment Corporation (CIC): USD 1 miliar.
- Japan Bank for International Cooperation (JBIC): USD 1 miliar.
Ekspansi
Properti dan Agrikultur
Salah
satu langkah investasi luar negeri yang paling menonjol adalah proyek
"Kampung Haji" di Makkah, Arab Saudi. Pada 14 Desember 2025,
Danantara menandatangani perjanjian awal untuk akuisisi Novotel Thakher Makkah,
sebuah hotel yang telah beroperasi dengan 1.461 kamar. Tidak berhenti di situ,
Danantara juga mengambil alih lahan seluas 4,4 hektar di kawasan Thakher City
untuk membangun 13 menara tambahan dengan potensi 4.564 kamar serta sebuah
pusat perbelanjaan. Jaraknya yang strategis, hanya sekitar 2,5 km dari Masjidil
Haram, diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi jemaah asal Indonesia
sekaligus imbal hasil yang stabil.
Di
sektor ketahanan pangan, Danantara merancang "Proyek Johor", sebuah
kerja sama dengan raksasa agrikultur Australia untuk membangun industri pangan
modern di Indonesia. Proyek ini difokuskan pada transfer teknologi dan
pembangunan jaringan ekspor, dengan nilai investasi yang diproyeksikan mencapai
Rp 84 triliun.
Secara
keseluruhan, strategi Danantara di 2026 mencakup berbagai portofolio dengan
efek pengganda (multiplier) yang tinggi. Misalnya, proyek pengelolaan
sampah Waste-to-Energy di 33 kota (Proyek Wamena) senilai Rp 84 triliun
yang diperkirakan memiliki efek pengganda hingga 10 kali lipat bagi ekonomi
lokal. Dengan kombinasi pendanaan global yang kuat dan pemilihan proyek
strategis yang tepat, Danantara optimis mampu menjadi energi bagi masa depan
Indonesia.
Motor Baru Ekonomi dari Luar Jawa: Strategi Hilirisasi Lintas Sektor Danantara
JAKARTA, 13 Februari 2026 – Kebijakan hilirisasi tidak lagi hanya menjadi slogan, melainkan mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah. Danantara Indonesia melaporkan bahwa sepanjang tahun 2025, realisasi investasi di sektor hilirisasi telah mencapai Rp 584,1 triliun. Angka ini tumbuh pesat 43,3 persen secara tahunan dan kini berkontribusi sebesar 30,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional.
Dampak
paling nyata dari masifnya investasi hilirisasi adalah pergeseran pusat
pertumbuhan ke Luar Jawa. Tercatat, 71,1 persen atau senilai Rp 415,4 triliun
dana hilirisasi mengalir ke wilayah Luar Jawa. Sulawesi Tengah memimpin sebagai
lokasi utama dengan nilai Rp 110 triliun, disusul Maluku Utara sebesar Rp 74,8
triliun. Kondisi ini berbanding terbalik dengan wilayah Jawa yang hanya
menyerap Rp 168,7 triliun atau 28,9 persen dari total investasi hilirisasi.
Diversifikasi
Sektor: Dari Mineral hingga Pangan
Sektor
mineral masih menjadi primadona hilirisasi dengan total investasi Rp 373,1
triliun. Nikel menyumbang porsi terbesar senilai Rp 185,2 triliun, diikuti
tembaga (Rp 65,8 triliun) dan bauksit (Rp 53,1 triliun). Namun, Danantara mulai
memperluas cakupan ke sektor lain untuk menciptakan ketahanan ekonomi yang
lebih stabil.
Sektor
Perkebunan dan Kehutanan mencatatkan nilai investasi Rp 144,5 triliun, yang
mencakup pengolahan kelapa sawit (Rp 62,8 triliun) dan kayu log (Rp 62,2
triliun). Sektor Minyak dan Gas Bumi juga turut berkontribusi Rp 60 triliun,
sementara sektor Perikanan dan Kelautan mulai digarap dengan fokus pada
komoditas seperti udang, rumput laut, hingga ikan Tilapia.
Target
Proyek Strategis 2026
Memasuki tahun 2026, Danantara telah menyiapkan 20 proyek hilirisasi lintas sektor dengan total nilai investasi mencapai USD 26 miliar. Dari jumlah tersebut, enam proyek senilai USD 7 miliar telah dilakukan groundbreaking pada 6 Februari 2026. Beberapa proyek unggulan antara lain:
- Transformasi alumina menjadi aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat.
- Pengembangan produksi bioavtur dari minyak jelantah (UCO).
- Pembangunan kilang gula terintegrasi di Cilacap, Jawa Tengah.
Proyek-proyek
ini diproyeksikan mampu menciptakan lebih dari 600.000 lapangan kerja baru.
Dengan strategi ini, Danantara berupaya memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi
tidak hanya terkonsentrasi di pusat industri manufaktur Jawa, tetapi juga
menyentuh pelosok daerah melalui pengolahan sumber daya alam langsung di lokasi
asalnya.
Lompatan Investasi Rp 13.000 Triliun: Menakar Ambisi Ekonomi 8 Persen Presiden Prabowo
JAKARTA, 13 Februari 2026 – Pemerintahan Presiden Prabowo
Subianto mematok target pertumbuhan ekonomi yang cukup berani, yakni menyentuh
angka 8 persen hingga tahun 2029. Untuk menopang ambisi besar tersebut, Badan
Pengelola Investasi Danantara Indonesia (Danantara) merilis peta jalan yang
menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan aliran modal raksasa melalui Penanaman
Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 13.032,8
triliun sepanjang periode 2025-2029.
Angka jumbo ini bukan sekadar
statistik. Jika dibandingkan dengan realisasi investasi satu dekade terakhir
(2014-2024) yang berjumlah Rp 9.117,4 triliun, target lima tahun ke depan ini
melonjak hingga 143 persen. CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, dalam
laporan Indonesia Economic Outlook 2026 menyatakan bahwa investasi harus tumbuh
rata-rata 15,67 persen setiap tahunnya untuk menjaga momentum kenaikan ekonomi.
Target
Bertahap dan Realisasi Awal
Danantara
merinci kenaikan target investasi yang berjalan linier dengan pertumbuhan PDB.
Pada tahun 2025, investasi ditargetkan sebesar Rp 1.905,6 triliun untuk
mencapai pertumbuhan 5,30 persen. Angka ini akan terus dikerek hingga puncaknya
pada 2029, di mana investasi harus menembus Rp 3.414,8 triliun demi mengunci
angka pertumbuhan 8 persen.
Kabar
baik datang dari rapor tahun 2025. Hingga akhir tahun tersebut, realisasi
investasi tercatat mencapai Rp 1.931,2 triliun, atau sekitar 101,3 persen dari
target yang ditetapkan. Capaian ini tumbuh 12,7 persen dibandingkan tahun
sebelumnya (year-on-year). Tidak hanya soal angka, investasi ini diklaim
telah menyerap 2.710.532 tenaga kerja langsung, meningkat 10,4 persen dari
periode sebelumnya.
Domestik
Jadi Penopang
Secara
struktural, PMDN mulai menunjukkan taringnya dengan kontribusi sebesar 53,35
persen (Rp 1.030 triliun), mengungguli PMA yang berada di angka 46,65 persen
(Rp 901 triliun). Dari sisi geografis, mulai terjadi keseimbangan baru di mana
wilayah Luar Jawa menyumbang 51,33 persen dari total realisasi, sedikit
melampaui Pulau Jawa yang berkontribusi 48,67 persen.
Negara
tetangga, Singapura, masih menjadi investor asing terbesar dengan komitmen USD
17,4 miliar, diikuti oleh Hongkong (USD 10,6 miliar) dan R.R. Tiongkok (USD 7,5
miliar). Dengan fondasi awal yang kuat di 2025, tantangan sesungguhnya bagi
Danantara adalah menjaga konsistensi kenaikan modal sebesar Rp 300 triliun
hingga Rp 500 triliun setiap tahunnya hingga 2029 demi mengejar janji politik
pertumbuhan 8 persen tersebut.
Moody’s Turunkan Outlook Kredit Indonesia, Tekan Perbankan dan Pasar Keuangan
JAKARTA — Lembaga
pemeringkat internasional Moody’s Investors Service menurunkan prospek (outlook)
peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Keputusan ini diumumkan
pada awal Februari 2026 dan langsung memicu perhatian pelaku pasar, pemerintah,
serta otoritas moneter karena dinilai dapat berdampak luas terhadap sektor
perbankan dan stabilitas pasar keuangan nasional.
Meski demikian, Moody’s
menegaskan bahwa peringkat kredit Indonesia tetap berada di level Baa2, yang
masih termasuk kategori investment grade.
Alasan Penurunan Outlook
Dalam pernyataan resminya,
Moody’s menyebut penurunan outlook dilakukan karena meningkatnya ketidakpastian
kebijakan ekonomi dan fiskal, terutama terkait arah belanja pemerintah dan
kerangka kelembagaan ke depan. Moody’s juga menyoroti potensi risiko terhadap
prediktabilitas kebijakan dan tata kelola, yang dinilai dapat memengaruhi
kredibilitas kebijakan makro dalam jangka menengah.
Moody’s menyatakan bahwa jika
risiko-risiko tersebut tidak dikelola dengan baik, tekanan terhadap profil
kredit Indonesia berpotensi meningkat dan membuka peluang penurunan peringkat
di masa depan.
Respons Bank Indonesia
Menanggapi keputusan tersebut,
Bank Indonesia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga
dengan baik. Bank sentral menilai stabilitas makroekonomi tetap kuat, ditopang
oleh inflasi yang terkendali, sistem keuangan yang solid, serta cadangan devisa
yang memadai.
BI juga menekankan bahwa
penurunan outlook tidak berarti penurunan peringkat, dan bahwa kebijakan
moneter akan terus diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,
likuiditas perbankan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dampak ke Perbankan Nasional
Keputusan Moody’s tersebut
berdampak lanjutan pada sektor perbankan. Sejumlah bank besar nasional
dilaporkan mengalami penurunan outlook kredit menjadi negatif, mengikuti
perubahan outlook kredit Indonesia sebagai sovereign.
Meski peringkat utama bank-bank
tersebut belum diturunkan, analis menilai perubahan outlook dapat meningkatkan
biaya pendanaan dan membuat investor global lebih berhati-hati dalam
menempatkan dana di sektor keuangan Indonesia.
Tekanan Pasar Keuangan
Di pasar keuangan, sentimen
negatif sempat terlihat setelah pengumuman Moody’s. Nilai tukar rupiah
mengalami tekanan, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak
volatil seiring meningkatnya kehati-hatian investor.
Analis pasar menilai perubahan
outlook menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah untuk menjaga konsistensi
kebijakan fiskal dan memperkuat komunikasi kebijakan agar kepercayaan pasar
tetap terjaga.
Tanggapan Pemerintah
Pemerintah menyatakan tetap
optimistis terhadap prospek perekonomian nasional. Kementerian Keuangan
menegaskan bahwa pengelolaan fiskal akan tetap berhati-hati dengan menjaga
defisit anggaran dalam batas aman, sekaligus memastikan program-program prioritas
tetap berjalan.
Pemerintah juga menilai bahwa
penilaian Moody’s belum sepenuhnya mencerminkan data ekonomi terbaru, termasuk
kinerja pertumbuhan dan upaya penguatan struktural yang sedang dilakukan.
Lampu Kuning bagi Ekonomi
Pengamat ekonomi menilai
penurunan outlook oleh Moody’s merupakan “lampu kuning” bagi Indonesia. Meski
belum berdampak langsung pada penurunan peringkat, langkah ini menjadi
peringatan agar pemerintah dan otoritas terkait menjaga disiplin fiskal,
memperkuat tata kelola, serta memastikan independensi kebijakan moneter.
Ke depan, pasar akan mencermati
langkah konkret pemerintah dan Bank Indonesia dalam merespons kekhawatiran
tersebut. Kredibilitas kebijakan dan konsistensi reformasi dinilai menjadi
kunci untuk mencegah penurunan peringkat kredit Indonesia di masa mendatang.
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Investasi di sektor kendaraan listrik melonjak tajam hingga 155 persen sepanjang tahun 2025. Di tengah gelontoran insentif fiskal yang masif, pemerintah perlu mulai memetakan potensi penerimaan negara dari ekosistem ini demi menjaga keseimbangan fiskal jangka panjang tanpa mematikan gairah industri.
Laju transisi energi di sektor transportasi Indonesia menunjukkan grafik yang menggembirakan. Berdasarkan data realisasi investasi tahun 2025, sektor kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) mencatatkan pertumbuhan investasi sebesar 155 persen dengan tingkat realisasi mencapai hampir 90 persen dari target nasional. Di sisi konsumsi, populasi kendaraan listrik yang kini menyentuh angka 330 ribu unit menjadi sinyal kuat bahwa pasar domestik mulai merespons pergeseran teknologi ini secara nyata.
Pencapaian ini patut mendapatkan apresiasi sebagai buah dari konsistensi kebijakan hilirisasi nikel dan intervensi stimulus fiskal yang agresif. Berbagai kemudahan, mulai dari PPN Ditanggung Pemerintah hingga pembebasan pajak barang mewah, dan pembebasa bea masuk, telah menjadi mesin utama penarik minat investor dan konsumen. Namun, kebijakan ini membawa konsekuensi pada hilangnya potensi penerimaan negara (tax expenditure) dalam jumlah yang signifikan. Saat ekosistem mulai terbentuk, tantangan berikutnya bagi otoritas fiskal adalah mulai memetakan potensi pajak dari rantai nilai yang muncul tanpa menghambat pertumbuhannya.
Optimalisasi pajak tidak harus berarti menekan penjualan unit kendaraan yang saat ini sedang dipacu. Contohnya, Pemerintah dapat mengoptimalkan potensi dari Pajak Pertambahan Nilai atas layanan pengisian daya dan pertukaran baterai yang akan tumbuh seiring peningkatan populasi kendaraan.
Di sisi hulu, pemerintah dapat mengoptimalkan penerimaan melalui mekanisme pajak karbon bagi proses produksi yang belum sepenuhnya menggunakan energi hijau. Selain itu, dalam jangka Panjang, sinkronisasi data konsumsi energi melalui sistem digital pada infrastruktur pengisian daya dapat menjadi basis penghitungan pajak jalan yang lebih adil di masa depan, menggantikan skema konvensional pajak bahan bakar minyak yang perlahan akan menyusut.
Untuk menjaga momentum ini, diperlukan strategi peralihan yang presisi dari era subsidi menuju kemandirian industri. Peta jalan insentif harus dirancang secara transparan dengan menentukan batas waktu yang jelas, sehingga pelaku usaha dapat melakukan perencanaan investasi jangka panjang dengan pasti. Pola insentif juga perlu digeser menjadi berbasis kinerja, di mana keringanan pajak diberikan berdasarkan realisasi investasi hulu atau pencapaian tingkat komponen dalam negeri yang lebih tinggi.
Keberhasilan elektrifikasi tahun 2025 adalah fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan industri otomotif dalam negeri. Namun, transisi ini bukan sekadar soal mengejar angka penjualan, melainkan membangun ekosistem yang sehat secara ekonomi dan berkelanjutan secara fiskal. Dengan memetakan potensi penerimaan baru sejak dini, pemerintah dapat memastikan bahwa revolusi hijau ini tidak hanya membersihkan udara, tetapi juga tetap mampu menopang pembiayaan pembangunan nasional secara mandiri dan kompetitif di kancah global.
Memahami Esensi Pajak bagi Karyawan Lebih dari Sekadar Potongan Gaji
Bagi sebagian besar karyawan, pajak
sering kali hanya dianggap sebagai angka pengurang yang muncul secara otomatis
di slip gaji bulanan. Padahal, memahami mekanisme Pajak Penghasilan (PPh) Pasal
21 adalah bagian krusial dari literasi finansial yang harus dimiliki oleh
setiap pekerja. Dengan memahami bagaimana penghasilan dipotong, seorang
karyawan tidak hanya sekadar menerima gaji bersih, tetapi juga mampu memastikan
bahwa hak dan kewajiban perpajakannya telah dikelola dengan tepat oleh
perusahaan. Hal ini menjadi semakin penting di tengah sistem perpajakan yang
kini semakin transparan dan terintegrasi secara digital.
Langkah awal yang perlu diperhatikan
adalah memastikan keakuratan data terkait Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Status diri, seperti apakah stasus Anda masih lajang, sudah menikah, atau
memiliki tanggungan anak, sangat menentukan besaran batas penghasilan yang
tidak dikenakan pajak. Seringkali, perbedaan status ini luput dari pengawasan,
padahal dampaknya cukup signifikan terhadap jumlah gaji bersih yang diterima
setiap bulan. Oleh karena itu, komunikasi yang baik dengan bagian personalia
atau HRD mengenai pembaruan status keluarga menjadi kunci utama agar potongan
pajak di slip gaji tetap akurat dan tidak berlebih.
Selain rutin mengecek potongan bulanan,
seorang karyawan juga harus memahami pentingnya dokumen Formulir 1721-A1 yang
diberikan perusahaan setiap awal tahun. Dokumen ini bukan sekadar lembaran formalitas,
melainkan bukti sah bahwa pajak Anda telah disetorkan ke kas negara. Formulir
ini merupakan instrumen utama yang dibutuhkan saat melaporkan SPT Tahunan.
Tanpa dokumentasi yang rapi, karyawan sering kali merasa kesulitan saat
menghadapi masa pelaporan pajak, terutama jika dalam setahun tersebut mereka
sempat berpindah instansi atau memiliki penghasilan tambahan di luar pekerjaan
utama.
Pada akhirnya, kepatuhan pajak bagi
karyawan bukan hanya tentang memenuhi kewajiban kepada negara, tetapi juga
tentang membangun kredibilitas finansial pribadi. Dengan melaporkan SPT Tahunan
secara jujur dan mencantumkan aset serta kewajiban secara transparan, seorang
karyawan sebenarnya sedang melindungi dirinya secara administratif. Rekam jejak
perpajakan yang bersih akan sangat memudahkan di masa depan, terutama saat
berurusan dengan layanan perbankan atau investasi besar lainnya. Menjadi
karyawan yang melek pajak berarti memiliki kendali penuh atas kesehatan
finansial dan ketenangan bekerja dalam jangka panjang.
KPK Selidiki Dugaan Aliran Dana Rp 2 Miliar
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023

