NELAYAN BENGKULU KALAH BERTARUNG DI LAUT YANG KAYA
Dengan susah payah, Zulkoto (50) dibantu 30 tetangganya di kampung
nelayan Malebero, Kota Bengkulu, mendorong perahu motor dari daratan ke bibir
pantai, Rabu (15/11) sore. Dibutuhkan 30 menit untuk mendorong perahu berukuran
20 gros ton tersebut hingga sampai di pinggir laut. ”Kami biasanya melaut sejauh
30-40 mil ke arah utara menuju perairan Lais, Kabupaten Bengkulu Utara,” ucap ayah
dua anak itu. Saat ini laut masih bersahabat. Para nelayan di Bengkulu sedang
panen ikan tuna, layur, dan tongkol. Dalam sehari melaut, nelayan bisa mendapat
ikan 700-800 kg. Sayangnya, meski ikan melimpah, nelayan tetap tidak dapat
menikmati untung banyak karena harga ikan di pasaran anjlok. Ikan tongkol
paling tinggi dibeli Rp 13.000 per kg, tuna Rp 22.000 per kg, dan layur Rp 30.000
per kg. Harga jual itu bisa lebih rendah jika kualitas ikan hasil tangkapan
nelayan rusak karena terlalu lama di darat atau kekurangan es batu. Ikan
tongkol bisa jatuh pada harga Rp 10.000, tuna Rp 18.000, dan layur hanya Rp
20.000 per kg.
Tempat pelelangan ikan di kawasan Pulau Baai, yang
seharusnya menjadi tempat negosiasi harga, juga tak terpakai. Setelah mendarat,
sebagian besar nelayan menjual hasil tangkapan kepada tengkulak, karena ratusan
nelayan telah meminjam perahu untuk modal melaut. Mereka juga meminjam uang
sayur untuk keluarganya pada tengkulak. Bos nelayan adalah pemilik kapal yang
juga membeli semua ikan hasil tangkapan nelayan. ”Kami bagi hasil dengan bos. Kalau
sedang musim panen, alhamdulillah bisa dapat Rp 500.000 setelah dua hari melaut.
Itu setelah dipotong modal dan utang,” kata Setrayandi (43), nelayan asal
Sumbar, yang merantau ke Bengkulu sejak lima tahun lalu. Kekayaan laut di
Bengkulu membawa Setrayandi merantau ke provinsi di pesisir barat Sumatera itu.
Ia berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik, namun, nyatanya nasib
nelayan tradisional sama saja. Hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan.
Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu Syafriandi
mengakui potensi perikanan di Bengkulu belum tergarap secara optimal karena
keterbatasan sarana dan prasarana. Selain ukuran kapal nelayan yang masih di
bawah 30 GT, nelayan juga belum mempunyai fasilitas cold storage untuk
menyimpan ikan agar tetap segar. Bahkan, Bengkulu juga masih kekurangan es untuk
mengawetkan ikan. Saat musim panen ikan seperti sekarang, kebutuhan es untuk
nelayan di Bengkulu bisa mencapai 300 ton per hari. Namun, kapasitas produksi
es baru 175 ton per hari. Pemprov Bengkulu tengah membangun Pelabuhan Perikanan
Nusantara di Kabupaten Seluma. Pelabuhan itu ditargetkan selesai pada 2024 dan diharapkan
dapat mendukung usaha nelayan, khususnya yang berasal di luar Kota Bengkulu.
Pemerintah juga mengupayakan pembangunan pabrik es di Pulau Enggano, untuk
memenuhi kebutuhan es untuk nelayan di Enggano dan nelayan lain yang sedang
mencari ikan di perairan sekitar pulau tersebut. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023