Baja
( 57 )PRODUKSI MOBIL LISTRIK : Impor Baja Masih Diperlukan
Skema impor diyakini menjadi satu-satunya cara bagi pelaku industri dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan bahan baku baja yang diperlukan untuk mendukung produksi mobil listrik Tanah Air.Ketua Bidang Industri Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Johnny Darmawan mengatakan bahwa impor baja merupakan langkah paling realistis yang bisa diambil pemerintah, mengingat baja khusus untuk industri otomotif tidak mudah untuk diperoleh.“Sejauh ini baja khusus untuk otomotif tersebut masih sulit untuk diproduksi sendiri. Ke depan pun secara teknis, produksi baja tersebut sulit untuk dilakukan,” katanya kepada Bisnis, Senin (16/5).
Sementara itu, pada 2030 Indonesia ditargetkan menjadi pemain utama dalam produksi kendaraan bermotor Internal Combustion Engine (ICE) maupun Electrifi ed Vehicle (EV) untuk pasar domestik maupun ekspor.Sektor otomotif ditargetkan mengalami peningkatan volume produksi sampai dengan 3 juta unit pada 2030 dengan porsi sebanyak 25%, di antaranya adalah kendaraan berbasis listrik, dengan target ekspor sebanyak 900.000 unit.
Dampak Lockdown China: Industri Baja Andalkan Pemasok Lokal
Pelaku industri baja nasional memperkuat pasokan bahan baku dari dalam negeri untuk mengantisipasi macetnya suplai akibat meluasnya penguncian wilayah atau lockdown di China. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) mengklaim pasokan bahan baku untuk industri baja dalam negeri masih mencukupi di tengah risiko kemacetan suplai akibat lockdown di China dan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan. Direktur Komersial Krakatau Steel Melati Sarnita mengatakan bahwa pihaknya tidak mengimpor bahan baku berupa produk flat dari China. Bahan baku produk flat berupa slab baja saat ini sebagian besar telah disuplai oleh produsen lokal, yaitu PT Krakatau Posco dan PT Dexin Steel Indonesia.
Melati yang juga menjabat Ketua Cluster Flat Product Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) mengatakan bahwa komposisi pasokan bahan baku baja di dalam negeri kurang lebih juga berada pada angka tersebut.“Kalau baja nasional menurut saya sama, untuk flat product. Biasanya portionnya 30% sampai dengan 40% saja untuk impor,” lanjutnya.
Mengandalkan pemasok lokal juga dilakukan oleh produsen pipa baja PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP) atau Spindo yang melakukan diversifi kasi pemasok bahan baku di tengah gejolak geopolitik dunia dan lonjakan harga, serta lockdown di China yang ditengarai akan berdampak ke pasokan bahan baku industri baja dalam negeri.Chief Strategy Offi cer Spindo Johanes Edward mengatakan bahwa perseroan memang mengimpor sebagian bahan bakunya dari China. Namun, dipastikan saat ini pasokannya dalam kondisi aman karena tak hanya mengandalkan China.
Jaga Daya Saing, Pemerintah Diminta Kendalikan Impor Besi dan Baja
Baru-baru ini, pemerintah menetapkan bea masuk antidumping (BMAD) terhadap impor produk baja hot rolled coil (HRC) Alloy asal China. Kebijakan ini diambil berdasarkan hasil penyelidikan Komite Antidumping Indonesia Kemendag membuktikan terjadinya dumping untuk produk tersebut sehingga menyebabkan kerugian bagi industri domestik. BMAD itu ditetapkan dalam Permenkeu No 15 Tahun 2022 yang berlaku selama lima tahun sejak 22 Februari 2022 lalu. Besaran pungutan bea masuk yang dikenakan terhadap eksportir asal China itu bervariasi 4,2-50,2 %.
Menurut Ketua Cluster Flat Product The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Melati Sarnita, instrumen trade remedies seperti itu sangat dibutuhkan industri untuk bertahan menghadapi gempuran impor. Namun, langkah itu perlu didorong agar lebih optimal. IISIA mencatat, masih ada empat produk baja lainnya yang telah diusulkan industry untuk dikenai BMAD, yaitu produk cold rolled coil/sheet (CRC/S) dari Jepang, Korea, China, Taiwan, dan Vietnam;produk HRC asal Korea dan Malaysia; baja lapis aluminium seng asal China dan Vietnam; serta cold rolled stainless steel (CRS) China dan Malaysia.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance Andry Satrio Nugroho mengatakan, impor sebenarnya bukan sesuatu yang haram karena bisa meningkatkan daya saing industri dalam negeri, salah satu hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah menyusun neraca komoditas untuk produk besi dan baja domestik. Hal-hal yang perlu didata, antara lain, kebutuhan domestik, utilisasi industri, kapasitas produksi industri, dan kebutuhan impor. (Yoga)
Benahi Tata Kelola Impor Besi Baja
Utilisasi industri baja nasional tergerus derasnya arus impor produk jadi besi dan baja. Kasus dugaan korupsi surat penjelasan pengecualian impor yang sedang ditangani Kejaksaan Agung dinilai dapat menjadi pintu masuk membenahi tata kelola impor serta memperkuat industri besi dan baja dalam negeri. BPS mencatat, impor besi dan baja mencapai 5,34 miliar USD atau Rp 76,8 triliun (kurs Rp 14.357 per USD), meningkat 66 % dibandingkan nilai impor 2020 sebesar 3,22 miliar USD, setara Rp 46,3 triliun.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho, Jumat (1/4) mengatakan, dominasi impor produk akhir besi dan baja yang semakin tinggi membuat produsen lokal sulit bersaing dengan produk impor yang harganya jauh lebih murah. Disparitas harga yang cukup tinggi antara besi dan baja lokal dengan impor, khususnya asal China, membuat rata-rata utilisasi industri baja nasional selalu di bawah 60 %. Idealnya, utilisasi industri perlu mencapai 80 % agar mendapat keuntungan sepadan dan bertumbuh. (Yoga)
Ekspor Baja: GGRP Pasok Kebutuhan Pabrik Mobil Listrik AS
Produsen baja PT Gunung Raja Paksi Tbk. melepas ekspor baja struktur ke Casa Grande, Arizona, Amerika Serikat, untuk perusahaan industri mobil listrik, Lucid Motors.Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berkesempatan melepas ekspor produk jenis structural beam sebanyak 700 metrik ton senilai US$1 juta itu.
Pengiriman baja ke Amerika Serikat (AS) merupakan upaya emiten berkode GGRP itu untuk mencapai target ekspor 2022 senilai US$70 juta. Selain itu, langkah tersebut juga dilakukan untuk meningkatkan porsi ekspor menjadi 20% dari tahun sebelumnya yang sebesar 5%. Pada tahun lalu, Gunung Raja Paksi mencapai nilai ekspor sebesar US$44 juta.
Presiden Direktur Gunung Raja Paksi Abednedju Giovano Warani Sangkaeng menyampaikan, ekspor baja struktur tersebut merupakan pengiriman trial order untuk pembangunan pabrik Lucid Motors.
Perusahaan Baja Tambah Daya Listrik PLN 10 Ribu kVA
PT Indonesia Voda Steel, salah satu perusahaan baja yang berada di Cakung, Jakarta Timur, melakukan penambahan daya listrik sebesar 10 ribu kilo volt Ampere (VA) menjadi 75 ribu kVA. Hal ini, meunjukkan geliat positif industri tanah Air, terutama industri baja. Kebutuhan Listrik ini seiring dengan penambahan peralatan di pabrik baja tersebut. General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya Doddy B. Pangaribuan mengatakan bahwa PLN siap mendukung pertumbuhan dan kebangkitan ekonomi dengan menyediakan pasokan listrik yang cukup serta andal. "Kalau Voda Steel memang rencananya mau nambah 10 ribu (kVA) lagi karena peralatan itu sebenarnya sudah siap Pak untuk sampai dengan 85 (ribu kVA)," ungkap konsultan Industri Voda Steel Edwin. (Yetede)
Efisiensi Biaya dengan Pabrik Baja Baru
Kapasitas produksi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk semakin besar dengan beroperasinya pabrik pengerolan baja lembaran panas atau hot strip mill (HSM) 2 di Cilegon, Banten. Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim, mengatakan basis produksi yang dibangun dengan investasi sebesar US$ 521 juta atau Rp 7,5 triliun itu bisa memangkas 25 persen biaya operasi. Tak hanya untuk keperluan konstruksi infrastruktur, produk itu pun bisa dipakai industri otomotif premium yang membutuhkan baja dengan ketebalan spesifik. “Jadi, selain menaikkan kapasitas, fasilitas baru ini bisa meningkatkan daya saing produk baja Indonesia,” ucap Silmy.
Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir mengatakan Krakatau Steel mulai bisa menghasilkan untung setelah merugi selama delapan tahun berturut-turut. Dia menambahkan, Krakatau Steel juga sudah melalui dua tahapan restrukturisasi utang. “Sekarang sudah untung Rp 800 miliar. Tapi saya bilang ke manajemen jangan berpuas diri,” kata Erick dalam acara yang sama. Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara, bahkan menyarankan supaya Krakatau Steel mengutamakan kebutuhan dalam negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, dia menyebutkan, impor besi dan baja pada periode Januari-Agustus 2021 naik 121,2 persen secara tahunan. “Nilai kumulatifnya sebesar US$ 7,3 miliar karena sedang pemulihan permintaan,” tutur Bhima.
Produksi Baja Dunia Anjlok, Pertama dalam Setahun Terakhir
Produksi baja di dunia anjlok 1,4 persen pada Agustus 2021 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan produksi baja di dunia ini pertama kalinya dalam satu tahun terakhir. Diperkirakan, produksi baja global masih menurun lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan, seiring dengan kebijakan produsen utama, China, yang berupaya mengurangi polusi. Data Asosiasi Baja Dunia (WSA) mencatat produksi baja mentah merosot menjadi 156,8 juta ton sampai Agustus. Penurunan produksi baja pertama sejak Juli 2020 lalu. Di China, produksi baja terpuruk 13,2 persen menjadi 83,2 juta ton.
"Mengingat bahwa pihak berwenang di China secara proaktif mendorong produksi yang lebih rendah, kemungkinan penurunan baja lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang," ungkap Caroline Bain, Kepala Ekonom Komoditas Capital Economics, dilansir Antara, Jumat (24/9). "Namun, masih harus dilihat apakah pihak berwenang China dapat tetap berada di jalurnya, terutama jika harga melonjak atau kelangkaan mulai muncul," lanjut Bain.
Jokowi Ungkap Hilirisasi Nikel Bikin Ekspor Baja RI Tembus Rp 151 T
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkap sudah menghentikan ekspor nikel mentah. Kini Indonesia mulai mengeskpor bahan jadi nikel yakni baja. Nilai ekspornya mencapai U$ 10,5 miliar setara Rp 151 triliun (kurs Rp 14.391).
Kira-kira ekspor besi baja kita dalam 1,5 tahun ini saja sudah berada di angka kurang lebih US$ 10,5 miliar," ujar Jokowi. dalam Pembukaan Sarasehan 100 Ekonom Indonesia secara virtual, Kamis (26/8/2021).
Hilirisasi nikel itu menjadi salah satu dari tiga strategi besar dalam memulihkan ekonomi. Selain itu, ada strategi digitalisasi UMKM. Jokowi membeberkan hari ini sudah ada 15,5 juta UMKM yang sudah masuk dalam platform e-commerce. Jokowi ingin mendorong ada 60 juta UMKM agar masuk ke platform digital.
Naik 51%, Impor Baja Sentuh US$ 5,3 Miliar
Impor baja pada semester 1-2021 mencapai sebesar US$ 5,36 milliar atau meningkat 51,18% dibandingkan periode sama 2020 sebesar US$3,55 milliar. Impor baja berada di posisi kedua komodiditi impor nasional. Volume impor baja semester 1 tahun ini mencapai 6,6 juta ton, naik dari semester II tahun lalu 5,5 juta ton. Ini menunjukkan pemerintah dinilai lambat melindungi baja dalam negeri. Hal ini berbeda dengan negara lain yang langsung memberikan kebijakan trade remedies untuk melindung pasar dalam negeri.
Chairman Asosiasi Besi dan Baja Nasional Silmy Karim menerangkan, kenaikan impor baja dikhawatirkan akan terus berlanjut sepanjang 2021. Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah yang cepat sebagai upaya antisipasi kemungkinan dampak negatif impor terhadap industri nasional. Berdasarkan dari data World Organization 2020 Indonesia belum banyak menggunakan instrumen trade remedies untuk melindung industri dalam negeri. Khususnya untuk melindung besi dan baja.
"Kajian LPEM Universitas Indonesia terbaru menyebutkan, pengenaan tarif BMAD dan safeguars atas impor produk-produk baja dapat meningkatkan PDB nasional sampe 0,15% atau setara dengan Rp2,3 trilliun dan memperbaiki neraca perdagangan nasional hingga Rp5,6 trilliun," Ujar Silmy, (YTD)
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









