Baja
( 57 )INDUSTRI BAJA : OPSI LEBAR DIVERSIFIKASI PASAR
Diversifikasi pasar dipandang menjadi langkah jitu guna meningkatkan ekspor baja Indonesia di tengah turunnya permintaan dari pasar China. Namun, pengelolaan pada pasar ekspor reguler juga tak boleh diabaikan.
Para produsen baja nasional dipandang perlu mencermati perkembangan potensi pasar ekspor di luar China agar dapat meningkatkan performa penjualan ke pasar luar negeri.Hal ini bukan tanpa alasan. China memang telah mendominasi pasar ekspor besi dan baja Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, porsinya mencapai 68,67% pada tahun lalu. Sementara, pasar Negeri Panda justru tengah lesu yang ditandai dengan lemahnya permintaan. Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Purwono Widodo mengatakan bahwa konflik geopolitik dan kondisi ekonomi global masih menjadi hambatan terbesar bagi industri baja.
Data IISIA menunjukkan bahwa penurunan konsumsi besi dan baja China lantaran perekonomian negara ini yang masih berada dalam fase transisi struktural sehingga dapat menambah volatilitas dan ketidakpastian. Inflasi di China juga tercatat masih negatif -0,3% pada Desember 2023, meski pertumbuhan ekonomi negara ini tercatat mampu berada di level 4,9%. Namun demikian, sejatinya PMI manufaktur China masih berada di zona ekspansi dengan mencatatkan 50,8. “Target produksi dan penjualan 2024 diharapkan mengalami pertumbuhan seiring dengan pertumbuhan demand dan program-program pemerintah dalam mendukung industri baja nasional,” jelasnya.
Laporan IISIA menunjukkan bahwa pasar baja yang dinilai potensial meliputi Taiwan, India, dan negara-negara lainnya di kawasan Asean dan Uni Eropa.
Direktur Komersial PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) Akbar Djohan mengungkapkan bahwa pangsa pasar ekspor menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga peningkatan kinerja penjualan perseroan.
Baru-baru ini, PT Gunung Raja Paksi Tbk. (GGRP) juga memperluas pasarnya dengan meningkatkan penetrasi di Amerika utara. Pada awal 2024, perseroan melakukan ekspor baja struktur sebanyak 1.500 metrik ton (MT) ke Kanada, dengan nilai sekitar US$2 juta. Presiden Direktur GGRP Fedaus mengungkapkan bahwa produk baja struktural yang diekspor perseroan pada awal tahun ini ditujukan guna mendukung pembangunan proyek Yukon Bridge di Kanada.
Staf Ahli Bidang Iklim Usaha dan Investasi Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi mengapresiasi GGRP yang gencar menembus pasar ekspor.
Baja RI Tembus Pasar Kanada
Konsumsi Baja Ditargetkan Tumbuh 5,2%
PERFORMA MANUFAKTUR : Bekal Kuat Industri Baja Nasional
Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) optimistis menghadapi 2024, karena ada sentimen yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan konsumsi baja nasional. Selain geliat properti, dan naiknya belanja infrastruktur pemerintah, pertumbuhan permintaan di pasar global otomotif juga diproyeksi bakal membuat industri baja lebih baik. Dalam laporan terbarunya, IISIA meneropong pertumbuhan konsumsi baja bakal sejalan dengan tren peningkatan pada 2020—2023. Adapun, tahun lalu konsumsi baja nasional mencapai 17,4 juta ton, naik dari 16,6 juta ton pada 2022. Dalam laporan tersebut, IISIA juga memprediksi pertumbuhan sektor pengguna baja nasional bakal meningkat, seperti infrastruktur dari belanja pemerintah pada 2024 yang bakal naik 7,9% menjadi Rp423 triliun. Di sisi lain, sektor otomotif juga diyakini akan berkontribusi positif dalam menyerap produk baja nasional. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil baru pada 2024 sebesar 1,1 juta unit, meningkat dari 1,05 juta unit pada 2023. Dalam kesempatan terpisah, Chairman IISIA Purwono Widodo mengatakan, pihaknya bakal memaksimalkan pasar domestik untuk menggenjot pertumbuhan di tengah beragam persoalan yang bisa menghambat pertumbuhan pasar global.
INDUSTRI BAJA : Peran Sentral Sektor Konstruksi
Sektor konstruksi dinilai memiliki peran sentral guna memompa performa industri baja di Tanah Air. Bahkan, perusahaan baja asal Australia, NS BlueScope Lysaght Indonesia, memandang bahwa potensi industri konstruksi dan baja lapis di Tanah Air sangat besar lantaran masifnya pembangunan infrastruktur saat ini. Laporan BCI Central Quarterly Market Update Q1/2023 menunjukkan bahwa terdapat lima sektor yang akan menjadi penggerak utama konstruksi nasional tahun ini, yakni proyek konstruksi gedung, rumah tapak, manufaktur, jalan dan jembatan, serta bendungan dan saluran.
Country President NS BlueScope di Indonesia Lucky Lee mengatakan bahwa kontribusi sektor konstruksi sangat besar sehingga dia optimistis mampu berkontribusi lewat sektor konstruksi, khususnya industri baja Indonesia. “Komitmen kami kepada pelanggan Indonesia didukung oleh jaringan penjualan yang luas di seluruh Nusantara dengan fasilitas manufaktur dan pergudangan di Jakarta, Surabaya, dan Medan,” katanya dalam keterangan resminya, Kamis (12/10). Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa dalam 5 tahun terakhir, seiring dengan masifnya pembangunan, kebutuhan baja nasional terus meningkat hingga lebih dari 40%.
Pada 2050, imbuhnya, penggunaan baja nasional dan global diperkirakan meningkat sekitar 20% untuk memenuhi kebutuhan populasi dunia yang juga bertambah banyak.
Harga Produk Terus Melemah, Kinerja Emiten Baja Tidak Bergairah
Kinerja emiten saham baja di Tanah Air masih diselimuti sejumlah sentimen negatif. Salah satunya ialah tren penurunan harga
hot rolled coil
(HRC) atau baja canai panas di pasaran global.
Mengutip Trading Economics, Jumat (19/5), harga HRC pada perdagangan kemarin ditutup US$ 950 per ton atau melemah 0,52% dibanding hari sebelumnya. Jika diakumulasi dalam sebulan, harga HRC sudah anjlok 14,80%.
Johannes W. Edward, Sekretaris Perusahaan dan Investor Relation PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) atau Spindo mengatakan, fluktuasi harga baja saat ini cukup parah. Kondisi ini ikut mempengaruhi kebijakan harga ISSP.
Namun, Johannes mengklaim, penjualan ISSP masih stabil. "Sampai bulan Mei ini performa penjualan kami masih cukup
on the track
untuk mencapai target perseroan di tahun 2023," ujarnya kepada Kontan, Jumat (19/5).
Johannes mengatakan, pihaknya masih melakukan beberapa cara untuk meningkatkan penjualan di sisa tahun ini. "Kami terus meningkat pendekatan ke para konsumen
end user
untuk mempromosikan produk," imbuh dia.
Senior Investment Information
Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menilai, pergerakan harga baja di pasar global sangat mempengaruhi
average selling price
(ASP) atau harga jual rata-rata emiten baja.
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
Proyek pembangunan ibukota negara (IKN) menggairahkan sektor konstruksi dan pendukungnya. Tak terkecuali sektor industri besi dan baja. Sejumlah emiten meyakini, proyek IKN bakal jadi katalis positif yang mendongkrak kinerja di 2023.
Fedaus, Direktur Corporate Affairs PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP), optimistis, industri baja pada tahun ini akan tumbuh dibandingkan tahun lalu. Ini seiring mulai menggeliatnya pengerjaan proyek pembangunan IKN.
Untuk kebutuhan proyek IKN, GGRP melihat potensi penggunaan baja sekitar 9,2 juta ton.
Johannes W. Edward, Chief Strategy, Corporate Secretary & Investor Relations PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), mengatakan, ada sejumlah indikator pertumbuhan industri baja di 2023.Di antaranya, tren kenaikan harga baja sejak Oktober 2022 yang masih berlanjut.
Selain itu, komitmen pemerintah membangun infrastruktur.
ISSP menargetkan pertumbuhan penjualan 20% pada 2023. Selain dari proyek infrastruktur dan penjualan ekspor, produsen pipa baja yang dikenal dengan nama Spindo ini juga membidik proyek IKN. Saat ini sudah mulai ada pemesanan pipa spiral dan pipa konstruksi di proyek IKN.
Financial Expert Ajaib Sekuritas Asia Chisty Maryani menilai, permintaan besi dan baja berpeluang naik. Ini sejalan dengan proyeksi Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA), yang memperkirakan pertumbuhan industri baja dan besi tahun ini bisa mencapai 5%-6%, menjadi 17,3 juta ton.
Industri di Batam Pasok Pipa Bawah Laut
Grup industri Citramas di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, memproduksi 1.200 batang pipa bawah laut untuk proyek terminal minyak Lawe-Lawe di Penajam Paser Utara, Kaltim. Chairman Citramas Group Kris Taenar Wiluan, Kamis (24/11), mengatakan, PT Dwi Sumber Arca Waja, anak perusahaan Citramas, butuh waktu delapan bulan untuk memproduksi pipa pesanan PT Pertamina senilai 15 juta USD. (Yoga)
Kemendag Amankan Produk Baja Senilai Rp41,6 Miliar
JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) mengamankan sementara produk baja yang diduga tidak memenuhi persyaratan mutu Standar Nasional Indonesia (SNI). Produk baja yang diamankan berupa baja lembaran lapis seng (BjLS) dan galvanized steel coils yang digunakan sebagai bahan baku, serta galvanized steel coils with alumunium zinc alloy (BjLAS) dengan berat sekitar 2.128 ton senilai Rp 41,68 miliar. Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menerangkan, pihaknya merespon adanya informasi maraknya importasi bahan baku BjLS dan BjLAS asal Tiongkok, serta peredaran produk BjLS tidak memenuhi kualitas yang dipersyaratkan secara teknis. Setelah diuji, produk-produk tersebut dinyatakan tidak memenuhi ketentuan SNI, yakni SNI 07-2053-2006 dan SNI 4096:2007. “Produk baja yang diamankan tercatat seberat 2.128 ton dengan nilai mencapai Rp 41,68 miliar,” ungkap Mendag Zulhas dalam keterangan tertulisnya, Selasa (9/8/2022). (Yetede)
KINERJA INDUSTRI : Permintaan Dorong Pertumbuhan Baja
Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISA) optimistis kinerja industri besi dan baja tahun ini bisa tumbuh hingga 20% seiring dengan meningkatnya permintaan domestik dan ekspor. Ketua Klaster Baja Lapis Aluminium Seng IISA Henry Setiawan mengatakan bahwa sejak kuartal I/2022, harga baja dunia mengalami kenaikan. Kondisi tersebut juga diiringi dengan kenaikan permintaan. “Seperti yang kita ketahui, perang Rusia dan Ukraina ternyata berdampak pada permintaan besi dan baja sekaligus berperan terhadap kenaikan harga baja dunia,” jelasnya, Selasa (17/5).
Menurutnya, kebutuhan besi dan baja nasional saat ini mencapai 15 juta ton. Sebanyak 60% kebutuhannya disuplai oleh produksi dalam negeri, sedangkan 40% sisanya masih harus impor. “Namun begitu, untuk dalam satu hingga dua tahun terakhir ini banyak industri baja kita yang ekspor dan sangat dibanggakan oleh pemerintah, terutama ekspor yang non karbon. Tujuan ekspor ini adalah untuk mengurangi suplai dalam negeri yang melimpah karena ada produk impor yang juga terus masuk,” katanya.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









