INDUSTRI BAJA : OPSI LEBAR DIVERSIFIKASI PASAR
Diversifikasi pasar dipandang menjadi langkah jitu guna meningkatkan ekspor baja Indonesia di tengah turunnya permintaan dari pasar China. Namun, pengelolaan pada pasar ekspor reguler juga tak boleh diabaikan.
Para produsen baja nasional dipandang perlu mencermati perkembangan potensi pasar ekspor di luar China agar dapat meningkatkan performa penjualan ke pasar luar negeri.Hal ini bukan tanpa alasan. China memang telah mendominasi pasar ekspor besi dan baja Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, porsinya mencapai 68,67% pada tahun lalu. Sementara, pasar Negeri Panda justru tengah lesu yang ditandai dengan lemahnya permintaan. Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Purwono Widodo mengatakan bahwa konflik geopolitik dan kondisi ekonomi global masih menjadi hambatan terbesar bagi industri baja.
Data IISIA menunjukkan bahwa penurunan konsumsi besi dan baja China lantaran perekonomian negara ini yang masih berada dalam fase transisi struktural sehingga dapat menambah volatilitas dan ketidakpastian. Inflasi di China juga tercatat masih negatif -0,3% pada Desember 2023, meski pertumbuhan ekonomi negara ini tercatat mampu berada di level 4,9%. Namun demikian, sejatinya PMI manufaktur China masih berada di zona ekspansi dengan mencatatkan 50,8. “Target produksi dan penjualan 2024 diharapkan mengalami pertumbuhan seiring dengan pertumbuhan demand dan program-program pemerintah dalam mendukung industri baja nasional,” jelasnya.
Laporan IISIA menunjukkan bahwa pasar baja yang dinilai potensial meliputi Taiwan, India, dan negara-negara lainnya di kawasan Asean dan Uni Eropa.
Direktur Komersial PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) Akbar Djohan mengungkapkan bahwa pangsa pasar ekspor menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga peningkatan kinerja penjualan perseroan.
Baru-baru ini, PT Gunung Raja Paksi Tbk. (GGRP) juga memperluas pasarnya dengan meningkatkan penetrasi di Amerika utara. Pada awal 2024, perseroan melakukan ekspor baja struktur sebanyak 1.500 metrik ton (MT) ke Kanada, dengan nilai sekitar US$2 juta. Presiden Direktur GGRP Fedaus mengungkapkan bahwa produk baja struktural yang diekspor perseroan pada awal tahun ini ditujukan guna mendukung pembangunan proyek Yukon Bridge di Kanada.
Staf Ahli Bidang Iklim Usaha dan Investasi Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi mengapresiasi GGRP yang gencar menembus pasar ekspor.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023