;

DAMPAK PERANG DAGANG : PELUANG TERBUKA EKSPOR BAJA

Ekonomi Hairul Rizal 22 Jun 2024 Bisnis Indonesia
DAMPAK PERANG DAGANG : PELUANG TERBUKA EKSPOR BAJA

Pemerintah mengincar negara-negara Barat sebagai tujuan ekspor baja nasional di tengah menghangatnya hubungan blok tersebut dengan China. Pelaku industri baja nasional pun diminta untuk mempersiapkan produknya agar bisa diterima di pasar global. Kementerian Perdagangan menilai perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China bisa menjadi peluang bagi industri baja nasional. Pelaku industri bisa memasok kebutuhan baja di sejumlah negara yang terdampak dari situasi tersebut. Menteri Perdagangan Zulkifl i Hasan mengatakan bahwa situasi yang berkembang saat ini menjadi momentum bagi industri baja nasional untuk melakukan perluasan ekspor. AS, Kanada, Australia, dan sejumlah negara Eropa bisa menjadi tujuan ekspor baru dari produk baja nasional. Sebagai informasi, AS pada April 2024 berencana menaikkan tarif hingga tiga kali lipat untuk impor baja dan aluminium asal China jika Beijing terbukti menggunakan praktik anti persaingan. “[Akibat] persaingan dagang antara Tiongkok dan negara-negara Barat, baja-baja dari Tiongkok enggak bisa masuk. Saya kira ini menjadi peluang emas,” katanya saat pelepasan ekspor baja lapis milik PT Tata Metal Lestari, Jumat (21/6). Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, dalam kesempatan itu melepas ekspor produk nexalume nexium, dan nexcolor yang diproduksi oleh PT Tata Metal Lestari ke Australia, Kanada, dan Puerto Rico, dengan nilai mencapai Rp24 miliar. Berdasarkan data dari Satu Data Perdagangan, Indonesia mengalami defisit dagang ke Australia sebesar US$1.597,8 juta pada periode Januari—April 2024. Pada periode tersebut, impor tercatat sebesar US$3,096,1 juta, sedangkan ekspor hanya sekitar US$1,498,3 juta.

Vice President Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi pun mengatakan bahwa kondisi yang terjadi saat ini memang menjadi peluang bagi industri baja, termasuk perusahaannya untuk melakukan perluasan ekspor. “Jadi bisa dibilang agak beruntung ekspornya, karena kebetulan adanya pertarungan antara dua ‘raksasa’,” ujarnya. Selain itu, industri baja nasional kian diuntungkan dengan sejumlah perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) antara Indonesia dan sejumlah negara lain, termasuk Australia. Perjanjian tersebut memungkinkan pelaku industri dalam negeri untuk melakukan ekspor ke Australia. Adapun, pada kuartal I/2023, Stephanus mengungkapkan bahwa ekspor baja perusahaannya mengalami peningkatan sebesar 8,2% atau 3,18 juta ton dibanding periode sebelumnya. Dengan capaian yang baik tersebut, Tata Metal Lestari berencana untuk kembali berinvestasi pada 2025 dengan nilai mencapai Rp1,5 triliun di luar lahan dan pembangunan. Di sisi lain, Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) mencatat penurunan volume impor baja sebesar 10,2%, yakni sebesar 3,51 juta ton pada kuartal I/2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 3,91 juta ton.Direktur Eksekutif IISIA Widodo Setiadharmaji sempat mengatakan bahwa kinerja impor yang turun merupakan dampak dari kebijakan pengendalian impor yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian melalui kebijakan larangan dan pembatasan impor.

Bahkan, dalam 5 tahun terakhir atau periode 2019—2023, volume impor turun 12,94% year-on-year (yoy) dari 17 juta ton pada 2019 menjadi 14,8 juta ton pada 2023. Angka impor itu belum pernah mencapai level sebelum Covid-19, meskipun permintaan baja domestik terus mengalami pertumbuhan. Sementara itu, World Steel Association mencatat, produksi baja mentah sepanjang Mei 2024 dari 71 negara yang melaporkan ke lembaga tersebut mencapai 165,1 juta ton. Angka tersebut meningkat 1,5% dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. China masih menjadi negara yang memproduksi baja paling banyak pada bulan lalu, yakni 92,9 juta ton, naik 2,7% dari Mei 2023. Kemudian, India memproduksi 12,2 juta ton, naik 3,5% secara tahunan. Jepang 7,2 juta ton, tumbuh 6,3% YoY, sedangkan AS memproduksi 6,9 juta ton, turun 1,5% YoY. Data tersebut juga mencatat Rusia yang diproyeksi memproduksi baja sebanyak 6,3 juta ton pada Mei 2024, dan Korea Selatan 5,2 juta ton.

Tags :
#Ekspor #Baja
Download Aplikasi Labirin :