Bursa
( 810 )Minat IPO Tetap Tinggi
Meski ada ancaman perfect storm, perusahaan Indonesia tetap ekspansi pada tahun 2023. Hal itu, terlihat pada minat perusahaan yang hendak mendapatkan dana segar dari pasar modal. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 70 emiten baru tahun depan. Selama Januari hingga 26 Oktober 2022, perusahaan yang mendapatkan dana segar dari pasar modal lewat initial public offering (IPO) dan mencatatkan saham di BEI mencapai 44 perusahaan atau 80% target 55 perusahaan. Hingga Rabu (26/10) terdapat 810 emiten yang tercatat di BEI dengan nilai kapitalisasi Rp 9.352 triliun. Dalam lima tahun terakhir jumlah emiten meningkat signifikan. Tapi, para investor menyayangkan kualitas emiten yang masuk bursa tidak sebagus periode sebelumnya. Nilai kapitalisasi saham emiten terlalu kecil, sehingga acap menjadi saham gorengan.
Dirut BEI Iman Rachman mengatakan, meski di tengah gejolak ketidakpastian, BEI tetap optimistis tahun depan aktivitas penggalangan dana melalui pasar modal tetap ramai. Bahkan, BEI telah menyiapkan sejumlah target perusahaan tercatat hingga rata-rata nilai transaksi (RNTH). Menurut Iman, optimisme tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mengendalikan pandemi dan perekonomian tetap stabil. Ia menyatakan, Indonesia salah satu dari empat negara yang dapat mengendalikan tingkat inflasi pada level 4,7% dan perekonomian bertumbuh di atas 5%. Ia memaparkan, target pencatatan 70 perusahaan akan dicapai melalui berbagai instrumen seperti saham, Exchange Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE), Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA), ataupun melalui penerbitan Efek Beragun Aset (EBA). “Kami optimistis target tersebut akan tercapai. Pasalnya, hingga saat ini perusahaan yang sudah ada dalam pipeline IPO telah mencapai 45 emiten,” ujar Iman dalam konferensi pers, usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) BEI tahun 2022 di Jakarta, Rabu (26/10). (Yoga)
IPO 2025, PT INTI Teken MoU dengan BEI
PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) (PT INTI) berkolaborasi dengan BEI untuk mewujudkan target IPO perusahaan BUMN tersebut pada 2025. Sinergi ini diinisiasi melalui penandatanganan MoU tentang Pemahaman Pasar Modal di Indonesia antara Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT INTI (Persero) Tri Hartono Rianto dan Dirut BEI Iman Rachman. “Road to IPO 2025 adalah bagian dari program transformasi total PT INTI dalam lima tahun. Sinergi dengan BEI ini merupakan salah satu upaya kami untuk mencapai target agresif dalam periode 2023-2027,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT INTI (Persero) Tri Hartono Rianto dalam keterangan resminya usai MoU di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (25/10). Tri Hartono mengungkapkan, sinergi yang telah mengantongi dukungan dari pemegang saham melalui PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) selaku kuasa pemegang saham itu, rencananya fokus pada aspek pendampingan agenda ‘Road to IPO 2025’ melalui sosialisasi pada seluruh karyawan PT INTI (Persero) untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai investasi dan pendanaan di pasar modal.
Kerja sama strategis pada aspek sosialisasi itu pun akan dibarengi dengan sokongan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan PT INTI (Persero) dalam rangka peningkatan pengetahuan dan keterampilan lainnya, terutama wawasan yang berkaitan dengan bidang pasar modal. Kolaborasi kedua pihak tersebut telah melalui sejumlah tahapan penjajakan, yaitu pertemuan antara manajemen PT INTI (Persero) dengan Head of Representative Of ce BEI Wilayah Jawa Barat Reza Sadat Shahmeini pada 26 Agustus 2022. Pertemuan tersebut ditindaklanjuti melalui kegiatan ‘Sosialisasi Initial Public Offering dan Perencanaan Kebebasan Finansial’ yang melibatkan Kepala Bagian Pengawasan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 2 Jawa Barat Tjandra Nyata Kusuma, Head of Representative Of ce BEI Wilayah Jawa Barat Reza Sadat Shahmeini, serta Regional Branch Manager PT Mandiri Sekuritas Yudhistira Putra Pradana, pada 16 September 2022. (Yoga)
BEI Luncurkan Index Baru IDax Sharia Growth
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan meluncurkan indeks baru, yakni IDX Sharia Growth pada 31 Oktober 2022. IDX Sharia Growth adalah Indeks yang berisikan 30 saham syariah yang memiliki tren pertumbuhan laba bersih dan pendapatan relatif terhadap harga dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik. “Metode penghitungan Indeks IDX Sharia Growth menggunakan metode Capped Adjusted Free Float Market Capitalization Weighted dengan pembatasan bobot saham paling tinggi 15% yang disesuaikan pada saat evaluasi. Indeks IDX Sharia Growth telah dihitung sejak hari dasarnya pada 1 Juni 2016 dengan nilai dasar 100,” kata BEI dalam pengumuman resmi yang dikutip Selasa (25/10). Bursa juga menjelaskan bahwa evaluasi atas Indeks IDX Sharia Growth terdiri atas evaluasi mayor dan minor. Evaluasi mayor mencakup pemilihan konstituen dan penyesuaian bobot dengan jadwal evaluasi pada Mei dan November, serta efektif di hari bursa pertama bulan Juni dan Desember. Sementara untuk evaluasi minor meliputi penyesuaian bobot dengan jadwal evaluasi pada Februari dan Agustus, serta efektif di hari bursa pertama bulan Maret dan September.
Selain itu, BEI telah menetapkan konstituen awal dan menyesuaikan bobot atas saham-saham yang digunakan dalam penghitungan Indeks IDX Sharia Growth. Daftar saham yang masuk sebagai konstituen awal periode perdagangan 31 Oktober sampai 30 November 2022 adalah PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Aneka Gas (BMTR), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT MNC Land Tbk (KPIG), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Timah Tbk (TINS), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA).. (Yoga)
Jelang Bonus Akhir Tahun dari Window Dressing
Penguatan sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar (
big caps
) telah mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat lesu pada pekan kedua Oktober lalu.
Big caps
yang perkasa ini menjadi indikasi
window dressing
sudah mulai terjadi secara terbatas. Financial Expert
Ajaib Sekuritas M Julian Fadli mengatakan, penguatan saham-saham
big caps
tak lepas dari dorongan aksi beli investor asing yang mencetak nilai bersih lebih dari Rp 1 triliun sepanjang pekan lalu. Rilis kinerja emiten kuartal ketiga juga memoles optimisme pelaku pasar dalam menyambut datangnya
window dressing
pada akhir tahun ini.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Divion
Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menyoroti,
window dressing
antara lain berpotensi terjadi di sektor energi dan keuangan. Penguatan saham sektor ini akan terdorong fenomena sikuls akhir tahun.
Suku Bunga Naik, PTPP Atur Dana Proyek
Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,75% langsung direspons cepat para emiten konstruksi di Tanah Air.Untuk mengantisipasi dampak kenaikan suku bunga, emiten konstruksi melakukan mitigasi biaya dana.
Contohnya seperti dilakukan PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP). Agus Purbianto, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTPP, mengatakan, PTPP melakukan upaya-upaya mitigasi
cost of fund
dalam rangka menghadapi kenaikan suku bunga.
PTPP juga mensyaratkan kejelasan klausul
cost of fund
yang ditanggung pemilik proyek untuk proyek baru. Sejauh ini PTPP telah menghentikan sejumlah investasi yang menggunakan dana kredit dengan skema bunga tidak tetap. PTPP memilih mendanai proyek dengan kredit yang menggunakan suku bunga tetap.
Aksi Korporasi Jadi Bahan Bakar Penggerak Bursa
Bursa saham di Tanah Air ibarat tengah lesu darah. Dalam sebulan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak melemah hingga kembali ke posisi di bawah 7.000. Dalam sebulan terakhir, IHSG sudah terkoreksi 5,04%.
Pelaku pasar makin cemas menanti keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dimulai hari ini, Rabu (19/10). Maklum, bank sentral diperkirakan bakal kembali mengerek suku bunga acuan ke posisi 4,5% hingga 4,75%.
Beruntung, aksi korporasi sejumlah korporasi di dalam negeri mampu menahan pelemahan IHSG. Dua hari berturut-turut di awal pekan ini, IHSG ditutup di zona hijau.
Tentu, optimisme itu bukan tanpa alasan. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menyedua faktor katalis positif pendorong IHSG.
Pertama, musim rilis laporan keuangan kuartal ketiga. Diperkirakan, mayoritas emiten masih akan mencatatkan kinerja apik. Kedua, maraknya aksi korporasi di bursa saham. Selain rencana rights issue beberapa emiten, termasuk emiten BUMN, beberapa calon emiten masih mengantre untuk menggelar penawaran umum perdana saham alias
initial public offering (IPO)
Rupiah Terpangkas 0,9% Dalam Sepekan, Dana Asing 4,2 Triliun Keluar Dari Pasar Modal
Dana asing senilai Rp 4,22 triliun keluar dari pasar modal Indonesia selama 10- 13 Oktober 2022. Foreign capital outflow tersebut membuat rupiah melemah 0,9% selama pekan ini, menjadi Rp 15.390 per US$, berdasarkan kurs Jisdor BI. Berdasarkan data BI, pada periode tersebut, nonresiden (asing) mencetak jual bersih (net sell) Rp 3,43 triliun di pasar surat berharga negara (SBN) dan net sell Rp 0,79 triliun di pasar saham domestik. Sedangkan secara year to date, berdasarkan data setelmen hingga 13 Oktober 2022, asing mencatatkan net sell Rp 170 triliun di pasar SBN dan beli bersih (net buy) Rp 71,85 triliun di pasar saham.
Direktur Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan mengatakan, pada Jumat (14/10), rupiah dibuka pada level bid Rp 15.355 per US$. Sementara itu, yield SBN tenor 10 tahun naik ke level 7,36%. “BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait dan mengoptimalkan strategi bauran kebijakan, untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan. Hal ini untuk mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” ujar Junanto dalam keterangan resmi. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ambles 0,96% ke level 6.814,5. Kemerosotan IHSG terjadi di tengah penguatan bursa regional. Indeks US$ tercatat naik 0,2% menjadi 112,52. Berdasarkan data RTI, kemarin, investor asing mencetak net sell saham Rp 425 miliar. (Yoga)
OJK Lakukan Simulasi Ketahanan Pasar Modal
OJK tengah melakukan simulasi ketahanan pasar modal dengan skenario terburuk (stress test) dalam mengantisipasi potensi guncangan di industri pasar modal akibat resesi. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi, Jumat (14/10) mengatakan, skenario stress test itu untuk melihat sejauh mana ketahanan pasar modal ketika harga minyak mencapai 150-175 USD per barel. Skenario lainnya adalah bagaimana ketahanan pasar modal ketika nilai tukar rupiah terhadap USD menembus Rp 15.500. (Yoga)
Pasar Modal Indonesia Terbaik Ke-5 di Dunia
Pasar modal Indonesia menduduki peringkat tertinggi Ke-5 di dunia dari sisi pertumbuhan IHSG. Sejak awal 2022 hingga 7 Oktober 2022, IHSG BEI menguat 6,77%, di bawah Turki yang naik 92,05%, Chile 17,05%, Qatar 12,07%, dan Brasil 11,02%. “Pasar modal menjadi tujuan investasi selama pandemi. Sejak awal tahun hingga 7 Oktober 2022, IHSG telah mencatatkan pertumbuhan 6,77% di atas UAE yang sebanyak 5,54%, Arab Saudi 4,22%, dan Singapura 0,71%,” kata Dirut BEI Iman Rachman dalam Editor in Chief Gathering IDX Market Update and Strategic Direction di Jakarta, Selasa (11/10).
Iman mengungkapkan, nilai
perdagangan di BEI naik 13,9%
dari Rp 13,4 triliun per hari di
akhir 2021 menjadi Rp 15,2
triliun per hari pada 7 Oktober
2022, kapitalisasi pasar tumbuh
11,9% dari Rp 8.256 triliun menjadi Rp 9.235 triliun, frekuensi
perdagangan harian naik 5,2%
dari 1,29 juta menjadi 1,36 juta,
dan volume perdagangan harian
naik 18,3% dari 20,6 miliar saham
menjadi 24,4 miliar saham.
Iman mengungkapkan, Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan tertinggi di Asean
dari sisi jumlah perusahaan
tercatat (listed company) di
pasar modal. Sejak awal 2022
hingga Agustus 2022, jumlah
perusahaan baru yang tercatat
di BEI bertambah 42,9% menjadi
809 perusahaan. “Hingga 7 Oktober 2022, jumlah perusahaan tercatat di BEI
telah mencapai 810 emiten, atau
ada penambahan 44 perusahaan
baru dengan nilai emisi Rp 21,8
triliun. Saat ini masih ada 38
perusahaan yang masuk dalam
pipeline BEI,” jelas Iman. (Yoga)
Sentimen Resesi Global Menguat
Ketidakpastian tengah mendera ekonomi secara global. Sinyal resesi menguat di banyak negara. Kondisi ini sangat mungkin menekan kinerja pasar ekuitas, termasuk di Indonesia. Harus disadari, performa indeks harga saham gabungan atau IHSG berada dalam tren bearish. Sejak menembus level all time high pada 13 September 2022 di angka 7.318,02, indeks komposit terus melemah bahkan sempat terperosok ke level di bawah 7.000. Pada perdagangan kemarin, Rabu (5/10), IHSG memang naik tipis sebanyak 3,13 poin ke level 7.075,38 atau tumbuh 0,04% dari hari sebelumnya. Penguatan indeks sejatinya didorong oleh saham-saham emiten batu bara yang memang sedang berada dalam periode terbaiknya. Di sisi lain, sejumlah saham blue chip yang selama ini menjadi motor penggerak pasar justru kedodoran. Lima dari 10 saham big caps terpantau melemah kendati aktif diperdagangkan. Penguatan indeks komposit kemarin juga belum mampu mengompensasi koreksi akumulatif pasar selama bulan berjalan di periode Oktober. Dalam 5 hari terakhir, IHSG tercatat melemah 0,49% dan kesulitan menembus level psikologis ke 7.100. Kekhawatiran resesi global sangat kentara memengaruhi persepsi pelaku pasar. Krisis fiskal di Inggris, misalnya, berpeluang terjadi akibat kebijakan pemangkasan tarif dasar pajak pendapatan, bea materai pajak tanah, serta pembebasan pajak 100% untuk investasi pabrik dan mesin.
Pilihan Editor
-
Perekonomian di Kota Penyangga Kembali Bergeliat
14 Jun 2020 -
Perhotelan Siapkan Standar Operasi Baru
14 Jun 2020 -
Kemenkeu akan Terbitkan Surat Utang Diaspora
07 Jun 2020 -
China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid
07 Jun 2020 -
Inilah Konsekuensi Akibat Batal Berangakat Haji
07 Jun 2020









