Bursa
( 805 )Suku Bunga Naik, PTPP Atur Dana Proyek
Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,75% langsung direspons cepat para emiten konstruksi di Tanah Air.Untuk mengantisipasi dampak kenaikan suku bunga, emiten konstruksi melakukan mitigasi biaya dana.
Contohnya seperti dilakukan PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP). Agus Purbianto, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTPP, mengatakan, PTPP melakukan upaya-upaya mitigasi
cost of fund
dalam rangka menghadapi kenaikan suku bunga.
PTPP juga mensyaratkan kejelasan klausul
cost of fund
yang ditanggung pemilik proyek untuk proyek baru. Sejauh ini PTPP telah menghentikan sejumlah investasi yang menggunakan dana kredit dengan skema bunga tidak tetap. PTPP memilih mendanai proyek dengan kredit yang menggunakan suku bunga tetap.
Aksi Korporasi Jadi Bahan Bakar Penggerak Bursa
Bursa saham di Tanah Air ibarat tengah lesu darah. Dalam sebulan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak melemah hingga kembali ke posisi di bawah 7.000. Dalam sebulan terakhir, IHSG sudah terkoreksi 5,04%.
Pelaku pasar makin cemas menanti keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dimulai hari ini, Rabu (19/10). Maklum, bank sentral diperkirakan bakal kembali mengerek suku bunga acuan ke posisi 4,5% hingga 4,75%.
Beruntung, aksi korporasi sejumlah korporasi di dalam negeri mampu menahan pelemahan IHSG. Dua hari berturut-turut di awal pekan ini, IHSG ditutup di zona hijau.
Tentu, optimisme itu bukan tanpa alasan. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menyedua faktor katalis positif pendorong IHSG.
Pertama, musim rilis laporan keuangan kuartal ketiga. Diperkirakan, mayoritas emiten masih akan mencatatkan kinerja apik. Kedua, maraknya aksi korporasi di bursa saham. Selain rencana rights issue beberapa emiten, termasuk emiten BUMN, beberapa calon emiten masih mengantre untuk menggelar penawaran umum perdana saham alias
initial public offering (IPO)
Rupiah Terpangkas 0,9% Dalam Sepekan, Dana Asing 4,2 Triliun Keluar Dari Pasar Modal
Dana asing senilai Rp 4,22 triliun keluar dari pasar modal Indonesia selama 10- 13 Oktober 2022. Foreign capital outflow tersebut membuat rupiah melemah 0,9% selama pekan ini, menjadi Rp 15.390 per US$, berdasarkan kurs Jisdor BI. Berdasarkan data BI, pada periode tersebut, nonresiden (asing) mencetak jual bersih (net sell) Rp 3,43 triliun di pasar surat berharga negara (SBN) dan net sell Rp 0,79 triliun di pasar saham domestik. Sedangkan secara year to date, berdasarkan data setelmen hingga 13 Oktober 2022, asing mencatatkan net sell Rp 170 triliun di pasar SBN dan beli bersih (net buy) Rp 71,85 triliun di pasar saham.
Direktur Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan mengatakan, pada Jumat (14/10), rupiah dibuka pada level bid Rp 15.355 per US$. Sementara itu, yield SBN tenor 10 tahun naik ke level 7,36%. “BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait dan mengoptimalkan strategi bauran kebijakan, untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan. Hal ini untuk mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” ujar Junanto dalam keterangan resmi. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ambles 0,96% ke level 6.814,5. Kemerosotan IHSG terjadi di tengah penguatan bursa regional. Indeks US$ tercatat naik 0,2% menjadi 112,52. Berdasarkan data RTI, kemarin, investor asing mencetak net sell saham Rp 425 miliar. (Yoga)
OJK Lakukan Simulasi Ketahanan Pasar Modal
OJK tengah melakukan simulasi ketahanan pasar modal dengan skenario terburuk (stress test) dalam mengantisipasi potensi guncangan di industri pasar modal akibat resesi. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi, Jumat (14/10) mengatakan, skenario stress test itu untuk melihat sejauh mana ketahanan pasar modal ketika harga minyak mencapai 150-175 USD per barel. Skenario lainnya adalah bagaimana ketahanan pasar modal ketika nilai tukar rupiah terhadap USD menembus Rp 15.500. (Yoga)
Pasar Modal Indonesia Terbaik Ke-5 di Dunia
Pasar modal Indonesia menduduki peringkat tertinggi Ke-5 di dunia dari sisi pertumbuhan IHSG. Sejak awal 2022 hingga 7 Oktober 2022, IHSG BEI menguat 6,77%, di bawah Turki yang naik 92,05%, Chile 17,05%, Qatar 12,07%, dan Brasil 11,02%. “Pasar modal menjadi tujuan investasi selama pandemi. Sejak awal tahun hingga 7 Oktober 2022, IHSG telah mencatatkan pertumbuhan 6,77% di atas UAE yang sebanyak 5,54%, Arab Saudi 4,22%, dan Singapura 0,71%,” kata Dirut BEI Iman Rachman dalam Editor in Chief Gathering IDX Market Update and Strategic Direction di Jakarta, Selasa (11/10).
Iman mengungkapkan, nilai
perdagangan di BEI naik 13,9%
dari Rp 13,4 triliun per hari di
akhir 2021 menjadi Rp 15,2
triliun per hari pada 7 Oktober
2022, kapitalisasi pasar tumbuh
11,9% dari Rp 8.256 triliun menjadi Rp 9.235 triliun, frekuensi
perdagangan harian naik 5,2%
dari 1,29 juta menjadi 1,36 juta,
dan volume perdagangan harian
naik 18,3% dari 20,6 miliar saham
menjadi 24,4 miliar saham.
Iman mengungkapkan, Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan tertinggi di Asean
dari sisi jumlah perusahaan
tercatat (listed company) di
pasar modal. Sejak awal 2022
hingga Agustus 2022, jumlah
perusahaan baru yang tercatat
di BEI bertambah 42,9% menjadi
809 perusahaan. “Hingga 7 Oktober 2022, jumlah perusahaan tercatat di BEI
telah mencapai 810 emiten, atau
ada penambahan 44 perusahaan
baru dengan nilai emisi Rp 21,8
triliun. Saat ini masih ada 38
perusahaan yang masuk dalam
pipeline BEI,” jelas Iman. (Yoga)
Sentimen Resesi Global Menguat
Ketidakpastian tengah mendera ekonomi secara global. Sinyal resesi menguat di banyak negara. Kondisi ini sangat mungkin menekan kinerja pasar ekuitas, termasuk di Indonesia. Harus disadari, performa indeks harga saham gabungan atau IHSG berada dalam tren bearish. Sejak menembus level all time high pada 13 September 2022 di angka 7.318,02, indeks komposit terus melemah bahkan sempat terperosok ke level di bawah 7.000. Pada perdagangan kemarin, Rabu (5/10), IHSG memang naik tipis sebanyak 3,13 poin ke level 7.075,38 atau tumbuh 0,04% dari hari sebelumnya. Penguatan indeks sejatinya didorong oleh saham-saham emiten batu bara yang memang sedang berada dalam periode terbaiknya. Di sisi lain, sejumlah saham blue chip yang selama ini menjadi motor penggerak pasar justru kedodoran. Lima dari 10 saham big caps terpantau melemah kendati aktif diperdagangkan. Penguatan indeks komposit kemarin juga belum mampu mengompensasi koreksi akumulatif pasar selama bulan berjalan di periode Oktober. Dalam 5 hari terakhir, IHSG tercatat melemah 0,49% dan kesulitan menembus level psikologis ke 7.100. Kekhawatiran resesi global sangat kentara memengaruhi persepsi pelaku pasar. Krisis fiskal di Inggris, misalnya, berpeluang terjadi akibat kebijakan pemangkasan tarif dasar pajak pendapatan, bea materai pajak tanah, serta pembebasan pajak 100% untuk investasi pabrik dan mesin.
Di Bawah Tekanan Inflasi dan Resesi Global
Bursa saham domestic dipastikan kembali melaju meski pekan lalu sempat melemah sejalan dengan sentiment bursa global akibat ancaman tekanan inflasi hingga resesi global yang masih cukup tinggi. Kondisi fundamental makro ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat. Dari sisi inflasi misalnya, meski ada kenaikan, Indonesia tidak setinggi negara lain,” ujar Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta akhir pekan lalu. Menurut dia, investor terus mencermati kinerja pemerintah menstabilkan perekonomian, khususnya untuk menjaga tingkat inflasi tetap di kisaran target 3 plus minus 1 %.Terlebih untuk jangka panjang, iklim investasi di Indonesia diyakini tetap sehat dn prospektif, khususnya di sector-sector yang berdaya tahan di bawah ancaman resesi. (Yoga)
Prospek Kinerja PGAS Masih Akan Ngegas
Kenaikan harga jual rata-rata dan pertumbuhan volume distribusi gas akan menjadi pendorong kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) hingga akhir tahun ini. Saham PGAS pun masih punya peluang penguatan jangka panjang. Analis Panin Sekuritas Christian Anderson Yuwono mengatakan, saham-saham berbasis komoditas pada umumnya memiliki kecenderungan untuk bergerak positif sejalan harga komoditas dasarnya. Direktur Utama Perusahaan Gas Negara M. Haryo Yunianto mengatakan, kinerja operasional tumbuh positif. Volume niaga gas mencapai 930 billion british thermal unit per day (bbtud) di semester pertama 2022. Realisasi ini naik 4,1% secara tahunan.
Terseret Pelemahan Rupiah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,71% ke posisi 7.127,50 pada akhir perdagangan Senin (26/9). Indeks saham melemah seiring pelemahan nilai tukar rupiah. Hari ini, pergerakan IHSG masih akan dibayangi pergerakan mata uang Garuda. Analis Sinarmas Sekuritas Mayang Anggita menganalisa, secara teknikal IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju MA60 di 7.030. Hitungan Mayang, IHSG bahkan bisa menyentuh level support terendah sebelumnya di 7.015. "Pelemahan ini merupakan koreksi wajar, mengingat IHSG telah rally sejak pertengahan Juli lalu," tutur dia, kemarin.
IHSG DIBAYANGI BUNGA ACUAN
Arah kebijakan suku bunga acuan yang diambil Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve terus menjadi sorotan para pelaku pasar saham. Apalagi, sejumlah ekonom memperkirakan bank sentral tersebut akan meneruskan kebijakan pengetatan moneter. Alhasil, diversifikasi portofolio dinilai dapat menjadi mitigasi yang dapat dilakukan investor di tengah risiko volatilitas pasar. Menjelang pengumuman suku bunga acuan BI dan The Fed, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami koreksi 0,12% ke level 7.188,31 pada akhir perdagangan Rabu (21/9). IHSG kian menjauh dari rekor all-time-high penutupan perdagangan yang disentuh pada Selasa (13/9) di level 7.318,01. Kendati demikian, indeks komposit tercatat menguat 9,22% sepanjang tahun berjalan 2022. Performa IHSG itu menjadi jawara di antara bursa lain di Asia Tenggara. Saat ini, pelaku pasar tengah menantikan pengumuman suku bunga The Fed yang akan disampaikan pada Kamis (22/9) dini hari waktu Indonesia. Kalangan analis menyebut Bank Sentral Amerika Serikat itu bakal mendongkrak Fed Fund Rate sebesar 75 bps hingga 100 bps dari posisi saat ini sebesar 2,5%.
Pilihan Editor
-
Perekonomian di Kota Penyangga Kembali Bergeliat
14 Jun 2020 -
Perhotelan Siapkan Standar Operasi Baru
14 Jun 2020 -
Kemenkeu akan Terbitkan Surat Utang Diaspora
07 Jun 2020 -
China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid
07 Jun 2020 -
Inilah Konsekuensi Akibat Batal Berangakat Haji
07 Jun 2020









