Bursa
( 810 )Market Cap Bursa Anjlok Rp 236 Triliun
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam tiga bulan terakhir mengikis nilai kapitalisasi pasar alias
market capitalization
(
market cap
) bursa. Jika dihitung sejak menyentuh level
all time high
pada 13 September 2022 lalu, bursa saham sudah kehilangan
market cap
senilai Rp 236 triliun.
Penurunan IHSG yang cukup dalam juga terjadi sejak awal Desember lalu. Dalam sembilan hari perdagangan, IHSG terkapar di zona merah. Meski dalam dua hari terakhir, indeks mulai kembali ke jalur hijau. Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan market cap IHSG antara lain dipengaruhi oleh koreksi saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Dengan demikian, GOTO bahkan tak lagi masuk dalam jajaran 10 saham dengan
market cap
terbesar di bursa. Saham GOTO memang menjadi pemberat laju IHSG sepanjang tahun ini. Saham emiten teknologi ini telah mengikis IHSG sebesar 429,7 poin secara year to date.
Saham GOTO Rebound Usai 11 Hari Mentok ARB
SAHAM PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akhirnya bangkit setelah 11 kali beruntun mengalami
auto rejection
bawah (ARB). GOTO bertengger di posisi Rp 100 atau naik 14,94% pada Selasa (13/12).
Pada awal perdagangan, saham GOTO sempat turun tajam 7,4% ke Rp 81 per saham. Namun GOTO berhasil naik dan sempat menyentuh level tertinggi
intraday
di Rp 108. Kemarin, total nilai transaksi GOTO di pasar reguler mencapai Rp 2,49 triliun dengan
market cap
Rp 118,44 triliun.
Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, secara teknikal, estimasi maksimum support dan resistance
GOTO berada pada rentang Rp 81 sampai dengan Rp 120."Untuk kenaikan ini sementara masih
technical rebound. Sebab dari perspektif tren, GOTO masih dalam
markdown phase," jelas Nafan, Selasa (13/12).
42 Perusahaan Antri Masuk Bursa Desember 2022
JAKARTA, ID – Hingga 9 Desember 2022, sebanyak 42 perusahaan telah masuk dalam pipeline pencatatan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI), yang didominasi oleh perusahaan sektor consumer cyclicals. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, 42 perusahaan itu terdiri atas berbagai sektor. Perinciannya, sebanyak dua perusahaan berasal dari sektor materials, dua perusahaan sektor industri, empat perusahaan sektor transportasi dan logistik, dua perusahaan sektor consumer dan noncyclicals, lalu tujuh perusahaan consumer cyclicals, dan enam perusahaan teknologi. Kemudian, tiga perusahaan sektor kesehatan, lima perusahaan energi, dua perusahaan keuangan, enam perusahaan properti dan real estat, serta tiga perusahaan dari sektor infrastruktur. Dia melanjutkan, mengingat akhir tahun 2022 yang semakin dekat, besar kemungkinan terjadi perubahan jadwal pencatatan dari tahun 2022 menjadi tahun 2023. (Yetede)
SMGR Bersiap Right Issue Rp 5,58 Triliun
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) bersiap menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD). Emiten produsen semen ini menetapkan harga pelaksanaan
rights issue
sebesar Rp 6.600 per saham.
Emiten pelat merah ini akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 846,21 juta saham baru Seri B atau 12,49% dari modal disetor setelah
rights issue. Setiap pemegang 100 juta saham lama berhak atas 14,26 juta saham.
Dari aksi korporasi ini, SMGR berpotensi mengantongi dana segar sebanyak-banyaknya sebesar Rp 5,58 triliun. Tapi, nilai ini tidak semua berbentuk tunai.
Kepala Riset Yuanta Sekuritas Chandra Pasaribu menilai,
rights issue
untuk mengakomodasi konsolidasi SMBR ini akan berdampak positif terhadap prospek SMGR ke depan. Pasalnya, pangsa pasar emiten ini akan meningkat.
ABMM Kantongi Laba Bersih US$ 169,92 Juta
PT ABM Investama Tbk (ABMM) mengantongi kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Laba bersih ABMM US$ 169,92 juta melonjak 79,90% secara tahunan.
Kenaikan laba bersih ABMM dari pertumbuhan pendapatan sebesar 46,42% jadi US$ 1,02 miliar. Segmen kontraktor tambang dan tambang batubara mencetak kontribusi terbesar, yakni 85,42% dari total pendapatan ABMM per kuartal III-2022. Pendapatan dari segmen ini naik 48,97% menjadi US$ 879,10 juta.
Selain dari tambang, ABMM juga meraih pendapatan dari bisnis jasa. Meliputi jasa logistik dan sewa kapal senilai US$ 97,32 juta,
site services
dan repabrikasi US$ 33,79 juta, serta sewa mesin pembangkit tenaga listrik sejumlah US$ 727.145.
PAPAN ANYAR PENGEREK PASAR
Bursa Efek Indonesia (BEI) punya segudang rencana untuk mendorong laju transaksi di pasar saham. Salah satunya yakni dengan membentuk papan perdagangan baru yang diharapkan bakal menjadi acuan bagi investor. Jika tak ada aral melintang, BEI akan merilis papan baru bernama New Economy pada 5 Desember. Papan ini salah satunya bakal menaungi saham-saham emiten startup maupun perusahaan teknologi yang memiliki model bisnis baru. Menyusul Papan New Economy, otoritas bursa juga mempersiapkan Papan Pemantauan Khusus yang bakal menjadi tempat bagi saham-saham yang diperdagangkan di bawah harga Rp51 per lembar alias ‘gocapan’. Rencananya papan tersebut akan dirilis tahun depan. Kehadiran papan baru tersebut dinilai sejalan dengan momentum pertumbuhan signifikan jumlah investor ritel dalam beberapa tahun terakhir. Per 3 November 2022, jumlah investor pasar modal yang mengacu pada Single Investor Identification (SID), telah mencapai 10 juta, meningkat 33,53% dari akhir 2021. Bahkan pada 2019, jumlah investor pasar modal baru 2,48 juta. Jika ditengok, sejauh ini BEI telah memiliki tiga papan perdagangan yakni Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Akselerasi. Papan-papan tersebut mengelompokkan emiten sesuai dengan kinerjanya. Dus, kehadiran papan tersebut dapat menjadi acuan bagi investor. Direktur BEI Iman Rachman mengatakan, pembentukan Papan New Economy sudah mengantongi restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurutnya, papan itu menyasar calon perusahaan tercatat yang memenuhi karakteristik seperti memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, menggunakan teknologi untuk menciptakan inovasi produk, serta memiliki kemanfaatan sosial. Perihal papan baru tersebut, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan kedua papan tersebut patut dicermati karena barang baru di pasar modal. Dia pun belum bisa menakar apakah kedua papan ini bakal menarik di mata investor. Pastinya, diperlukan waktu bagi pelaku pasar untuk mencerna papan anyar buatan Bursa itu.
Bidik Rp 1,79 Triliun, VICO Tetapkan Harga Right Issue Rp 180 Per Saham
Rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias
rights issue
PT Victoria Investama Tbk (VICO) terus bergulir. Emiten yang bergerak di sektor finansial ini menetapkan harga pelaksanaan
rights issue
senilai Rp 180 per saham.
VICO akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 9,96 miliar saham biasa, atau mewakili 49,75% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Sehingga, nilai emisi
rights issue
maksimal sebesar Rp 1,79 triliun.
Selanjutnya, Suzanna Tanojo selaku
ultimate beneficial owner
VICO, akan melaksanakan sebagian HMETD yang dimilikinya yaitu sebesar 805,55 juta. Suzanna juga telah menyetorkan dana tunai ke VICO sebesar Rp 145 miliar.
FONDASI KUAT PASAR SAHAM
Pasar modal Indonesia terus bermanuver di zona hijau sepanjang 2022. Kinerja moncer ekonomi nasional hingga pengujung tahun ini digadang-gadang menjadi fondasi kuat bagi laju bursa saham untuk menutup 2022 dengan apik, sekaligus melanjutkan tren positif di 2023. Kendati demikian, optimisme tersebut juga dibayangi beragam sentimen negatif antara lain konflik geopolitik serta dinamika keuangan global seperti bond rush di Inggris akibat penaikan pajak, dan kebangkrutan bursa kripto FTX. Kasus gagal bayar obligasi Lego Land yang memantik gejolak sistemik di pasar obligasi korporasi di Korea Selatan juga menambah sentimen negatif sektor keuangan global. Kinerja moncer pasar modal Indonesia dikemukakan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Iman Rachman yang menyatakan bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat naik 7,58% year-to-date (YtD) ke level 7.080,52 pada akhir perdagangan Kamis (24/11). “Tidak semua bursa positif. Kalau kita bandingkan, bursa Indonesia hanya berada di bawah Chile dan Turki,” ujarnya dalam sambutan CEO Networking 2022, Kamis (24/11). Lebih lanjut Iman menuturkan, kapitalisasi pasar saham Indonesia yang mencapai Rp9.520 triliun atau sekitar US$630 miliar juga merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Meski begitu, rerata nilai transaksi harian (RNTH) BEI yang mencapai Rp14,9 triliun atau US$1 miliar masih lebih rendah dari Thailand yang sudah menyentuh US$2 miliar. Iman juga menyoroti rasio jumlah investor pasar modal terhadap populasi Indonesia yang baru mencapai 1,5% atau di bawah beberapa negara Asean minimal 5% atau lebih.
PORTOFOLIO REKSA DANA : JALAN TERJAL DANA KELOLAAN
Pertumbuhan dana kelolaan industri reksa dana pada tahun depan menghadapi jalur terjal seiring dengan keluarnya dana investor institusi akibat regulasi terkait produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (Paydi). Ketua Presidium Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Marsangap P. Tamba mengatakan, kinerja dana kelolaan reksa dana tahun ini terkoreksi. Hal itu tecermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Oktober 2022 yang menunjukkan dana kelolaan industri reksa dana Rp521,96 triliun atau tergerus 10,03% secara tahun berjalan. Dana industri asuransi jiwa yang ditempatkan di reksa dana berangsur berpindah ke Kontrak Pengelolaan Dana (KPD), sehingga membuat dana kelolaan susut. Dana kelolaan yang sudah turun secara bulanan pada Januari makin tergerus sejak diterbitkan Surat Edaran OJK No. 5/SEOJK.05/2022 pada Maret 2022. Tercatat dana senilai Rp52,67 triliun telah meninggalkan reksa dana.
2023, Produksi Migas ENRG Naik 15%
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) membidik produksi minyak dan gas (migas) bisa mencapai 40.000
barrel of oil equivalent
di tahun ini. Untuk tahun depan, ENRG berharap akan ada kenaikan produksi migas sebesar 10% hingga 15%.
"Dari kenaikan produksi tersebut, kami berharap bisa menaikkan penjualan dan laba bersih di tahun depan," ujar Direktur ENRG Edoardus Ardianto dalam paparan publik, Kamis (17/11).
Selama sembilan bulan pertama 2022, perusahaan milik Grup Bakrie ini telah memproduksi 5.148
barrel of oil per day
(bopd) minyak, naik 9,64% secara tahunan. Bersama dengan itu, produksi gas juga naik 1.860% menjadi 204
million standard cubic feet per day
(mmscfd).
Sebanyak tiga blok ENRG memberi kontribusi besar terhadap produksi ENRG sepanjang periode ini, yakni Blok Malacca, Blok Bentu, dan Blok Kangean. Bersamaan dengan kenaikan tingkat produksi, harga rata-rata minyak dan gas yang direalisasikan ENRG juga turut naik.
Pilihan Editor
-
Penjualan Sepeda Melonjak
09 Jul 2020 -
Ponsel Pintar Menggerus Penjualan Kamera Digital
06 Jul 2020 -
Sepeda Listrik SLIS Ngebut di New Normal
07 Jul 2020









