;
Tags

Bursa

( 810 )

Optimisme Pasar Menguat

HR1 27 Jan 2023 Kontan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada perdagangan Kamis (26/1). IHSG naik 0,51% ke level 6.864,82. Investor asing melakukan pembelian bersih senilai Rp 853,61 miliar. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Johan Trihantoro mengatakan, penguatan IHSG disokong oleh optimisme pasar bahwa laju kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed tak lagi agresif. Dari dalam negeri, pasar merespons positif kebijakan Bank Indonesia (BI) yang melakukan operation twist untuk menjaga nilai rupiah, di tengah volatilitas nilai tukar akibat ketidakpastian global. Operation twist dilakukan BI dengan memancing investor menjual surat berharga negara (SBN) tenor pendek untuk menaikkan imbal hasil SBN tenor pendek ini. Menurut Johan, pandangan pasar akan stabilnya nilai rupiah dapat menjaga iklim bisnis di dalam negeri, hingga dapat menopang ekonomi nasional.

Bappebti Siapkan Bursa Aset Kripto Tahun Ini

KT3 21 Jan 2023 Kompas

Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Didid Noordiatmoko pada penutupan Rapat Kerja Bappebti di Jakarta, Jumat (20/1) menyatakan, Bappebti bersiap menghadirkan bursa aset kripto pada tahun 2023. Hal ini tertuang dalam rumusan hasil rapat kerja tersebut. Komitmen itu juga sesuai mandat UU No 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. (Yoga)

BENAH-BENAH BANK DAERAH

HR1 06 Jan 2023 Bisnis Indonesia (H)

Aneka tantangan ekonomi tahun ini rupanya tak membikin bank daerah kurang girah. Contohnya, PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Tbk. (Bank Sumut) yang tengah memburu waktu untuk menggelar initial public offering (IPO). Bank Sumut akan menjadi BPD keempat yang melantai di bursa. Kendati diwarnai polemik pergantian direktur utama di tengah rencana IPO, langkah Bank Sumut untuk go public diyakini bakal memantik minat bank pembangunan daerah lainnya untuk turut meramaikan pasar modal. Apalagi, pasar modal menjadi salah satu opsi potensial untuk meraup dana dalam rangka penebalan modal sebagaimana disyaratkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Regulator saat ini memang terus memompa kinerja bank daerah melalui sejumlah strategi, salah satunya konsolidasi bisnis. Bank Sumut memecah kebuntuan setelah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. menjadi emiten BPD terakhir yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) 11 tahun silam. Bank Sumut juga menyusul PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR) dan PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk. (BEKS). Bedanya, Bank Banten masuk ke bursa setelah melakukan akuisisi PT Bank Pundi Indonesia Tbk. (Lihat infografik) Ada sejumlah BPD yang secara aset lebih besar dari Bank Sumut seperti PT Bank Pembangunan Daerah DKI dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, punya prospek besar untuk bisa melantai di BEI. Bank Sumut yang telah memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar IPO, sahamnya dimiliki oleh 33 pemerintah daerah yang terdiri 1 pemerintah provinsi dan 32 pemerintah kabupaten/kota. Pelaksana tugas Direktur Utama Bank Sumut Hadi Sucipto mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan paparan publik dalam rangka IPO pada Senin, 9 Januari 2023 di Medan, Sumatra Utara.

Berburu Diskon Besar Saham Big Caps

HR1 06 Jan 2023 Kontan (H)

Belum juga sepekan tahun 2023 berjalan, langkah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah tersendat. Dalam dua hari terakhir, IHSG tersungkur cukup dalam. Kemarin (5/1), IHSG ambles 2,34% ke level 6.653,84. Di hari sebelumnya, IHSG juga tengkurap 1,10% karena penurunan saham-saham energi. Kemarin, koreksi IHSG disebabkan turunnya saham-saham big caps, terutama saham perbankan dan batubara. Analis Phintraco Sekuritas Rio Febrian mengatakan, beberapa sentimen global menjadi penekan utama IHSG. Pertama, risalah terbaru Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve. The Fed yang kemungkinan masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi, sebelum terjadi sinyal penurunan inflasi di AS yang konsisten. Bahkan dengan proyeksi inflasi AS 3,1%, bunga acuan bisa di level 5% di 2023. Kedua, kondisi Covid-19 di China yang dikhawatirkan menekan permintaan global. Ini tercermin dari keputusan pemerintah China untuk menaikkan kuota ekspor minyak, yang mengindikasikan lemahnya permintaan domestik China. Selain itu, sektor batubara juga tengah dibayangi rencana China yang mempertimbangkan untuk melonggarkan larangan impor batubara dari Australia. Saham-saham berkapitalisasi pasar besar alias big caps, terkoreksi cukup dalam dan dilepas asing. Saham-saham perbankan dan batubara menjadi saham penggerus IHSG paling besar pada perdagangan kemarin.

Menadah Berkah Kala Bunga Tinggi

HR1 06 Jan 2023 Bisnis Indonesia

Masa peralihan ke era suku bunga tinggi sepanjang 2022 ternyata tak menjadi hambatan bagi aksi penggalangan dana di pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total penggalangan dana pada tahun lalu sebesar Rp267,73 triliun yang sebagian besar berasal dari aksi penerbitan surat utang korporasi.Tak heran bila realisasi tersebut turut mengerek bisnis underwriting aksi penggalangan dana melalui surat utang korporasi. Menurut data Bloomberg League Table, tiga underwriter teratas sepanjang 2022 adalah Indo Premier Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Aldiracita Sekuritas Indonesia. Melihat rapor hijau bisnis sekuritas pada 2022, prospek bisnis pada 2023 pun diramal masih ciamik. Iklim suku bunga acuan tinggi bakal mendorong aksi penggalangan dana di pasar modal. Hal itu memantik optimisme sekuritas.PT Aldiracita Sekuritas Indonesia misalnya, menargetkan menjadi penjamin pelaksana beberapa penerbitan obligasi. “Aldira juga merencanakan digitalisasi untuk perdagangan dan fasilitas nasabah dalam melakukan perdagangan saham online atau onlinetrading,” ujar CEO Aldiracita Sekuritas Rudy Utomo, Kamis (5/1). Senada, Deputy Director Investment Banking Mirae Asset Sekuritas Mukti Wibowo Kamihadi mengatakan pada 2023 peluang bagi market untuk IPO terbuka lebar. Utamanya, bagi perusahaan yang menarik dari sisi prospek pertumbuhan. Alhasil, kondisi tersebut bisa menjadi kekuatan saat menggalang dana jelang tahun politik. Perusahaan pun mengantongi mandat penjaminan IPO dari beberapa sektor salah satunya pertambangan nikel. Mirae Asset akan membawa beberapa emiten melantai pada tahun depan, dengan nilai penggalangan dana yang cukup besar. Membuka 2023, perusahaan menjadi penjamin pelaksana IPO PT Lavender Bina Cendikia Tbk. (BMBL). Direktur Utama BCA Sekuritas Mardy Sutanto tantangan pada 2023 tetap sama dengan dengan 2022 sehingga pasar modal Tanah Air masih memiliki potensi sehingga menawarkan peluang bagi aksi korporasi.

BEI Segera Meluncurkan Indeks Berbasis ESG Baru di Tahun Ini

HR1 03 Jan 2023 Kontan

Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana untuk meluncurkan dua indeks baru berbasis  environment, social, and good governance (ESG) pada tahun 2023. Yakni, indeks ESG bertema iklim dan indeks syariah berbasis ESG. Terlebih, saat ini minat investor global pada produk berbasis ramah lingkungan terbilang tinggi. Karena itu, BEI perlu mengakomodir minat investor. Terutama, para manajer investasi dengan dana kelolaan jumbo. Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, menegaskan, manajer investasi global yang mengelola dana miliaran dollar Amerika Serikat, memiliki komitmen investasi hingga 80% di saham berbasis ESG. Bersamaan dengan itu, BEI melakukan kesepakatan dengan Kamar Dagang Industri (Kadin) untuk meluncurkan indeks baru ESG berteman iklim. "Kami sudah tandatangan MoU dengan Kadin untuk meluncurkan indeks baru ini," tutur Jeffrey, Senin (2/1). Cuma, Jeffrey belum bisa memastikan kapan kedua indeks berbasis ESDG tersebut akan diluncurkan. Dia bilang, kini BEI masih melakukan kajian.


Kinerja Positif Jadi Pijakan

KT3 31 Dec 2022 Kompas

Kinerja pasar modal Indonesia selama tahun 2022 menunjukkan catatan positif, tecermin dari sejumlah indikator, seperti stabilitas pasar, aktivitas perdagangan, jumlah penghimpunan dana, dan jumlah investor ritel di BEI. Pencapaian tersebut menjadi pijakan untuk menyongsong 2023 dengan optimisme tinggi. ”IHSG menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah dan melampaui angka sebelum pandemi. Selain itu, inflasi sampai November juga masih terkendali meski ada peningkatan. Aktivitas pasar modal cukup bergairah sepanjang tahun ini,” kata Wapres Ma’ruf Amin saat menutup perdagangan di BEI tahun 2022, Jumat (30/12). 

Dengan pencapaian-pencapaian positif tersebut, Wapres berharap pasar modal Indonesia terus bertumbuh tahun depan. Diharapkan juga, lebih banyak lagi perusahaan yang akan go public, termasuk perusahaan berskala usaha kecil dan menengah. Wapres juga menaruh harapan besar agar penawaran efek melalui urun dana berbasis teknologi informasi semakin marak. ”Beberapa capaian kinerja positif di pasar modal diharapkan menjadi pijakan bagi pelaku pasar untuk menatap optimisme perekonomian di tahun 2023 seraya tetap menjaga kewaspadaan dan kehati-hatian,” kata Wapres. (Yoga)


Tahun Menantang Bursa Saham

HR1 31 Dec 2022 Bisnis Indonesia (H)

Prospek pasar modal pada 2023 diproyeksikan semakin menguat. Rapor hijau bursa saham pada 2022 menjadi pijakan investor dalam mengatur portofolionya. Apalagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2023 diproyeksikan dapat menembus level 8.000. Sinarmas Sekuritas, misalnya, memproyeksikan IHSG pada 2023 bergerak di kisaran 6.250—8.000. Adapun, Mirae Asset Sekuritas memproyeksi IHSG dapat menembus level 7.880 pada 2023. Meski demikian, investor perlu tetap waspada mengingat sejumlah tantangan a.l. peningkatan resesi global yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan China, ditambah dengan konflik politik Rusia dan Ukraina, serta dinamika politik menjelang Pesta Demokrasi 2024 yang berisiko menggoyang pergerakan saham. Deputi Head of Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menyatakan pelaku pasar perlu memperhatikan risiko dari naiknya probabilitas resesi di AS dan China yang dapat mengganggu aktivitas dagang dengan Indonesia. Selain itu, proyeksi harga komoditas 2023 yang lebih landai dikhawatirkan bakal mengurangi optimisme pasar. Sejumlah emiten komoditas itu, sahamnya juga sempat menyentuh all time high pada tahun ini, a.l. ITMG, ADRO, dan BYAN. Di sektor perbankan, saham BBCA dan BBRI juga sempat menyentuh level tertingginya. Kendati demikian, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama optimistis sektor perbankan dan consumer goods dapat menjadi pilihan investor untuk berinvestasi saham 2023.

MAGNET KUAT SAHAM BARU

HR1 28 Dec 2022 Bisnis Indonesia (H)

Mayoritas saham emiten-emiten anyar masih menjadi instrumen investasi yang memberi cuan tebal pada tahun ini. Di tengah tren menghijaunya saham pendatang baru, investor perlu mencermati faktor tujuan go public, valuasi, kondisi keuangan, hingga prospek emiten sebelum berpartisipasi dalam IPO. Bursa Efek Indonesia kedatangan 59 emiten baru sepanjang tahun berjalan 2022. Jumlah emiten baru pada 2022 itu melampaui realisasi dalam 5 tahun sebelumnya yang tercatat 37 emiten baru pada 2017, 57 emiten baru pada 2018, 55 emiten baru pada 2019, 51 emiten baru pada 2020, dan 54 emiten baru pada 2021. Secara akumulasi, total penggalangan dana dari IPO pada tahun ini mencapai Rp33,03 triliun atau lebih rendah dari rekor pada 2021 yang menembus Rp62,61 triliun. Sektor konsumer mendominasi aksi initial public offering (IPO) pada tahun ini dengan total emiten baru sebanyak 26 perusahaan. Selain itu, IPO juga diramaikan oleh emiten dari sektor kesehatan, teknologi, dan infrastruktur. Saham emiten-emiten baru bergerak kembang kempis sejak debut di lantai bursa. Meski begitu, mayoritas melaju di teritori hijau hingga menjelang akhir tahun ini. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengatakan beberapa sektor di pasar modal masih mempunyai potensi baik seperti sektor konsumen primer dan energi. Menurut Arjun, di tengah risiko resesi dan ketidakpastian geopolitik, sektor konsumen primer memiliki resiliensi terhadap risiko ini. “Sektor energi masih kondusif karena terdapat potensi kenaikan harga minyak, batu bara, dan gas alam,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (27/12).

Window Dressing Terjagal Keluarnya Dana Asing

HR1 21 Dec 2022 Kontan (H)

Hingga sepekan menjelang Natal, belum ada tanda-tanda Santa Claus rally mampir di bursa saham Indonesia. Hingga kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan. Investor asing juga masih terus mengurangi kepemilikan di pasar saham dalam negeri. Menurut data Bloomberg, sepanjang Desember berjalan ini investor asing sudah mencetak jual bersih alias net sell Rp 15,48 triliun. Derasnya aliran keluar dana asing ini menjadi salah satu faktor yang membuat window dressing belum tampak di pasar saham dalam negeri. "Adanya capital outflow di pasar saham menjadi salah satu penyebab terhambatnya potensi window dressing," tutur Nicodimus Kristiantoro, Research & Consulting Manager Infovesta Utama, kemarin. Karena itu, para analis cukup optimistis window dressing masih bisa terjadi di pasar saham dalam negeri akhir tahun ini.