Bursa
( 805 )DLTA Incar Pertumbuhan di Area Wisata
Produsen Bir Anker, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) optimistis dapat mencetak pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang 2022 ini. Hal ini seiring dengan pertumbuhan kinerja sepanjang kuartal I-2022. Sepanjang kuartal I-2022, DLTA membukukan penjualan bersih sebesar Rp 198,82 miliar atau naik 13,49% secara year on year (yoy) dari Rp 175,18 miliar yang dicetak pada periode yang sama tahun lalu. Direktur Pemasaran Ronny Titiheruw menjelaskan, pertumbuhan penjualan tersebut disebabkan karena meredanya kasus Covid-19, yang akhirnya berimbas pada pembukaan daerah-daerah turis. Dia mencontohnya pembukaan Bali untuk wisatawan. Lebih lanjut dia bilang, untuk akhir 2022, DLTA optimistis kinerja dapat tumbuh secara maksimal. Perusahaan berharap dapat mencetak pertumbuhan baik dari sisi pendapatan atau laba bersih di atas pencapaian tahun lalu, tapi dia enggan menyebutkan target besaran pertumbuhannya.
Sebagai gambaran, DLTA berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan sebesar 24,68% yoy menjadi Rp 546,33 miliar di akhir 31 Desember 2021. Sementara, laba bersih laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 51,60% yoy Rp 188,04 miliar sepanjang tahun lalu. "Banyak daerah-daerah turis seperti Labuan Bajo dan lainnya, tapi tentu tergantung pandemi Covid-19 juga. Mudah-mudahan pandemi cepat selesai sehingga situasi pasar kembali normal," kata Ronny kepada Kontan, Rabu (22/6)
Carilah Aset Aman dari Gempuran Resesi Baru
Resesi Amerika Serikat (AS) di depan mata. Para tokoh keuangan dan pebisnis AS seperti Nouriel Roubini, Goldman Sachs Group, sampai Elon Musk, melihat peluang resesi AS mulai terjadi tahun ini. Pasar modal Tanah Air juga terpengaruh. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh rekor penutupan tertinggi 7.262,77 pada April lalu, tak lagi melanjutkan penguatan. Selain soal resesi, pasar modal juga terpengaruh isu kenaikan suku bunga di berbagai negara. Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menuturkan. di tengah ancaman resesi, umumnya akan terjadi switching ke saham defensif.
Saham Gocap Makin Banyak, Lebih Cermat Agar Tak Terjebak
Emiten berstatus saham gocap alias yang harga sahamnya tersangkut di level Rp 50 masih cukup banyak. Saham gocap tersebar di berbagai sektor, baik yang tanpa maupun dengan notasi khusus (special notation) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagai gambaran, saham gocap di jajaran emiten properti dan real estate di antaranya ada PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL), PT DMS Propertindo Tbk (KOTA), PT Karya Bersama Anugerah Tbk (KBAG), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), hingga anak usaha BUMN, PT PP Properti Tbk (PPRO).Emiten yang baru menggelar initial public offering (IPO) tahun ini juga ada yang sudah terperosok menjadi saham gocap, seperti yang terjadi pada PT Mitra Angkasa Sejahtera Tbk (BAUT). Sejak 6 Juni 2022, saham BAUT terpaku di harga Rp 50. Selain itu, ada saham gocap yang masih menunjukkan pergerakan, seperti pada PT Sentul City Tbk (BKSL). Kemudian saham yang hampir menyentuh gocap, seperti PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) yang harganya ada di Rp 51 dan PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) dengan harga Rp 52.
Head of Research Analyst FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo membeberkan sejumlah faktor yang membuat saham terperosok dan bertahan di level gocap. Penyebabnya antara lain fundamental perusahaan yang berkinerja buruk, prospek bisnis yang sedang suram, terkena kasus hukum, serta adanya regulasi yang membuat bisnis perusahaan sulit bertumbuh. Sehingga tak mengherankan jika emiten dengan saham gocap tersebar di banyak sektor, sekalipun sektornya saat ini sedang terpapar katalis positif. "Soal prospek bisnis (sektoral) ini bisa berguna, kadang juga tidak. Ada yang prospek bagus, tapi karena fundamental jelek, akhirnya susah gerak, tetap di Rp 50. Begitu juga sebaliknya," kata Wisnu kepada Kontan.co.id, Minggu (19/6).
Dampak Reshuflle Netral Terhadap IHSG
Meski Sentimen reshuffle kabinet cenderung netral terhadap IHSG, pelaku pasar masih akan mencermati kebijakan pemerintah ke depan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi melantik dua menteri dan 3 wakil menteri hasil reshuffle kabinet, Rabu (15/6). Pertama, menteri yang dilantik adalah Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menjadi Menteri Perdagangan menggantikan Muhammad Lutfi. Kemudian, Mantan Panglima TNI Hadi Tjahjanto menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menggantikan Sofyan Djalil. Selanjutnya, ada Raja Juli Antoni yang dilantik sebagai Wamen ATR/BPN, menggantikan Surya Tjandra. Adapun John Wempi Watipo yang sebelumnya menjabat Wamen PUPR, digeser menjadi Wakil Mendagri. Terakhir, Sekjen PBB Afriansyah Noor dilantik menjadi Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker). Kepala Riset FAC Sekuritas Indonesia Wisnu Prambudi Wibowo menilai, dampak reshuffle kabinet cenderung netral untuk pergerakan indeks, ia menilai, pelaku pasar lebih fokus pada katalis dari global.
Ada 57 Perusahaan Akan IPO
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga 11 Juni 2022 lalu, setidaknya ada 57 perusahaan yang masuk dalam daftar rencana alias pipeline penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Total nilai indikasinya mencapai Rp 18,14 triliun. Dalam pipelin OJK terdapat delapan perusahaan teknologi dengan total nilai indikasi mencapai Rp 7,36 triliun, sektor lainnya adalah ialah basic materials sejumlah lima perusahaan dengan nilai indikasi Rp 372,67 miliar, tujuh perusahaan dari cunsumer cyclicals (Rp 342,10 miliar), 13 perusahaan dari sektor cunsumer non-cyclicals (Rp 2,59 triliun), empat perusahaan dari sektor energi (Rp 5,67 triliun), tiga dari finansial (Rp 89,81 miliar), dua dari sektor kesehatan (Rp 102,81 miliar). Lalu, tiga perusahaan dari sektor industrial dengan nilai indikasi Rp 129,70 miliar, enam dari sektor infrastruktur (Rp 404,45 miliar), tiga dari sektor properti dan real estate (Rp 249,33 miliar), serta tiga perusahaan dari transportasi dan logistik dengan nilai indikasi Rp 729,70 miliar.
Sentimen Negatif Kepung Pasar Saham
Indeks harga saham gabungan atau IHSG terkoreksi relatif dalam pada perdagangan kemarin, Senin (13/6). IHSG kembali tersungkur ke level di bawah 7.000. Indeks komposit sempat tersungkur 2,04% pada akhir sesi pertama. Sampai dengan akhir perdagangan kemarin, IHSG terus tertekan sehingga tidak mampu keluar dari zona merah. Pelemahan pasar pada awal pekan ini mengakumulasi koreksi sepanjang bulan berjalan periode Juni 2022. Pergerakan indeks komposit tak cukup bertenaga dengan total penurunan sebesar 2,15%. Beragam sentimen negatif membayangi pergerakan IHSG. Di tengah gejolak ekonomi global, IHSG sejatinya telah mengalami tekanan cukup dalam sejak bulan lalu, seiring dengan kebijakan The Fed dalam menaikkan suku bunga. Ke depan, pasar modal di dalam negeri diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen negatif dari global, terutama dari sikap hawkish The Fed. Beragam sentimen negatif yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir sangat memengaruhi pergerakan pasar. Oleh karena itu, tidak mengherankan rasanya apabila investor cenderung memilih untuk mengambil sikap wait and see.
Mari Memilah Right Issue Emiten BUMN yang Menarik
Enam perusahaan plat merah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menggelar rights issue di tahun ini. Emiten yang akan menggelar penerbitan saham baru ini yaitu PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
Sejumlah emiten menggunakan rights issue sebagai jalan masuk penyertaan modal negara (PMN), seperti Bank BTN, Waskita, dan Adhi Karya. Waskita, setelah mendapat PMN, akan menggelar rights issue juga untuk publik dengan target Rp 1 triliun, sehingga total aksi korporasinya akan menurunkan porsi pemerintah. Emiten-emiten ini akan menggunakan dana segar dari right issue untuk memperkuat modal dan ekspansi.
43 Perusahaan Berminat Masuk Bursa
Sebanyak 43 perusahaan menyatakan minat untuk masuk ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga Senin (6/6), semua perusahaan itu sedang menjalankan proses pencatatan saham di BEI. Dana publik yang dapat dihimpun dalam pencatatan saham tersebut mencapai sekitar Rp 14,1 triliun. Selain perusahaan yang mau masuk bursa, sampai 3 Juni 2022, ada 33 emiten yang akan melakukan right issue. (Yoga)
Pelemahan IHSG Temporer
Pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga 86,38 poin atau 1,2% ke posisi 7.096,58 pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (6/6, dinilai bersifat temporer. Meski, terkoreksi cukup signifikan yang dipimpin oleh saham-saham sekitar teknologi dan finansial, IHSG masih akan kuat bertahan di atas level 7.000. Para pemodal asing masih melakukan pembelian dan akumulasi net buying asing selama Januari hingga 6 Juni 2022 mencapai Rp66,1 triliun. "Selama fundamental makroekonomi masih solid, hal ini akan membuat kinerja indeks lebih sustainable dalam menghadapi market," ujar Senior Investment Information Mirea Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta kepada Investor Daily, Senin (6/6). Sepanjang hari perdagangan kemarin, Senin (6/6), IHSG bergerak dalam rentang 7.056,1-7.194,5 dengan nilai transaksi Rp 14,59 triliun. Penurun indeks juga dialami kelompok 45 saham unggulan atau indeks 1.Q45 yang turun 7,16 poin atau 0,69% ke posisi 1.043,54. (Yetede)
Blibli Dikabarkan Bidik Dana US$ 500 Juta dari IPO
Satu lagi unicorn, perusahaan teknologi dengan valuasi di atas US$ 1 miliar, dalam negeri akan masuk bursa saham. Kabar yang diterima KONTAN, PT Global Digital Niaga, pengelola situs e-commerce Blibli.com, akan menggelar penawaran saham perdana ke publik atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini. Blibli disebut-sebut sudah menunjuk Credit Suisse First Boston (CSFB) dan Morgan Stanley untuk menghelat IPO tersebut. Kabarnya, Blibli membidik US$ 500 juta dari IPO di BEI. "Paling cepat Juni atau Juli," kata sumber KONTAN yang mengetahui rencana itu, kemarin.
Pilihan Editor
-
Hotel-Hotel yang Pantang Menyerah
17 May 2020 -
Sektor Keuangan Stabil
17 May 2020 -
Pemerintah Evaluasi Pembukaan Pusat Belanja
13 May 2020 -
Tokopedia Selidiki Kebocoran Data Pengguna
10 May 2020









