Bursa
( 805 )Laba Bersih DMAS Naik 43,7%
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencatatkan kinerja positif selama kuartal I 2022. Pendapatan dan laba bersih DMAS masing-masing tumbuh 16,3% dan 43,7% secara tahunan di periode tersebut. Di kuartal I 2-22, DMAS mencatat pendapatan usaha Rp 621 miliar atau tumbuh 16,3%. Segmen industri menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 431 miliar atau sekitar 69,4% dari total pendapatan usaha. DMAS membukukan laba bersih kuartal I 2022 sebesar Rp 389 miliar, tumbuh 43,7% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu senilai sebesar Rp 271 miliar. Adapun margin laba bersih tercatat sebesar 62,7%, lebih tinggi dibandingkan dengan margin laba bersih di periode yang sama tahun 2021 sebesar 50,7%.
Laba KINO Naik 186%, Tapi Margin Dipredikasi Menurun
PT Kino Indonesia Tbk (KINO) membukukan kinerja yang positif sepanjang kuartal I-2022. Pendapatan dan laba bersih emiten produk perawatan tubuh ini kompak menguat. Mengutip laporan keuangannya, KINO mengantongi penjualan hingga Rp 1,13 triliun atau naik 17,69% secara tahunan.
Peningkatan dari sisi penjualan itu turut mengerek laba bersih KINO hingga tiga digit, tepatnya 186,52% yoy menjadi Rp 47,22 miliar.
laba pejualan aset tetap dan laba selisih kurs-neto mengalami peningkatan masing-masing 146,80% yoy dan 356,84% yoy.
Investor Lepas Saham, Indeks Turun Tajam
Pada akhir perdagangan Senin (9/5), IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun 4,42 % jadi 6.909. Penurunan harian ini merupakan yang terbesar sejak awal tahun. Dengan posisi penutupan itu, indeks berada pada posisi terendah sejak 10 Maret 2022. Penurunan indeks yang teradi di pasar saham Indonesia sejalan pergerakan pasar saham di AS dan Asia. Pasar cenderung melemah setelah bank sentral AS, The Fed, menaikkan suku bunga 50 basis poin pada pertemuan pekan lalu. Indeks 45 saham terlikuid atau LQ45 juga turun dengan penurunan 5,48 % menjadi 1.025. Investor asing melepaskan saham senilai Rp 2,59 triliun, sementara total nilai transaksi mencapai Rp 24,3 triliun. Di kawasan Asia, sejumlah indeks saham juga tercatat melemah, seperti Indeks Strait Times Singapura yang turun 0,51 % dan indeks Nikkei 225 yang turun 2,53 %.
Di pasar saham Indonesia, investor melepaskan saham-saham berkapitalisasi besar, seperti PT BCA Tbk dan PT BRI Tbk. Saham BCA turun 6,64 % menjadi Rp 7.600 per saham. Investor asing melepaskan saham BCA senilai Rp 1,4 triliun. Sementara itu, saham BRI turun 6,98 persen. Investor asing melepaskan saham BRI Rp 688 miliar. Kedua saham perbankan ini memiliki bobot besar pada IHSG. Pergerakan saham keduanya sangat memengaruhi indeks secara keseluruhan. Selain BCA dan BRI, ada 10 saham dalam indeks LQ45 yang turun lebih dari 6 % pada perdagangan kemarin, yaitu Bank Mandiri (-6,98 %), Astra International (-6,93 %), Bukalapak.com (-6,81 %), Telkom (-6,71 %), Elang Mahkota (-6,69 %), dan Merdeka Cooper Gold (-6,60 %). Sebaliknya, para investor asing membeli saham PT Aneka Tambang Tbk senilai Rp 160 miliar dan PT Unilever Indonesia Tbk senilai Rp 100 miliar.
Analis dari Eastspring Investments dalam risetnya menyebutkan, penurunan yang terjadi di pasar saham Indonesia mengikuti pergerakan pasar saham di AS dan di pasar Asia. Pasar cenderung melemah setelah The Fed menaikkan suku bunga 50 basis poin. Fed juga mengindikasikan rencana mengurangi neraca sebesar 47,5 miliar USD per bulan sejak Juni 2022. Meski kenaikan tingkat suku bunga itu tak seagresif perkiraan analis dan ekonom, ada kekhawatiran terkait laju inflasi, pengetatan moneter, dan prospek perlambatan ekonomi global. Selain itu, ada pula risiko ketidakpastian imbas dari China yang masih menerapkan penutupan untuk menangani kenaikan kasus Covid-19. ”Namun, kami masih melihat prospek IHSG tahun 2022 ini cenderung jauh lebih baik, didukung menguatnya harga komoditas, seperti batubara dan minyak kelapa sawit mentah yang merupakan sumber pendapatan ekspor utama Indonesia,” demikian isi riset itu. (Yoga)
Pembagian Dividen Jadi Pemanis Bursa
Musim pembagian dividen masih berlanjut. Setidaknya, ada 10 emiten berencana membagi dividen usai libur lebaran. Empat di antaranya menetapkan cum date dividen pada hari ini, Senin (9/5). Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengatakan, pembagian dividen akan memberi sentimen positif bagi saham tersebut dalam jangka pendek. Investor bisa memburu saham pembagi dividen, tapi cermati kecenderungan koreksi harga paska periode cum date atau saat ex date.
Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menambahkan, di musim dividen Mei ini, kemungkinan investor tetap memburu emiten yang membagikan dividen secara rutin. "Jika emiten tersebut dalam lima tahun terakhir, termasuk di masa pandemi, mencatatkan kinerja stabil, maka akan cukup menarik bagi investor, karena ada ekspektasi dividen yang konsisten ke depannya," jelas Ivan.
Pemanis bursa
Tapi Daniel mengingatkan, keputusan bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve menaikkan bunga 50 basis poin akan menjadi perhatian pasar. Dampak kenaikan suku bunga The Fed akan terasa dalam jangka menengah panjang.
OLIV Mematok Harga Saham Perdana Rp 100 per Saham
PT Oscar Mitra Sukses Sejahtera Tbk telah menetapkan harga inital public offering (IPO) di Rp 100 per saham. Harga IPO ini merupakan batas bawah dari harga penawaran IPO calon emiten bersandi OLIV ini di kisaran Rp 100 hingga Rp 125 per saham. OLIV berencana menjual 400 juta uni saham ke publik.
Arus Dana Investor Asing Deras ke Bursa
Dana para investor asing yang masuk ke BEI hingga akhir April 2022 ini sangat deras. Data perdagangan BEI menunjukkan ada pembelian bersih dari para investor asing senilai Rp 59,6 triliun di pasar reguler. Jumlah ini masih ditambah pembelian tunai investor asing di pasar negosiasi senilai Rp 12,5 triliun. Sejak awal tahun hingga akhir April, para investor asing sudah mencatatkan pembelian bersih Rp 72,1 triliun. Tidak heran jika IHSG terus naik. Pada penutupan akhir April sebelum libur Lebaran, indeks berada pada level 7.228. Sejak awal tahun, indeks sudah naik 9,84 %. Jumlah dana investor asing yang masuk ke bursa sangat besar dibandingkan dengan arus investasi yang masuk pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2019, total dana investor asing di pasar saham mencapai Rp 49,2 triliun.Situasi berbalik pada tahun 2020 ketika pandemi Covid-19 melanda. Para investor asing berbondong-bondong keluar dari pasar saham. Nilainya cukup besar, mencapai Rp 47,8 triliun. Arus investasi asing pada saham baru kembali pada tahun 2021. Sepanjang tahun, investor asing membukukan pembelian bersih senilai Rp 38 triliun. Dari data tiga tahun terakhir, arus investasi asing pada saat ini dapat dikatakan sangat besar. Baru empat bulan pertama, dana asing sudah melampaui investasi dalam satu tahun untuk tahun 2021 dan 2019.
Pemulihan ekonomi, kurs rupiah yang stabil, serta kenaikan harga komoditas menjadi faktor penarik investor asing untuk membeli saham-saham di bursa Indonesia. Harga komoditas, seperti sawit dan batubara, membuat neraca ekspor Indonesia terus membaik. Hasil dari ekspor tersebut juga membuat kurs rupiah stabil terutama terhadap USD.Biasanya, para investor asing tidak tertarik masuk ke pasar saham Indonesia ketika kurs rupiah melemah. Pelemahan rupiah akan menggerus sebagian keuntungan yang didapatkan di pasar saham ketika hasil investasi dikonversi ke dollar AS atau mata uang lain. Dana investor asing tersebut masuk ke hampir seluruh sektor saham. Setidaknya, terdapat beberapa emiten besar yang diincar dan mendapatkan dana investasi sangat besar dalam empat bulan ini. Kalau diperhatikan, para investor asing memborong beberapa saham hingga masing-masing mencapai Rp 5 triliun. Para investor asing tersebut membeli saham Bank Rakyat Indonesia Tbk senilai Rp 10,7 triliun. Lalu saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk senilai Rp 9,2 triliun, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk Rp 5,8 triliun, dan saham PT Bank Central Asia senilai Rp 5,4 triliun. Masuknya investor asing ke emiten-emiten tersebut juga ikut mendorong harga sahamnya. Saham Bank BRI naik 18,49 % sejak awal tahun. Tidak ketinggalan, saham Telkom naik 14,36 persen, saham Bank BNI naik 36,67 %, serta saham BCA naik 11,3 %. (Yoga)
Siap-Siap Rupiah Melemah Usai Liburan
Nilai tukar rupiah tidak banyak bergerak di akhir Ramadan. Kemarin, kurs spot rupiah menguat tipis 0,08% menjadi Rp 14,482 per dollar Amerika Serikat (AS). Tapi bila dihitung dalam sepekan, kurs spot rupiah melemah cukup besar, lantaran di Kamis (28/4) kurs rupiah tertekan cukup dalam. Di Kamis, kurs spot rupiah ditutup turun 0,56% ke Rp 14,494 per dollar AS. Rupiah juga cenderung melemah sepekan terakhir karena banyak pelaku pasar mengurangi mata uang Garuda. Pasalnya, Indonesia memasuki libur panjang lebaran, sehingga aktivitas di pasar keuangan dalam negeri terhenti.
Saham GOTO Menyentuh Auto Reject Bawah
Setelah agen stabilisasi kehabisan amunisi saham greenshoe, penurunan saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tidak terbendung. Saham perusahaan teknologi ini terkena auto reject bawah setelah turun 6,45% ke level Rp 290 per saham. Saham greenshoe sedianya menjaga harga GOTO berada paling rendah di harga initial public offering (IPO) Rp 338 per saham.
Kinerja ENAK Semakin Gurih
PT Champ Resto Indonesia Tbk (ENAK) membukukan pendapatan sebesar Rp 268,2 miliar pada kuartal I tahun 2022. Capaian ini meningkat 65% jika dibandingkan kuartal yang sama tahun 2021, yang berjumlah Rp 162,5 miliar. Restoran Gokana dan Raa Cha masih menjadi kontributor terbesar 41% dan 40% dari total pendapatan ENAK.
SRTG Siapkan Dana Investasi Jumbo
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) US$ 100 juta-US$ 150 juta tahun ini. Nilai ini setara Rp 1,4 triliun-Rp 2,1 triliun. Porsi untuk investasi ke sektor teknologi cukup besar.
"Kami mengalokasikan sekitar 30%-40% capex untuk sektor teknologi," kata Devin Wirawan, Direktur Investasi SRTG, Kamis (21/4). Sektor lain yang jadi pilihan Saratoga yaitu pelayanan kesehatan dan energi terbarukan.
Pilihan Editor
-
Iwan Sunito Bangun Properti di AS
23 Apr 2020 -
Ekspor Besi dan Baja Melonjak Selama Pandemi
20 Apr 2020 -
Fokus ke Sektor Domestik
19 Apr 2020 -
Tambahan Insentif Pajak ke 11 Sektor Usaha
16 Apr 2020









