Investor Lepas Saham, Indeks Turun Tajam
Pada akhir perdagangan Senin (9/5), IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun 4,42 % jadi 6.909. Penurunan harian ini merupakan yang terbesar sejak awal tahun. Dengan posisi penutupan itu, indeks berada pada posisi terendah sejak 10 Maret 2022. Penurunan indeks yang teradi di pasar saham Indonesia sejalan pergerakan pasar saham di AS dan Asia. Pasar cenderung melemah setelah bank sentral AS, The Fed, menaikkan suku bunga 50 basis poin pada pertemuan pekan lalu. Indeks 45 saham terlikuid atau LQ45 juga turun dengan penurunan 5,48 % menjadi 1.025. Investor asing melepaskan saham senilai Rp 2,59 triliun, sementara total nilai transaksi mencapai Rp 24,3 triliun. Di kawasan Asia, sejumlah indeks saham juga tercatat melemah, seperti Indeks Strait Times Singapura yang turun 0,51 % dan indeks Nikkei 225 yang turun 2,53 %.
Di pasar saham Indonesia, investor melepaskan saham-saham berkapitalisasi besar, seperti PT BCA Tbk dan PT BRI Tbk. Saham BCA turun 6,64 % menjadi Rp 7.600 per saham. Investor asing melepaskan saham BCA senilai Rp 1,4 triliun. Sementara itu, saham BRI turun 6,98 persen. Investor asing melepaskan saham BRI Rp 688 miliar. Kedua saham perbankan ini memiliki bobot besar pada IHSG. Pergerakan saham keduanya sangat memengaruhi indeks secara keseluruhan. Selain BCA dan BRI, ada 10 saham dalam indeks LQ45 yang turun lebih dari 6 % pada perdagangan kemarin, yaitu Bank Mandiri (-6,98 %), Astra International (-6,93 %), Bukalapak.com (-6,81 %), Telkom (-6,71 %), Elang Mahkota (-6,69 %), dan Merdeka Cooper Gold (-6,60 %). Sebaliknya, para investor asing membeli saham PT Aneka Tambang Tbk senilai Rp 160 miliar dan PT Unilever Indonesia Tbk senilai Rp 100 miliar.
Analis dari Eastspring Investments dalam risetnya menyebutkan, penurunan yang terjadi di pasar saham Indonesia mengikuti pergerakan pasar saham di AS dan di pasar Asia. Pasar cenderung melemah setelah The Fed menaikkan suku bunga 50 basis poin. Fed juga mengindikasikan rencana mengurangi neraca sebesar 47,5 miliar USD per bulan sejak Juni 2022. Meski kenaikan tingkat suku bunga itu tak seagresif perkiraan analis dan ekonom, ada kekhawatiran terkait laju inflasi, pengetatan moneter, dan prospek perlambatan ekonomi global. Selain itu, ada pula risiko ketidakpastian imbas dari China yang masih menerapkan penutupan untuk menangani kenaikan kasus Covid-19. ”Namun, kami masih melihat prospek IHSG tahun 2022 ini cenderung jauh lebih baik, didukung menguatnya harga komoditas, seperti batubara dan minyak kelapa sawit mentah yang merupakan sumber pendapatan ekspor utama Indonesia,” demikian isi riset itu. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023