Bursa
( 810 )GoTO Bidik Dana US$ 2 Miliar dari IPO
GoTo, perusahaan hasil
merger Gojek dan Tokopedia, dikabarkan
akan mencatatkan sahamnya (listing) di
Bursa Efek Indonesia dan Amerika Serikat
(AS). GoTo membidik dana US$ 2 miliar
dari penawaran umum perdana (initial
public offering/IPO) saham.
Berdasarkan laporan
Bloomberg, GoTo berencana
mencatatkan sahamnya di
Bursa Efek Indonesia pada
tahun ini. Namun, sebelum
itu, GoTo akan menggalang
dana dari bursa AS terlebih
dahulu. “GoTo sudah memulai proses penggalangan
dana sekitar US$ 1-2 miliar
dengan valuasi sekitar US$
25-30 miliar,” ungkap sumber
yang mengetahui hal itu,
Selasa (27/7).
Sementara itu, perwakilan
dari GoTo menolak berkomentar mengenai kabar
dual listing tersebut. Namun, seorang sumber menyebutkan bahwa perundingan terus berlangsung
dan nilai penggalangan dana
bisa berubah.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) Hoesen pernah mengatakan,
saat ini ada tiga perusahaan
rintisan (start-up) bervaluasi
unicorn dan decacorn yang
akan mencatatkan sahamnya
di BEI. Dia tidak mengungkapkan nama-nama perusahaan
tersebut, tapi hanya menyebut total valuasi aset dari tiga
perusahaan itu di atas US$
21,5 miliar atau sekitar Rp
311,7 triliun.
Sebelumnya, Komisaris
BEI Pandu Sjahrir mengatakan, selain GoTo dan Bukalapak, terdapat dua unicorn
yang berpotensi IPO, yakni
PT Global JET Express (J&T
Express) dan PT Trinusa
Travelindo (Traveloka).
(Oleh - HR1)
Bukalapak Cetak Rekor Emisi IPO Terbesar
Proses penawaran saham perdana Bukalapak bakal segera memasuki tahapan baru. Perusahaan e-commerce tersebut akan mulai menggelar penawaran umum saham perdananya. Dimulainya masa penawaran IPO Bukalapak sekaligus mengukuhkan initial public offering (IPO) dengan nilai terbesar dalam sejarah bursa saham lokal. "Bukalapak menawarkan 25,76 miliar saham pada harga penawaran Rp 850 per saham," tulis manajemen Bukalapak dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, Selasa (27/7). Dengan struktur tersebut, Bukalapak berpotensi meraup dana segar sekitar Rp 21,9 triliun. Rekor IPO terbesar sebelumnya dipegang oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO), yang melepas emisi sebesar Rp 11,2 triliun.
Head of Research Samuel Sekuritas Suria Dharma menyebut, murah atau mahalnya valuasi saham sejatinya relatif. Sebab, perusahaan seperti Bukalapak lebih menonjolkan rekam jejak pertumbuhan. Meski masih mencatat kerugian, Bukalapak mampu menetapkan harga pelaksanaan di batas atas rentang penawaran. "Artinya, minatnya ada," ujar Suria, Selasa (27.7). Cuma memang, jika valuasi menggunakan basis perbandingan nilai perusahaan dengan penjualan atawa enterprise value to sales (EV/sales enterprise value to sales (EV/sales), valuasi Bukalapak tergolong premium. Tapi jika mengacu pada total processing value (TPV), valuasi Bukalapak belum premium. "Karena jika menggunakan TPV dan dibandingkan dengan peers di luar negeri, ini masih wajar," terang Suria.Gairah Transaksi di Bursa Komoditas
Volume transaksi komoditas di bursa berjangka masih bergairah dan cenderung stabil pada masa pandemi Covid-19. Emas mendominasi transaksi bursa.
Di Bursa Berjangka Jakarta (JFX), transaksi selama semester I 2021 mencapai 4 juta lot atau relatif sama dengan semester I 2020. Dia menargetkan transaksi hingga 11,1 juta lot hingga akhir tahun nanti.
Menurut Stephanus, hingga akhir tahun nanti, kontrak emas Loco London masih akan mendominasi volume transaksi di JFX. Sebab, harga mineral tersebut masih berpotensi meningkat secara global. Kontrak komoditas lainnya dia perkirakan fluktuatif pada semester kedua, sehingga berpotensi dijadikan momentum untuk mengambil untung oleh para investor.
Transaksi multilateral Bursa Berjangka Jakarta hingga Juni lalu sebanyak 798.228 lot. Angka itu turun jika dibanding pada periode yang sama tahun lalu, yaitu 806.473 lot. Namun sejumlah produk multilateral mengalami kenaikan signifikan. Stephanus mencontohkan kontrak kakao naik 53 persen menjadi 32.610 lot dari 15.313 lot pada periode yang sama tahun lalu.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat bursa berjangka dalam negeri mengalami tren positif sejak beberapa tahun terakhir. Setidaknya, sejak empat tahun terakhir, volume transaksi di bursa berjangka rata-rata tumbuh 17,68 persen.
Konglomerat Kuasai 20% Aset di Bursa Saham
Kekayaan bos Grup Indofood Anthony Salim makin bertambah. Penyebabnya, harga saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) naik tinggi. Anthony membeli saham perusalaan data center itu di Rp 5.277 per saham. Kemarin, harganya sudah Rp 50. 250. Anthony kini menguasai 11,12% saham DCII. Jadi, bila mengacu pada kapitalisasi pasar DCII kemarin yang sebesar Rp 119,78 triliun, menurut data RTI, maka kekayaan Anthony dari DIRI mencapai Rp 13,32 triliun. Bila dihitung dengan investasi Anthony di saham lain dan digabung dengan seluruh kepemilikan saham Grup Salim, total kekayaan keluarga Salim di bursa mencapai Rp 175,32 triliun.
Grup Salim bukan konglomerat dengan kekayaan terbanyak dari bursa saham. Dua bersaudara Hartono, yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, masih menjadi duo taipan tak terkalahkan berdasarkan jumlah kekayaan di pasar saham. Jumlah kekayaannya mencapai Rp 466,64 triliun. Lewat Grup Djarum, keduanya jadi pemegang saham pengendali di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan porsi 54,94% dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dengan porsi kepemilikan 52,02. Total nilai kepemilikan saham para konglomerat di saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai sekitar 19,12% dari total kapitalisasi pasar yang sebesar Rp 7.218,45 triiliun. Total kekayaan para taipan ini mencapai Rp 1.380,70 triliun.
Konglomerasi terbesar ketiga di BEI adalah Grup Astra dengan kekayaan Rp 174,31 triliun. Tapi, kapitalisasi grup ini tergerus dari awal tahun, mengingat kenaikan harga saham hanya dicetak PT Astra Otoparts Tbk (AUTO). Analis Erdhika Elit Sekuritas Hendri Widiantoro menuturkan, tiga grup tersebut memiliki emiten dengan kapitalisasipasar besar. Bahkan, sejumlah emiten dari tiga grup tersebut termasuk jadi penggerak indeks saham.
Membaca Peluang Alternatif Bursa Capres
Dinamika bursa pencalonan presiden pada Pemilu 2024 akan membuka banyak kemungkinan, tak hanya pengerucutan sosok potensial, tetapi juga memantik terbentuknya poros-poros kekuatan partai pengusung. Sederat nama masuk daftar sosok calon presiden 2024 dengan tingkat elektabilitas tinggi. Kemunculan mereka dari hasil berbagai survei tersebut membuat peta politik bergerak dinamis dengan berbagai manuver dan strategi yang dimainkan.
Hasil survei Kompas yang dilakukan pada periode April 2021 menempatkan sejumlah sosok calon presiden dengan tingkat elektabilitas tinggi, yaitu Prabowo Subianto (16,4 persen), disusul berurutan oleh Anies Baswedan (10,0 persen), Ganjar Pranowo (7,3 persen), Sandiaga Uno (3,7 persen), dan Ridwan Kamil (3,4 persen).
Salah satu yang menjadi perhatian terkait PDI-P yang belakangan getol menggaungkan nama Puan Maharani sebagai calon presiden. Meskipun belum final, dinamika terkait pemunculan nama calon presiden di internal partai itu cukup memberikan banyak kejutan. Sebagai pemegang trah Soekarno, Puan memang digadang akan mendapatkan karpet merah untuk mengantongi rekomendasi dari sang Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Belakangan polemik terkait hal itu mengemuka di publik. Dimulai saat Puan yang tidak mengundang Ganjar Pranowo saat konsolidasi PDI-P di Jawa Tengah dan menyinggung kehadiran pemimpin rakyat yang tidak hanya di dunia maya, hingga bocornya rekaman suara off the record dari Ketua DPD PDI-P Jawa Tengah Bambang Wuryanto, yang menyebut sosok Puan pantas mendapat rekomendasi dan bahkan siapa pun yang menjadi calon presiden, Puan layak menjadi wakilnya.
Menguatnya Prabowo yang sangat mungkin dicalonkan oleh PDI-P ataupun Gerindra itu membuka banyak kemungkinan lain dalam bursa pencalonan presiden. Jika hal itu benar terjadi, tertutupnya pencalonan untuk kader-kader internal lainnya justru akan membuka peluang baru untuk maju diusung oleh poros koalisi lainnya. Sekalipun elektabilitasnya cukup melejit dalam beberapa waktu terakhir, tampaknya hal itu tak menjamin Ganjar Prabowo akan mulus mengantongi rekomendasi dari PDI-P untuk dicalonkan sebagai presiden.
Demikian pula di Gerindra, menguatnya sosok Prabowo juga akan menutup kemungkinan untuk memajukan sosok lain dalam pilpres mendatang. Sejumlah hasil survei menempatkan nama Sandiaga Uno yang juga kader Gerindra sebagai calon presiden dengan elektabilitas cukup tinggi. Bila dihadapkan pada kondisi demikian, baik bagi Ganjar maupun Sandiaga sangat memungkinkan untuk membuka peluang lain dengan melepaskan diri dari naungan PDI-P dan Gerindra.
Kemunculan nama-nama di atas dalam bursa calon presiden ini tentu akan membuat peta penggalangan kekuatan yang dilakukan partai-partai menjadi sangat berdenyut. Berdasarkan hasil Pemilu 2019, setidaknya ada tiga hingga empat poros koalisi partai yang dapat terbentuk untuk mengusung setiap calon presiden dan wakil presiden di Pilpres 2024. Persyaratan ambang batas partai politik untuk mengusung calon presiden atau presidential threshold sebesar 20 persen kursi legislatif atau 25 persen penguasaan suara sah nasional pada pemilu sebelumnya (UU 7/2017 tentang Pemilu), tentu membentuk rasionalitas bagi partai untuk sedapat mungkin mengusung pasangan calon paling tepat meskipun bukan berasal dari kader internal.
Partai papan atas lainnya dengan penguasaan lebih dari 10 persen, seperti Gerindra (13,57 persen), Golkar (14,78 persen), Nasdem (10,26 persen), PKB (10,09 persen), dengan melihat perolehan kursi mereka, secara matematis hanya diperlukan dua partai untuk berkoalisi memenuhi syarat ambang batas pencalonan. Dengan demikian, kemungkinan ada dua hingga tiga poros koalisi yang dapat terbentuk. Kemungkinan poros lain juga dapat dilakukan antarpartai yang memiliki penguasaan kurang dari 10 persen kursi di DPR. Partai-partai, seperti Demokrat(9,39 persen), PKS (8,70 persen), dan PAN (7,65 persen), dapat juga dapat menggawangi poros koalisi bersama partai-partai kecil lainnya untuk dapat memenuhi persyaratan pencalonan presiden.Bukalapak Dikabarkan Bakal IPO US$ 300 Juta
JAKARTA, Perusahaan e-commerce Indonesia, Bukalapak makin mantap untuk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bukalapak dikabarkan menargetkan perolehan dana sebesar US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Seperti dilaporkan Dealstreet Asia, Bukalapak sudah mengirimkan proposal terkait rencana IPO kepada BEI. Unicorn tersebut juga telah melengkapi daftar investor yang akan mendukung perkembangan bisnisnya. Adapun sebanyak tiga pemegang saham terbesar menguasai lebih dari 60% saham Bukalapak. Sementara itu, dalam wawancara dengan Bloomberg, Chief Executive Officer (CEO) Bukalapak Rachmat Kaimuddin mengungkapkan, sebagai sebuah perusahaan yang sudah berjalan lebih dari 10 tahun, penting bagi Bukalapak untuk memilih akses terhadap permodalan. Hal ini juga termasuk untuk menjadi perusahaan terbuka, karena bisa meningkatkan transparansi usaha. Karena itu, sejauh ini perusahaan terus mempersiapkan diri untuk menjadi perusahaan terbuka. Namun, Bukalapak belum bisa membeberkan lebih lanjut mengenai rencana tersebut. Menanggapi hal itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, pihaknya belum bisa menyampaikan nama calon perusahaan yang akan IPO. Pihaknya baru bisa memberitahukan hal itu sampai OJK telah memberikan persetujuan atas penerbitan prospektus awal kepada publik, sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK No IX.A.2.
Apabila Bukalapak jadi mencatatkan sahamnya di BEI, Bukalapak akan menambah calon perusahaan tercatat yang bisa meraih dana bernilai jumbo. Salah satu unicorn yang juga disinyalir bisa meraih dana besar dari IPO adalah Gojek dan Tokopedia (GoTo). Bahkan, kapitalisasi pasar perusahaan gabungan tersebut digadang-gadang bisa mencapai US$ 40 miliar atau satu tingkat di bawah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Di luar perusahaan unicorn, ada produsen minuman yoghurt, PT Cisarua Mountain Dairy (Cimory), yang juga dikabarkan tengah mempertimbangkan IPO saham pada tahun ini. IPO tersebut bakal menjadi salah satu yang terbesar, lantaran perseroan membidik dana segar hingga US$ 300 juta. Cimory sedang bekerja dengan penasihat keuangan dalam penjualan saham. Penawaran ini berpotensi menjadi yang terbesar sejak PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk yang IPO sebesar US$ 334 juta pada 2019. Di lain pihak, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga menjajaki IPO anak usahanya di segmen nutrisi dan kesehatan, yakni PT Sanghiang Perkasa, dengan target dana hingga US$ 500 juta. Mengkonfirmasi hal tersebut, Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius menjelaskan bahwa IPO anak usaha tidak hanya dilakukan untuk segmen nutrisi dan kesehatan, tetapi juga untuk segmen distribusi dan logistik.
(Oleh - HR1)
Dual Listing Jadi Pilihan Bagi GoTo
Penawaran saham perdana di dua bursa atau dual listing dinilai menjadi pilihan yang paling memungkinkan bagi GoTo. Dengan jumlah pendanaan sekitar 18 miliar dollar AS atau sekitar Rp 261 triliun, pada kurs Rp 14.500 per dollar AS, grup hasil kolaborasi Gojek dan Tokopedia itu masuk dalam jajaran 10 emiten berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan valuasi pendanaan itu, jika GoTo melepaskan 10 persen saja sahamnya ke Bursa Efek Indonesia (BEI), akan tersedia pasokan saham Rp 21 triliun. Jumlah ini dinilai terlalu besar untuk dapat diserap di pasar domestik. Dalam sejarah bursa, penjualan saham terbesar di bursa bernilai Rp 12,4 triliun, yakni ketika perusahaan batubara PT Adaro Energy melepaskan sebagian sahamnya. Urutan kedua adalah PT Indofood CBP Tbk dengan perolehan Rp 6,2 triliun. ”Kalau jumlah saham yang dilepas terlalu besar, pasar tidak sanggup menyerapnya. GoTo juga harus mencari investor strategis untuk bertindak sebagai pembeli siaga,” kata Head of Investment Reswara Gian Investa, Kiswoyo Adi, di Jakarta, Selasa (18/5/2021).
Pesaing GoTo, Grab Holding Inc, sudah bersiap mencatatkan sahamnya di Bursa Nasdaq. Grab menempuh jalan merger dengan perusahaan cangkang khusus untuk akuisisi (special purpose acquisition company/SPAC). Grab Holding Inc diketahui sudah merger dengan Altimeter Growth Corp. Valuasi Grab diperkirakan mencapai 39,6 miliar dollar AS. Perusahaan analisis data CB Insight memprediksi, setelah merger dan masuk bursa, target valuasi yang akan dicapai oleh GoTo mencapai 40 miliar dollar AS. Kiswoyo mengingatkan, kinerja GoTo harus benar-benar bagus ketika masuk bursa sehingga menghindari risiko terjadinya penggelembungan valuasi. Valuasi yang terlalu tinggi berisiko membuat harga saham jadi stagnan, bahkan menurun.
Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca, yang dihubungiterpisah, memperkirakan, dua pertiga transaksi harian konsumen Indonesia terjadi melalui platform Grup GoTo. GoTo menawarkan layanan mulai dari pesan antar makanan, transportasi, lokapasar, hingga sistem pembayaran. Dengan demikian, perkiraan valuasi 40 miliar dollar AS ketika masuk bursa masih masuk akal. Menurut dia, rencana Grup GoTo melantai di bursa akan menjadi preseden bagi perusahaan rintisan berbasis teknologi Indonesia lain untuk mengikuti jejaknya. Dengan kata lain, Grup GoTo bisa jadi contoh. ”Bagi Indonesia, hal (melantai di bursa) itu menandai era baru. Bursa saham Indonesia dulu didominasi oleh perusahaan tambang, pertanian, lalu telekomunikasi, serta kini menuju sektor konsumer digital,” kata Willson.
Aset Kripto : Menyiapkan Para Calon Investor
Regulasi atas perdagangan aset kripto merupakan keniscayaan. Transaksi yang sudah mencapai triliunan rupiah per hari dan jumlah investor pun sudah mencapai 4,5 juta orang, lebih banyak dari investor saham. Perlu campur tangan pemerintah untuk menciptakan ekosistem perdagangan aset kripto yang wajar dan aman bagi para investornya.
Selain membentuk pasar aset kripto yang wajar dan aman, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) berencana membuat bursa kripto. Berbagai persiapan dilakukan, seperti mempersiapkan kliring dan kustodian sebagai pelengkap bursa. Kerja sama dengan lembaga lain, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia pun, perlu makin kuat dijalin.
Selain menyiapkan perangkat dan wadah perdagangan, persiapan lain yang juga tidak kalah penting adalah menyiapkan para calon investor. Statistik para investor pada pasar aset kripto belum dapat diketahui dengan pasti layaknya investor di pasar saham yang telah memiliki single investor identification (SID) dan data yang rapi di Kustodian Sentral Efek Indonesia. Tetapi, dapat diperkirakan, profil investor pada aset kripto serupa dengan profil investor di pasar modal, yaitu didominasi oleh investor muda dan pemula.
Bisa jadi juga, secara umum karakternya pun serupa dengan karakter investor di pasar saham. Mau untung cepat, tetapi malas belajar dan abai terhadap pengelolaan risiko. Setelah pasar saham melonjak seusai terkoreksi pada Maret 2020, tidak sedikit investor pemula yang masuk ke pasar saham tanpa memiliki bekal keterampilan dan pengetahuan memadai. Tidak sedikit di antara mereka hanya ikut-ikutan dan takut ketinggalan (fear of missing out). Akibatnya, karena tergiur kenaikan harga saham, banyak yang menggunakan dana yang seharusnya tidak dibelanjakan untuk investasi saham. Misalnya, menggunakan kebutuhan sehari-hari, uang kuliah, bahkan dana pinjaman berbunga tinggi. Ada pula yang terjebak memasukkan dana untuk menitip investasi abal-abal hingga uangnya lenyap dalam sekejap.
Regulator perlu terus mengingatkan kepada para calon investor, bahwa berinvestasi pada aset kripto berisiko sangat tinggi dengan fluktuasi yang melebihi pasar saham. Mendorong para calon investor untuk menerapkan 3M, yaitu mind (psikologi pasar), method (strategi bertransaksi), dan money management (manajemen modal untuk manajemen risiko) dapat menjadi topik-topik dasar mempersiapkan para calon investor bertransaksi di pasar aset kripto. Ekosistem perdagangan aset kripto tidak hanya terdiri atas regulator, bursa, kliring, dan penjamin, tetapi juga para investor yang paham betul apa dan bagaimana instrumen investasi yang dipilihnya. Pada akhirnya, semua pihak dapat memetik manfaat dari aset yang disebut-sebut sebagai pilihan aset di masa depan ini.
Raksasa Digital Asia Tenggara Siap Masuk Bursa
Bisnis teknologi digital di Tanah Air memasuki babak baru. Dua perusahaan teknologi yang berbasis di Indonesia, Gojek dan Tokopedia, resmi merger dan mengusung nama baru: GoTo. Pasca merger, valuasi Grup GoTo disebut-sebut mencapai USS 17 miliar atau Rp 198,80 triliun (kurs Rp 14.200 per dollar AS). Dengan valuasi ini, GoTo menjadi raksasa teknologi dengan valuasi terbesar di kawasan Asia Tenggara mengungguli Grab.
Platform market intelligence global CB Insights pada April 2021 mencatat, valuasi Grab sebesar USS 14 miliar. Pada saat yang sama, GoTo menjadi startup dengan valuasi terbesar ke-12 di dunia. "Kehadiran Grup GoTo memungkinkan kami semakin mendorong inklusi keuangan di Indonesia dan Asia Tenggara, ungkap Andre Soelistyo, CEO GoTo, dalam pernyataan resminya, kemarin.
Aksi merger Gojek dan Tokopedia kian menegaskan grup konglomerasi global dan nasional masih menguasai bisnis teknologi digital di Tanah Air. Sederet investor blue-chip Grup GoTo antara lain Alibaba Group, Astra International, BlackRock, Capital Group, DST, Facebook, Google, JD. com, KR, Northstar, PayPal, Provident, Sequoia Capital, SoftBank, Telkomsel, Temasek, Tencent, Visa serta Warburg Pincus.
Rencana IPO Gojek dan Tokopedia sempat dilontarkan Pandu Sjahrir, Presiden Komisaris SEA Group Indonesia yang menaungi Shopee, akhir April lalu. Pria yang menjabat Komisaris BEI dan juga board member Gojek ini juga menyebut, konsolidasi terjadi dalam waktu dekat. Pandu bilang, GoTo akan listing dulu di Indonesia semester kedua tahun ini, menyusul kemudian ke Wall Street.
Jadi Subholding, Pertaminan International Shipping Siap IPO
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara
Erick Thohir meresmikan subholding pertama
PT Pertamina (Persero) yaitu PT Pertamina
International Shipping (PT PIS). Selanjutnya,
pemerintah menargetkan PIS dapat melantai di
Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini.
“Untuk go public tentu kami
melihat dari banyaknya corporate
action yang akan terjadi di market,
ada dari swasta ada BUMN, tentu
nanti window disesuaikan saat yang
tepat, tapi Insya Allah di tahun ini.
Kalau bulannya, kapannya kami
belum bisa, karena proses go public
itu tentu harus melakukan sosialisasi daripada pihak-pihak terkait,”
jelas Menteri BUMN Erick Thohir
dalam acara Peresmian PIS sebagai
Subholding Shipping Pertamina di
Jakarta, Rabu (5/5).
Erick menjelaskan transformasi
secara menyeluruh dilakukan sejak awal tahun 2020. Kementerian
BUMN memang sudah merapikan
road map dari masing-masing BUMN
sejak lama. Sayangnya, progres dari
masing-masing BUMN ada yang
cepat ada yang lamban. “Saya hari ini
mengapresiasi bahwa langkah yang
dilakukan Pertamina melakukan
transformasi ini cepat jadi bukan
masuk ke yang lambat,” katanya.
Rencana integrasi merupakan
bagian dari logistik kelautan, yang
tadinya hanya bisnis kapal sekarang
menjadi integrasi bisnis kelautan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa langkah strategis tersebut merupakan bagian dari rencana Pertamina untuk mengintegrasikan bisnis dari PT PIS yang nantinya tidak hanya mengelola kapal-kapal tetapi juga sampai pada bisnis marine logistics. “Saya harap PT PIS dapat menjalankan amanah yang telah diberikan oleh PT Pertamina (Persero), dengan terus mengembangkan bisnisnya, menangkap setiap peluang bisnis yang ada, dan terus fokus untuk menjadi urat nadi pendistribusian energi untuk negeri,” ujarnya. Nicke mengatakan setelah resmi menjadi Subholding Shipping Pertamina, kini PIS mengelola 750 armada kapal, di mana 540 milik sendiri dan selebihnya sewa, serta mengelola enam pelabuhan dan terminal BBM dan LPG.
Pemain Global
PT Pertamina International Shipping (PIS), Subholding Shipping Pertamina, menargetkan bisa menjadi
pemain global di bidang perkapalan
dan logistik kelautan terintegrasi.
Terdapat tiga negara yang disasar
PIS untuk menangkap pertumbuhan
bisnis logistik perusahaan yakni
Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Manager Business Development
Pertamina International Shipping
Dian Prama Irfani mengatakan,
beberapa negara Asia Tenggara
tersebut mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi atau
Produk Domestik Bruto (Gross
Domestic Product/ GDP). Alhasil,
ini juga berdampak pada peningkatan permintaan energi di negaranegara tersebut.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Momentum Harga Minyak Mentah
30 Mar 2020 -
Mudik Picu Ledakan Kasus di Daerah
27 Mar 2020









