Bursa
( 805 )Magnet Kuat IPO Pasar Modal
Tensi geopolitik yang membayangi aksi korporasi global ternyata tak mengendurkan niat sejumlah perusahaan di Tanah Air untuk go public. Sejumlah kalangan menilai pasar modal Indonesia memang masih punya magnet kuat untuk menarik korporasi lantaran kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang kian ciamik. Demikian pula dengan pertumbuhan signifikan jumlah investor di pasar modal Indonesia yang turut menjadi daya tarik. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), sejauh ini terdapat 35 perusahaan yang berencana menggelar penawaran perdana saham alias initial public offering (IPO). Berdasarkan skala aset, dari jumlah tersebut, sebanyak enam perusahaan tercatat memiliki aset di bawah Rp50 Miliar. Sebanyak 13 perusahaan lainnya beraset antara Rp50 miliar-Rp250 miliar, kemudian 16 perusahaan lagi memiliki aset di atas Rp250 miliar.
Jika terealisasi, aksi korporasi itu akan melanjutkan tren positif di BEI di mana sejak awal tahun sampai 20 April 2022, sudah ada 17 emiten go public. Salah satunya adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang mencatatkan sahamnya di BEI pada 11 April lalu dan meraup dana tak kurang dari Rp13,7 triliun. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna mengatakan pasar modal masih mampu menarik perusahaan yang ingin go public lantaran kinerja saham yang baik. IHSG terus menunjukkan pertumbuhan, bahkan hingga 20 April 2022 telah menyentuh angka 7.227,36. “Indikator lainnya yang mendukung adalah tren investor di pasar modal Indonesia yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya, Kamis (21/4).
PTPN Group Go Public Tahun ini
Holding perkebunan Nusantara atau PTPN III optimistis rencana menggelar initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terlaksana pada akhir tahun ini. Kinerja PTPN Group secara konsolidasi pada tahun 2021 menunjukkan hasil positif. Mereka mampu membukukan laba sebesar Rp 4 triliun dan earning before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) sebesar Rp 13,77 triliun. Tahun ini, PTPN Group menargetkan dapat memproduksi gula sebesar 1,1 juta ton. Selanjutnya, di tahun 2025 mendatang, targetnya 1,8 juta ton. Kebutuhan gula nasional di tahun 2025 diproyeksikan sekitar 3,5 juta ton, yang mana 60% kebutuhan gula nasional bisa dipasok PTPN Group.
TPIA Akan Membagi Dividen US$ 11 Juta
PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) akan membagikan dividen tunai kepada pemegang saham total sebesar US$ 11 juta. Pembagian dividen ini telah mendapatkan restu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Senin (18/4). TPIA menetapkan total US$ 76 juta atau setara dengan 50% laba bersih tahun buku 2021 akan diberikan sebagai dividen tunai. Nilai tersebut juga diperhitungkan dengan pembagian dividen interim sebesar US$ 65 juta yang telah dibayarkan pada 16 Juli 2021 lalu.
Dengan begitu, sisa pembayaran dividen tunai yang akan dilakukan TPIA untuk tahun buku 2021 sebesar US$ 11 juta atau senilai atau senilai US$ 0,000508603 per saham.
Pendapatan BUKA Meningkat 38% di 2021
Sepanjang tahun 2021. PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencetak kenaikan pendapatan sebesar 38% dari tahun lalu menjadi Rp 1,87 triliun. Kerugian EBITDA BUKA pada 2021 membaik 6% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, dengan rasio kerugian EBITDA terhadap total processing value (TPV) menjadi 1,3% dari sebelumnya 1,9%. Pada kuartal IV 2021, TPV BUKA tumbuh 29% menjadi Rp 34,7 triliun.
Pasang Harga IPO Rp 1.280, MTMH Raih Dana Rp 325,14 Miliar
PT Murni Sadar Tbk akan memutuskan proses bookbuilding initial public offering (IPO). Calon emiten yang akan menggunakan kode saham MTMH ini memasang harga IPO Rp 1.280 per saham. Dalam aksi korporasi ini, MTMH menerbitkan 254,04 miliar dengan nominal Rp 100 per saham, atau setara dengan 12,28% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Alhasil, MTMH akan meraup dana segar dari IPO sebesar Rp 325,14 miliar.
GOTO Jadi Penggerak IDX Sektor Teknologi
Proses intial publik offering (IPO) PT Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sudah hampir rampung. Kedatangan GOTO ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 April mendatang disinyalir membawa angin segar bagi pergerakan indeks sektor teknologi (IDX Teknologi). Goto menetapkan harga IPO di Rp 338 per saham. Dengan demikian, nilai kapitalisasi pasar GOTO diperkirakan mencapai Rp 400,3 triliun. Alhasil, GOTO akan menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar keempat di BEI. Meski GOTO nanti akan menjadi penggerak sektor teknologi, investor tetap harus memperhatikan saham lain dalam indeks tersebut.
Dorongan Arus Dana Asing
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,10% ke level Rp 7.078,76 pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (1/4). Pekan ini, IHSG berpeluang mencetak rekor baru dan menguji level baru di kisaran level 7.100. Deresnya aliran dana asing ke bursa saham lokal jadi penopang IHSG. Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menyatakan, sejumlah indikator teknikal mendukung potensi penguatan IHSG. IHSG pun akan menguji resistance 7.100 selama bertahan di 7.050 pada senin (4/4), dengan level support di level 7.000.
Market Cap GOTO Terbesar Nomor Empat
PT Goto Gojek Tokopedia Tbk telah mendapatkan persetujuan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Saham Goto tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 April. Harga perdana Goto ditetapkan Rp 338 per saham dari kisaran awal antara Rp 316-Rp 346 per saham. Ini menjadikan emisi Goto sebagai IPO terbesar ketiga di Asia serta Kelima di dunia sepanjang tahun ini. Nilai kapitalisasi Goto diperkirakan mencapai Rp 400,3 triliun. Ini akan menjadikan Goto sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar keempat di BEI, setelah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Analis Samuel Sekuritas Indonesia Farras Farhan menilai, initial public offering (IPO) Goto di harga Rp 338 sebenarnya relatif premium dibandingkan peers. Ini setara enterprise value of sales (EV/sales) sekitar 69 kali di tahun ini. "Goto juga merupakan saham dengan kapitalisasi terbesar keempat, para fund akan masuk untuk indexing." terang Farras, Kamis (31/3).
IPO GoTo Angkat Kapitalisasi Sektor Teknologi
Rencana penawaran saham perdana ke publik (IPO) PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk akan meningkatkan kapitalisasi pasar sektor teknologi. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, dalam risetnya, akhir pekan lalu, mengatakan, saat ini porsi sektor teknologi sebesar 4,8 %. ”Setelah GoTo IPO, diperkirakan bobot sektor teknologi menjadi 12,6 %,” kata Helmy. (Yoga)
FinAccel Batal Masuk Bursa AS
Perusahaan induk penyedia layanan kredit Kredivo, yaitu FinAccel, batal masuk ke bursa AS. Meski demikian, manajemen FinAccel optimistis investor masih tertarik dengan FinAccel. ”Kredivo akan terus menjajaki berbagai peluang lain untuk menjadi perusahaan terbuka,” kata Co-Founder dan CEO FinAccel Akshay Garg dalam diskusi virtual, Rabu (16/3). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Sanofi-GSK Siapkan Vaksin Covid-19 untuk 2021
16 Apr 2020 -
Erick Usul Jatah Dividen
14 Apr 2020 -
Kredit Investasi Bisa Jadi Masalah
09 Apr 2020









