Fokus ke Sektor Domestik
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam Laporan Proyeksi Ekonomi Global yang dirilis pada Selasa (14/4/2020) pagi waktu Washington DC, Amerika Serikat, atau Selasa malam waktu Indonesia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi global minus 3 persen pada 2020. Khusus di Asia, pertumbuhan diproyeksikan diangka 1 persen yang ditopang pertumbuhan ekonomi China 1,2 persen dan India 1,9 persen. Sedangkan untuk Indonesia tahun diproyeksikan tumbuh 0,5 persen.
Kepala Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja menuturkan, kondisi dunia saat ini adalah perpaduan krisis keuangan global 2008-2009, depresi besar 1929, dan pandemi flu Spanyol 1918. Mitigasinya jauh lebih sulit karena belum ada yang bisa menghitung dampak kerugian ekonomi secara global, regional, dan nasional. Ia menambahkan Indonesia harus menitikberatkan pada sektor domestik yang menopang perekonomian saat krisis, diantaranya agrikultur, perikanan dan kehutanan, serta perdagangan. Menurutnya pemerintah perlu memberikan stimulus khusus berupa insentif, relaksasi fiskal, atau fasilitas agar sektor-sektor itu dapat terus berproduksi saat pandemic Covid-19. Sebagai contoh, sektor - sektor ini harus bekerja sama dengan sektor perdagangan karena kontribusi keduanya terhadap pertumbuhan ekonomi cukup signifikan,
Konselor Ekonomi IMF Gita Gopinath dalam Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia yang digelar virtual, Selasa, menekankan, pengambil kebijakan diharapkan menyokong rumah tangga, perusahaan, dan pasar keuangan. Dampak pandemic Covid-19 bagi sebagian besar negara di dunia bisa berlanjut pada semester II tahun ini.
Senada dengan pendapat ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menambahkan skenario terberat pertumbuhan ekonomi dapat mendekati nol persen pada triwulan II-2020 dan minus 2 persen pada triwulan III-2020. Sedangkan Bank Indonesia dalam siaran pers Rapat Dewan Gubernur, memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 dapat 2,3 persen.
Head of Research Analyst FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo mengatakan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipengaruhi sentimen negatif laporan IMF tentang proyeksi perekonomian global. Ditempat terpisah, Analis Panin Sekuritas, William Hartanto, memandang surplus neraca perdagangan gagal membangun sentimen positif di pasar saham.
Di sisi lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memaparkan, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2020 surplus 743,4 juta dollar AS. Menanggapi hal ini, peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan surplus neraca perdagangan bisa mendorong fundamen perekonomian domestik lebih kuat atau setidaknya membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiahPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023