;

CEO di Pentas Politik Tanah air

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 23 May 2020 Kompas, 11 Mei 2020
CEO di Pentas Politik Tanah air

Peran CEO diharapkan untuk ikut serta mengatasi masalah negeri ini. Namun, kadang kala mereka terlambat memahami peta politik sehingga terlambat mengalkulasi dampaknya. Kita memiliki banyak CEO dari perusahaan teknologi yang bersemangat mengurai masalah bangsa dan kini terlibat membantu dalam berbagai kegiatan, seperti program Kartu Prakerja. Tiga diantaranya sempat terjun di panggung politik. Dua CEO muda, yaitu CEO Amartha dan CEO Ruangguru, sempat menjadi staf khusus Presiden Joko Widodo, namun kini tinggal Nadiem Makarim di kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan setelah keduanya mengundurkan diri.

Mereka cemas karena ternyata mereka beresiko terjebak dalam keruh perpolitikan sehingga kerja keras dan kontribusi mereka bisa percuma. Beberapa CEO sudah menyatakan, mendingan kembali mengurus bisnis murni dan tak mau ikut menyumbangkan pikiran dan tenaga di program pemerintah yang kerap disalahartikan beberapa kalangan. Masalah yang lebih besar, kita bisa kehilangan stok pemimpin jika kecemasan itu meluas di kalangan anak muda. Pemimpin korporasi menjadi salah satu sumber kemunculan para pemimpin bangsa. Contohnya di Amerika Serikat pada 2012, sempat ada 40 pendiri dan pimpinan bisnis yang masuk ke panggung politik.

Pimpinan dari kalangan korporasi biasanya dicari di tengah bangsa yang tengah mengalami masalah ekonomi karena dianggap lebih memahami persoalan dan mungkin bisa menyelesaikan masalah. Pekerjaan rumah besar bersama adalah sejumlah CEO lain yang punya semangat besar untuk berbakti bagi negeri ini. Ketakutan itu membuat mereka menyewa konsultan dan penasihat hukum demi memastikan langkah mereka tidak salah. Pemerintah perlu memperhatikan masalah mereka dan menjamin peran mereka akan aman dari berbagai sangkaan, kecuali terbukti korupsi agar dapat mengobati ”luka-luka” dan mengurangi kecemasan para CEO.

Secara internal, sejak awal para CEO sebenarnya tidak perlu fobia atau menjauh dari politik. Lingkungan mereka dan pasar telah bersentuhan dengan politik, termasuk kekuasaan, birokrasi, kebijakan, aturan, dan lain-lain. Hanya saja, sejumlah CEO—yang karena usia dan pengalamannya—kadang terlambat memahami peta-peta politik sehingga mungkin terlambat mengalkulasi berbagai faktor di dalam politik. Akibatnya, mereka terjebak urusan-urusan kecil yang membuat mereka terpeleset.

Kita masih mengharapkan peran mereka di tengah berbagai masalah negeri ini. Bahkan, para pemimpin muda perusahaan teknologi bisa membangun hal yang lebih menyegarkan di berbagai isu bangsa, seperti pembangunan sumber daya manusia, kesetaraan, pendidikan, kemiskinan, dan isu kesehatan anak. Di tengah masalah yang menumpuk, kita membutuhkan mereka yang berani melakukan advokasi dan inovasi agar masalah selesai.

Download Aplikasi Labirin :