BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Menjadi 4,2%-4,6%
Merebaknya virus corona Covid-19 membuat perekonomian Indonesia babak belur. Bahkan, Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya di kisaran 4,2%-4,6%. Angka ini jauh di bawah proyeksi sebelumnya, yaitu sekitar 5%-5,4%. Adapun pertumbuhan ekonomi global tahun ini diperkirakan hanya 2,5% dari proyeksi sebelumnya 3%. Pertumbuhan ekonomi global tahun ini berisiko lebih rendah lagi. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan, wabah virus corona menyeret turun pertumbuhan ekonomi global. Hal ini membuat prospek pertumbuhan ekspor barang Indonesia mengalami penurunan yang cukup drastis. Tak hanya itu, ekspor jasa, terutama pariwisata ikut turun akibat terhambatnya proses mobilisasi antarnegara, sejalan dengan upaya membatasi penyebaran virus corona. Meski begitu, BI mengapresiasi berbagai langkah stimulus baik ekonomi dan fiskal yang ditempuh pemerintah bisa mengurangi dampak negatif bagi perekonomian. Sejalan dengan langkah pemerintah, BI pun kembali memutuskan untuk memangkas bunga cuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,5%.
Keputusan BI tersebut, juga sejalan dengan penurunan bunga acuan yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) sebesar 100 basis poin akhir pekan lalu. Bank sentral juga memperkuat bauran kebijakan sebagai upaya mitigasi risiko penyebaran virus Covid-19, menjaga stabilitas pasar uang dan sistem keuangan. BI mendorong pertumbuhan ekonomi lewat sejumlah kebijakan. Pasca pengumuman BI, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup Rp 15.900 per dollar AS, melemah 4,61% dari penutupan perdagangan hari sebelumnya. Ini adalah level terlemah setelah krisis tahun 1998. Tahun 1998, kurs menyentuh Rp 16.800 per dollar AS. Tekanan rupiah ini lantaran pembalikan modal investasi portofolio. Secara neto, investasi portofolio masuk sebesar US$ 5,1 miliar, dari awal tahun hingga Februari lalu. Namun, turun jadi US$ 365 juta hingga 17 Maret 2020. Saat ini, investor global memilih untuk melepas asetnya, baik saham maupun surat berharga negara (SBN) Indonesia. Di sisi lain, BI telah mengguyur likuiditas dengan membeli surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 192 triliun hingga saat ini. BI juga mengajukan repo dengan agunan SBN sebesar Rp 53 triliun.
Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) , Perekonomian Indonesia tahun depan akan jauh lebih baik pasca wabah virus corona. Perkiraan bank sentral, pertumbuhan Indonesia mampu naik ke kisaran 5,2%-5,6% di 2021. Berbagai stimulus dan upaya pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi melalui RUU Cipta Kerja dan aturan Perpajakan. Sementara pertumbuhan ekonomi global tahun depan, diperkirakan bisa mencapai 3,7%. Angka ini lebih baik dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 3,4%.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023